
Aku melangkahkan kakiku yang sudah bengkak. Di meja teras rumah aku menemukan sebuah paper bag berlambangkan sebuah toko roti langganan ibu mertuaku.
Aku ambil paper bag itu. Aku lihat isinya. Kelihatannya masih utuh.
Apakah ibu mertuaku tadi ke sini? Rumah memang aku kunci. Walaupun di dalam rumah sudah tak ada lagi barang-barang berhargaku, aku tetap khawatir terjadi lagi kemalingan.
Aku takut kalau nanti si maling yang tak menemukan apa-apa lagi, melukai mas Arka.
Mungkin kalau aku tak salah naik angkot, aku akan bertemu ibu mertuaku. Pasti ibu akan sangat khawatir.
Baik hapeku atau pun hape mas Arka hilang. Tak ada yang bisa di hubungi.
Aku membuka pintu rumah dengan kunci yang aku selipkan di bawah pot bunga.
"Assalamualaikum..." ucapku walaupun tak akan ada yang menjawab salamku. Lalu aku langsung menuju ke kamarku.
Aku terkejut melihat posisi mas Arka yang sudah ada di lantai. Bagaimana bisa?
Jangan-jangan mas Arka jatuh. Tapi kalau dia jatuh berarti dia menggerakan tubuhnya. Karena selama ini, sekali pun mas Arka berbaring di pinggir, tak pernah jatuh. Karena dia tidak bisa bergerak. Apalagi menggeser tubuhnya. Tapi ini?
Aku langsung mendekatinya. Ingin mengangkatnya tapi jelas aku tak akan kuat.
"Mas, kamu bergerak? Mas...! Jawab aku! Mas bergerak?" tanyaku sambil mengguncang-guncangkan lengannya.
Aku ikut duduk di lantai. Aku angkat sedikit badannya bagian atas. Aku peluk suamiku erat.
"Kamu bergerak, Mas. Kamu bergerak, Mas. Ayo gerakan lagi tubuhmu, Mas!" ucapku sambil menangis dan terus memeluknya.
Puas menangis, aku lepaskan pelukanku. Aku lihat mata mas Arka berkaca-kaca. Dia juga menangis. Dia merespon lagi.
"Mas, ayo bergerak lagi. Aku akan membantumu!" Aku goyangkan lagi tangannya, kakinya. Tapi semua sudah kembali lemas. Tak bertenaga. Seperti tak bertulang.
Aku letakan lagi kepala mas Arka di lantai. Aku mengambil bantal untuk menyangga kepalanya agar tak sakit kena lantai yang keras.
Aku juga mencari selimut tebal untuk mengalasi tubuhnya agar tak masuk angin. Hanya itu yang bisa aku lakukan.
__ADS_1
Aku duduk di sebelahnya. Karena aku sangat lapar, aku makan roti pemberian ibu mertuaku.
Ingin rasanya aku menyuapi mas Arka. Tapi dia belum bisa mengunyah. Kasihan sekali suamiku.
Sementara aku makan enak, dia tadi hanya makan bubur putih. Karena persediaan bahan makanan sudah banyak yang habis.
Aku mengambil sebuah roti isi coklat kesukaanku. Aku buka tengahnya. Aku ambil coklatnya yang meleleh. Aku oleskan ke lidah mas Arka. Tanganku yang satunya membuka bibirnya.
Aku lihat matanya sedikit berbinar. Dia menikmati rasa coklat itu. Aku mengulanginya lagi, walau sedikit kerepotan dan belepotan.
Selama sakit, mas Arka hanya mengkonsumsi bubur putih yang di haluskan, oatmil, atau jus buah dan sayur.
Pastinya dia bosan. Makanya saat aku mengoleskan coklat di lidahnya dia langsung berubah mimik wajahnya.
Aku jadi berfikir, mungkin aku harus memberi makanan yang lain, walaupun harus selalu di haluskan.
Tapi sekarang uang dari mana? Aku sudah tak punya uang sepeserpun. Tak ada juga barang-barang yang bisa aku jual.
Mungkinkah aku menjual perabotan rumahku? Tapi siapa yang akan membeli?
Semua tetanggaku di komplek ini orang kaya. Perabotan mereka pastinya lebih mewah dari punyaku.
Aku juga tak begitu mengenal mereka. Dan mereka jarang di rumah. Paling ada pembantu di rumah-rumah mereka.
Ah, aku pusing. Tapi aku harus memikirkannya. Minimal untuk makan sehari-hari.
Hari menjelang gelap. Aku tinggalkan mas Arka. Aku mau menyalakan lampu dan mengunci pintu. Trauma sekali aku dengan kejadian semalam.
Setelah semua beres, aku merebahkan tubuhku di sofa ruang tengah. Aku berfikir, apa yang bisa aku jual besok pagi?
Tak terasa aku pun tertidur lagi. Rasa pegal di kakiku semakin menjadi. Tapi aku berusaha untuk tak merasakannya. Makanya aku memilih tidur.
Aku terbangun tengah malam. Aku teringat mas Arka yang masih ada di lantai kamar. Aku segera bergegas ke kamarku.
Aku lihat mas Arka masih terbaring di sana. Tapi sudah bergeser sedikit dari posisinya. Dia bergerak lagi!
__ADS_1
Aku bahagia sekali melihatnya. Walaupun sedih karena tak bisa memindahkannya ke atas tempat tidur.
Aku mengambil satu selimut tebal lagi dari lemariku. Aku buat alas tidurku. Lalu aku berbaring di sebelah tubuh suamiku.
Aku peluk erat tubuh lemas itu. Sampai pagi kami tidur berpelukan di lantai. Tepatnya aku yang memeluknya.
Pagi hari saat sinar matahari menerobos masuk lewat jendela kamarku, aku memicingkan mataku. Aku lihat jam di dinding kamarku. Sudah jam enam pagi.
Aku akan beranjak berdiri. Tapi badanku terasa kaku. Pegal semua karena tidur hanya beralaskan selimut.
Perlahan aku mencoba bangkit. Dan berjalan menuju kamar mandi. Aku akan mandi untuk menyegarkan tubuhku.
Hari ini aku harus mendapatkan uang untuk makan kami berdua. Dan untuk beli diapers suamiku. Entah bagaimana caranya. Entah apa yang aku jual nanti.
Selesai mandi, aku membersihkan tubuh mas Arka. Posisinya yang tiduran di lantai, memudahkan aku mengganti pakaian dan alas tidurnya.
Dan aku bisa membersihkan bekas ompolnya dengan hanya mengepel lantainya. Tak perlu kuatir nembus ke kasur yang akan basah dan bau yang menyebar ke mana-mana.
Aku sendiri pun tak takut terjatuh. Lebih bebas bergerak.
Semoga saja badan kami kuat, tidak masuk angin. Pegal sedikit biarlah. Nanti buat bergerak juga ilang pegalnya.
Selesai membersihkan mas Arka, aku membuat teh hangat. Aku akan menyuapkannya ke mas Arka. Semoga dia suka. Karena selama ini mas Arka hanya minum susu, jus dan air putih.
Dia pasti kangen rasa teh manis buatanku. Sesuatu yang beda. Selain karena persediaan susu dan buah untuk jus nya juga habis.
Aku menyuapi teh manis hangat perlahan-lahan ke mulutnya. Dan benar dugaanku. Mas Arka menyukainya. Wajahnya kembali berbinar. Aku mengecup seluruh wajahnya. Bahagia rasanya melihat wajah suamiku tak lagi layu seperti biasanya.
Aku juga mengoleskan selai coklat dari roti sisa kemarin. Mas Arka memakan coklatnya, biarlah aku yang makan rotinya.
Mas Arka kelihatan sangat bahagia. Aku tersenyum dibalik tangisku yang aku tahan. Saat ini aku tak mau menangis di depan mas Arka.
Aku gak mau mas Arka melihat aku menangis dan ikut menangis juga. Biarlah dia bahagia. Sekali pun hatiku sakit. Sangat sakit melihat kondisi suamiku yang tak sembuh-sembuh.
Kebahagiaan yang sangat-sangat sederhana. Hanya dengan olesan coklat dan secangkir teh hangat manis.
__ADS_1
Aku tersenyum puas.