
^^^Kalau cowok atau cewek yang lagi deket sama kalian ternyata punya pacar gimana tanggapan kalian dear?^^^
^^^Happy reading.^^^
Bel istirahat berbunyi.
Senja bangkit dari tempat duduknya.
"Teman-teman, yang tugasnya belum selesai ditunggu sampai bel masuk ya!"
"Oke Senja...!" serempak rekan-rekannya yang belum menyelesaikan tugas.
Senja kembali duduk dan menatap Ifa yang diam sejak kejadian tadi.
"Ifa kenapa?"
Senja menatap Ifa dan setelahnya beralih menatap kedua sahabatnya yang duduk di bangku belakang.
Ucik dan Ayu hanya beradu pandang. Mereka enggan bersuara, karena takut akan memperkeruh suasana.
"Maafin aku ya." Ifa merubah posisi duduknya dan kini menghadap ketiga sahabatnya.
"Maaf untuk apa?"
Senja melayangkan tanya karena ia memang tak mengerti apa yang kini terjadi. Berbeda dengan Ucik dan Ayu, mereka kini mengulas senyum lega atas perubahan sikap sahabatnya. Baru kemarin mereka beradu pendapat. Tak disangka hanya dalam waktu sehari temannya sudah mengubah keputusannya.
Ifa meraih tangan Senja.
"Memangnya kamu ngapain?" Senja masih terus bertanya. Ia sempat melirik Ucik dan Ayu untuk bertanya. Kok Ucik sama Ayu gitu ngeliatnya?
"Maafin aku Senja. Ucik dan Ayu bener."
Senja mendelik heran. "Kok minta maaf ke aku, dan apanya yang bener?"
Ucik menghela nafas. "Kalau gini berasa lagi ngobrol sama Ayu deh."
Ayu merengut dan menatap tajam Ucik, namun yang ditatap bukannya takut malah tertawa geli.
"Untuk masalah ini, seperti kamu kudu ngejelasin sejelas-jelasnya deh Fa." Ucik tersenyum lembut kepada sahabatnya ini.
Ifa menghela nafas. "Kamu suka nggak sama Indra?"
Senja menggeleng. "Ngapain nanyain itu?"
Ifa menatap Ayu dan Ucik seakan minta persetujuan. Ayu tersenyum sedangkan Ucik mengangguk mantap.
Ifa menatap Senja. "Aku kemaren jadian sama Rayi."
"Jadian?" Kening Senja berkerut. "Woahh, kalian pacaran dong?" Senja heboh sendiri mendengar penuturan Ifa. "Terus-terus, kalau pacaran tuh ngapain? Ceritain dong?" Senja mengguncang-guncangkan lengan Ifa dengan kencang karena saking antusiasnya.
"Aduh, duh, pusing ini." Ifa berusaha melepaskan diri.
"Makanya ceritain..." Senja merengek layaknya anak kecil, hal ini membuat ketiganya tertawa geli melihatnya.
"Dih udah, malu sama badan!" Mata Ifa bergerak naik turun menatap tubuh Senja yang paling tinggi diantara mereka.
Ifa kemudian menceritakan bagaimana ia jadian dengan Rayi, lengkap dengan tragedi pagi tadi. Senja tahu Indra menyukainya, namun ia masih tetap terkejut jika ada cara semacam itu yang digunakan untuk mendekatinya.
"Sebenarnya Indra itu ganteng lo," celetuk Ayu tiba-tiba.
"Terruuuusss?" Kor Senja, Ifa dan Ucik.
"Ya nggak terus!" Ayu sewot dengan kekompakan ketiga kawannya.
Ketiganya kembali tertawa.
__ADS_1
"Kak Arga."
Semua menghentikan tawanya.
Ngapain Ucik nanyain dia. Senja berfikir sejenak. "Kalau dia baik sih, tapi kadang suka galak, hehehe." Senja tertawa setelahnya.
Krik
Krik
Krik
Senja menggaruk tengkuknya yang tak gatal, merasa absurd tertawa sendiri sementara ketiga sahabatnya biasa saja.
"Hehehe, ngga lucu ya?"
Ayu menggerak-gerakkan alisnya, menyuruh Senja untuk menatap satu titik dengan ekor matanya.
"Apaan?!" Senja yang tak paham kembali bertanya.
Akhirnya Ifa memutar kepala Senja. Bingo, di sana ada sosok menjulang yang berdiri dengan bersandar di ambang pintu.
Blush
Pipi Senja bersemu merah. "U, udah lama Kak?" tanya Senja yang salah tingkah.
Arga melangkahkan kakinya untuk mendekat. "Lumayan." Arga menyodorkan Choki-choki kepada Senja setelah berhenti di sampingnya.
Senja meraihnya cepat dan segera menundukkan wajahnya.
"Eh, eh, ke kantin yuk." Ifa mengajak Ucik dan Ifa karena tahu Arga ke kelasnya untuk menemui Senja.
"Ayo." Ucik dan Ifa mulai beranjak sedangkan Senja masih diam ditempatnya.
"Kamu nggak ikut?" tanya Arga.
"Sekalian aja, aku juga mau ke sana."
Senja pun bangkit dan berjalan mengikuti ketiga kawannya bersama Arga. Mereka berlima berjalan menuju kantin bersama-sama.
"PACAR KECIL!!!"
Tubuh Senja menegang mendengar teriakan itu. Ia ingin cepat pergi dari sana namun secepat itu pula Arga menahan pergelangan tangannya.
Ifa dan kedua temannya yang berjalan beberapa langkah di depan Senja tak menyadari apa yang terjadi di belakangnya, karena mereka kini tengah asik bercanda ria.
Apapun hubungan mereka, aku merasa tak pantas berada di sini.
Senja menghentakkan tangannya dan segera berlari menyusul ketiga kawannya.
"Kamu mau kemana?" Sita menahan tubuh Arga yang hendak mengejar Senja.
"Kamu apaan sih?!" Arga mendorong tubuh Sita yang menghalanginya.
"Apaan gimana Ga?" Sita menatap tak percaya wajah Arga yang begitu panik. "Dia pacar kamu?"
Arga menatap acuh sahabat kecilnya.
"Mak Lampir bikin ulah lagi Ga?"
Rivan datang bersama Wahyu dan berjalan menghampirinya Arga dan Sita.
"Yayang Rivvaaaaaannnn!!!" Sita histeris dan berlari menghampiri Rivan.
"Sita ih! Jangan bikin orang sebel bisa nggak!" Meskipun Rivan ketus, tapi ia sama sekali tak menolak saat Sita bergelayut manja di lengannya.
__ADS_1
"Ceweknya Arga ngambek." Adu Sita pada Rivan.
"Kamu sih bikin gara-gara. Sekarang tanggung jawab." Rivan berbicara lembut kali ini.
"Mesra-mesraannya di pending bisa?" Wahyu berjalan melewati sejoli somplak ini dan berhenti di samping Arga. "Senja ngambek?"
Arga hanya menggidikkan bahu.
"Status kalian apa sih?"
"Tauk deh." Arga berjalan ke sembarang arah meninggalkan ketiga temannya.
"Eh, Ga. Nggak ngusulin cewek kamu!" Sita berteriak namun Arga mengacuhkannya.
Rivan menoel hidung Sita, membuat sang empunya mendongak. "Udah aku bilang kan, kamu jangan sembarangan lagi. Sekarang kamu cuma punya aku dan aku cuma punya kamu."
"Huueeekkk! Jijik gue Van, jijiiiikkkkk!" Wahyu bergidik dan segera pergi mengikuti Arga.
"Kemana Yu?" tanya Rivan saat Wahyu bergerak menjauhinya.
Wahyu berhenti dan membalikkan badan. "Lu urus Senja gue mau seret Si Arga. Gemes gue lihat mereka." Wahyu kembali melanjutkan langkahnya setelah mendapat anggukan dari Rivan.
"Van." Sita masih bergelayut manja pada Rivan. "Mereka tu pacaran nggak sih?"
"Siapa?"
"Arga sama gadis kecil itu."
"Gadis kecil itu punya nama, namanya Senja."
"Iya, iya, Senja. Masih suka lupa akunya, hehehe."
"Dan lagi ya, gadis kecil itu bahkan lebih tinggi dari kamu." Rivan kembali mencubit gemas hidung Sita, sahabat kecil yang sejak kemarin menjadi kekasihnya.
Sita merengut kesal. "Jangan ngalihin pembicaraan deh."
Rivan menghela nafas. "Aku yakin banget mereka sama-sama suka, tapi kamu tahu kan Arga lemotnya gimana?"
Sita mengangguk.
"Dan lagi, Senja..." Rivan bergidik ngeri mengingat pengalamannya saat bertemu keluarga Senja.
"Gimana?" Sita yang baru saja kembali benar-benar tak tahu apa yang sedang terjadi.
"Keluarganya galak semua." Ucap Rivan akhirnya.
"Ya kan ketemunya bisa di sekolah, nggak harus ke rumah."
"Ck, kayak nggak tahu Arga saja kamu."
"Iya juga ya, lempeng banget dia mah." Sita kembali terkekeh dengan sahabat tiang listriknya ini.
Begitu memasuki area kantin, Rivan yang bergandengan tangan dengan Sita sontak menjadi pusat perhatian. Jika biasanya mereka akan gaduh dan berisik, kini semua seperti kehilangan suara. Sudah adatnya seorang ketua OSIS secara otomatis akan menjadi idola di sekolahnya, ditambah lagi jika yang menjadi ketua OSIS itu tampan seperti Rivan. Jadi ketika Rivan sudah menggandeng wanita, dapat dipastikan akan banyak hati yang kecewa.
"Kok mendadak sepi? Ada setan lewat apa ya?" gumam Ayu sambil menuangkan sambal di atas ciloknya.
"Setan gundulmu. Tuh lihat." Ifa memutar kepala Ayu agar dapat melihat pemandangan di hadapan mereka. "Sold out sudah most wanted sekolah kita." Ifa terkikik geli menatap puluhan pasang mata yang nampak kecewa.
Ayu nyaris menjatuhkan ciloknya. "Howwaaahhhh. Kak Rivan sama siapa tuh! Pantesan pada diem. Potek hati berjamaah ini ceritanya, hahaha"
"Anak baru deh kayaknya. Seragamnya beda gitu." Ifa beringsut mendekati Senja. "Senja tahu nggak cewek cantik yang sama Kak Rivan itu siapa?"
Senja menelan ludah saat yang dibicarakan kini tengah melambaikan tangan dan tersenyum padanya. Nampak Sita kini tengah menarik Rivan untuk berjalan mendekati Senja.
TBC.
__ADS_1
Say something dear.