
Sejak kejadian percobaan pemerkosaan malam itu, aku tak mau lagi bertegur sapa dengan mas Teguh.
Bahkan aku sering menolaknya mentah-mentah saat dia berniat mengantarkan aku bekerja.
Malam itu saat aku selesai makan, mas Teguh menghampiriku.
"Maafkan aku, Ar. Malam itu aku khilaf."
Aku tak mau menanggapinya. Aku membencinya. Sangat membencinya.
Bahkan bi Yati pun tak pernah menyapanya. Dia ikut membencinya.
Aku hanya menatapnya sekilas dengan tatapan penuh kebencian, lalu masuk ke kamarku.
Seenaknya saja minta maaf, setelah dia hampir melakukan itu padaku.
Aku memang tak memperpanjang masalah itu. Karena jujur aku masih membutuhkannya untuk merawat suamiku.
Pagi ini aku berpamitan pada bi Yati. Hujan cukup deras. Mas Teguh memperhatikanku. Sepertinya dia berharap aku akan memintanya mengantarkan aku.
Hari gini masih kebingungan berangkat kerja saat hujan? Aku tak sebodoh itu.
Aku buka aplikasi ojek online-ku. Pesan taksi online, beres.
Tapi sayangnya saat hujan seperti ini, apalagi pagi hari, susah sekali mendapatkan driver.
Aku menunggu hingga hampir setengah jam sampai aku mendapatkan driver.
"Tidak mau aku antar?" mas Teguh menghampiriku yang sedang menunggu di teras.
Tanpa menjawab, aku berpindah menjauh ke kursi yang lain.
"Kamu masih marah, Ar?"
Aku tak menggubrisnya. Malas sekali aku menjawab pertanyaannya.
Beruntung taksi online pesananku datang. Dengan payung yang sudah aku siapkan, aku berjalan meninggalkan manusia menyebalkan itu.
Di dalam taksi online, Doni menelponku. Dia memintaku nanti langsung ke kamarnya.
Aku menurut saja. Lagi pula malas menunggu di loby.
Hingga sampai di depan hotel, aku langsung turun dari mobil dan bergegas masuk.
Aku lihat di meja resepsionis hanya ada satu orang yang masuk di shif sebelumku.
Aku menyapanya sebentar, lalu langsung naik ke lantai tempat kamar Doni.
Doni membukakan pintu kamarnya dengan masih mengenakan pakaian tidur.
"Kamu belum mandi, Don?" tanyaku heran. Karena biasanya Doni jam segini sudah rapi.
Walaupun akan berantakan lagi karena biasanya Doni meminta jatah pagi padaku.
__ADS_1
Aku menganggap Doni maniak. Karena hampir tiap pagi dan sore dia meminta jatah padaku.
Hingga aku terpaksa mengkonsumsi pil KB agar aku tidak hamil. Meski Doni berkali-kali bilang, dia akan bertanggung jawab jika aku sampai hamil.
Tapi aku tetap tidak mau. Bagaimana pun aku masih mempunyai suami. Cukuplah aku menghianatinya dengan tidur bersama Doni setiap hari.
Tidak dengan memiliki anak dengan laki-laki lain. Lagi pula akan semakin merepotkan aku kalau aku mesti hamil lagi.
"Badanku agak demam" sahut Doni, lalu duduk di sofa.
Aku mendekatinya dan memegang keningnya. Agak panas. Sepertinya Doni kecapean karena hampir setiap hari bolak balik ke proyek bersama Roni.
"Aku pesankan sarapan dulu ya? Setelah itu minum obat. Biar panasmu turun." Doni hanya mengangguk pasrah.
"Hari ini kamu absen saja ya? Jangan kerja dulu. Temani aku" pinta Doni seperti anak kecil yang sedang masuk angin.
"Jangan begitu, Don. Aku gak enak sama Mila. Masa kerja ijin terus."
Aku mencoba menolak kemauan Doni. Doni malah cemberut bikin aku jadi gemas.
"Nanti aku yang tanggung jawab. Pokoknya kamu di sini aja nemenin aku."
Doni lalu menelpon seorang bawahannya. Memintakan ijin khusus untukku.
Hm...mentang-mentang bos, bisa seenaknya aja minta ijin buatku.
Sebenarnya aku tidak enak pada teman-temanku. Berita miring sudah beredar luas. Tapi Doni selalu mengatakan padaku agar tak usah memikirkan berita miring itu.
"Don, kenapa kamu tak mencari baby sitter aja buat meladeni semua kebutuhanmu?" tanyaku sambil menyuapi Doni dengan bubur yang tadi dimintanya.
"Kalau kamu saja yang jadi baby sitterku gimana?"
"Ngaco aja. Gimana dengan pekerjaanku?" tanyaku.
"Resign. Aku akan membayarmu lebih dari gaji resepsionis. Gimana?"
"Enggak ah. Entar kalau kamu bosan sama aku, aku jadi pengangguran." sahutku sambil tertawa.
Sebenarnya bukan Doni yang akan bosan. Tapi aku yang akan bosan kalau seharian hanya dikurung terus di kamar.
"Aku gak akan bosan padamu, Ar. Aku sangat membutuhkanmu. Kamu yang sekarang menjadi penyemangatku."
Wajahku sepertinya sudah merona mendengar ucapan Doni.
"Minum dulu obatnya." Aku mengalihkan perhatian Doni, agar tidak terus menatapku.
Seperti anak kecil, Doni menurut saja apa kataku.
Hingga jam sembilan pagi, Doni yang mestinya istrirahat malah terus saja berceloteh.
Berkali-kali aku menyuruhnya tiduran di tempat tidur, tapi Doni menolaknya. Dia malah memilih tiduran di pangkuanku.
Jam sembilan lewat sedikit, pintu kamar Doni di ketuk dengan keras dari luar.
__ADS_1
Aku dan Doni sampai terperanjat. Tak biasanya orang mengetuk kamar Doni dengan keras seperti itu.
Doni beranjak dari sofa. Aku yang masih duduk di sofa hanya menatap Doni yang berjalan membukakan pintu.
Rupanya seorang perempuan. Aku tak mengenalnya, meski merasa tak asing dengan wajahnya.
"Oh, jadi kamu alasan sakit tak masuk kantor rupanya sedang berduaan dengan perempuan lain?" cerocos perempuan itu.
Aku baru ingat kata Mila waktu itu, dia adalah istrinya Doni. Bakalan perang dunia ini. Aku menghela nafasku, menyiapkan mentalku kalau dia nanti menyerangku dengan kata-kata pedas.
Karena kenyataannya aku sedang berduaan dengan suaminya di dalam kamar hotel. Meski kami sedang tak melakukan apapun.
"Masuk! Mau apa kamu?"
Doni malah menyuruh istrinya masuk. Lalu menutup lagi pintunya.
Aku mengerutkan keningku. Apa maksud Doni?
"Jadi ini perempuan simpananmu, Hah? Dan aku kamu suruh menonton kemesraan kalian?"
Perempuan yang aku tau bernama Maya itu menuding ke arahku. Sementara Doni dengan santainya duduk di sebelahku, meski berjarak.
"Tak usah banyak protes! Apa yang kamu mau sekarang? Sorry aku belum sempat transfer uang bulananmu. Mobile banking-ku sedang trouble."
Wajah Maya berubah merah. Mungkin dia marah. Atau mungkin juga malu padaku.
"Kamu memang selalu tak punya waktu buatku, Don! Kamu hanya sibuk dengan pekerjaanmu dan perempuanmu ini." Maya kembali menunjukku.
Aku masih hanya diam, sejauh dia tidak menghinaku atau menyentuhku.
"Apa kamu punya waktu buatku?" Doni balik bertanya.
Maya gelagapan. Karena setahuku dari cerita Doni dan Sarah, istrinya Doni memang tak pernah mau mengurusinya. Dia mencari Doni hanya saat membutuhkan uang saja.
Dan Maya selalu menolak kalau Doni membicarakan soal perceraian. Dia akan selalu mengungkit masa lalu.
Dimana Doni lah yang telah mengambil keperawanannya, dan membuatnya hamil. Dan selalu menyalahkan Doni ketika mereka harus kehilangan calon buah hati mereka akibat keteledoran Doni, hingga mereka terjatuh dari motor.
Belum lagi sekarang Doni bisa punya jabatan yang enak, karena keluarga istrinya membiayai kuliah Doni sampai selesai.
Dan sekarang Doni selalu memberikan uang pada istrinya hanya dianggap Doni sebagai balas budi.
Meski kadang kesal karena istrinya terus saja meminta tanpa Doni tau uangnya dikemanakan.
"Oke. Kalau kamu minta waktuku, mulai hari ini aku akan tidur di sini. Dan kamu, perempuan murahan! Kembalilah ke meja resepsionismu! Mungkin di sana kamu akan ketemu tamu yang tajir, yang bisa kamu temani tidur!" ucap Maya tanpa di saring.
Aku dan Doni berdiri berbarengan. Aku berniat menampar mulutnya yang bergincu tebal.
Plak!
Doni yang menampar istrinya lebih dulu. Aku melihatnya sekilas, lalu mengambil tasku dan berlari keluar dari kamar Doni.
"Ar! Tunggu!" Suara Doni memanggilku. Tapi aku tak mau mendengarkannya dan membanting pintu kamar Doni.
__ADS_1