SENJA

SENJA
Main Mata


__ADS_3

^^^Pagi ini dapet 3 pertanyaan dari temen-temen reader tentang asal author. ^^^


^^^Perkenalkan, author Senja berasal dari Trenggalek. 🥰 🥰 🥰 ^^^


^^^Adakah diantara temen-temen yang udah ngerti daerah Trenggalek? ^^^


^^^-Happy reading-^^^


“Tahan, tahan. Aku ke sini pengen ngajak ngomong kalian baik-baik.” Arga masih terus berusaha menghindar dan menangkis setiap serangan beruntun dari Indra dan Tito.


“Kenapa?! Kamu nggak sanggup menghadapi kita, ha!!!” ucap Indra dengan nafas memburu setelah satu pukulannya berhasil di halau Arga.


Arga yang sejak tadi sudah cukup bersabar, dan ia merasa kini sabarnya sudah sampai pada batasnya. “Oke, aku nggak akan segan-segan lagi.” Arga nampak mengatur nafasnya sembari menunggu Tito dan juga Indra kembali menyerangnya.


“Jadi cuma segini nyali kamu!” tantang Tito dengan melayangkan tatapan remeh kepada Arga. “Nggak berani kamu nyerang kita?!” Tito sepertinya ingin memancing emosi Arga.


Arga masih diam dan mengatur nafasnya. Ia tahu ini hanya siasat Tito agar ia menyerang salah satu dari mereka. Itulah saat yang mereka tunggu-tunggu karena saat setelah menyerang, seseorang akan fokus pada serangannya dan melemah pada pertahanannya. Dan saat itu seseorang akan lebih mudah untuk dilumpuhkan.


“Dari awal aku tak ingin berbalas serangan…” Arga berusaha sesantai mungkin berbicara pada mereka.


“Hallah, bac*t!!!” Indra bergerak maju dan melepaskan sebuah pukulan.


“Ck.” Tito berdecak karena Indra yang susah sekali diajak sedikit bersabar. Dia membacking Indra agar dapat menghalau jika ada serangan balasan dari Arga.


Bugh!


Dugh!


Serangan beruntun itu keluar juga. Sebuah pukulan pada rahang dan tendangan yang tepat mengenai ulu hati membuat raga manusia itu limbung.


“Aku tak suka cara ini, kenapa kalian tak juga mengerti?!” wajah Arga merah dengan mata berapi-api. “Mau minta berapa pukulan lagi, atau harus kupatahkan dulu satu tulang kalian agar kalian mau mendengarkan?”


Rahang bawah Indra terasa begitu nyeri, namun tak mungkin rasanya ia menyerang Arga kembali karena Tito bahkan kini masih meningkuk memegangi ulu hati yang baru disapa oleh tendangan Arga.


“Ayo, bangun. Aku tahu kalian masih kuat bangkit dan kembali menyerangku.” Suara Arga terdengar melunak. Dia berdiri dengan angkuh di hadapan Tito dan Indra. Dia menyugar rambutnya yang basah karena keringat.


Di kejauhan, seseorang nampak mengurut dadanya yang kini terasa lega. Dia adalah Senja yang sejak tadi menyaksikan perkelahian mereka.


“Beladiri itu digunakan untuk membela diri, bukan untuk main hakim sendiri. Apalagi buat gaya-gayaan atau berlagak sok jagoan.”


Senja mengalihkan pandangannya dari Arga menuju Atma. “Maksud Mas?” Tanya Senja yang tak paham dengan ucapan kakaknya.


“Mas lihat, 3 orang itu sama-sama menguasai beladiri, benar?”


Senja menggeleng. “Aya hanya tahu Kak Arga dan Kak Tito, untuk Indra…” Senja melanjutkan ucapannya dengan gelengan kepala.

__ADS_1


“Mau ke sana?” Tanya Atma.


Kembali Senja menggeleng.


“Sebenarnya Mas masih penasaran Ay sama mereka…”


Senja hanya menatap datar kakaknya tanpa ada niat untuk menjawab atau menimpali. Ia merasa bagaimanapun juga ia tetap harus membatasi diri, meskipun kini kekangan itu mulai dikendurkan.


“Ya udah, mau pulang?”


Senja mengangguk. “Iya Mas…”


Senja segera naik di boncengan Atma. Setelah standar naik, Atma mulai melajukan motornya.


“Loh Mas.” Senja terkejut karena Atma membawa motornya berjalan masuk ke area stadion.


“Mas udah lama nggak lari-lari di sini.” Atma terus melaju hingga melewati 3 orang yang habis berkelahi itu.


Arga membelalakkan mata, kemudian segera mengangguk hormat saat Atma melewatinya. Senja menoleh dan mendapati Arga juga tengah terpaku menatapnya.


Senja merasa tiba-tiba motor yang ditumpanginya memelan. “Kenapa Mas?” Tanya Senja saat Atma benar-benar menghentikan motornya.


“Pengennya lari 1 putaran, tapi nggak jadi.” Atma kembali melajukan motornya dan menuntaskan 1 putaran sebelum keluar meninggalkan stadion.


***


Hari berganti dan tak terasa Senin sudah datang lagi. Pagi ini, semua bergerak menuju lapangan tanpa terkecuali. Bahkan Senja dan kawan-kawannya sudah berbaris begitu rapi.


Upacara di mulai. Pemimpin setiap pleton baru saja melakukan laporan kepada pemimpin upacara. Kemudian protokol kembali membaca susunan upacara selanjutnya, yaitu masuknya Pembina upacara.


Senja yang berada di barisan terdepan masih menatap ke sembarang arah, memperhatikan deretan guru dan staf tata usaha berbaris, memperhatikan para petugas upacara dan apapun itu, karena bagaimanapun juga berdiri selama 45 menit dengan mulut diam itu cukup membosankan.


Hingga waktu seakan berhenti ketika pandangannya bertemu dengan sosok yang sebenarnya ia cari dari tadi.


Ifa yang berdiri di samping Senja mengernyit tatkala melihat Arga yang bertugas membawa teks pancasila berada di belakang Pembina samar-samar tersenyum, sebelum kembali menetralkan wajahnya. Saat itu juga, ekor matanya menatap pergerakan kepala Senja yang semula tegak menjadi menunduk. Ealah, lagi main mata ya kalian berdua.


Upacara pun kembali berjalan. Arga dan Senja sesekali bertukar pandang. Jika Arga harus menahan matanya karena kini ia sedang menjadi pusat pandangan seluruh peserta upacara, Senja harus bebeberapa kali menunduk karena malu jika lama-lama beradu pandang dengan Arga. Namun apa daya, Arga dan Senja bagai dua kutub magnet berlawanan yang saling menarik jika berada dalam satu medan.


Hingga upacara berakhir, Senja masih merasa jantungnya bergetar hebat. Dia bahkan tak bersuara saat ketiga sahabatnya saling bercanda tawa.


“Ehmm, yang tadi pandang-pandangan…”


Senja yang merasa tersindir oleh ucapan Ifa segera menoleh menatap sahabatnya.


“Siapa Fa?” Tanya Ayu yang memang tak paham dengan kejadian yang dilihat Ifa sepanjang upacara berlangsung.

__ADS_1


“Yang ngerasa aja lah?” jawab Ifa santai.


Ayu kemudian menatap Ucik dan Senja bergantian. Ucik masih dengan wajah datarnya, dan Senja dengan wajah blingsatan seperti maling yang baru saja ketahuan.


“Dia?” Tanya Ayu pada Ifa dengan menunjuk Senja.


“Coba tanya aja,” jawab Ifa.


Senja segera mempercepat langkahnya sebelum Ayu benar-benar menginterogasinya.


“Yah, kan, kabur kan…” goda Ifa dengan sedikit mengeraskan suaranya.


“Emang Senja tadi tatap-tatapan sama siapa?” tanya Ayu yang masih dilanda penasaran.


“Beneran nggak tahu?” tanya Ifa.


“Ck.” Ucik berdecak dengan kepala menggelang.


“Kamu kok gitu sih Cik, ya kan wajar aku nggak ngerti apa-apa, badan semampai gini barisnya paling belakang, jadi nggak tahu kejadian yang cuma disaksikan bodi tiang listrik kayak Ifa dan Senja.” Ayu memang pendek, bahkan tinggi badannya tak sampai 150 cm.


“Tadi yang jadi petugas kelas apa?” tanya Ucik.


“Kelas IX c kalau nggak salah ya?”


“Nah…, di kelas itu ada siapa?”


“Siapa ya….?”


“Astagaaaaaa……!!!!” Ifa berjalan cepat mendahului kedua temannya sambil menepuk-nepuk jidatnya.


“Ifa kenapa Cik?”


Ucik yang ditanya hanya melipat tangan di dada dan terus berjalan tanpa menghiraukan Ayu yang masih kebingungan.


Ucik mendadak berhenti melihat Ifa yang kembali dengan berlari.


“Cik, lihat deh lihat….” Ifa menarik tangan Ucik agar segera mengikutinya.


“Apa sih Fa…” keluh Ucik karena tangannya ditarik-tarik.


“Mereka kenapa?” gumam Ayu sebelum ia juga ikut berlari mengejar Ucik dan Ifa.


“Menurutmu ada apa dengan mereka?”


TBC

__ADS_1


__ADS_2