SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 102 APA AKU AMNESIA?


__ADS_3

"Ar, aku mau bicara!" ucap mas Teguh dengan ketus saat aku baru saja pulang.


"Bicara apa?" Aku menghentikan langkahku. Menatap sekilas ke arahnya.


"Duduklah. Biar jelas."


"Apa lagi yang mesti dijelaskan?" Aku melipat tanganku di dada.


"Aku bilang duduk!" Suara mas Teguh lebih keras.


"Tak perlu teriak-teriak. Aku bisa dengar sambil berdiri." Enak saja dia mengaturku.


"Oke. Kalau kamu tidak mau duduk."


Mas Teguh berdiri dan menghampiriku. Aku mundur hingga mepet tembok.


Mataku waspada menatap ke arahnya. Bersiap kalau dia akan melakukan hal yang tidak diinginkan.


"Sejak kapan kerja sebagai resepsionis pulangnya sampai malam?"


Aku menatapnya lagi sekilas, lalu membuang pandangan ke samping. Aku masih merasa sangat kesal padanya.


"Apa pedulimu?" tanyaku tanpa menoleh.


"Jelas aku peduli karena kamu tinggal di rumah ini. Suami dan anakmu juga ada di sini. Kamu lupa memiliki mereka?"


Aku mengatur nafasku yang tiba-tiba terasa sesak.


"Kalau begitu aku akan membawa mereka pergi dari sini".


Mas Teguh ketawa terbahak. Tapi terdengar palsu.


"Kamu mau menelantarkan mereka?"


Aku menatapnya dengan kesal.


"Lihat saja dirimu. Setiap hari alasan kerja pulang malam. Agar kamu bisa selalu berduaan sama bosmu itu?"


Emosiku memuncak.


"Sekali lagi aku tegaskan, kalau itu bukan urusan kamu! Paham?"


Aku melangkah ke kamarku. Tapi mas Teguh langsung menarik tanganku, tubuhku langsung dihimpitnya di tembok.


Kedua tangannya menahanku. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku, hingga hembusan nafasnya terasa sekali di hidungku.


Aku memalingkan wajahku. Tangan mas Teguh mencengkeram daguku hingga wajahku menghadap lagi ke wajahnya.


"Minggir! Kamu mau apa?" Aku berusaha lepas dari kungkungannya.


Mas Teguh semakin menekanku ke tembok. Hingga aku rasakan tubuhnya menempel di tubuhku.


Dia berusaha mencumbuiku dengan paksa.


"Lapaskan! Lepaskan!" Aku berteriak, berharap ada yang bisa menolongku.


"Teriaklah. Tak ada yang bisa menolongmu."

__ADS_1


Mas Teguh terus berusaha menciumiku. Aku berusaha menghindar dengan menggerak-gerakan kepalaku.


"Toloong! Bi Yatii...! Tolong aku!" Aku masih berusaha mencari pertolongan.


Kemana bi Yati sampai tidak mendengar teriakanku. Sementara Mas Teguh semakin menggila.


Mas Teguh mencengkeram lagi daguku yang tadi sempat terlepas.


Dia ******* bibirku dengan kasar. Kakiku aku gerak-gerakan untuk bisa melepaskan diri.


"To...To...loong...!"


Hap.


Mas Teguh semakin memperkuat ciumannya di bibirku. Aku hanya bisa menangis. Tenagaku tak cukup kuat untuk melepaskan diri, setelah tadi sore aku tenagaku terkuras habis karena permainan Doni di apartemen.


Tiba-tiba...Braak!Suara sesuatu menabrak pintu. Spontan mas Teguh menghentikan aksinya dan menoleh.


Mas Arka! Mataku melotot melihatnya. Betapa tidak? Mas Arka dengan kursi rodanya menabrakan diri ke pintu kamar yang di tempatinya.


"Arka!" seru mas Teguh.


"Mas Arka...!" Aku pun tak kalah terkejutnya.


"Mm...Mmm..." Mas Arka berusaha untuk bicara. Dia menunjuk-nunjuk dengan tangannya yang masih lemah.


Berkali-kali tangan mas Arka terkulai lagi. Tapi dia mencobanya lagi. Sambil mulutnya menggumam tak jelas.


Bukannya berhenti, mas Teguh malah semakin menggila.


Aku diseretnya hingga sampai di depan mas Arka.


Tubuhku dipepetnya di tembok seperti tadi. Aku semakin meronta. Tapi cumbuan mas Teguh membuatku tak bisa bergerak.


"Kamu mau lihat permainan istri kamu, Arka? Permainan istri kamu yang setiap hari melayani bosnya. Kamu tak perlu marah padaku. Karena dia juga telah melupakanmu!"


Perkataan mas Teguh sangat menusukku. Apa maksudnya mengatakan itu pada mas Arka.


Mas Teguh menarik paksa kemeja ketat yang aku pakai, hingga kancing-kancingnya terlepas.


Tangannya menyusuri dadaku dengan rakus, dan masuk menelusup ke dalam bra-ku. Sementara mulutnya menyumpal mulutku hingga aku tak bisa bersuara.


Aku terus berusaha menendang-nendangnya dengan kakiku. Kaki mas Teguh menjepit kakiku hingga sulit bagiku bergerak dan meronta lagi.


Entah kekuatan dari mana, mas Arka berhasil mencapai ke belakang mas Teguh.


Dan dengan sekali gerakan, mas Arka berhasil menabrakan kursi rodanya ke tubuh mas Teguh.


"Auw...!" Teriak mas Teguh dan spontan melepaskanku. Dia berbalik menghadap mas Arka.


"Apa yang kau lakukan bodoh!" Mas Teguh menghempaskan kursi roda mas Arka hingga terdorong jauh ke belakang dan membentur tembok.


Mas Arka sampai terpelanting dan terjatuh ke lantai.


Mas Teguh kembali tak terkendali, dia menendang kepala mas Arka dengan keras hingga terdengar lenguhannya.


"Matilah kau, Arka! Sekarang saatnya kamu mati!"

__ADS_1


Kesempatan ini tak aku sia-siakan. Aku langsung meraih vas bunga yang cukup besar dan aku pukulkan ke kepala mas Teguh bagian belakang.


"Aakh...!" Teriak mas Teguh.


Mas Teguh menoleh kepadaku. Aku sudah sangat gemetaran. Darah sudah mengalir dari tengkuk mas Teguh.


Dia menghampiriku. Aku mundur hingga membentur tembok. Aku sudah sangat gemetaran.


Tangan mas Teguh mencengkeram leherku dan membenturkan kepalaku hingga aku merasa dunia berputar.


Sebelum aku akhirnya merosot tak sadarkan diri, mas Teguh sempat mencekik leherku.


Aku terkapar tapi masih bisa melihat sekelebat bayangan memukul kepala mas Teguh. Hingga dia juga terkapar tak jauh dariku.


Setelah itu aku merasa duniaku gelap. Aku masih berusaha menggapai-gapai dengan tanganku.


Sisa tenagaku tak bisa membantuku. Aku merasa tanganku lemas. Tenagaku habis.


Entah berapa lama aku pingsan dan siapa yang menolongku.


Saat sadar aku mendapati diriku ada di ruangan yang serba putih. Tak ada siapa pun.


Banyak selang tertancap di tubuhku. Aku merasa seperti sedang tidak ada di dunia.


Mataku bisa melihat seisi ruangan, tapi otakku tak bisa bekerja. Aku merasa seperti orang yang ling lung.


Tak bisa mengingat apapun. Menggerakan tangan pun aku tak mampu.


Entah berapa lama aku dalam kondisi seperti itu. Sampai kemudian datang seorang suster dan menyapaku.


"Selamat siang, Bu. Ibu sudah sadar?" tanya suster itu dengan ramah.


Sadar? Memangnya aku kenapa?


Setengah mati aku berusaha mengingat apa yang sudah terjadi.


Suster itu membuka alat bantu pernafasan yang menutupi mulut dan hidungku.


Aku mulai menghirup udara bebas. Kepala mulai aku gerakan ke kanan dan ke kiri. Tapi malah aku merasa pusing yang amat sangat.


Dunia terasa berputar. Aku pejamkan mataku lagi. Dan entah apa lagi yang terjadi.


Aku kembali tersadar saat mendengar suara banyak orang di sekitarku. Dan tanganku di sentuh.


Aku membuka mataku perlahan. Satu per satu aku perhatikan mereka.


Tiga orang perempuan. Satu orang sedang mengganti cairan infus dan menyuntikan sesuatu ke selang yang menempel di punggung telapak tanganku.


Yang satu mengatakan sedang mengganti cairan pipisku. Dan satunya membawa map atau apalah aku tak tahu. Dia sibuk mencatat apa yang dikatakan dua orang rekannya.


"Masih pusing, Bu?" Aku mengangguk pelan.


Ingin menjawab tapi lidahku terasa kelu. Aku tak punya tenaga untuk sekedar membuka mulutku.


Otakku terus aku pacu untuk berfikir dan mengingat. Tapi sulit sekali.


Apa yang terjadi denganku? Apa aku sudah mati? Tapi kenapa aku masih bisa mendengar para suster itu bicara?

__ADS_1


Apa aku kehilangan ingatanku? Amnesia?


__ADS_2