
Jam delapan pagi lewat sedikit, dokter visit datang memeriksa kondisiku. Aku yang sangat ingin pulang, sengaja mengajak dokter bercanda. Maksudku agar dokter yakin bahwa aku sudah membaik.
"Dok, boleh saya pulang hari ini?" tanyaku. To the point.
"Emang ibu udah pingin pulang sekarang?" dokter malah balik bertanya kepadaku.
"Iya, Dok. Udah kangen" jawabku absurd.
"Lho, suaminya nungguin di sini kok masih kangen aja?" tanya dokter.
"Ih, Dokter kayak gak tau aja" jawabku asal.
Lalu dokter menjelaskan, bahwa kondisiku memang sudah membaik. Tapi untuk sementara waktu, aku mesti bedrest. Jangan banyak aktifitas dulu. Apalagi aktifitas suami-istri.
"Tapi saya sudah boleh pulang kan, Dok?" tanyaku, sedikit memaksa.
Dokter menghela nafas. Karena aku yang ngotot minta pulang, akhirnya dokter mengijinkan aku untuk pulang. Tapi dengan berbagai syarat. Dan aku harus menandatangani surat pernyataan, yang isinya diantaranya, bahwa aku yang meminta untuk pulang dan segala resiko yang terjadi bukan lagi tanggung jawab rumah sakit.
Aku pun mengangguk setuju. Yang penting bisa pulang. Pikirku. Demi kesehatan suamiku juga.
Mas Arka dan ibu yang mendengar aku begitu ngotot untuk pulang, sampai geleng-geleng kepala.
Setelah mas Arka menyelesaikan administrasinya, akupun bisa pulang. Walaupun ibu meminta, sementara kami tinggal di rumah ibu dulu.
Ibu khawatir, kalau pulang ke rumah kami sendiri, tak ada yang mengawasi dan membantuku. Sebab menurut dokter, walaupun di rumah aku harus tetap bedrest. Gak boleh ngapa-ngapain dulu selama dua hari ke depan.
Aku pun setuju dengan keinginan ibu. Kasihan juga ibu yang baru saja di tinggal bapak. Pasti akan sangat kesepian.
Dan kalau di rumah ibu, aku kan tidak perlu memikirkan keperluan mas Arka dulu. Karena ada ibu dan bi Sumi yang akan menggantikan aku.
Aku keluar dari rumah sakit, dengan didorong di atas kursi roda. Rasanya kayak orang pesakitan. Tapi gak apalah. Aku juga masih takut akan pendarahan lagi.
Saat hendak menaiki mobilpun, mas Arka membopongku. Kalau kata orang, ala bridal style.
Sampai di rumah ibu, ku lihat masih banyak tetangga yang hilir mudik di sana. Ada yang membereskan tenda dan kursi-kursi. Ada yang menyapu halaman.
__ADS_1
Keluarga mertuaku memang lumayan terpandang. Dan mereka juga terkenal sebagai orang yang baik, sopan dan dermawan. Jadi tak heran, saat seperti ini banyak sekali tetangga yang membantu.
Tidak seperti saat kedua orang tuaku meninggal. Begitu selesai acara pemakaman, semua orang membubarkan diri. Hanya beberapa saja yang tetap tinggal dan membantuku. Mungkin hanya karena kasihan melihatku jadi anak yatim piatu.
Bukan karena orang tuaku tidak baik terhadap tetangga, tapi lebih karena orang tuaku bukan orang yang kaya. Yang selalu membagi-bagikan hartanya.
Jangankan membagi-bagikan, untuk kebutuhan sehari-hari saja, ibu harus rela bekerja paruh waktu sebagai buruh menyetrika, di sebuah loundry.
Beruntung sekarang aku jadi bagian dari keluarga suamiku. Keluarga terpandang. Semua orang menghormati kami. Semua orang menurut apa saja perintah ibu.
Dan beruntungnya lagi, suamiku mempunyai karier yang bagus. Gaji yang besar. Bisa memenuhi semua kebutuhan hidup sendiri tanpa meminta bantuan orang tua.
Dan yang pasti, aku tak perlu susah payah bekerja lagi. Semua kebutuhanku sudah di penuhi suamiku.
Hidup di sebuah komplek elite, bukan di perumahan kumuh seperti rumah orang tuaku. Pergi kemana-mana gak perlu kepanasan, karena suamiku memiliki mobil yang bisa mengantarkan aku kemanapun.
Allah memang adil. Setelah sekian lama aku harus hidup pas-pasan, kini aku bisa menikmati kemewahan dari suamiku. Roda kehidupan selalu berputar.
Aku memasuki rumah mertuaku, dengan di bopong suamiku. Karena aku belum boleh berjalan sendiri.
Padahal aku risi menggunakannya. Walaupun itu pipisku sendiri, tapi tetap aja risi.
Tadinya aku mau di belikan juga kursi roda, agar kalau aku pingin keluar gak perlu jalan. Tapi aku gak mau. Aku bilang ke mas Arka, entar aku di kira kena STROKE.
Sampai di kamarku, mas Arka menggodaku.
"Mau pelan-pelan nuruninnya, apa di lempar nih?" aku mencubit lengan mas Arka. Enak aja di lempar, emangnya aku sampah? Jawabku.
Lalu mas Arka menurunkan aku perlahan. Bi Sumi masuk ke kamar dengan membawa teh hangat untukku. Dan beberapa camilan di piring kecil. Berasa jadi putri raja, apa-apa di layani.
Setelah aku berbaring dengan nyaman, mas Arka pamit mau ke dapan dulu. Mau bantu-bantu tetangga membersihkan rumah.
Mas Arka walaupun anak orang kaya, tapi dia tak segan-segan turun membantu pekerjaan orang lain. Apalagi mereka membantu kelancaran acara pemakaman bapak.
Tinggalah aku sendirian di dalam kamar. Aku meraih ponselku yang berada di atas meja nakas. Aku mencoba menghidupkannya, ternyata lowbath.
__ADS_1
Mau nge charge, susah ambil chargernya. Akhirnya aku taruh aja ponselku di sebelahku tiduran. Tak lama akupun tertidur.
Siang hari, mas Arka membangunkanku. Karena aku harus makan dan minum obat. Tak lama bi Sumi mengantarkan makan siangku.
Sementara mas Arka menyiapkan obat-obatanku. Lalu dia menyuapiku. Kayak anak kecil aja, makan pakai di suapi. Aku tersenyum sendiri.
Aku menatap wajah mas Arka dari dekat. Dia terlihat pucat. Pasti karena kecapean. Dan barusan membantu membersihkan halaman, kepanasan.
"Mas, wajahmu pucat lho" ucapku. Aku raba wajah ganteng itu yang terlihat lelah. Matanya sayu.
"Enggak, Sayang. Mas baik-baik aja kok" jawabnya. Selalu begitu. Selalu menyembunyikan sakitnya.
"Mas, kamu bawa obat-obatanmu kan?" tanyaku lagi. Aku benar-benar khawatir dengan kondisinya.
Mas Arka hanya mengangguk sambil terus menyuapiku. Setelah makanku habis, mas Arka akan membantuku minum obat. Saat membawa gelas, tiba-tiba...
PRAANG
Gelaspun terjatuh dan pecah. Ibu segera berlari masuk ke kamar kami. Ibu terlihat panik.
"Ada apa, Ar?" tanya ibu padaku. Aku diam tak menjawab.
Aku lihat wajah mas Arka semakin pucat. Tangannya mengeluatkan keringat dingin. Aku menggeser posisiku agak ke tengah. Memberi tempat untuk mas Arka berbaring. Ibu membantu membaringkan mas Arka di sebelahku.
"Mana obatmu, Ka?" tanya ibu pada mas Arka. Mas Arka menunjuk tas kerjanya. Lalu ibu mencari obat-obatan itu.
Aku masih terdiam. Sepertinya ibu hafal betul dengan panyakit mas Arka. Karena ibu spontan menanyakan tentang obat-obatannya.
Ibu memanggil bi Sumi untuk mengambilkan air putih lagi. Dan membersihkan pecahan gelas di lantai.
Setelah ibu membantu mas Arka meminum obatnya, ibu menyuruh mas Arka untuk tidur. Seperti anak kecil, mas Arka pun menurut perintah ibu.
Setelah ibu dan bi Sumi keluar dari kamar kami, aku miringkan posisi tidurku. Aku peluk suamiku dengan erat. Mas Arka masih pada posisinya, terlentang.
"Jangan sakit suamiku," bisikku perlahan di telinganya. Mas Arka hanya mengangguk lemah, lalu mendekap tanganku yang sedang memeluknya. Aku lihat setetes air mata di sudut matanya.
__ADS_1