
Siang ini aku mengurus sendiri suamiku. Aku sudah bisa menyuapi dan meminumkan obatnya dengan benar. Karena aku sering melihat Bima melakukannya.
Selesai minum obat, aku bawa mas Arka ke ruang tengah. Walaupun sebenarnya aku sudah ngantuk, tapi aku tahan. Kasihan juga mas Arka kalau habis makan langsung tidur.
Bima belum juga kembali. Mungkin memang beneran mau kembali sore nanti. Gak apa-apa deh. Biar dia menenangkan diri dulu. Semoga saja nanti sore pikirannya lebih baik lagi. Lebih bisa menerima kenyataan.
Setelah hampir setengah jam berada di ruang tengah, aku tak bisa lagi menahan kantuk ku. Aku minta tolong bi Yati mendorongkan kursi roda mas Arka ke kamar. Aku mau mengajaknya tidur siang.
Sampai di kamar, aku dan bi Yati memindahkan mas Arka ke tempat tidur. Butuh tenaga ekstra untuk memindahkannya. Karena bi Yati udah tua dan tenaganya juga berkurang.
Apalagi perutku yang semakin membesar, sangat menyulitkanku.
Hhhh.
Akhirnya bisa juga di pindahkan. Badanku terasa pegal semua. Bi Yati pun berinisiatif memijiti tangan dan kakiku. Sementara aku rebahan di sebelah mas Arka, sampai akhirnya aku tertidur.
Jam dua siang aku terbangun. Perutku terasa sangat lapar. Karena tadi siang aku malas makan. Aku memiringkan tubuhku. Aku lihat mas Arka sudah membuka matanya.
Aku kecup keningnya dan aku beranjak dari tempat tidurku.
"Aku lapar mas, aku mau makan dulu ya?" ucapku. Lalu aku keluar dari kamar.
Aku makan sendirian di meja makan. Bi Yati belum kelihatan. Mungkin dia ada di kamarnya.
Tak lama, aku lihat bi Yati sudah rapi. Tumben, pikirku.
"Bu, tadi Ibunya mas Arka telfon saya. Katanya siang ini saya di suruh ke rumahnya. Menggantikan bi Sumi yang libur mendadak karena ada saudaranya yang meninggal" ucap bi Yati.
Aku terkejut mendengar ucapan bi Yati. Kenapa ibu tak mengabari aku dulu?
"Kata ibu, beliau sudah mengabari bu Aryani. Tapi hapenya gak aktif" jawab bi Yati.
Ooh...apa hapeku lowbath ya? Kenapa aku gak mengeceknya sih? Bodoh banget aku.
"Ya udah, Bi. Berangkat aja. Bilang ke ibu, hapeku lowbath. Lupa nge-chas. Bibi mau berapa lama di sana?" tanyaku.
__ADS_1
"Belum tau bu. Tergantung nanti bi Sumi datangnya kapan" jawab bi Yati. Aku mengangguk.
Aku pikir, gak masalah sih kalau bi Yati sementara di rumah ibu mertuaku dulu. Toh nanti sore Bima sudah datang, dia bisa membantu aku membersihkan rumah.
Aku tadinya pingin memesankan taksi online buat bi Yati. Tapi terus inget kalau hapeku mati.
Akhirnya bi Yati naik angkot ke sananya. Tak lupa aku beri dia ongkos buat naik angkot.
Awalnya bi Yati menolak. Tapi setelah aku paksa, diterima juga uang dariku.
Setelah bi Yati pergi, aku melanjutkan makan siangku. Hhmm...sepi juga, gak ada orang di rumah ini.
Selesai makan, aku bersihkan sendiri piring bekasku makan. Aku gak mau nanti jadi menumpuk piring-piring kotor.
Dari kecil aku selalu diajarkan orang tuaku untuk membersihkan bekas makanku sendiri. Jadi aku sudah terbiasa. Dulu juga sebelum ada bi Yati, semua aku kerjakan sendiri.
Setelah rapi, aku baru ingat kalau mas Arka masih di tempat tidur. Haduh, bagaimana aku memindahkannya ke kursi roda?
Di rumah gak ada orang. Masa iya aku minta tolong sama satpam komplek.
Aku berjalan menuju kamarku. Aku lihat mata mas Arka masih terbuka. Aku dekati dia dengan setengah berbaring di sebelahnya.
"Mas, lihat ke sini dong. Ini pegang perutku. Udah besar. Anak kita hampir lahir, Mas. Mas kepingin kan lihat anak kita?" ucapku lagi. Aku ambil tangan mas Arka. Aku tempelkan di perutku.
"Lihat mas, anak kita menendang-nendang. Dia tau kalau ayahnya lagi memegangnya." Tak terasa air mataku menetes.
Begitu juga mas Arka. Aku lihat matanya berkaca-kaca. Mas Arka merespon. Walau cuma dengan air mata.
Aku mengajak mas Arka terus bercerita. Tangannya aku ajak terus mengelus perutku.
Walaupun air mataku terus saja berderai. Dan kulihat air mata mas Arka juga mulai mengalir perlahan di pipinya.
Reaksi yang bagus, batinku. Aku kecupi seluruh wajahnya. Aku hapus air matanya.
Tiba-tiba, aku membaui sesuatu yang tidak enak dari tubuh mas Arka. Aku mengendus-endus tubuhnya. Mencari di mana sumber bau itu berasal.
__ADS_1
Dan...ketemu! Aku intip diapersnya. Mas Arka BAB. Aku hampir muntah melihatnya.
Spontan aku berlari ke kamar mandi. Aku muntah beneran. Keluar semua makanan yang tadi masuk ke perutku.
Setelah lega, aku bersihkan mulutku dan keluar dari kamar mandi.
Haduh, gimana ini aku membersihkannya. Bima belum datang. Bi Yati pergi.
Masa iya harus menunggu Bima datang. Tapi kalau membersihkannya sendiri?
Aku udah lama tak pernah mengurusi mas Arka BAB, sejak ada Bima. Karena semua di kerjakan oleh Bima.
Akhirnya aku pasrah aja. Pelan-pelan aku buka diapersnya mas Arka. Dengan menahan mual di perutku yang muncul lagi.
Susah payah aku kerjakan semua sendiri. Setelah diapersnya terlepas, aku buang ke tempat sampah di dapur.
Aku kembali ke tempat tidur. Dan...aku melihat mas Arka mengeluarkan kotorannya lagi. Karena aku tadi tidak mengalasinya, kotoran itu mengenai sprei dan pastinya tembus ke kasur.
Ingin rasanya aku menangis, bahkan teriak. Aku yang dari tadi sudah menahan mual, semakin mual saja.
Aku kembali ke kamar mandi. Aku memuntahkan sisa-sisa isi perutku. Hingga hanya cairan saja yang keluar.
Aku bersandar di dinding kamar mandi. Aku harus bagaimana ini? Siapa yang bisa menolongku?
Aku menangis sambil melangkah mendekati tempat tidur. Kotoran ada di mana-mana. Gak mungkin aku diamkan juga.
Aku menangis sambil berusaha membersihkannya. Bajuku pun udah berlepotan kena kotoran itu. Baunya udah memenuhi seisi kamar.
"Mas, udah dong sembuh. Aku gak kuat kalau mas begini terus. Mas gak kasihan sama aku? Sama anak kita?" ucapku sambil terisak-isak.
Satu jam lebih aku membersihkan semuanya. Mulai dari membersihkan mas Arka. Membersihkan tempat tidur. Membersihkan lantai. Sampai dengan aku membersihkan tubuhku sendiri.
Aku berdiri di bawah kucuran air shower. Rasa segar terasa di sekujur badanku. Cukup menghilangkan gerah dan capek ku.
Setelah merasa segar lagi, aku keluar dari kamar mandi. Aku lihat mata mas Arka masih terbuka. Dia sudah lumayan bersih.
__ADS_1
Tapi aroma kamarku terasa sangat tidak enak. Aku membuka jendela kamar yang lama tak pernah dibuka. Karena kamar kami menggunakan ac.
Lumayanlah biar ada udara segar yang masuk. Aku tetap berdiri di depan jendela. Menatap ke depan. ke jalanan yang lengang.