
Satu jam kemudian Sarah datang. Dia membuka pintu dan menatapku yang terbaring tak berdaya.
"Ya ampun, Ar. Kamu kenapa?" Sarah langsung menghambur ke pelukanku.
Aku tak bisa menahan tangisanku. Tangisan yang aku tahan sejak pagi tadi.
"Apa yang terjadi denganmu, Ar?" Sarah melepaskan pelukannya.
Sarah menatap sekujur tubuhku. Tak ada luka lain selain di leher dan bagian pelipisku.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Sarah.
Aku masih terdiam mencoba mengatur emosiku. Dan setelah menghapus air mataku, aku menghela nafas panjang.
"Jangan bilang kalau pelakunya Teguh!" seru Sarah yang sangat membenci mas Teguh.
"Sayangnya dia pelakunya, Sar" jawabku.
Sarah seperti menahan amarah. Kedua tangannya terkepal.
Lalu dia mengambil ponselnya.
"Aku telpon Roni dan Doni dulu." Sarah mulai memanggil mereka berdua.
Dan beruntung ponsel mereka berdua, terutama Doni sudah aktif.
Bergantian Sarah menelpon mereka dan menyuruh mereka datang ke rumah sakit ini.
"Cepat! Gak pake lama!" bentak Sarah entah pada siapa.
"Bangsat tuh memang Teguh! Kali ini jangan harap dia bisa lepas dari jeratan hukum. Ini sudah termasuk tindakan kriminal! Kamu sudah divisum?"
Aku diam saja melihat Sarah yang sejak tadi uring-uringan dan mengoceh tak jelas.
"Ditanya tuh dijawab, Ar. Aku tau kamu masih trauma, tapi jawab pertanyaanku biar semua jelas. Kalau perlu kumpulkan bukti dan saksi-saksi."
Sarah membuka tasnya yang besar lalu mengeluarkan botol minuman dan meneguknya. Kelihatannya dia sangat kehausan.
Aku malah kepingin ketawa sendiri melihat tingkah Sarah. Aku yang terkapar malah dia yang uring-uringan.
"Oke. Kalau kamu belum mau bicara sekarang, nanti kalau itu manusia dua biji yang lelet banget datang, ceritakan semua dengan detail dan lengkap." Sarah mengambil nafas sebentar lalu bicara lagi.
"Kumpulkan bukti-bukti dan saksi-saksi yang ada di TKP. Saatnya kita seret manusia biadab itu ke penjara. Biar dia membusuk di sana!" ucap Sarah berapi-api.
"Sudah duduk dulu. Dari tadi mondar mandir kayak setrikaan. Mereka juga masih lama kan datangnya?"
Sarah mengecek ponselnya lagi.
"Ealah! Roni lagi online. Gimana sih ini orang! Disuruh ke sini malah sibuk online terus!"
Sarah lalu menekan nomor Roni.
Tuuut.
Roni langsung mengangkat.
"Hallo, gimana sih kamu? Kan aku bilang cepetan ke rumah sakit ini. Malah online terus!" Sarah kembali marah-marah.
"Oh. Oke. Kirain." Sarah menutup panggilannya.
__ADS_1
"Mereka lagi otewe ke sini. Katanya tadi kebetulan lagi ada meeting di restauran dekat daerah sini. Mungkin sebentar lagi mereka sampai."
Sarah masih mondar-mandir terus. Bahkan bolak-balik membuka pintu.
"Gak sabaran banget sih kamu, Sar. Duduk dulu sini. Aku mau ngomong nih."
"Ngomongnya nanti saja. Nunggu mereka datang. Biar sekalian dengar semua. Kasihan kan kamu pasti sakit banget lehernya?" Sarah menyentuh leherku yang dipasangi penyangga.
Beberapa menit kemudian Roni dan Doni datang. Wajah mereka tidak kalah cemasnya dari Sarah.
Doni langsung menghampiriku.
"Maafkan aku, Ar. Hapeku lowbath dari semalam dan aku lupa menaruhnya. Baru ketemu siang tadi. Begitu aktif, Sarah langsung menelponku. Kamu kenapa ini?"
Hampir sama dengan Sarah, Doni pun langsung menerocos.
"Itu si Bangsat biadab pelakunya!" Sarah langsung menyambar.
"Benar dia pelakunya, Ar?" tanya Doni. Aku mengangguk pelan karena leherku masih berpenyangga.
Doni langsung mengepalkan tangannya.
"Di mana dia sekarang? Jangan bilang dia kabur, Ar." Sarah kembali nerocos.
"Kalian berdua bisa diam enggak sih? Bagaimana Aryani mau cerita kalau kalian heboh terus?" Roni yang dari tadi diam akhirnya buka suara.
"Duduk kalian!" Roni membentak dua sahabat yang dari tadi tak bisa diam.
Dan bagaikan anak TK yang dimarahin gurunya, mereka menurut tapi sambil mulutnya bergumam tak jelas.
"Oke. Kalian berdua diam saja. Jangan tanyakan hal-hal yang tidak penting. Jangan emosi dulu. Dengarkan penjelasan dari Aryani."
"Pertanyaan pertama. Kapan kejadiannya?" tanya Roni bak seorang detektif.
"Semalam. Sepulang aku dari...mm...pergi dengan Doni."
"Bilang saja dari apartemen!" sahut Sarah.
Doni menginjak kaki Sarah yang kebetulan duduk di sebelahnya.
"Apaan sih nginjek-nginjek! Yang denger juga cuman laki gue!" Sarah menjauhkan kakinya dari Doni.
"Sar! Bisa diem enggak sih?" Roni menatap ke arah istrinya yang super bawel.
"Iya, Sayang. Ini si kampret pake nginjek kaki segala."
Doni malah menoyor kepala Sarah.
"Udah diem! Mau dilanjutin enggak nih?" tanya Roni yang sudah gregeten sama dua manusia kocak itu.
"Di mana kejadiannya?" tanya Roni.
"Di rumah. Begitu aku masuk rumah."
"Maafkan aku, Ar. Semalam aku terburu-buru. Jadi aku langsung pergi lagi" ucap Doni.
Sekalipun Doni tidak langsung pergi juga tak akan tau. Karena kejadiannya di dalam rumah.
"Apa yang Bangsat itu lakukan?" tanya Doni sambil mendekatiku dan duduk di sampingku yang berbaring.
__ADS_1
Perlahan aku menceritakan kejadiannya dengan detail. Mereka semua menyimak dengan serius.
"Bangsat!" Doni berkali-kali memaki.
"Kamu sudah melaporkannya ke polisi?" tanya Sarah.
"Tadi pagi polisi sudah ke sini. Menginterogasiku. Aku takut Don."
Aku genggam tangan Doni dengan erat.
"Jangan takut. Ada kami di sini. Tindakanmu sudah benar. Kamu melakukannya untuk membela diri" sahut Doni sambil membelai kepalaku pelan.
"Lalu ngumpet di mana dia sekarang?" tanya Sarah yang sudah naik darah.
Aku masih belum berani menjawab. Jujur aku takut justru aku yang akan jadi tersangkanya.
"Di mana dia sekarang?" tanya Roni.
"Dia... Menurut polisi yang menginterogasiku tadi..." Aku menelan ludahku.
Sarah memberikan aku minum. Karena aku kesulitan meminumnya, Sarah mrngambil sedotan yang ada di atas meja.
"Katakan saja di mana dia sekarang. Kamu tidak perlu takut, Ar." Doni berusaha meyakinkanku.
"Dia...meninggal dunia." Aku menangis terisak.
Mereka bertiga ternganga mendengarnya.
"Serius kamu, Ar?" tanya Sarah.
"Itu menurut polisi yang tadi ke sini" jawabku.
"Syukurlah. Akhirnya bedebah itu mati juga. Lalu apa yang kamu takutkan?" tanya Sarah.
Aku berusaha mengatur nafasku. Doni menghapus air mataku.
"Aku...aku takut kalau aku...malah jadi tersangkanya" jawabku sesenggukan.
"Tidak mungkin, Ar. Pelaku terakhir yang melakukannya kan bukan kamu. Jadi kamu tak perlu takut. Polisi pasti akan melacaknya sampai ketemu pelakunya" ucap Doni.
"Kamu mengenali pelakunya?" tanya Roni.
"Aku melihatnya samar-samar. Setelah itu aku tak sadarkan diri."
"Menurutmu dia laki-laki atau perempuan?" tanya Doni.
"Entahlah. Aku melihatnya seperti bayangan hitam. Itu saja" jawabku.
"Apa mungkin bi Yati?" tanya Sarah.
"Sepertinya bukan. Bi Yati tidak setinggi itu. Dan badannya tidak sebesar itu meski bi Yati gemuk."
"Saat itu bi Yati ada di mana?" tanya Doni.
"Sejak aku pulang, aku tak melihatnya. Termasuk anakku. Sampai sekarangpun aku belum ketemu."
"Ya sudah, kamu istirahatlah dulu. Nanti aku akan coba cari bi Yati dan anakmu." Doni mengecup keningku.
"Aku ada teman seorang pengacara. Nanti aku hubungi biar bisa mendampingi kamu di pengadilan" ucap Roni.
__ADS_1
Aku menghela nafasku. Aku memilih memejamkan mataku. Aku masih takut kalau aku malah yang akan jadi tersangkanya.