
Hari ini aku keluar, mencari perlengkapan make-up. Aku sengaja pergi setelah mas Teguh berangkat ke gudang tempat usaha mertuaku.
Sebab kalau ada mas Teguh pasti dia akan mengantarku. Lama-lama aku jadi malas berdekatan dengannya.
Dia terlalu banyak mengatur kehidupanku. Walaupun dia juga siap membantu apapun yang aku inginkan.
Aku memesan taksi online menuju ke sebuah pusat perbelanjaan. Mencari kebutuhanku sekalian cuci mata.
Aku tak mengajak anakku. Karena pasti akan repot kalau membawa bayi. Biar anakku di rumah dengan bi Yati.
Aku berjalan sendirian, muter-muter di area perlengkapan wanita. Banyak sekali barang-barang yang menggodaku untuk membelinya.
Aku mencoba tidak gelap mata meski mas Teguh memberi aku uang yang cukup banyak untuk keperluanku. Uang dari hasil usaha mertuaku yang kini dikelolanya.
Pantas saja dahulu ibu mertuaku banyak uang, walaupun bapak mertuaku telah meninggal dunia. Karena penghasilan dari usahanya lumayan banyak.
Disebuah outlet make-up, aku disapa oleh seorang wanita. Aku menatap wajahnya. Seperti tidak asing, tapi aku masih belum bisa mengingatnya.
"Maaf, siapa ya?" tanyaku.
"Kamu Aryani istrinya Arka kan?" Dia malah balik bertanya. Aku mengangguk.
"Aku Siska. Istri mantan bosmu di toko selluler dulu" jelasnya. Aku tatap lagi wajahnya, aku benar-benar pangling. Sebab aku dulu mengenal Siska saat dia lagi hamil. Aku menepuk jidatku.
"Oh iya. Mbak Siska. Apa kabar?" Aku sudah bisa mengenalinya dengan baik.
"Aku baik. Kamu bagaimana dengan Arka? Jangan panggil mbak, ah. Berasa tua" kata Siska.
"Oke, Siska. Aku baik-baik saja mbak. Eh, Siska" jawabku.
"Arka mana?" tanyanya. Sepertinya dia tidak tahu keadaan mas Arka sekarang.
"Kita cari tempat yang enak buat ngobrol yuk. Nanti aku ceritakan semuanya" sahutku.
Siska setuju, lalu kami mencari sebuah cafe yang tidak terlalu ramai.
"Kamu mau pesan apa, Ar?" tanya Siska.
"Minum aja deh. Aku tadi di rumah baru saja makan" jawabku.
__ADS_1
Aku memang lagi mengurangi makan. Biar berat badanku bisa normal lagi. Sejak mengandung dulu, berat badanku naik drastis.
Apalagi terus menyusui anakku. Jadi makin melar badanku. Makanya setelah aku memutuskan ingin bekerja lagi, aku menghentikan ASI untuk anakku jadi aku bisa berdiet.
"Oke. Aku juga. Tapi tambah makanan kecil ya, gak afdol kalau cuma minuman" ucap Siska. Aku menurut saja. Toh hanya makanan kecil, tidak akan membuat badanku bengkak.
"Bagaimana kabar Arka. Cerita dong sama aku" ucap Siska lagi.
Lalu aku menceritakan tentang kondisi mas Arka sekarang. Aku juga bilang kalau sekarang aku tinggal di rumah almarhum mertuaku.
"Jadi kamu tidak tinggal di rumah Arka lagi?" tanya Siska. Kata Siska dulu dia dan suaminya pernah main ke rumah mas Arka, saat mas Arka belum menikahiku.
"Tidak. Karena disana tidak ada yang membantu mengurus mas Arka. Aku repot kalau mengurusnya sendiri, apalagi sekarang ada bayi juga" sahutku.
"Iya juga sih. Terus sekarang kegiatanmu apa?" tanya Siska.
"Itulah, Sis. Aku pingin sekali mencari pekerjaan. Kamu ada info tidak? Kalau ada, mau dong" ucapku.
"Waktu itu, temanku yang punya hotel, lagi butuh karyawan. Katanya buat jadi resepsionis. Kamu mau?" tanya Siska.
"Mau banget, Sis. Tapi itu bukan hotel esek-esek kan?" tanyaku. Karena dulu pernah ada adik temanku saat bekerja di toko selluler, ditawari kerja di hotel. Ternyata itu hotel esek-esek.
"Bukan. Itu hotel lumayan besar kok. Kalau tidak salah bintang empat. Coba deh kamu browsing di google, cari hotel Mutiara. Nanti kan keluar keterangannya" jawab Siska.
Sambil menyedot minumanku, aku mencoba langsung browsing. Dan benar juga, hotel itu cukup besar dengan berbagai fasilitasnya.
"Besar juga hotelnya, Sis" ucapku.
"Benar kan kataku tadi? Tapi aku belum bisa janji ya, Ar. Nanti aku tanyakan lagi pada temanku. Masih ada tidak lowongannya." ucap Siska.
"Iya. Terima kasih sebelumnya, Sis" ucapku.
"Bentar, Ar. Tadi kamu bilang, almarhum mertuamu meninggalkan usaha. Kenapa kamu mesti cari pekerjaan di tempat lain? Kenapa tidak kamu saja yang meneruskan usaha itu?" tanya Siska.
Lalu aku menceritakan alasanku. Tadinya aku tidak mau membahas soal mas Teguh, tapi karena Siska bertanya soal usaha peninggalan mertuaku, akhirnya aku ceritakan juga soal mas Teguh.
"Oh, begitu ya? Padahal dia itu kan saudaraan sama Arka, kok bisa begitu sih?" tanya Siska. Aku hanya mengangkat bahuku.
"Coba aja kamu pikir, Sis. Bagaimana kalau aku ikut mengelola usaha itu? Kami tiap hari bakal bersama. Bisa semakin ruwet nantinya" ucapku.
__ADS_1
"Emang orangnya ganteng?" tanya Siska kepo.
"Lumayan. Sebelas dua belas dengan mas Arka lah."
Aku menyeruput minumanku lagi. Walaupun orangnya ganteng kalau over protektif, perempuan juga malas jadi pendampingnya. Yang ada jadi merasa terkekang.
"Kamu sendiri bagaimana, Sis? Apa kegiatanmu sekarang?" tanyaku.
"Ya aku sih begini aja dari dulu. Usaha suamiku berjalan lancar. Aku tidak boleh bekerja. Diam di rumah momong anak. Kalau lagi mau saja, aku keluar sendiri kayak begini. Biasanya malas, kalau pun keluar selalu ditemani" jawab Siska.
"Alhamdulillah ya, Sis. Kehidupan kalian stabil. Tidak seperti aku". Aku mengaduk minumanku. Aku jadi merasa minder pada Siska.
"Iya, Ar. Setiap orang kan punya jalan hidup sendiri-sendiri, Ar. Semoga kamu kuat menjalaninya. Aku cuma bisa membantu dengan doa" sahut Siska.
"Jangan cuma doa, Sis. Tapi informasi soal lowongan itu" kataku sambil tertawa.
"Oh iya, pasti. Kalau pun lowongan itu sudah tidak ada, nanti aku coba minta tolong mantan bosmu buat nyariin. Bagaimana?" tanya Siska.
"Oke siap, Sis. Atur saja. Yang penting aku dapat pekerjaan. Biar gak merasa hidup numpang saja."
Karena hari sudah makin siang, aku mengajak Siska untuk pulang. Aku khawatir mas Arka belum ada yang memberi makan.
"Mau aku antar? Kayaknya kita searah." Siska menawariku.
"Gak usah, Sis. Lagian rumahku kan lebih jauh. Kasihan kamunya" tolakku. Tapi Siska terus memaksa. Akhirnya aku tak bisa menolak. Dan Siska mengantarkan aku pulang ke rumah mertuaku.
"Terima kasih, Sis. Kamu mau mampir dulu?" ucapku setelah sampai di depan rumah mertuaku.
"Kapan-kapan saja, Ar. Sekalian aku ajak suamiku melihat kondisi Arka. Salam saja buat Arka ya" ucap Siska. Aku malah tertawa.
"Kok ketawa sih?" tanya Siska.
"Lagian kamu tidak paham juga. Kan sudah aku ceritakan tadi kalau mas Arka tidak bisa merespon apapun. Bagaimana caranya aku menyampaikan salam dari kamu?"
"Oh iya, lupa. Ya sudah salam saja buat anakmu. Semoga anakmu bisa merespon salam dariku." Siska ikut tertawa.
Aku pamit pada Siska dan cipika-cipiki dulu dengannya. Lalu turun dari mobilnya.
Aku berjalan masuk ke rumah, setelah mobil Siska menjauh.
__ADS_1
"Dari mana kamu?" Mas Teguh sudah berdiri di tengah pintu masuk.