
Anakku lahir dengan sangat mudah. Tak butuh perjuangan panjang yang menyakitkan seperti cerita orang-orang.
Mungkin anakku tau kalau hidup mamanya sudah sangat menyakitkan. Dia hadir untuk membahagiakan aku. Dia hadir tidak untuk menyakitiku.
Seorang bayi laki-laki yang sangat sehat dengan berat badan normal. Bidan yang menolongku, memperlihatkan anakku yang baru saja keluar dari rahimku.
Dia sedang menangis. Membuatku sangat khawatir.
"Kenapa dia menangis, Bu?" tanyaku.
"Itu artinya dia sehat. Biar dibersihkan dulu ya? Lalu nanti bapaknya bisa mengadzaninya" ucap ibu Bidan.
Aku yang sedang di bersihkan dan melakukan proses penjahitan, bingung mendengar ucapannya.
Siapa yang akan mengadzani anakku? Sedangkan bapaknya tak bisa berbuat apa-apa di rumah.
"Ibu tenang saja dulu. Bayinya biar dibereskan perawat. Tahan ya, Bu. Ini akan sakit. Tapi cuma sebentar" ucap bu Bidan. Lalu dia menjahit jalan lahir bayiku.
Aku refleks menjerit karena merasakan sakit yang amat sangat. Aku tarik sprei tempat tidurku hingga berantakan.
"Tenang, ibu. Jangan banyak bergerak. Nanti jahitannya berantakan. Ibu tidak mau kan kalau nanti barangnya ibu berantakan bentuknya" ucap bu Bidan berusaha mengajak aku becanda.
"Kalau bentuknya jelek, kasihan suami ibu. Nanti dia pangling." Bu Bidan terus saja berceloteh, tapi tangannya tak berhenti bekerja.
Dan...
"Sudah selesai. Tidak terasa kan, Bu?" tanya bu Bidan.
Aku mengangguk. Benar. Awalnya terasa sangat sakit. Tapi begitu bu Bidan ngoceh terus, dan aku secara tidak sadar menanggapinya, malah jadi tak berasa sakitnya.
"Sekarang ibunya di bersihkan dulu. Nanti baru bapaknya boleh masuk. Dan mengadzani si kecil" ucap bu Bidan lagi, sambil membantu perawat membersihkan badanku.
Tak lama, anakku yang sudah dibersihkan di berikan padaku. Dia di letakan di atas dadaku dengan posisi tengkurap. Aku mendekapnya, takut anakku terjatuh.
Seorang perawat keluar dan memanggil mas Teguh.
"Bapak, silakan masuk. Anaknya sudah lahir. Dua-duanya selamat dan sehat. Sudah dibersihkan juga. Sekarang silakan Bapak mengadzaninya" ucap salah satu perawat.
Mas Teguh kelihatan kebingungan, tapi dia masuk juga ke kamar bersalin itu.
Dia mendekati kami. Dan sesuai perintah perawat, dia mendekati anakku yang ada dalam dekapanku. Mas Teguh mengadzani anakku.
__ADS_1
Aku meneteskan air mata. Mestinya mas Arka yang mengadzaninya. Mestinya mas Arka ada di sini menemani kami dan merasakan kebahagiaan ini.
"Selamat ya, Dek" ucap mas Teguh. Lalu mencium keningku.
Aku terkejut dengan apa yang dilakukan mas Teguh. Entah dia sadar atau tidak saat mencium keningku.
Perawat lalu membetulkan posisi anakku agar mencari ****** susuku. Aku agak risi karena di dekatku ada mas Teguh.
Sadar aku merasa tak enak, mas Teguh menjauh dari tempat tidurku. Baru aku merasa lega dan sedikit membuka selimut penutup tubuhku.
Setelah selesai, perawat mengambil anakku dan memakaikan baju pada anakku.
"Ini babynya, Ibu. Ganteng kan?" ucap perawat itu menyodorkan bayiku ke dekat wajahku.
Aku meraihnya dengan tanganku. Aku belai dengan lembut dan mendekatkan wajahku untuk menciumnya.
Air mata menitik dari sudut-sudut mataku. Anakku lahir tanpa didampingin papanya. Tanpa ada keluarga lain yang menemaniku kecuali mas Teguh dan bi Yati.
Lalu anakku di letakan di box bayi yang sudah disiapkan. Aku memandangnya dengan sedikit memiringkan kepalaku.
Aku belum bisa banyak bergerak. Badanku terasa remuk redam. Sakit semua persendianku. Dan bagian bawahku masih terasa perih.
"Bapak, sudah memilih kamar buat ibu dan bayinya?" tanya perawat yang masih setia di kamar persalinan.
Lalu mas Teguh keluar menuju bagian administrasi. Sementara aku di pakaikan baju oleh perawat itu.
Dia banyak memberikan nasehat dan cara bagaimana menjadi ibu baru.
"Nanti saya ajarkan cara memandikan bayinya. Memakaikan baju. Mengganti popoknya. Dan memijatnya selesai mandi. Biar ibu bisa melakukannya sendiri di rumah" ujar perawat itu panjang lebar.
Aku menyimak dengan baik semua omongannya. Walau pun badanku masih terasa pegal semua, tapi rasa bahagiaku dengan kehadiran anakku, membuat semua seperti hilang.
Tak lama, mas Teguh datang lagi dan memberitahukan kamar inap untukku.
Lalu dengan di bantu perawat lain, aku dipindahkan ke brankar untuk dibawa ke ruangan lain.
Mas Teguh dan bi Yati mengikuti dari belakang. Sementara bayiku dibawa dulu ke ruangan bayi.
"Ibu istirahat dulu. Nanti kalau sudah fit lagi, bayinya saya bawa ke sini. Dan bisa di tidurkan di kamar ini juga" ucap perawat itu dengan sabar. Setelah sampai di kamar yang dipesan mas Teguh tadi.
"Apa tidak sekarang saja di taruh di sini, Sus?" tanyaku. Aku sangat khawatir anakku tak ada yang menjaganya di ruangan bayi. Dan yang paling aku khawatirkan, bagaimana kalau anakku tertukar dengan bayi lain. Seperti cerita di film-film.
__ADS_1
"Jangan khawatir, Bu. Bayi ibu aman disana. Kami akan menjaganya."
"Tapi, Sus..." Perawat itu hanya tersenyum padaku, lalu keluar dari ruanganku.
"Kamu istirahat dulu saja, Dek. Percayakan sama mereka. Anakmu akan baik-baik saja" ucap mas Teguh.
Aku hanya bisa pasrah. Toh aku belum bisa berbuat apa-apa. Dan aku juga sangat capek. Mataku juga seperti tak bisa diajak kompromi.
"Mas Arka bagaimana?" tanyaku sebelum aku tertidur.
"Dia baik-baik saja. Ada orang yang menjaganya. Sebentar lagi juga bi Yati akan aku suruh pulang. Biar mempersiapkan penyambutan untuk anakmu" jawab mas Teguh.
"Kenapa bi Yati disuruh pulang? Lalu siapa yang menemani aku, Mas?" tanyaku khawatir aku ditinggal sendirian di sini.
"Aku yang nemenin kamu, Dek" jawab mas Teguh.
Syukurlah. Aku kira, aku akan ditinggal sendirian di sini. Lalu aku mulai memejamkan mataku.
Aku masih sempat mendengar mas Teguh menyuruh bi Yati pulang duluan. Dan mempersiapkan segala sesuatunya.
Jam tiga sore aku baru terbangun dari tidurku. Aku terkejut, karena merasa tidur terlalu lama.
Aku lihat mas Teguh sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Melihatku sudah terbangun, dia menghampiriku.
"Kamu sudah bangun, Dek?" tanya mas Teguh. Aku mengangguk.
"Lama sekali kamu tidur. Tadi perawat ke sini membawa anakmu. Sepertinya dia akan mengajarimu cara menyusui" ucap mas Teguh.
Ya ampun. Aku tidur terlalu lama, sampai tidak memikirkan anakku yang mungkin sekarang sangat kelaparan.
"Apa boleh anakku dibawa ke sini sekarang, Mas?" tanyaku.
"Nanti aku tanyakan ke perawatnya" sahut mas Teguh. Lalu pergi meninggalkanku.
Beberapa saat kemudian, mas Teguh dan seorang perawat datang. Perawat itu menngendong anakku.
Aku tersenyum bahagia, bisa bertemu anakku lagi. Perawat itu memberikan anakku padaku. Dia mengajariku cara menyusui yang baik dan benar.
Sebelumnya, aku teliti dulu anakku. Aku tadi sewaktu di ruang persalinan sempat melihat ada tanda lahir tipis di lengan kanan anakku.
Aku buka sedikit lengan baju anakku. Syukurlah tanda itu masih ada.
__ADS_1
"Kenapa bu?" tanya perawat itu.
"Tidak apa-apa, Sus" jawabku. Padahal dalam hati malu mengucapkan kalau aku takut anakku tertukar.