
Sky dan Sora sudah berlarian di koridor rumah sakit karena tidak sabar ingin melihat adik mereka yang baru saja lahir semalam.
"Sky, Sora. Jalan aja sayang." Langit berjalan cepat mengikuti anak-anaknya.
Kartika dan Amel ikut berlarian mengejar Sky dan Sora.
"Kalau gak nurut sama papa, gak akan papa tunjukin kamar mama dan adek."
Ancaman Langit membuahkan hasil, Sky dan Sora menghampiri Langit dan menggandeng papa mereka.
Langit segera mengajak mereka menuju ke kamar Senja.
"Neneeek!!"
"Sssssssttt" Ibu Senja langsung memberi kode agar cucunya tidak berisik, "Adek lagi bobok, gak boleh berisik ya."
Ibu Senja mengahampiri cucu-cucunya dan memeluknya, "Nenek kangen banget sama Sky dan Sora." ia bergantian menciumi pipi cucunya.
"Sky juga kangen sama nenek."
"Sora juga."
Ibu Senja tersenyum. "mau lihat adek?"
Sky dan Sora menghampiri Mina yang ada di tempat tidur bersama Senja.
"Dia keciiiil. hmmmp" Sora menahan tawanya.
"Namanya bayi juga kecil, Sora." sahut Sky.
Langit berdiri dibelakang Sky dan Sora untuk melihat Mina juga, "Kalian suka adek Mina?"
Sky dan Sora menoleh ke papanya. "Mina?" Tanya mereka kompak.
Langit mengangguk, "Nama adek Sky dan Sora adalah Mi-Na. Artinya sama dengan Sky dan Sora, La-Ngit." Langit mengeja namanya
"Waaaah, Sora suka!" Celetuk Sora
"Mina seperti nama cewek, Pa." Kata Sky.
"Adek kalian memang cewek, sayang." Senja mengusap kepala Sky
Sky terlihat kecewa, "Sky gak punya temen buat main robot-robotan, pasti Mina akan main dengan Sora."
Langit menepuk bahu Sky, "Papa akan buatkan adek cowok buat, Sky. Oke!"
"Benar, Pah?"
"Tentu dooonk."
"Mas, Jahitanku masih basah dan kamu udah membicarakan tentang itu?" Protes Senja.
Langit hanya cekikikan.
"Kapan mama pulang?" Tanya Sora
"Mungkin mama masih harus dua hari lagi disini sayang, Mama masih belum bisa duduk sekarang." Jawab Senja.
"Sora mau cepat main sama adek. Sora gak mau dirumah sendirian." Rengek Sora.
"Eeeh, Sora kan sudah jadi kakak. Kok masih kaya gitu?" Senja mencubit pelan pipi Sora.
"Nanti nenek temenin, Ya." Kata Ibu Senja
"Oh iya, kan Nenek ada disini." Pekik Sora kegirangan.
__ADS_1
"Jadi habis ini kalian pulang sama nenek, ya." kata Senja. "Mas juga pulang aja. Istirahat di rumah, kalau disini kamu gak bisa tenang istirahat."
Langit menggeleng, "Aku harus jaga kamu, sayang. Kalau aku capek kan udah ada tempat tidur disitu." Langit menunjuk sebuah tempat tidur yang tak jauh dari Senja.
Langit pergi menghampiri Hengky yang sedari tadi berdiri agak jauh darinya. "Suruh anak-anak segera bawa pergi Clara, gue gak mau mertua dan anak-anak gue keganggu dengan jeritannya." bisik Langit.
Hengky mengangguk dan segera keluar ruangan.
Senja menatap curiga ke arah Langit. Melihat hal itu, Langit hanya tersenyum.
"Ibu mau Langit antar pulang sekarang?" Tanya Langit.
"Sudah, kamu disini aja. Ibu biar pulang diantar yang lain saja, Nak." kata Ibu.
Langit keluar memanggil Hengky, "Lo anter Ibu sama anak-anak balik ya, Ky."
"Baik, Pak."
Ibu mengambil tasnya dan mencium Senja sebelum pergi, begitupula Sky dan Sora bergantian mencium tangan Senja lalu mencium adik mereka.
"Kakak pulang dulu ya, dek." Ucap Sky lirih
"Ibu pulang dulu ya, Nak." pamit Ibu ke Langit
"Iya, Bu." Langit mencium tangan Ibu Senja.
"Kami pulang dulu ya, Pa." Sky dan Sora bergantian mencium tangan Langit.
Langit mengusap kepala kedua anaknya, "istirahat ya Sayang."
"Iya, Pa."
Langit melepas kepergian mertua dan anak-anaknya hingga pintu lalu kembali menghampiri Senja.
"Mas, apa yang kamu lakuin ke Clara?" Tanya Senja.
Langit mengingat ulang bangaimana cara Aira atau perawat ketika akan menggenadong bayi, ia praktekkan sekarang. Pelan-pelan ia letakkan Mina di lengan kirinya.
"Aku bisa sayang!" Bisiknya bangga.
Senja tersenyum bahagia melihat Langit begitu sangat senang dengan kehadiran Mina.
"Mas,"
Langit menatap Senja lalu mengusap pipi istrinya tersebut. "Kamu gak perlu mikirin dia, sayang."
"Aku takut kamu melakukan hal yang akan merugikan dirimu sendiri, mas."
Langit menggeleng, "Aku melakukan hal yang memang pantas dia dapatkan." Wajah Langit berubah tegas.
"Beritahu aku mas."
Langit memindahkan Mina kedalam box bayi lalu ia duduk di tepi tempat tidur Senja.
"Aku hanya membuatnya lumpuh dan gak akan pernah bisa punya keturunan."
"Haaah!" Senja membungkam mulutnya sendiri. "Kenapa kamu bisa sekeji itu, Mas?"
Langit menggeleng, "Dia beruntung karena kamu masih membelanya, jika tidak aku bisa membuatnya memilih mati daripada hukuman yang ku berikan padanya."
Senja bisa melihat jelas kemarahan yang tertahan di mata suaminya hingga membuatnya takut, Ia memegang erat tangan Langit.
"Aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang melukai kamu dan anak-anak. Bukankah aku sudah janji padamu, aku akan melindungi kalian dari siapapun itu."
Senja mengangguk.
__ADS_1
"Apa aku membuatmu takut?"
"Sedikit." kata Senja.
Langit tersenyum lalu mengecup bibir Senja. "Akan kupastikan kamu gak akan melihatku seperti itu lagi." kata Langit.
Senja tersenyum mendengar kalimat Langit.
Kini ia benar-benar yakin jika Langit memang akan selalu melindunginya dan anak-anaknya.
tok tok tok
Pintu kamar Senja terbuka. Ada Marko, Enna dan Zia yang masuk membawa beberapa bingkisan.
"Njaaa.. Selamaaat ya." Teriak Enna dengan bisikan ketika menghampiri Senja.
"Heh! Berisik!" Langit melempar benda kecil pada Enna.
"Berisik apanya! Saya kan cuma bisik-bisik!" protes Enna.
"Mbak Senja, Selamat ya atas kelahiran putrinya." Zia mengulurkan tangan dan mencium pipi kanan dan kiri Senja.
"Thanks ya, Zi."
"Selamat ya, Nja. Gue doain sifat anak-anak lo gak ada yang niru bapaknya. Ntar lo sendiri yang ribet."
Langit langsung menendang pantat Marko dari belakang.
"Aku juga setuju sama pak Marko!" tambah Enna.
"Keluar kalian dari sini, Keluar!" Langit menarik Enna dan Marko
"Eh, Eh. Ibu hamil nih!" Enna menunjukkan perutnya yang membuncit.
"Tuh kan tuh kan, sifat pemarahnya itu lho! Gak suka banget gue." Kata Marko.
Senja tertawa melihat tingkah suami dan teman-temannya. "Sky yang niru sifat dia, mas." kata Senja.
"Bilangin, jangan tiru-tiru papanya. Bisa bisa nanti dia gak punya temen." kata Marko.
"Eh, Sky ganteng tau! Biar tahu dia suka marah-marah tetep aja ntar banyak yang deketin dia. Udah ganteng, kaya, pinter pula." Enna sedang mengagumi Sky.
"Jelaslah, bibit gue! Jelas berkwalitas." kata Langit.
"Tapi Sky tidak sombong seperti anda, pak." sindir Enna.
Langit mendengus kesal, "Dimana sih Hengky nemu manusia kaya dia!"
Gerutuan Langit mendapatkan balasan tawa Senja dan teman-temannya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.