SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 18 PESTA KEJUTAN


__ADS_3

Siang itu, aku benar-benar tidak makan. Aku tidak bernafsu sama sekali. Aku hanya memakan beberapa buah-buahan dari kulkas.


Untuk mengurangi rasa lapar dan menunggu waktu hingga mas Arka pulang, aku memilih untuk tidur.


Aku buka-buka dulu aplikasi novel online kesayanganku. Aku membaca beberapa sinopsisnya, mencari novel yang paling aku suka. Sampai akhirnya aku terlelap.


Jam empat sore aku terbangun karena mendengar bunyi alarm dari ponselku. Sengaja aku menyetelnya jam empat, biar aku bisa bersiap-siap dulu, sebelum nanti berangkat ke dokter kandungan


Setelah rapi, aku berjalan keluar rumah. Aku mau menunggu suamiku di teras rumah. Sambil membaca-baca buku, yang di sediakan suamiku di bawah meja.


Mas Arka memang hobby membaca. Di mana pun tempat, saat ada waktu, dia akan membaca buku. Makanya dia selalu menaruh buku-buku di beberapa tempat.


Seperti di dashboard mobil. Saat sedang bete di mobil, dia akan membacanya. Di kamar kerjanya, udah pasti. Di teras rumah dan seluruh ruangan di rumah ini, kecuali dapur dan kamar mandi.


Aku yang notabene juga termasuk kutu buku, saat di sekolah dulu, sangat mendukung kebiasaan mas Arka yang menaruh buku-bukunya di beberapa tempat.


Jadi gak usah repot-repot membawa buku bacaan kemana-mana. Walaupun akhir-akhir ini aku lebih banyak membaca novel online.


Karena menurutku, lebih praktis. Gak usah capek-capek membuka halaman demi halamannya. Semua judul ada. Tinggal klik di pencarian.


Aku duduk di teras rumah, sendirian. Aku perhatikan rumah Yola, pintunya masih tertutup. Halamannya pun kelihatan masih kering. Karena biasanya kalau sore, Yola akan menyirami tanaman-tanamannya.


Yola memang pecinta tanaman hias. Banyak sekali koleksinya, yang aku tak tau nama-namanya. Katanya, buat menghibur diri. Karena hidup jauh dari pasangannya.


Saking banyaknya koleksi tanamannya, Yola menitipkan beberapa pot di halaman rumahku. Dia tata sedemikian rupa, hingga menyerupai taman kecil.


Kata Yola, tinggal di kasih kolam ikan, atau air terjun mini, jadilah taman kecil yang asri. Sejuk, karena ada suara gemericik air. Seperti di halaman rumah Yola.


Aku mengiyakan, tapi belum aku lakukan. Mas Arka juga belum punya waktu senggang. Waktunya selama enam hari,hanya untuk bekerja.


Aku hanya kebagian waktu hari minggu. Itu pun kadang dia masih menyelesaikan kerjaannya di ruang kerjanya.


Kalau hari-hari biasa, aku meminta kepada mas Arka untuk tidak sering-sering lembir, kecuali memang perlu banget.


Aku bilang, kasih waktu buat tubuh dan otak untuk istirahat. Jangan di forsir setiap hari. Dia pun menurut. Hampir setiap hari pulang ontime. Kecuali terjebak macet di jalan.

__ADS_1


Jarak dari rumah kami ke kantor mas Arka memang tak terlalu jauh. Tapi kalau udah kena macet, bisa lebih dari setengah jam di jalan. Waktu yang mestinya cuma sekitar lima belas menitan.


Aku asik membaca buku tentang anatomi tubuh manusia. Aku kepingin mempelajarinya lagi. Dulu di sekolah sudah di ajarkan. Sesuai jurusanku.


Tapi sudah banyak yang lupa. Maklum, walaupun aku dulu termasuk salah satu siswa berprestasi, tapi selepas SMA aku tak melanjutkan kuliah.


Aku memilih untuk bekerja. Sebenarnya bukan memilih sih, lebih kepada terpaksa bekerja. Aku di paksa mencari penghasilan sendiri. Karena aku sebatang kara.


Sementara teman-teman sebayaku, masih asik dengan dunia remajanya. Masih berkutat dengan tumpukan-tumpukan tugas dari kampusnya. Aku harus mencari sesuap nasi.


Aku harus berjuang sendiri, melawan takdirku. Agar aku tidak kelaparan. Agar aku tidak hidup mengandalkan belas kasihan orang.


Miris. Tapi itulah kehidupan. Itulah takdirku. Suka atau tidak suka, harus aku terima. Harus aku jalani. Kecuali aku memilih mati.


Banyak orang yang menasehatiku, untuk ikhlas menjalani kehidupanku. Gampang bagi mereka mengucapkan itu. Tapi tidak segampang aku yang melakukannya.


Ikhlas atau tidak ikhlas, aku jalani saja. Mungkin lebih tepatnya, aku serahkan semua pada Yang Maha Memberi hidup.


Saking asiknya membaca, sampai tak sadar hari mulai gelap. Aku melihat jam di pergelangan tanganku. Hampir jam enam sore.


Kenapa mas Arka belum juga sampai di rumah. Aku buka ponselku. Tak ada notifikasi apapun dari suamiku.


Aku coba menelfonnya. Hanya memanggil. Hapenya gak aktif. Aku coba menelfon biasa. Karena aku udah isi pulsa tadi, pun hanya jawaban dari operator.


Aku mulai cemas. Gak biasanya mas Arka seperti ini. Biasanya kalau ada urusan mendadak, selalu memberi kabar. Bahkan saat terjebak macet pun menyempatkan diri, memberi kabar, agar aku gak cemas.


Tapi ini, tak ada kabar. Malah hapenya mati. Kalau kehabisan daya, kayaknya gak mungkin. Karena biasanya mas Arka membawa power bank.


Aku mulai mondar-mandir. Bagaimana cara menghubungi suamiku? Gak mungkin juga aku datangi kantornya. Karena jam segini biasanya kantor sudah sepi.


Suara adzan maghrib mulai terdengar. Aku menghela nafas panjang.


Aku putuskan untuk sholat maghrib dulu. Siapa tau abis maghrib, mas Arka pulang. Tapi sampai hampir isya pun, mas Arka belum juga ada kabar.


Aku coba memghubungi lagi ponselnya, masih tidak aktif. Kemana dia? Apa yang terjadi dengannya?

__ADS_1


Sampai jam delapan malam, belum juga ada tanda-tanda kepulangan mas Arka. Aku mulai panik.


Aku bolak-balik ke teras. Memandang jauh ke arah jalanan. Tak ada mobil yang melintas.


Jam sembilan malam. Jalanan makin sepi. Rumah Yola pun gelap. Entah kemana orangnya.


Aku semakin cemas. Dan juga sedikit merinding. Tak biasanya suasana komplek sepi begini.


Atau karena aku yang sedang cemas, dan kebetulan rumah Yola gelap. Dan aku pun harus ada di teras.


Aku memilih masuk ke dalam rumah. Agak membesarkan volume televisi. Dan duduk dengan cemas sambil menonton siaran televisi, yang sama sekali aku tak berminat.


Tak lama, aku dengar suara mobil mas Arka. Aku pun segera berlari membukakan pintu. Aku langsung mengembangkan senyum. Lega. Akhirnya suamiku pulang juga.


Aku lihat mas Arka berjalan dengan tentengan yang lumayan banyak. Bawa apa aja dia?


Mas Arka masuk dengan santai. Lalu meletakan bawaannya di meja ruang tamu.


Tak lama, Yola pun datang. Dia membawa sebuah tart, dengan lilin warna-warni menyala di atasnya.


Aku masih bingung dengan semua ini. Ada apa?


"Surprisee..." ucap Yola. Aku semakin tak mengerti.


Mas Arka mencium pipiku, sambil mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Dan selamat atas kehamilanku.


Astaghfirullah...ternyata hari ini adalah hari ulang tahunku. Karena aku tak pernah merayakannya, aku jadi lupa.


Yola mendekatkan kue tart nya padaku. Lalu dia dan mas Arka menyanyikan lagu happy birthday untuk ku.


Aku menitikkan air mataku. Alhamdulillah, di usiaku yang semakin bertambah, bertambah pula karuniaMu.


Selesai menyanyikan lagu, Yola menyuruhku meniup lilinnya. Tapi sebelumnya aku di minta mengucapkan permintaanku di dalam hati.


Wuuusshhh.

__ADS_1


Lilin-lilin itu pun mati semua. Di bantu oleh tiupan dari mas Arka.


Kami merayakan bertiga. Bahagia. Orang-orang terdekatku memberikan aku sebuah kejutan. Surprise Party.


__ADS_2