SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 31 KEMARAHAN SUAMIKU


__ADS_3

Setelah kepergian Yola mengikuti suaminya keluar negeri, aku kembali merasa kesepian. Aku memang orang yang jarang bergaul. Dari dulu aku tak punya banyak teman. Hanya Yola, satu-satunya teman yang bisa membuatku nyaman. Walaupun awalnya kami seperti saling bermusuhan.


   Aku dan mas Arka kembali pada rutinitas kami. Setiap sore, kami pergi ke rumah sakit, untuk bergantian menjaga bapak.


  Hari ini, mas Arka pulang terlambat. Dia tadi memberi kabar kepadaku, ada rapat dadakan. Aku melanjutkan kabar itu ke ibu, agar ibu tidak menunggu-nunggu.


   Jam delapan malam, barulah mas Arka pulang. Dia kelihatan sangat lelah. Aku membuatkannya teh hangat, sementara dia mandi dulu, sebelum nanti ke rumah sakit.


  Selesai mandi, mas Arka menghampiriku yang sedang menunggunya di ruang tengah. Dia mengeluhkan sakit di kepalanya. Aku memijit kepalanya perlahan.


  Lalu mas Arka memintaku mengambilkan obat di tas kerjanya. Aku pun mengambilkannya, dan membantunya meminum obat itu.


  Tadi sebelum mas Arka meminum obatnya, aku sempat bertanya, apa dia sudah makan. Mas Arka menjawab, gak apa-apa. Makannya nanti saja.


  Tak lama setelah meminum obat itu, tiba-tiba mas Arka tertidur. Aku gak berani membangunkannya. Karena tadi aku melihatnya kesakitan.


  Aku pun menelfon ibu, memberitahukan kondisi mas Arka. Bahkan aku mengirimkan ibu, foto mas Arka sedang tertidur di sofa, yang aku ambil diam-diam.


  Ibu seperti sudah terbiasa dengan keadaan mas Arka. Ibu hanya meminta aku membiarkannya saja. Jangan di bangunkan, sampai nanti terbangun sendiri. Paling besok pagi baru bangun, kata ibu.


   Aku pun menurut saja. Walaupun dalam hati bertanya-tanya. Kenapa ibu terdengar biasa-biasa saja? Sama sekali tak terdengar nada khawatir.


 


   Apa ibu sudah mengetahui kalau mas Arka sering sakit ķepala? Kalau sudah tau, kenapa ibu tak pernah menceritakannya padaku?


  Banyak pertanyaan muncul di kapalaku. Aku perhatikan lagi mas Arka yang sedang tertidur. Kasihan sekali dia. Wajahnya terlihat sangat lelah. Aku pun mengambilkan selimut untuknya. Lalu mengunci pintu rumah, dan tidur di sofa satunya. Meringkuk, karena sofanya lebih kecil.


  Dan benar saja, mas Arka baru terbangun esok harinya. Saat adzan subuh berkumandang.

__ADS_1


  Mas Arka membangunkanku, lalu menanyakan kenapa aku tak membangunkannya semalam. Aku bilang apa adanya. Dan aku juga bilang, kalau aku sudah menghubungi ibu.


  Tapi bukannya menerima tindakanku. Mas Arka malah marah-marah. Dia mengatakan kalau aku gak kasihan sama ibu. Dan kenapa aku tidak punya inisiatif pergi ke rumah sakit sendiri. Sedangkan saat di Jogja saja, aku malah pergi-pergi sendiri saat dia tertidur.


   Aku sangat terkejut. Baru sekali ini mas Arka marah segitunya. Hanya karena aku tak membangunkannya. Bahkan mengungkit-ungkit kesalahanku saat di Jogja dulu.


  Aku benar-benar tak menyangka, mas Arka akan semarah ini padaku. Bahkan aku meminta maaf pun, dia malah masuk ke kamar.


  Aku yang baru saja bangun dari tidurku, masih syok mendengar kemarahan mas Arka, hanya diam saja. Aku masih belum beranjak dari sofa. Niatku, aku akan menenangkan diri dulu.


  Tak lama, mas Arka keluar dari kamar. Dia udah kelihatan rapi. Aku bertanya dalam hati, masa iya dia akan berangkat ke kantor, pagi-pagi buta?


  Melihatku yang masih terpaku di sofa,  mas Arka marah lagi.


   "Sampai kapan kamu akan duduk di situ?" Aku semakin bingung dan sedih mendengarnya. Sejak kapan suamiku jadi gampang marah seperti ini? Biasanya dia gak pernah marah. Dia orang yang paling baik. Selalu mengalah padaku. Apa yang terjadi dengannya?


  Sejak kapan mas Arka membiarkan aku pergi sendirian? Saat aku akan mengantar Yola ke bandara saja, dia relakan meninggalkan pekerjaannya.


  Ya sudahlah. Mungkin memang aku yang salah. Aku mencoba berbesar hati. Mencoba memahami perasaan suamiku sekarang.


   Mungkin dia lagi banyak masalah di kantor. Belum lagi bapak yang belum juga membaik. Dan setiap malam mas Arka harus tidur di sofa rumah sakit. Dia pasti sangat lelah.


   Aku beranjak ke kamar, mau mandi, lalu menyusul ke rumah sakit. Mengalah mungkin akan lebih baik. Walaupun aku sedih dan sakit hati dimarahi seperti anak kecil.


  Sedangkan kedua orang tuaku saja, tak pernah sekalipun memarahiku. Aku jadi teringat lagi pada ayah dan ibu. Ingat bagaimana mereka begitu baik padaku. Begitu sabar menghadapiku.


  Belum sempat aku membalas kebaikan orang tuaku, mereka sudah pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan aku sendiri. Bahkan nenek, satu-satunya yang aku punya setelah ayah dan ibu meninggal dunia, ikut menyusul mereka ke alam baka.


  Aku jadi ingat, kalau aku sudah lama tak mengunjungi makam mereka. Walaupun aku selalu mendoakan mereka setiap selesai sholat. Tapi aku merasa sangat bersalah, karena melupakan mengunjungi makam mereka.

__ADS_1


  Aku hapus airmataku yang menetes. Sedih kalau aku mengingat mereka. Dan lebih sedih lagi, karena suamiku memarahiku tanpa sebab yang jelas. Cuma karena kesalahan kecil. Walaupun aku masih belum merasa bersalah.


  Aku segera merapikan diri, jangan sampai nanti mas Arka semakin marah, karena aku terlambat datang ke rumah sakit.


  Aku mengambil ponselku, untuk memesan mobil online. Karena kalau naik angkot, harus oper dua kali. Akan sangat merepotkan dan makin lama.


  Sesampainya di rumah sakit, aku segera bergegas ke ruangan bapak. Di kamar itu hanya ada ibu. Aku pun bertanya pada ibu, kemana mas Arka.


  "Arka udah berangkat ke kantor. Barusan aja. Kamu gak ketemu di jalan?" Tanya ibu. Aku menggeleng.


  "Yang sabar ya Ar. Arka kalau sedang kambuh sakit kepalanya, memang gampang emosi," ucap ibu lagi.


Aku makin bertanya-tanya dalam hati. Jadi ibu sudah tau, kalau mas Arka sering sakit kepala? Aku ingin menanyakannya, tapi belum berani. Nanti saja, pikirku.


"Kamu makanlah dulu. Tadi Arka membeli makanan di jalan, katanya" ujar ibu.


Aku melihat di meja, ada kotak makanan. Aku pun menuruti perintah ibu.


"Makanlah dulu, Ar. Ibu dan Arka tadi sudah makan" ucap ibu.


Mas Arka juga membelikan makanan untuku? Aku kira, dia akan melupakanku.


Aku mengambil kotak makanan itu, dan segera memakannya. Karena dari semalam, aku memang belum sempat makan.


Setelah aku selesai makan, ibu berpamitan padaku. Ibu mau pulang dulu sebentar katanya. Mau mandi, dan membawa baju ganti. Jaga-jaga kalau besok-besok kami gak bisa datang lagi.


Aku menganggukan kepala. Sejujurnya, aku belum paham karakter keluarga suamiku. Aku masih trauma pada kemarahan mas Arka tadi pagi.


Jadi aku gak berani membantah apapun. Aku takut kalau ibu juga akan marah seperti mas Arka. Walaupun selama ini yang aku tau, ibu sangat baik kepadaku. Tapi siapa yang tau kalau ternyata ibu juga akan jadi pemarah seperti mas Arka?

__ADS_1


__ADS_2