
Ketika mas Arka pulang, aku memilih untuk tidak menanyakan tentang kertas copy-an resep itu. Biar nanti aku mau cari tau sendiri. Aku menghargai sikap suamiku yang belum mau terbuka padaku.
Sebelumnya aku membereskan buku yang tadi aku baca, di teras. Mengembalikannya seperti semula. Biar seolah-olah gak ada apa-apa.
Aku menyambut suamiku dengan mesra. Seperti layaknya suami istri. Sedikit banyak aku masih ingat, dulu sewaktu kedua orang tuaku masih ada. Mereka selalu terlihat mesra.
Ibu selalu menyambut kepulangan ayahku dari bekerja dengan mengecup tangannya, dan ayah akan mengecup kening ibu. Itu juga yang kami lakukan.
Setelah selesai membersihkan badan dan sholat maghrib berjamaah, kami makan malam dengan makanan yang aku masak.
"Kamu yang memasaknya sayang?" tanya suamiku, saat kita makan. Aku mengangguk.
"Kenapa mas, kurang enak?" tanyaku sedikit khawatir.
"Enak kok sayang. Lalu kamu juga yang mencuci baju dan menyetrikanya?" tanya suamiku lagi.
"Iya mas. Kenapa?" jawabku heran.
"Sayang, kamu gak perlu mengerjakan itu semua. Nanti kamu capek. Makanan kita bisa beli online. Pakaian juga bisa kita masukan ke loundry. Gak semua mesti kamu yang mengerjakan. Kamu itu istriku. Bukan pembantuku" ucap mas Arka.
Aku menjawab, kalau sekedar pekerjaan rumah seperti itu sih, aku udah terbiasa mengerjakannya sendiri. Jadi aku gak merasa kalau suamiku memperlakukanku seperti pembantu.
Lagi pula, seharian di rumah juga mau ngapain. Kecuali kalau aku bekerja. Mungkin aku gak akan punya waktu, untuk mengerjakan itu semua.
Menurutku mas Arka terlalu berlebihan memperlakukan aku. Sebagai suami istri kan, kita mesti berbagi pekerjaan. Dia yang kerja cari uang, aku yang mengerjakan pekerjaan rumah.
Kalau semua pekerjaan rumah dikerjakan pembantu, terus apa dong gunanya aku sebagai istri?
"Kamu cukup melayaniku di kasur. Di dapur dan di sumur juga kayaknya asik tuh sayang" jawab mas Arka sambil tertawa.
Jawaban yang absurd. Apa maksudnya dengan di dapur dan di sumur? Aku mengernyitkan dahi. Rupanya mas Arka memahami kebingunganku.
"Nanti deh, kita coba di dapur dan di sumurnya" ucapnya, sambil tertawa-tawa menggodaku.
Ini pasti mengarah ke sana deh jawabannya. Aku mencubit pinggang mas Arka. Dia pun makin keras tertawanya.
__ADS_1
Melihat mas Arka selalu ceria kalau berbicara, orang tak pernah mengira, kalau dia punya riwayat penyakit jantung. Seperti halnya aku.
Atau mungkin itu semua untuk menutupi penyakitnya? Agar orang tak pernah tau tentang itu? Tapi kenapa? Bukankah kalau orang lain tau, terutama orang terdekat kita tau, maka kita akan ikut menjaga. Agar penyakitnya gak kumat?
Karena setahuku, penderita penyakit jantung, mesti di jaga moodnya. Jangan sampai dia marah. Emosi. Atau kaget mendengar sesuatu.
Ini akan jadi tugasku. Selalu menjaga emosinya. Walaupun mas Arka tidak tau, kalau aku sudah tau.
"Kok melamun? Udah ngebayangin ya? Atau mau kita coba sekarang?" tanya mas Arka, masih terus saja menggodaku.
"Auk ah" jawabku, lalu aku segera berlari masuk kamar. Maksudku biar dia tidak menggodaku terus.
Eh, mas Arka malah menyusulku. Lalu dia mendorong pelan tubuhku, yang sedang duduk di tepi tempat tidur, hingga aku terjatuh.
Lalu tanpa aba-aba, dia langsung mengungkungku di bawahnya. Dia telusuri seluruh wajahku dengan bibirnya. Terus turun. Terus turun. Hingga aku mendesah ketika bibir itu berhenti di puncak gunung kembarku, yang sudah dia singkap dengan tangannya yang nakal.
Dan bibir itu tidak cuma berhenti, tapi terus memainkan puncak itu. Sementara tangannya memainkan puncak satunya.
Puas dengan permainannya di puncak, dia turun lagi. Terus turun. Tangannya membantu mencari akses untuk sampai ke depan goa miliku. Aku menggelinjang.
"Mas, masih sore" ucapku perlahan. Suaraku serak. Rasanya sulit sekali bersuara. Sementara aku sendiri sudah terbuai dengan permainannya.
"Gak apa-apa sayang. Kita bebas kapan saja kita mau" jawabnya, sementara permainan masih terus berlanjut.
Sampai kita mencapai puncak kenikmatan. Dan sama-sama terkapar.
Wajah kami saling berhadapan. Mas Arka tersenyum puas. Aku pun tersenyum bahagia.
"Sayang, kamu mau mencoba di sumur?" tanya mas Arka, berusaha menggodaku lagi.
Aku langsung mencari selimut, dan bersembunyi di baliknya. Tanpa berminat untuk menjawab pertanyaannya yang menjurus.
Suamiku benar-benar gak ada capeknya. Padahal dia seharian sudah kerja. Tapi tenaganya full power.
Mas Arka membuka paksa selimutku. Masih aja berusaha menggodaku.
__ADS_1
"Ayo sayang, kita coba lagi di sumur" pinta mas Arka merajuk seperti anak kecil.
Aku berlari ke kamar mandi. Niatnya sih mau ngumpet di sana. Tapi yang terjadi, malah mas Arka langsung menyusulku, sebelum aku sempat mengunci pintunya.
Dan permainan di mulai lagi. Gaya baru. Di sumur.
🍄🍄
Sayup-sayup adzan subuh membangunkan kami. Karena semalam kami tidur setelah acara spesial kami. Tidak terlalu malam juga. Kan acaranya di mulai agak sorean.
Kami segera beranjak, dan mandi. Aku menolak mandi bareng. Ntar kejadian lagi deh, kalau mandi bareng.
Demi menghemat waktu, aku mengalah mandi di kamar mandi lain. Yang berada di luar kamar kami.
Setelah selesai mandi dan sholat subuh berjamaah, kami melakukan aktifitas masing-masing. Aku ke dapur menyiapkan sarapan pagi. Dan suamiku mencuci mobilnya di halaman depan rumah.
Aku membuatkan teh hangat untuk suamiku. Sembari mengaduk gulanya, aku berfikir, pantas saja suamiku jarang sekali minum kopi. Rupanya karena dia punya riwayat penyakit jantung.
Bahkan merokok pun hanya beberapa kali aku lihat. Biasanya saat sedang berkumpul dengan temannya. Termasuk bosku waktu aku masih kerja di toko.
Semoga suamiku selalu ingat deh untuk terus menjaga kesehatannya. Aku gak mau juga kalau tiba-tiba suamiku kena serangan jantung. Atau bahkan stroke.
Karena yang aku tau, orang yang memiliki penyakit jantung, sangat rentan terkena serangan stroke. Ih, amit-amit deh punya suami yang stroke. Batinku.
Dengan masih memakai apron, aku berjalan keluar mengantarkan teh hangat dan sepiring kecil kue kering. Kue itu kemarinnya di kasih ibu mertuaku. Karena kami hanya berdua, jadi belum habis-habis.
Aku meletakannya di atas meja kecil, yang ada di teras rumah. Aku lihat, suamiku sedang berbincang dengan tetangga sebelah. Seorang perempuan seksi, dengan pakaian yang kelihatan seperti kurang bahan. Sambil terus dengan aktifitasnya mencuci mobil.
Kelihatannya perbincangan satu arah sih. Karena suamiku lebih banyak diam. Aku masih berdiri di tempat, sementara perempuan itu memperhatikan aku.
"Mas, itu pembantu baru ya?" tanya perempuan seksi itu tanpa rasa berdosa.
Spontan mas Arka menoleh ke arah perempuan itu. Lalu menoleh ke arahku. Aku pun terkejut dengan pertanyaan perempuan itu. Aku di katain pembantu.
"Dia istriku mba! Bukan pembantu!" jawab mas Arka ketus.
__ADS_1