SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 94 PENAMPAKAN


__ADS_3

Sampai di parkiran mobil, aku berniat duduk di belakang bareng Sarah.


"Eit, kamu duduk di depan." Doni menghalangiku.


"Kamu pikir aku sopir pribadi yang bawa emak-emak?" Doni membukakan pintu untukku.


Sarah tertawa terbahak-bahak.


"Belum puas dari pagi udah berduaan?" ucap Sarah sambil masuk juga ke mobil.


Aku tersenyum menahan malu. Darimana Sarah tau kalau dari pagi aku bersama Doni?


"Kalau berduaan mana ada puasnya, Sar."


Ucapan Doni semakin membuat aku malu. Ngapain juga Doni mesti bilang kayak gitu.


"Proyeknya di mana, Don?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Di dekat vila."


"Vila yang di puncak itu?" tanyaku tak percaya.


"Iya. Memang aku pernah ngajak kamu ke vila mana lagi?"


Ish. Doni benar-benar buka kartu aja. Bikin aku makin gak enak hati sama Sarah.


Aku mencubit pinggang Doni.


"Gak usah grogi gitu, Ar. Aku udah tau semuanya kok."


Rupanya Sarah tau apa yang aku rasakan.


"Tau apa, Sar?" aku berusaha mengelak.


"Ada deh." Sarah tertawa lagi.


"Eh Ar, kamu tau kenapa aku posting semua foto-foto kita waktu di vila?"


Aku menggeleng. Sambil menoleh ke belakang. Agar lebih bisa mendengar omongan Sarah.


"Setelah kamu cerita soal Teguh, aku jadi ingat kakak kelasku yang dulu ngejar-ngejar aku waktu kuliah. Namanya Teguh juga. Dan setelah aku buka medsos-nya, kayaknya dia Teguh kakak iparmu. Makanya aku posting semuanya, biar dia makin sakit hati sama kamu." cerita Sarah.


"Jadi kamu kenal sama dia?" tanyaku.


"Dulu kami satu almamater. Dia dua tahun di atasku. Aku juga pernah merasakan seperti yang kamu rasakan sekarang sama dia."


"Maksudnya?" Aku semakin serius mendengarkan cerita Sarah.


"Dulu dia pernah mendekatiku. Awalnya aku berfikir positif."


"Kamu hamil Sar?" Doni tiba-tiba nyeletuk.


"Sembarangan!" Sarah langsung menoyor kepala Doni. Doni tertawa terbahak-bahak.


"Lah itu tadi kamu bilang positif?" Doni masih saja menggoda Sarah.


"Gue belum kelar ceritanya, dodol!" Sahut Sarah dengan kesal.

__ADS_1


"Oh, belum kelar? Ya udah lanjutin."


"Apanya?" tanya Sarah.


"Ya ceritanya lah. Emang mau lanjutin hubungannya sama si kutu kupret itu?"


"Doni..! Gue suruh turun lo!" ancam Sarah.


"Terus kalau gue turun, mobilnya mau kalian dorong?" Rupanya bukan cuma aku yang tidak bisa nyetir, Sarah juga.


"Emang Aryani gak bisa nyetir?" tanya Sarah.


"Bisa. Nyetir gue di ranjang! Hahaha." Aku makin keras mencubit pinggang Doni. Benar-benar bikin aku mati kutu.


"Udah lanjutin ceritanya tadi, Sar." ucapku pada Sarah.


"Cie...kalau udah urusan kutu kupret, semangat amat?" sahut Doni. Bikin tanganku gatel pingin nyubit lagi. Untung Sarah membelaku.


"Cie...yang cemburu? Inget bini di rumah, Pak?" tawa Sarah menggelegar.


"Bini durhaka! Bisanya cuma minta duit doang. Dipikirnya gue pabrik duit, apa?"


"Makanya jangan selalu dikasih. Elu aja yang mau dibegoin!" ucap Sarah.


"Itung-itung balas budi!" sahut Doni.


"Ya udah. Kalo elu mikirnya gitu, gak usah bete dong?"


"Dih, siapa yang bete? Gue cuma lagi ngata-ngatain!" sahut Doni.


"Don, gak boleh gitu ah. Bagaimana pun, dia istri kamu lho."


"Kalau bukan istriku, udah aku karungin kali Ar." sahut Doni.


Aku pikir cerita Doni tentang istrinya hanya akal-akalan aja, kayak kebanyakan orang yang lagi selingkuh. Menjelek-jelekan istri sendiri di depan selingkuhannya.


Ternyata memang benar.


Kalau begitu kasihan sekali Doni, sebagai suami tidak pernah dihargai oleh istrinya. Dia hanya dianggap pohon uang yang bisa dipetik kapan saja.


Perjalanan kami hampir sampai daerah puncak. Tak terasa lama karena kami habiskan waktu dengan ngobrol dan becanda.


Terutama Doni dan Sarah yang ternyata mereka adalah teman baik saat mereka kuliah.


Dan yang baru aku tau juga, ternyata Doni dan mas Teguh juga satu almamater. Meski mereka tak pernah saling kenal.


"Kalian mau ikut ke proyek apa istirahat di vila?" tanya Doni.


"Di vila aja deh. Kan ada Aryani" sahut Sarah.


Doni melajukan mobilnya menuju ke vila. Aroma pedesaan sudah mulai tercium.


Doni mengantar hanya sampai di jalanan depan vila. Katanya dia sudah menghubungi penjaga vila kalau kami akan datang.


Aku dan Sarah berjalan masuk ke vila yang terlihat sangat sepi.


Pintu vila terkunci rapat. Tak ada tanda-tanda orang di dalamnya.

__ADS_1


Lampu-lampu pun masih menyala. Padahal ini sudah siang, malah menjelang sore.


"Sepi sekali, Ar?" Sarah melihat lewat jendela. Korden juga masih tertutup rapat.


"Iya. Tapi tadi Doni bilang sudah menghubungi penjaga vila ini." sahutku.


"Kita tunggu di sana aja, yuk. Mungkin yang jaga lagi pergi" ajak Sarah, sambil menunjuk ke sebuah saung dihalaman belakang vila.


Aku menurut saja. Walau pun di teras ada kursi buat duduk, tapi kayaknya lebih nyaman di saung itu.


"Sar. Cerita kamu tentang mas Teguh lanjutin dong. Aku penasaran."


"Oh iya. Si Doni tuh rese, gangguin orang cerita mulu. Kayaknya Doni ada rasa sama kamu, Ar."


"Masa sih?" aku pura-pura gak tau aja. Biar Sarah kasih penilaian sendiri.


"Masa kamu gak merasa sih?"


"Merasa apa?" aku pura-pura penasaran.


"Doni masih menyimpan rasa buat kamu. Bukankah kalian pernah pacaran waktu masih SMA dulu?"


Ternyata Sarah sudah tau. Pasti Doni yang cerita.


"Masa lalu, Sar" sahutku.


"Dijadikan masa depan juga gak apa-apa." Sarah menutup mulutnya menahan senyuman.


"Ngawur aja. Aku masih punya suami, Sar."


"Iya sih. Tapi selama suami kamu masih tak berdaya, apa salahnya?"


"Jangan begitu, Sar."


Sarah tak bisa menahan tawanya lagi. Dia pasti lagi menertawakan kemunafikanku.


Bilang enggak tapi mau. Sebagai perempuan dewasa aku juga membutuhkan sentuhan laki-laki.


"Paling yang uring-uringan si Teguh. Suami kamu mah mana tau."


"Dia hanya memanfaatkan suami kamu untuk mendekati kamu. Lalu menguasai kehidupanmu. Percaya deh sama aku, Teguh gak baik buat kehidupanmu. Dia orang yang temperamen." Aku makin serius mendengarkan cerita Sarah.


Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang aku dan Sarah kenali sebagai penjaga vila.


Entah dari mana datangnya, yang kami tau dia sudah ada di depan kami. Dan tanpa kita minta sebelumnya, dia membawakan kami minuman.


Dua gelas teh hangat dan camilan yang aku ingat sama persis dengan yang pernah di sajikannya saat kita di vila dulu.


"Terima kasih, Pak." ucap Sarah. Aku hanya diam memperhatikan wajah yang sepertinya tak asing buatku.


Dia hanya mengangguk dengan muka datar, tanpa senyum sama sekali.Lalu pergi begitu saja.


Aku menatap ke arah Sarah.


"Sar, kamu ingat bapak yang barusan..." belum sempat aku melanjutkan kalimatku, aku menoleh ke arah bapak tadi. Tapi dia sudah tak ada.


"Dia kemana, Sar?" bulu kudukku mulai meremang.

__ADS_1


"Ngumpet kali, takut sama kamu" sahut Sarah sambil ketawa.


__ADS_2