
Kami sampai di rumah Sarah sudah malam. Aku sudah sangat lelah. Lelah hati, pikiran dan pastinya badan.
"Tidurlah, Ar. Kamu kelihatan sangat lelah," ucap Roni. Dia memang salah satu teman terbaikku. Dia selalu penuh perhatian padaku. Meski jarang dia tampakan karena pastinya tidak enak dengan Sarah maupun Doni.
"Kamu bisa pakai kamar Aryaka, Ar. Nanti aku ambilkan baju ganti. Mungkin kamu mau mandi dulu biar badan kamu lebih segar." Sarah ikut menimpali.
Aku hanya mengangguk. Aku sudah malas lagi bicara. Lebih baik menurut saja.
Di dalam kamar anakku yang baru sekali ini aku masuki, aku langsung merebahkan badan. Terasa sangat nyaman karena badanku memang sudah sangat capek.
Sarah masuk ke kamar.
"Ini baju dan handuknya, Ar. Mandilah dulu. Minimal bersihkan wajah kamu." Sarah memberikanku baju tidur dan handuk bersih. Serta beberapa peralatan mandi baru.
"Iya, Sar. Makasih, ya." Aku masih belum beranjak dari posisiku. Aku masih menikmati nyamannya bisa membaringkan badan.
"Ar. Jangan terlalu terlarut dalam kesedihan. Aku tau ini berat untuk kamu. Tapi tetaplah kuat. Tetaplah tegar," ucap Sarah sebelum dia keluar lagi dari kamar.
Aku tak bisa mencerna ucapan Sarah dengan baik. Otakku sudah penuh dengan masalah yang sangat menggangguku.
Sampai akhirnya badanku sedikit enakan, aku bangkit dan berjalan menuju kamar mandi kecil yang ada di kamar anakku.
Segar sekali sebenarnya saat terkena kucuran air dari shower. Tapi mungkin karena kondisi badanku yang kurang fit, membuat aku menggigil.
Dan sayangnya, air kran di sini tak dilengkapi dengan kran air hangat. Jadi aku harus menahan dinginnya air, hingga terpaksa aku sudahi mandiku malam ini.
Selesai mandi dan mengganti pakaian, aku meringkuk dibalik selimut. Aroma khas bayi membuat rasa rinduku pada anakku kembali menyerangku.
Dalam hangatnya selimut tebal, aku hanya bisa menangis sesenggukan.
"Kamu di mana anakku? Mama merindukan kamu. Maafkan Mama yang tak bisa menjaga dan merawatmu dengan baik." Aku tak kuasa menahan isak tangisku.
Hingga aku mendengar pintu kamar terbuka. Aku mengira Sarah yang masuk. Mungkin dia mendengar isakanku.
Aku hapus air mataku. Dengan masih sesenggukan, aku pastikan siapa yang datang.
"Kenapa menangis, Ar?" Roni berdiri tepat di depan mukaku.
Aku sangat terkejut karena ternyata Roni yang datang. Di mana Sarah?
Meski mereka sangat baik padaku, tapi sangat tidak nyaman kalau ternyata Roni yang datang.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Ron. Aku hanya teringat Aryaka," jawabku tanpa merubah posisiku. Bahkan selimut masih tetap aku genggam dengan kuat.
"Tidak usah khawatir. Besok kita cari lagi. Sekarang tidurlah. Kamu perlu istirahat." Roni mengulurkan tangannya dan membelai dahiku dengan lembut.
Setelah itu, Roni keluar dari kamar. Aku masih tercengang dengan yang terjadi barusan.
Roni, untuk apa dia masuk tiba-tiba ke kamar? Kenapa bukan Sarah? Lalu belaian lembutnya?
Ah, aku berusaha menepis semua pikiran negatif. Aku hanya tau, Roni sangat baik padaku. Sejak dulu. Sejak pertama kali bertemu.
Aku berusaha juga memejamkan mataku. Agar bisa melupakan semua beban ini. Aku pun tak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Seperti ucapan Sarah yang tiba-tiba muncul di kepalaku.
Aku bangun agak siang. Jam tujuh pagi. Mungkin memang badanku terlalu capek kemarin. Hingga membuat tidurku begitu lelap.
Aakkhh...! Aku menggeliatkan badan yang terasa pegal semua. Mungkin karena terlalu lelap dan kelamaan tanpa merubah posisi.
Aku bangkit dari tempat tidur. Aku juga membuka tirai jendela sebelum masuk ke kamar mandi.
Saat akan melangkah ke kamar mandi, aku lihat ada baju ganti untukku. Siapa yang meletakannya?
Pastinya Sarah. Tidak mungkin Roni. Menyesal juga semalam aku tak mengunci pintu kamar.
Selesai mandi dan berganti pakaian, aku duduk di depan meja rias. Aku perhatikan wajahku yang masih terlihat suntuk.
Ya, pastinya sejak Mila memberi tahu kalau Maya mengidap virus HIV. Aku jadi teringat Mata, istrinya Doni.
Aku segera merapikan rambut, dan keluar. Aku ingin bertanya pada Sarah atau Roni tentang Maya. Mereka juga mengenal Maya.
"Pagi, Ar," sapa Roni duluan. Dia sedang duduk di kursi makan. Kebetulan posisi Roni menghadap ke kamarku.
"Hay, pagi juga, Ron. Pagi Sar." Aku langsung ambil tempat di sisi kiri Sarah tanpa menunggu disuruh.
"Makan, Ar." Sarah memberikan piring padaku.
"Aku buatkan teh, ya?" Sarah langsung berdiri tanpa sempat aku menjawab.
Nasi goreng. Menu standart buat sarapan. Tak apalah. Aku juga biasa menyajikannya di rumah. Dan mas Arka sangat menyukai nasi goreng buatanku. Hingga kami jarang sekali membelinya di luar.
"Gimana tidurmu?" tanya Roni. Dia mendekatkan telur ceplok ke depanku. Aku mengambilnya satu.
"Lelap. Saking lelapnya sampai tak tau siapa yang menaruh baju ini," jawabku.
__ADS_1
"Aku tadi yang naruh. Aku sengaja mengendap-endap kayak pencuri. Biar enggak mengganggu tidur kamu, Ar," jawab Sarah. Lalu dia meletakan teh hangat di depanku.
"Makasih, Sar." Aku meneguknya sedikit.
"Sudah ada kabar dari kantor polisi?" tanyaku sebelum menyuap nasi goreng.
"Ada. Tadi pak Tohir sudah mengabari. Mereka sedang menuju ke rumah Yola lagi. Tadinya aku akan menyusul ke sana. Tapi pak Tohir bilang, tidak perlu. Biar saja mereka yang bekerja," jawab Roni.
Aku mengangguk setuju. Tidak baik juga mengganggu tugas mereka.
"Oh iya, apa kalian sudah mengabari Maya kalau....Doni meninggal?"
Sarah dan Roni malah saling pandang.
"Kami baru saja dapat kabar kalau Maya....meninggal dunia." Sarah menundukan wajahnya.
Aku tahu kalau dari dulu Sarah tidak menyukai Maya. Tapi bagaimanapun saat kita mengetahui kematiannya, pasti sangat sedih. Apalagi kematiannya menyusul Doni yang sangat dekat dengan mereka.
Aku sampai menjatuhkan sendok saking terkejutnya.
"Eh, maaf." Aku ambil lagi sendokku.
"Kapan, Sar?" tanyaku.
"Semalam. Saat dia dikabari tentang kematian Doni. Dia langsung anfal," jawab Sarah.
"Apa kalian juga tahu kalau Maya...." Aku sengaja tak meneruskan kalimatku.
Sarah mengangguk. Sepertinya dia paham apa yang aku maksud.
"Kami mengetahuinya beberapa hari sebelum Doni meninggal," sahut Roni.
"Doni yang mengatakannya?" Roni mengangguk.
"Apa sebelumnya kalian tidak mengetahuinya?"
"Doni tidak pernah bicara sedikitpun tentang itu. Bahkan Doni juga menyembunyikan dari kami, kalau itu alasannya tidak pernah mau meninggalkan Maya," ucap Roni.
Aku menundukan kepalaku. Rasa takut tertular virus itu kembali menyeruak.
"Ar. Kami punya kenalan dokter yang biasa menangani HIV dan aids. Nanti kalau kamu sudah lebih tenang, kamu bisa memeriksakan diri. Kamu belum pernah mengeceknya, kan?" Sarah menggenggam tanganku.
__ADS_1
Aku mengangkat wajahku. Memastikan kalau Sarah benar-benar menerimaku dengan baik, meski aku bisa saja mengidap virus yang sama dengan Maya.
Sarah mengangguk dan tersenyum padaku. Genggamannya pun semakin erat.