SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 138 ANAKKU HILANG


__ADS_3

Sarah, Roni dan Mila mengajakku pulang. Tapi aku bingung harus pulang kemana.


Ke apartemen, di sana masih dipasang garis polisi. Kalau ke rumah, enggak mungkin karena mas Arka kelihatannya masih marah.


Pilihannya ke kosan Mila atau ke rumah Sarah. Tapi aku belum bisa memutuskan, karena mereka belum menanyakannya.


"Kamu mau pulang ke mana, Ar?" tanya Sarah.


Baru saja aku pikir, malah Sarah nanya. Aku diam saja. Belum punya jawaban.


"Kamu mau ke kosanku dulu, Ar?" tanya Mila. Sebenarnya aku lebih menunggu tawaran dari Sarah. Kalau di rumah Sarah kan aku bisa ketemu anakku. Tapi sayangnya Sarah tak menawari sama sekali. Apalagi setelah Mila menawari.


"Ya sudah kamu pulang ke kosan Mila saja dulu, Ar. Urusan apartemen dan selamatan Doni biar aku sama Roni saja yang urus," ucap Sarah.


Aku malah terkejut mendengar ucapan Sarah. Kenapa bukannya dia yang menawariku, biar aku bisa ketemu anakku?


"Anakku baik-baik saja kan, Sar?"


Sarah gelagapan.


"Ba...baik, Ar. Dia baik-baik saja kok."


Aku malah jadi curiga. Ada apa dengan anakku? Kenapa Sarah malah gelagapan dan salah tingkah?


"Ya sudah. Aku ke kekosan Mila." Aku menarik tangan Mila, mengajaknya segera pergi. Aku sudah sangat capek.


Soal bagaimana anakku, nanti saja aku bicarakan dengan Mila di kosannya.


Saat berjalan, aku sempatin menoleh. Aku pingin tahu ekspresi Sarah setelah aku tinggal pergi.


Dan kecurigaanku semakin besar, saat aku melihat wajah Sarah tersenyum lega.


"Kamu kenapa, Ar?" tanya Mila.


"Nanti saja aku ceritakan kalau sudah di kosanmu."


Sampai di depan area pemakaman, aku menyuruh Mila memesan taksi online.


"Kita ke apartemen Doni dulu, ya?"


"Lho, kenapa?" tanyaku.


"Mobilku ada di sana. Di parkiran," jawab Mila.


"Kamu kenapa tadi, Ar?" tanya Mila di jalan.


"Aku curiga sama Sarah," jawabku.


"Curiga kenapa?" tanya Mila menatapku.


"Soal anakku." Aku menyandarkan kepalaku.


"Maksudmu?" Mila menghadap ke arahku.


"Tadi kamu perhatikan enggak raut wajah Sarah waktu aku tanya tentang anakku?"


Mila menggeleng.


"Wajahnya berubah dan gelagapan saat menjawab pertanyaanku."

__ADS_1


Mila terlihat mulai tertarik.


"Oh ya? Aku enggak memperhatikan. Aku cuma mendengar jawabannya yang....Ah, iya. Aku paham!" Mila mengangkat jari telunjuknya.


"Pak! Agak cepetan ya!" seru Mila pada sopir taksi online.


Sekarang ganti aku yang terkejut dan bingung.


"Motong jalan aja, Pak. Biar enggak kena macet!" seru Mila lagi.


"Iya, Mbak," jawab sopir taksi itu.


"Kenapa Mil?" tanyaku pelan.


Mila meletakan jari telunjuknya di bibir. Aku malah semakin penasaran.


Tak lama, mobil kami sampai di parkiran apartemen. Mila segera membayarnya.


"Ayo buruan!" Mila menarik tanganku dan membawa ke mobilnya.


"Ada apa sih, Mil?" tanyaku setelah kami berada di mobil Mila.


"Kamu curiga kan dengan Sarah? Aku juga," jawab Mila.


"Terus?"


"Ya udah. Kita datengin rumahnya. Udah jangan banyak tanya!" Mila melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Jangan ngebut-ngebut, Mila!" seruku melihat jarum spedometer semakin beranjak naik.


"Kalau enggak ngebut, mereka keburu kabur!" ucap Mila.


"Kok kamu kepikiran sampai segitu sih, Mil?"


Aku jadi kepingin ketawa. Bagaimana enggak? Aku sampai berada di apartemen Doni juga karena dia yang enggak berfikir jauh.


"Kok kamu senyum-senyum gitu?" tanya Mila menoleh ke arahku.


"Lucu aja. Kamu ketularan Ferdy kayaknya," jawabku.


"Ferdy siapa?"


"Polisi ganteng itu! Hahaha." Aku tidak bisa lagi menahan tawa.


"Gila lu, Ar! Dalam kondisi kayak begini masih bisa aja ngeliat yang ganteng-ganteng," sahut Mila.


"Daripada stres, Mil. Hampir gila aku."


Masalah demi masalah yang datang, benar-benar membuatku gila.


"Baru hampir. Belum gila beneran, kan?" Mila malah meledekku.


Aku dorong lengan Mila perlahan.


"Eh, jangan ganggu aku. Enggak lihat apa, aku lagi nyetir!" seru Mila.


Iya juga. Aku lupa. Tapi apa Mila tahu alamat rumah Sarah? Aku sendiri saja belum pernah ke sana.


"Tau lah!" jawab Mila waktu aku menanyakannya.

__ADS_1


"Darimana kamu tau?" Setahuku Mila tidak terlalu dekat dengan Sarah. Mereka kenal hanya saat di hotel saja. Itu pun karena aku kenalkan.


"Udah, jangan banyak nanya. Nurut aja, deh!"


Mila semakin mempercepat laju mobilnya. Dia melewati jalan-jalan tikus. Walau harus beberapa kali mengerem karena berpapasan dengan mobil dari arah berlawanan.


Hingga kami sampai di depan rumah disebuah komplek perumahan. Rumah yang tak terlalu besar, dengan gaya minimalis. Lebih kecil dari rumah mas Arka dulu.


"Ini rumah siapa, Mil?" tanyaku.


Mila membuka pintu mobilnya.


"Rumah Sarah!" ucap Mila sebelum dia turun. Aku ikut turun dan mengikuti langkah Mila.


"Mana anak Aryani?" tanya Mila saat kita sudah sampai depan pintu dan melihat Sarah sedang ribut dengan Roni.


Sarah menatap ke arah kami. Wajahnya makin pucat dan gelagapan.


"A...Ada. Dia lagi tidur," sahut Sarah gelagapan.


"Aku mau lihat!" ucap Mila ketus. Aku masih belum mengerti kenapa Mila sampai semarah itu.


"Jangan! Semalaman dia rewel. Kalau keganggu nanti malah bangun dan rewel lagi." Masuk akal juga alasan Sarah.


"Kita tunggu saja sampai Aryaka bangun, Mil," sahutku agar Mila agak reda.


"Ok. Kita tunggu di sini!" ucap Mila. Kami masih tetap berdiri karena Sarah tidak menyuruh kami duduk.


"Duduklah," ucap Roni.


Sarah terlihat makin salah tingkah. Aku dan Mila duduk diikuti juga oleh Roni.


"Ar. Bik Yati dan Aryaka pergi," ucap Roni. Sarah menatap wajah Roni seperti orang yang ketakutan.


"Kemana?" tanyaku.


"Entahlah, Ar. Tadi pagi saat kami tinggal, mereka masih ada di sini," jawab Roni. Dia terlihat gelisah.


"Kamu sudah menelpon bik Yati?" tanyaku. Perasaanku sudah tak enak.


"Nomornya tidak aktif," jawab Roni lagi.


Degh! Jantungku berpacu dengan cepat. Lalu aku ambil hapeku dan berusaha menghubungi nomor bik Yati.


Nomornya tak aktif. Berkali-kali aku panggil, nadanya hanya memanggil saja.


"Tidak aktif," ucapku lemah. Sekujur tubuhku terasa lemas. Kemana bik Yati membawa anakku?


"Kalau tau mereka pergi, kenapa kalian tak segera menghubungi Aryani?" tanya Mila penuh kecurigaan.


"Mil. Kondisi Aryani sedang kurang baik. Jadi kami tidak ingin menambah beban pikirannya. Kami sedang mencoba mencarinya," sahut Roni.


"Iya, Ar. Maafkan kami. Kami tidak ingin kamu jadi khawatir." Sarah akhirnya ikut menimpali.


"Lalu sekarang, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Mila. Nadanya masih seperti mencurigai.


"Kami akan terus berusaha menghubungi bik Yati. Kalau sampai besok pagi masih belum ada kabar, kita lapor polisi," jawab Roni.


"Kenapa harus menunggu besok pagi? Kenapa tidak sekarang saja? Biar polisi segera ikut membantu mencari!" Mila masih belum bisa tenang. Sedangkan aku hanya bisa diam, tubuhku terasa tak bertenaga sama sekali.

__ADS_1


"Tidak bisa, Mil. Semua ada prosedurnya," sahut Roni.


"Oke. Kita tunggu kabar dari kalian. Aku dan Aryani akan coba mencarinya!" Mila menarik tanganku untuk pergi meninggalkan rumah Sarah.


__ADS_2