
"Ah, akhirnya," kata Senja sambil menaruh barang bawaannya di sebuah kelas yang akan menjadi tempatnya untuk bermalam nanti.
"Bawaan kamu banyak banget kayaknya. Bawa apa aja sampai segini banyak?" tanya Ayu sambil memperhatikan bawaan Senja.
"Apa ya, baju ganti buat tidur, peralatan mandi, jaket, sendal jepit, minyak angin, body lotion, bedak bayi, selimut, boneka buat bantal, terus..."
"Apa, boneka?" potong Ayu cepat.
Senja mengangguk. "Iya, kan lumayan nggak usah bawa bantal," jawab Senja.
Ayu geleng-geleng melihat kelakuanku sahabatnya. "Kenapa nggak sekalian kasurnya aja," lanjut Ayu kemudian.
"Emm, ada sih kasur lipat, tapi aku perhatiin nggak ada yang bawa kasur."
"Iya emang nggak ada Senjaaaa, ya ampun." kata Ayu sambil menepuk-nepuk keningnya.
"Lha tadi kamu bilang nggak sekalian kasurnya," jawab Senja dengan wajah innocent.
"Astaga..., bunuh gue nih, bunuh guueee!" geram Ayu frustasi.
"Emang nggak bakalan dipenjara," jawab Senja.
"Pake dijawab lagi, astaga!" Ayu makin geram dibuatnya.
"Kamu kenapa sih?" gumam Senja.
"Kamu yang kenapa!" ketus Ayu sambil bangkit dan berjalan meninggalkan Senja.
"Eh, Ayu mau kemana!" teriak Senja karena Ayu meninggalkannya begitu saja.
"Toilet!" jawab Ayu balik berteriak.
"Ikut!" kata Senja sambil bangkit dan berlari menyusul sahabatnya.
Sebelum tiba di toilet, Senja dan Ayu berpapasan dengan Rosida, salah satu anggota OSIS yang terlibat dalam penugasan Senja membawakan sambutan mewakili teman seangkatannya.
"Dik, mau kemana?" tanya Rosida kala melihat Senja dan Ayu pergi berdua tanpa anggota regu yang lain.
"Ke toilet Kak," jawab Ayu.
"Oh, oke. Jangan lama-lama ya, abis ini mau apel pembukaan persami," kata Rosida kepada Senja dan Ayu.
"Siap Kak," serempak Ayu dan Senja.
"Oiya satu lagi," ucap Rosida tiba-tiba yang membuat Senja dan Ayu segera menghentikan langkahnya. "Nanti kalau mau ke toilet, pakai toilet yang Utara aja ya, jangan toilet tengah," kata Rosida kemudian.
__ADS_1
Senja dan Ayu hanya mengangguk mengiyakan kemudian mereka melanjutkan langkah mereka menuju toilet. Saat tiba di depan toilet, Senja mendadak berhenti dan memperhatikan area di sekeliling mereka.
"Ada apa Senja?" tanya Ayu yang heran dengan tingkah laku Senja.
"Nggak ada. Buruan masuk yuk."
Ayu hanya menggidikkan bahunya dan masuk ke dalam toilet menyusul Senja. Di sana, mereka masuk ke dalam dua bilik yang berbeda dan menuntaskan hajat masing-masing di sana. Ayu yang selesai duluan segera keluar dan merapikan dirinya di depan cermin.
"Kamu cepet banget?" tanya Senja yang baru saja keluar dari bilik toilet beberapa saat kemudian.
"Emang mau ngapain lama-lama di dalam toilet. Enggak ada kerjaan banget," kata Ayu sambil merapikan rambut sebahunya.
"Yuk balik yuk," ucap Senja sambil membuka pintu toilet.
Cklek cklek
Senja segera menoleh menatap Ayu yang berdiri tepat di belakangnya.
"Kenapa?" tanya Ayu yang merasa ditatap oleh Senja.
"Kok nggak bisa dibuka ya?"
Cklek cklek
Sekali lagi senja berusaha membuka pintu toilet itu. "Masak ada yang ngunciin?" tanya Senja kepada Ayu dengan tatapan khawatir.
Cklek cklek
"Nah kan, nggak bisa kan," kata Senja melihat temannya tak berhasil membuka pintu kamar mandi ini.
Brak brak brak
Senja dan Ayu menggedor-gedor pintu toilet.
"Tolong! Kita kekunci di dalem! Tolong!"
Ayu dan Senja berteriak berharap ada seseorang yang akan datang menolongnya.
"Kita tarik bareng-bareng yuk, kayaknya nggak bahkan ada yang dengar dan nolongin kita deh," kata Ayu.
Senja hanya menatap wajah sahabatnya seolah bertanya kenapa.
"Ini masih jam pelajaran Senja, dan seluruh peserta persami juga lagi ngumpul di gedung kelas di depan. Jadi kemungkinan besar enggak ada yang berkeliaran di sekitar sini saat ini."
Senja hanya mengangguk lemah.
__ADS_1
"Yuk," kata Ayu menginterupsi Senja untuk segera menarik pintu toilet di hadapan mereka secara bersama-sama.
Cklek! Brugh!
Bukan hanya pintu yang berhasil mereka buka, tapi tubuh mereka pun kini sukses terpental ke belakang saking kuatnya tarikan yang mereka berdua lakukan.
"Senja, kamu nggak apa-apa?" tanya Ayu sambil menatap Senja yang tak sengaja tertimpa tubuhnya.
Bukannya menjawab, Senja malah nampak terperangah menatap sesuatu di hadapan mereka.
"Kamu ngeliatin apa sih?" tanya Ayu sebelum akhirnya ikut melihat ke depan. Di sana nampak sosok dengan tinggi sedang berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, rambut yang tak terpangkas rapi, baju seragam yang tak dimasukkan, serta dasi yang tak terikat.
"Hai bocah, kita ketemu lagi," ucap sosok menjulang itu.
Merasa tak mengenal sosok dihadapannya, Ayu segera menoleh menatap Senja. "Kamu kenal dia?" bisik Ayu pada Senja.
Namun Senja masih setia diam terpaku menatap sosok yang baru saja berbicara dengannya itu.
Melihat sahabatnya terus mematung seperti itu, akhirnya Ayu segera bangkit kemudian mengulurkan tangannya agar Senja segera bangkit pula. Dengan begitu mereka bisa segera meninggalkan tempat ini, pikir Ayu. "Ayo bangun," ucap Ayu kemudian.
Senja pun akhirnya bangkit. Dan Ayu menariknya untuk segera keluar meninggalkan toilet ini. "Permisi Kak," kata Ayu saat hendak melewati sosok yang berdiri di depan pintu toilet itu.
Namun bukannya menyingkir, anak laki-laki ini malah bersandar di pintu dan menggunakan satu kakinya untuk menginjak bagian pintu yang lain.
"Kak, permisi. Kita mau keluar," kata Ayu lagi.
"Hei bocah, kalau kamu keluar lepasin tuh tangan. Aku ada urusan sama temen kamu," kata anak laki-laki itu pada Ayu.
Mendadak tangan Senja gemetar dan mengeratkan pegangannya pada tangan Ayu. Ayu pun turut mengeratkan genggaman tangannya pada Senja seolah berkata bahwa dia juga tak akan meninggalkan sahabatnya itu sendirian. "Tapi bentar lagi acara kita mulai Kak," ucap Ayu lagi.
"Hei bocah, mending kamu tinggalin deh temen kamu di sini. Si Bos lagi ada perlu sama dia, jadi kamu nggak perlu repot-repot nemenin dia," kata salah seorang dari teman anak laki-laki itu yang berdiri tak jauh dari pintu toilet.
"Kita kenal baik kok sama Rivan, ketua OSIS kalian itu. Sama aja kok jadi peserta kegiatan Rivan sama peserta kegiatan kita, ya kan Bos?" ucap salah seorang lain dari mereka. Selepas kalimat itu selesai, pecahlah tawa mereka.
Namun yang dipanggil bos itu pun tetap diam tak menunjukkan reaksi apapun. Dia masih menatap Senja dengan tatapan tajam. Mendengar ramainya tawa yang saling bersahutan itu, Ayu baru sadar kalau kini mereka tengah dikepung segerombolan anak yang tampilannya seperti berandalan, tak jauh berbeda dengan seorang yang kini menghadang mereka di depan pintu toilet ini.
"Kak, kita mau lewat," kata Senja dengan suara bergetar dan wajah pucatnya.
TBC.
Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.
Makasih ya yang udah bersedia mampir.
Semoga suka sama ceritanya.
__ADS_1
Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.
Happy reading, love you all.