
Doni mengantarkanku sampai di jalan depan rumah.
"Makasih, Don."
"iya. Istirahatlah. Besok kita ketemu lagi di hotel" ucap Doni.
Doni melajukan mobilnya setelah aku masuk ke dalam rumah.
Aku tak melihat mas Teguh. Hanya ada suamiku yang duduk di ruang tengah, ditemani bi Yati dan anakku.
Aku menghampiri mereka. Ada rasa bersalah saat melihat suamiku yang masih tak berdaya di kursi rodanya.
Aku hampiri mas Arka. Aku belai kepalanya.
"Mas, maafkan aku. Aku telah melakukan dosa terhadapmu. Maafkan aku, Mas" ucapku lirih. Bahkan sangat lirih. Karena aku tak mau bi Yati mendengarnya.
"Bi. Adek baik-baik saja, kan?" tanyaku pada bi Yati, yang masih sibuk memberikan susu pada anakku.
"Baik, Bu. Semalam ibu tidak pulang?" tanya bi Yati.
"Aku ada kerjaan sampai malam diluar kota, Bi. Saat mau pulang malah hujan sangat deras. Apa di sini juga hujan?" tanyaku.
Padahal aku tau, halaman rumah kering. Tak ada tanda-tanda hujan semalam.
"Tidak, Bu. Semalam tidak hujan" jawab bi Yati.
Aku meraih anakku. Lalu aku memangkunya dan memberikan susu. Meneruskan yang dilakukan bi Yati tadi.
"Mas Teguh semalam juga tidak pulang, Bu" ucap bi Yati.
Aku terkejut. Aku pandangi bi Yati, ingin meminta kelanjutan omongannya.
"Mas Teguh pamitnya mau nyariin ibu. Sekitar jam sepuluh malam" lanjut bi Yati.
"Oh. Terus siapa yang memandikan mas Arka?" tanyaku.
Aku melihat mas Arka sudah mandi dan bau wangi juga.
"Tadi pagi-pagi mas Teguh datang. Selesai memandikan pak Arka dia pergi lagi" jawab bi Yati.
"Dia bilang apa?" tanyaku.
"Dia cuma bilang, titip pak Arka sama Dedek. Saya juga tidak tau dia pergi kemana" jawab bi Yati.
Aku hanya mengangguk. Tanpa berniat menanyakan padanya langsung.
Selesai memberikan susu pada anakku, aku serahkan dulu pada bi Yati lagi.
Aku ingin berganti pakaian. Risi sekali memakai pakaian tidak ganti dari kemarin.
Selesai berganti pakaian aku keluar dari kamarku. Niatku mau makan sesuatu karena perutku terasa sedikit lapar.
Di meja makan aku melihat mas Teguh sedang makan. Dia tak menatapku. Entah memang tidak melihatku atau dia marah karena aku semalam tidak pulang?
Aku pun mengabaikannya. Aku buka lemari makan. Kebetulan ada tempe goreng. Aku ambil dua potong dan membawanya menggunakan piring beserta segelas air putih.
__ADS_1
Saat aku hendak pergi, mas Teguh memanggilku.
"Ar."
Aku menoleh. Seakan tak ada apa-apa.
"Iya."
"Dari mana kamu semalam?" Rupanya dia menanyakan juga.
"Meeting" jawabku singkat.
"Sampai menginap?"
"Saat mau pulang, hujan deras. Jadi terpaksa menginap" jawabku.
"Oh, terpaksa." sahut mas Teguh. Terdengar seperti sedang menyindirku.
Aku membawa makanan dan gelas minumanku ke ruang tengah.
Menghampiri suami dan anakku yang sedang dalam satu ruangan tapi sama-sama tak saling mengenali.
Bi Yati asik menonton televisi sambil sesekali menenangkan anakku.
"Eh, ibu. Nanti mau masak apa, Bu?" tanya bi Yati begitu sadar ada aku.
"Apa saja, Bi. Oh, iya. Makanan buat mas Arka masih ada?" tanyaku.
"Masih banyak. Aku kemarin membelanjakannya."
"Oh iya. Makasih, Mas" sahutku singkat. Lalu mencoba mengacuhkannya dengan menikmati makananku.
Bi Yati yang merasa tidak enak, pergi ke dapur. Aku mendekati anakku. Menggantikan bi Yati menemani anakku.
Mas Teguh duduk di sebelahku.
"Mestinya kamu memikirkan untuk pulang semalam. Kamu punya anak dan suami, Ar" ucap mas Teguh.
Dia masih saja membahas soal itu.
"Kan sudah aku bilang, semalam disana hujan deras."
"Bukankah kalian sudah selesai meetingnya sejak sore?" tanya mas Teguh.
Dari mana dia tau? Atau hanya asal menebak saja? Aku memilih diam saja.
"Atau masih ada meeting season kedua setelah sesi foto-foto?"
Kok dia tau? Apa dia mengikutiku?
"Kenapa diam? Kamu pikir aku tidak tau? Kalian jalan ke puncak. Nongkrong di cafe lalu menginap di vila."
Cleguk. Dia tau semuanya.
"Lalu dengan alasan hujan deras, kalian menginap di vila. Dua pasangan yang serasi."
__ADS_1
"Iya. Aku datang bersama bosku menemui temannya yang akan mengajak kerja sama, yang datang bersama istrinya" aku menjelaskan.
"Bukankah kalian datang menggunakan mobil? Tak akan kehujanan kalau tetap pulang malam itu juga" ucap mas Teguh yang terus menghakimiku.
"Bosku tidak berani pulang. Hujannya sangat lebat" sahutku membela diri.
"Kamu kan bisa menelponku. Aku bisa menjemputmu."
Mas Teguh tetap saja memojokanku.
"Aku tak mau merepotkanmu" sahutku.
"Tak mau merepotkan? Aneh".
"Aneh kenapa? Apa salah kalau aku tak ingin menambah beban kamu? Kamu sudah banyak aku repotkan" sahutku mulai terpancing.
"Aku tak pernah merasa repot! Kalian keluargaku. Dan gak salah kan kalau aku mengurus kalian semua?"
"Tidak ada yang salah. Begitu juga kalau aku tidak ingin merepotkanmu!" Aku segera bangkit dari dudukku. Aku raih anakku. Dan pergi ke kamarku.
Capek harus berdebat terus dengannya. Tak akan ada habisnya. Pasti omongannya hanya muter-muter saja.
"Mau kemana kamu?" tanya mas Teguh.
"Ke kamarku. Salah?"
Mas Teguh terdiam. Aku langsung ke kamarku dan menutup rapat pintunya.
Dari jendela kamarku yang memghadap ke jalanan, aku lihat mobil mas Teguh pergi.
Biar saja dia pergi. Dia selalu begitu. Hanya karena dia pernah di tugasi menjaga mas Arka, lalu dia seenaknya mengatur kehidupan kami.
Kalau cuma mengurus mas Arka dan anakku, silakan saja. Tapi kalau juga meski ikut campur dengan urusanku, itu sudah sangat menggangguku.
Tak lama, bi Yati mengetuk pintu kamarku.
"Ada apa, Bi?" tanyaku.
"Kelihatannya pak Arka buang air besar, mas Teguhnya belum kembali" ucap bi Yati.
"Oh. Bawa kesini saja, Bi. Nanti aku bersihkan."
Lalu bi Yati mendorong kursi roda mas Arka. Dan membantu membawanya ke kamar mandi yang tak jauh dari kamarku.
Aku membersihkannya sendiri. Mungkin mas Teguh berfikir aku akan kerepotan kalau dia pergi.
Tidak sama sekali. Aku bisa mengerjakannya meski tanpa bantuannya. Toh aku sudah tidak mengandung lagi. Aku bisa mengangkat yang berat-berat. Ada bi Yati juga yang bisa membantuku.
Kalau pun aku berangkat kerja, aku bisa menyewa jasa perawat. Soal biaya, kan almarhum mertuaku meninggalkan banyak harta.
Aku bisa memanfaatkannya untuk keperluan anak dan cucu mereka. Dan bisa saja tanpa persetujuan mas Teguh. Karena aku lebih berhak dari dia.
Seandainya saja mas Arka sembuh, pasti aku tak akan pernah lagi berhubungan dengan orang yang menyebalkan seperti dia.
Selesai membersihkan mas Arka, aku bawa dia ke kamarku. Dengan tenaga penuh, aku naikkan dia ke tempat tidur. Aku pakaikan diapers dan aku rapikan pakaiannya. Selesai.
__ADS_1