SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 152 MORNING SICKNESS UNTUK SARAH


__ADS_3

Keesokan harinya Sarah mengabari kalau dia sudah ada dirumahnya. Aku dan mas Arka bergegas ke rumah mereka.


"Mas, aku udah enggak sabar pingin ketemu Aryaka," ucapku sebelum kami berangkat.


"Aku juga, Ar. Aku malah ingin membawanya pulang sekarang," sahut mas Arka.


Aku menatapnya sejenak.


"Kamu yakin, Mas?" tanyaku ragu.


"Ar. Kita harus yakin. Anak itu akan membawa rejeki sendiri. Jangan takut, masih ada Allah yang akan memberi kita rejeki untuk menafkahi anak-anak kita," jawab mas Arka.


"Kok anak-anak? Anak kita cuma satu, Mas," sahutku.


"Memangnya kamu enggak mau punya anak lagi denganku?"


Pertanyaan mas Arka membuatku terdiam. Bukan enggak mau, tapi kondisiku bisa saja tak mungkin lagi untuk mengandung.


Seandainya ternyata aku terinfeksi virus mematikan itu, aku tak mau mengambil resiko anak yang akan aku lahirkan mengidapnya juga.


"Jangan khawatir. Aku sudah konsultasi dengan dokter Yoga. Dokter yang menanganimu itu. Aku dapat nomornya dari Sarah. Ternyata Sarah juga mengenalnya," ucap mas Arka.


Yoga? Dokter ganteng yang sempat membuat mas Arka marah-marah itu? Tak aku kira, ternyata dia masih saja berusaha menghubunginya.


"Aku akan mengantarkanmu tes darah, beberapa hari lagi. Semoga hasilnya tetap negatif," lanjut mas Arka.


Lalu dia mengajakku naik angkot untuk sampai di rumah Sarah. Kami tak lagi memiliki kendaraan apapun. Dan aku bisa menerimanya.


"Pakai maskermu. Biar lebih aman. Di angkot banyak virus yang kurang baik untuk kondisimu saat ini." Mas Arka memberikan masker yang aku simpan dalam lemari di rumah.


"Iya, Mas." Aku bernafas lega. Mas Arka sudah kembali baik padaku. Sepertinya sikap mas Arka kemarin-kemarin yang sinis denganku karena provokasi dari Mila.


Bagaimana pun mereka pernah dekat. Pastinya omongan Mila tentang aku mempengaruhi cara berfikir mas Arka padaku.


Tapi sudahlah. Semoga Mila kapok karena aku tak selemah perkiraannya. Dan tak mengganggu kehidupan kami lagi ke depannya.


Di dalam angkot yang tak terlalu penuh, aku bertanya pada mas Arka tentang Mila.


"Bagaimana kabar Mila, Mas?"


"Ngapain kamu tanyakan dia?" tanya balik mas Arka.


"Cuma pingin tau aja. Mungkin dia menghubungimu," sahutku.

__ADS_1


"Enggak. Nomornya sudah aku blokir. Aku tak mau memberikan ruang lagi pada Mila sekecil apapun," sahut mas Arka sambil menggenggam tanganku.


Seorang wanita yang duduk di depan kami, memperhatikan. Dia menatapku dan mas Arka bergantian. Lalu membuang pandangannya ke depan. Mungkin dia teringat seseorang. Atau iri dengan sikap lembut mas Arka padaku.


Ya, aku telah mendapatkan mas Arkaku lagi. Dia kembali bersikap lembut dan sabar seperti dulu. Semoga tak ada lagi manusia seperti Mila yang mengganggu kenyamanan kami.


Sampai di pertigaan kedua, kami harus ganti angkot. Mas Arka memintaku untuk turun terlebih dahulu. Lalu aku membayar ongkos angkotnya, karena mas Arka tidak punya uang sama sekali.


Sebenarnya uangku juga sudah menipis. Aku hanya mengandalkan uang sisa gajiku dahulu. Itu pun sudah banyak terpakai untuk kebutuhan kami.


Setelah sampai di depan komplek perumahan Sarah, kami berjalan kaki sebentar untuk sampai di rumah Sarah. Rasanya sudah tak sabar ingin memeluk anakku.


"Enggak usah cepet-cepet, Ar. Mereka enggak akan kabur kok," ucap mas Arka. Lalu dia tersenyum sendiri seperti menertawakan dirinya yang pernah membawa kabur Aryaka.


"Hay, Aryani. Arka. Mari silakan masuk." Roni yang menyambut kami.


"Aryaka mana?" tanyaku yang sudah tidak sabar sambil melihat ke dalam rumah.


"Dia tidur lagi, Ar. Kayaknya kecapean. Sarah juga ikutan tidur sepertinya," jawab Roni.


Aku harus menelan kekecewaanku. Harus bersabar sampai Aryaka bangun nanti. Karena tidak mungkin aku membangunkannya.


"Howeek...!" Sarah berlari keluar dari kamar Aryaka dan langsung ke kamar mandi.


Roni pun spontan ikut berlari. Dia terlihat sangat panik. Aku menoleh ke arah mas Arka. Tanpa bertanya, mas Arka mengangguk seolah mengerti apa yang sedang aku pikirkan.


"Ron, kalian ada minyak kayu putih?" tanyaku.


"Ada. Di kamar Aryaka," jawab Roni yang sedang menolong Sarah.


Tanpa bertanya lagi, aku berjalan ke kamar Aryaka. Aku melihat botol minya kayu putih di atas nakas. Tapi sosok Aryaka yang sedang tertidur lelap, lebih menggodaku untuk menciumnya.


"Ada Ar?" teriak Roni.


Aku mengurungkan niatku mencium Aryaka. Saat ini Sarah lebih membutuhkan minyak kayu putih.


Tanpa menjawab teriakan Roni, aku membawa botol besar minyak kayu putih dan menyerahkan pada Roni.


"Pegang saja dulu. Aku bawa Sarah ke kamar." Roni menggendong Sarah yang terlihat lemas ke kamar mereka. Aku mengikutinya.


Aku berdiri di sisi tempat tidur Sarah. Roni mengoleskan minyak kayu putih ke sekujur tubuh Sarah.


Aku meraih tangan Sarah dan memijatnya perlahan. Tangan Sarah terasa dingin.

__ADS_1


Roni keluar mengambilkan air putih untuk Sarah. Lalu kembali dan membantu Sarah meminumnya.


"Kamu tidak apa-apa, Sar?" tanya Roni dengan khawatir.


Sarah mengangguk. Wajahnya terlihat pucat.


"Ini biasa terjadi di awal kehamilan, Ron," sahutku.


"Enggak bahaya?" tanya Roni.


"Enggak. Nanti juga berhenti sendiri. Tapi kalau terlalu sering, bawa ke dokter saja. Minta obat untuk menghilangkan mualnya. Jangan beli obat tanpa resep dokter lho ya." Aku mengingatkan mereka agar berhati-hati.


"Oke siap, Ar. Makasih infonya," ucap Roni.


Aku berjalan keluar dan berhenti di pintu kamar Aryaka. Aku melihat mas Arka sedang duduk di tepi tempat tidur Aryaka.


Dia membelai kepala anakku dengan lembut. Tak terasa air mataku menetes melihat bagaimana mas Arka sangat menyayangi anak kami.


Sarah dan Roni keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang tamu. Aku mengikuti mereka setelah menghapus air mataku.


Mas Arka pun keluar dari kamar Aryaka dan menghampiri kami.


"Sarah. Roni. Aku dan Aryani sangat berterima kasih pada kalian yang sudah menjaga dan merawat Aryaka dengan baik. Sekarang, maafkan aku, kami berniat mengambilnya. Kami harap kalian enggak keberatan," ucap mas Arka dengan hati-hati.


Sarah menatap Roni. Dan dibalas dengan anggukan oleh Roni.


"Iya, Sar. Kondisimu yang sedang hamil muda juga akan semakin repot kalau harus merawat Aryaka juga. Fokuslah pada kehamilan kamu." Aku menambahkan.


"Baiklah. Kami serahkan kembali Aryaka pada kalian. Kamu setuju kan, Sar?" tanya Roni pada Sarah.


Dengan hati berat, Sarah mengangguk. Aku bisa memahami perasaan Sarah. Dia pasti sangat keberatan. Kebersamaannya dengan Aryaka sudah membuatnya sangat menyayangi anakku seperti anaknya sendiri.


"Apa kalian sudah benar-benar siap?" tanya Sarah.


Mas Arka mengangguk. Aku tahu, kekhawatiran Sarah pasti soal ekonomi kami yang belum baik.


"Arka. Kalau kamu membutuhkan pekerjaan, ikutlah denganku ke proyek. Kamu bisa menggantikan posisi...maaf, Doni," ucap Roni merasa tidak enak.


"Kamu serius, Ron?" tanya mas Arka. Dia terlihat antusias mendengarnya.


"Pasti. Aku juga butuh partner di sana. Kalau soal kendaraan, di proyek ada motor yang bisa kamu pakai buat transportasimu. Anggap saja itu fasilitas dariku," sahut Roni.


"Iya. Dan kamu, Ar. Bisa fokus menjaga jagoanku. Aku juga akan sering-sering ke rumah kalian. Karena aku pasti akan sangat merindukan Aryaka." Sarah menambahkan.

__ADS_1


Aku menatap mas Arka. Dia tersenyum padaku lalu meraihku dalam pelukannya.


Kami sangat bahagia, akhirnya kami bisa bersatu lagi meski dalam keadaan yang pas-pasan.


__ADS_2