SENJA

SENJA
Terimakasih Pak Guru


__ADS_3

^^^Menyembuhkan hati yang terluka memang tak semudah membolak-balik kata.^^^


^^^Perlu waktu dan usaha untuk menuntun logika ke sana.^^^


^^^Happy reading.^^^


"Pak Umar, ada yang bisa saya bantu Pak," tanya Bu Nani begitu berada dekat dengan Pak Umar, Senja dan Ifa.


"Ini Bu, masih kelas VII aja sudah mau bertingkah. Katanya kelas unggulan tapi di kasih tugas malah klayapan." Pak Umar menatap tajam Senja.


Yang ditatap hanya menggelengkan kepala.


Bu Nani menghela nafas."Ta..."


"Kemarin pacaran, sekarang kelayapan. Mau jadi apa kamu kalau besar nanti!?"


Terbesit rasa bersalah di hati Ifa. Dia yang bikin gara-gara tapi Senja yang harus tertekan menerima akibatnya.


Bu Nani membulatkan mata. Dia masih bisa diam walau Pak Umar menyela ucapannya, namun kali ini Bu Nani rasa rekan gurunya ini sudah keterlaluan. "Maaf Pak, sepertinya kita harus bicara kali ini."


"Saya harus berkeliling Bu, takut ada anak macam mereka yang akan mengganggu ketertiban sekolah ini."


"Ini tak kalah pentingnya dengan masalah ketertiban di sekolah ini." Bu Nani mempersilahkan Pak Umar untuk berjalan mengikutinya. "Senja, Hanifa kalian bisa melanjutkan tugas!"


"Terimakasih Bu." Serempak keduanya.


Senja menghembuskan nafas lelahnya.


"Senja maafin aku ya. Yuk balik," ajak Ifa akhirnya.


Keduanya pun segera berbalik. Namun baru beberapa langkah berjalan, terdengar derap langkah seseorang mendekat ke arah mereka.


"Senja, Ifa tunggu!"


Keduanya menoleh. Dilihatnya Rayi yang menyelinap keluar dari kelas.


Wajah Ifa mendadak sumringah. "Kakak ngapain keluar?" tanya Ifa dengan senyum yang tak mampu di bendung.


"Lagi kangen, pengen nemuin kamu." Rayi ini memang sudah tak diragukan lagi ke play boy-annya.

__ADS_1


Ifa benar-benar berbunga-bunga, hingga ia tak sadar kini Senja tengah mengamatinya. Kangen? Ifa ada hubungan apa dengan teman Indra ini? Batin Senja.


Tak lama berselang, Indra datang dengan langkah santainya.


"Kak Indra keluar juga?" tanya Ifa.


"Iya lah, doi pasti pengen juga ketemu Senja," jawab Rayi.


"Hai..." sapa Indra pada Senja.


Senja masih diam tak bereaksi.


"Kalau ketahuan guru yang ngajar di kelas Kakak gimana?" tanya Ifa.


"Tenang, Bu Nani kan baru keluar tadi," jawab Rayi.


Bu Nani semula memang tengah mengajar di kelas VIII c dan sudah memberikan tugas sebelum ia meninggalkan kelas.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Indra kepada Senja. Kalau diingat-ingat ini adalah kali pertama Senja mendengar Indra bicara kepadanya secara langsung.


Senja hendak berbalik namun Ifa menahannya. "Minta bantuan mereka aja, pasti lebih cepet."


Rayi menatap tajam dengan penuh kekecewaan kepada Ifa. "Kamu bisa nggak sih Fa bujukin Senja! Kalau nggak bisa mending kita putus!"


Ifa terkejut dengan perubahan raut wajah Rayi yang tiba-tiba. "Kak..." Ifa juga masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Indra yang juga nampak emosi segera meninggalkan keduanya.


"Aku kasih kamu kesempatan seminggu lagi, kalau kamu nggak berhasil bikin Senja jadian sama Indra, lebih baik kita putus!"


"Kak, sebenernya kamu suka nggak sih sama aku?"


Rayi tersenyum miring. "Kamu tu harusnya sadar diri, udah bagus aku mau jadian sama kamu, bukannya nurut malah banyak tingkah."


Ifa berusaha mengatur nafasnya. Dia sempat menengadah untuk menghalau sesuatu yang nyaris jatuh dari pelupuk matanya. "Nggak perlu nunggu Minggu depan Kak," ucapnya dengan bibir bergetar.


"Maksud kamu apa?"


"Kita putus hari ini juga." Ifa segera berbalik dan menyusul Senja. Senja, maafin aku, aku nggak akan memaksakan kebahagiaanku, karena pada dasarnya semua itu hanya palsu.

__ADS_1


Seseorang yang kini berdiri di depan kelas tersenyum menatap kejadian yang baru saja dia saksikan. Jadi ini rencana Tito untuk Indra. Syukurlah, semua sudah berakhir.


"Arga! Berdiri yang benar! Ketua kelas bukannya jadi teladan malah tingkahnya nggak karuan!" bentak Bu Isna, guru yang tengah mengajar di kelas Arga. Apes memang Arga hari ini. Pagi-pagi sudah tersulut emosi, ditambah dengan buku PR yang lupa ia masukkan ke dalam tas. Apa lagi baru jam pertama dia sudah tak mampu berkonsentrasi, hingga akhirnya ia dihukum seperti ini.


Arga POV


Ada hikmah di setiap musibah. Itulah yang aku rasa. Saat Bu Isna menghukumku berdiri di luar kelas, aku mengumpat tiada henti. Ditambah aku harus melihat pemandangan gadis kecilku berada dekat dengan orang yang menaruh hati padanya. Kenapa kesialan datang bertubi-tubi sepagi ini?


Namun kini aku menyesal karena telah salah mengartikan Qodar Alloh, aku tahu siasat licik Tito yang memanfaatkan keadaan untuk mendekatkan Indra dan Senja. Jadi kini aku dapat tersenyum lega meskipun harus merasakan hukuman yang tak menyenangkan ini.


Dua jam berlalu, berdiri selama itu sebenarnya tak masalah buatku. Yang membuatku gelisah, adalah bagaimana kondisi bocah kecilku. Dan ada satu hal besar yang berkecamuk dalam pikiranku, ada masalah apa antara Pak Umar dan Senja. Setahuku Pak Umar selama ini adalah sosok kalem yang bersahaja, namun dalam sekejap berubah menjadi pribadi yang begitu keras dan penuh intimidasi.


Selesai menjalani hukuman aku harus melewati 2 jam pelajaran lagi baru bisa menemui bocah kecilku untuk menanyakan keresahan ku.


Arga POV End.


Selepas berbincang 4 mata dengan Bu Nani, Pak Umar kembali melaksanakan tugasnya sebagai Guru piket. Tidak banyak yang harus ia kerjakan selain berkeliling untuk mengecek berbagai sudut sekolah, dan berkeliling untuk mendata absensi seluruh kelas. Kelas yang kosong kebetulan hanya kelas VII f, dan tak ada satupun siswa yang terlambat hari ini.


Kini ia berjalan menuju kelas VII f. Di sana ia melihat Senja yang memang begitu mirip dengan almarhumah kakaknya. Ingat Umar, dia Senja bukan Arwina.


Arwina dulu tak setinggi Senja, meskipun kini Senja masih kelas VII. Arwina punya rambut panjang dan lebat dengan poni, sedangkan Senja rambutnya hanya sepunggung dan tanpa poni. Arwina begitu aktif dan percaya diri, sedangkan Senja sedikit pendiam. Namun yang membuat mereka sama adalah darah yang mengalir di tubuhnya, membuat mereka sama cerdasnya dan sama bersahajanya.


Senja perlahan berjalan mendekati Pak Umar. "Maaf Pak, ada beberapa teman yang belum menyelesaikan tugasnya, ini ditunggu apa ditinggal saja?"


Pak Umar menghela nafas dan menatap Senja yang nampak sedikit takut. "Selesaikan sedapatnya, yang belum selesai bisa diteruskan pas istirahat, tapi tolong dikumpulkan sebelum jam istirahat berakhir ya." Dengan susah payah Pak Umar menarik sudut bibirnya, mencoba tersenyum kepada Senja.


Alhamdulillah ya Alloh, benarkah ini Pak Umar sedang tersenyum ke arahku? "Ba, baik Pak." Senja hingga terbata karena saking terkejutnya.


"Tolong nanti kamu kumpulkan ya."


Senja mengangguk. "I, iya Pak. Terimakasih." Senja sedikit menundukkan kepala.


Pak Umar bangkit hendak meninggalkan kelas Senja. Dia sempat menyentuh puncak kepala Senja sebelum akhirnya berjalan meninggalkan kelas VII f.


Senja tersenyum menatap punggung gurunya yang bergerak menjauh itu. Terimakasih Pak Guru.


TBC.


Apalagi nih yang kudu di beresin. Say something dear.

__ADS_1


__ADS_2