SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 42 DIA MENANGIS


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, kami saling diam. Aku sedang menyelami perasaanku sendiri. Perasaan apa ini?


Aku sering melihat Bima memandangku dari kaca di depannya. Aku membuang mukaku. Memandang ke arah suamiku.


Suamiku hanya bisa diam. Tak ada reaksi apapun. Aku genggam erat tangannya. Tetap dia hanya bisa diam.


Sesampainya di rumah, Bima menurunkan mas Arka dari mobil dengan dibantu bi Yati. Aku memegangi kursi rodanya. Lalu setelah mas Arka didudukan di kursi rodanya, Bima mendorongnya masuk ke dalam rumah.


"Bapak mau di bawa kemana, Bu? Sepertinya bapak lelah. Mungkin ngantuk, Bu" tanya Bima.


Aku yang masih bergelut dengan perasaanku sendiri, kaget mendengar pertanyaan Bima.


"Oh, iya. Bawa aja ke kamarku" ucapku. Lalu Bima mendorong kursi roda itu masuk ke dalam kamarku. Aku mengikutinya dari belakang.


Mas Arka di tidurkan di tempat tidurku. Lalu Bima menyelimutinya. Aku hanya diam memperhatikannya.


Memperhatikan tubuh tegap Bima. Aku membayangkan tubuh itu mendekapku. Pasti sangat nyaman berada di sana. Seperti saat mas Arka mendekapku dulu. Ah, aku segera menghilangkan pikiran kotorku.


Kenapa aku jadi berfikiran mesum begini? Apa karena aku rindu dengan belaian mas Arka? Rindu pelukannya. Rindu cumbuannya. Ah....


Bima berlalu keluar dari kamarku. Saat tubuhnya tepat di sebelahku, dia seperti sengaja menyenggolku. Pelan. Tapi dampaknya sangat dahsyat. Jantungku berdegup sangat kencang.


Apalagi saat tatapan matanya diarahkan kepadaku. Tajam. Seakan menusuk tepat di jantungku.


Begitu Bima keluar, aku segera mengunci pintu kamarku. Aku raba dadaku. Kenapa berdegup kencang seperti ini?


Aku menuju lemari kacaku. Aku tatap wajahku sendiri. Ada apa denganku? Apa salah jika aku menginginkannya?


Tidak! Aku tidak boleh terbawa perasaanku. Dia bukan suamiku. Dia hanya orang yang merawat suamiku. Tapi aku....


Aku melepaskan satu persatu pakaianku. Hingga menyisakan pakaian dalamku. Aku raba perutku yang sudah membesar. Ada anakku dan anak mas Arka di sini.


Tiba-tiba aku menginginkan sebuah sentuhan. Aku raba gunung kembarku. Aku memejamkan mataku. Aku membayanhkan mas Arka menyentuhnya. Meremasnya. Menghisapnya. Ah....aku mendesah sendiri.


Aku menengokan kepalaku. Ku tatap suamiku yang terbaring di tempat tidur. Matanya masih terbuka lebar. Tapi pandangannya kosong. Entah apa yang sedang dia rasakan.

__ADS_1


Dulu, saat aku sedang begini, mas Arka akan memelukku dari belakang. Dan akan membuat aku terbang melayang hanya dengan sentuhan-sentuhannya.


Tapi kini? Dia hanya diam. Terbujur lemah tak berdaya. Aku mendekatinya. Duduk di sampingnya. Aku tatap wajahnya.


Wajah itu, wajah yang dulu begitu mempesonaku. Menghipnotisku. Mencumbuku. Kini layu.


Aku raba bibirnya. Bibir yang selalu membuatku tak mampu berkata-kata. Bibir yang akan bermain liar di setiap inci tubuhku. Kini tak simetris lagi.


Tanganku turun ke lehernya. Dadanya. Dada yang sudah mulai tak bidang lagi. Kulitnya tak lagi kencang. Kendur.


Aku berbaring di sisinya. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba aku menginginkannya. Mataku serasa berkabut.


Aku mencumbunya. Setiap inci tubuhnya. Seperti dulu dia mencumbuiku, hingga aku tak berdaya. Tanganku menelusup masuk ke dalam pakaiannya.


Terus. Dan terus. Turun. Dan makin turun. Hingga aku menemukan miliknya yang dulu bisa membuatku mencapai puncakku.


Aku memainkan tanganku. Berharap ada reaksi dari sentuhanku. Tak ada. Tak ada reaksi apapun. Dia dan miliknya tetap tertidur.


Tapi...hasratku semakin menggelora. Aku memainkannya sendiri. Dengan satu tanganku. Dan satu tangan yang lain memainkan milikku sendiri.


Aku semakin merasa terbang tinggi. Melayang. Mataku semakin berkabut. Aku semakin liar. Tak peduli dengan perutku yang sudah membesar.


Aku berpacu dengan hasratku. Tanpa sehelai benangpun. Tanpa halangan apapun. Bebas. Aku bebaskan hasratku. Aku lepaskan gairahku. Tak ada yang membantu. Hanya kedua tanganku yang semakin liar.


Terus. Dan terus. Semakin kencang. Semakin dahsyat. Hingga aku merasakan pelepasanku. Ah...aku mendesah.


Aku mencapai puncakku. Puncak yang dulu aku nikmati berdua dengan suamiku. Tapi kini, aku harus mendakinya sendiri. Menggapainya sendiri.


Aku menghempaskan tubuh polosku di samping tubuh suamiku yang lemas tak bergerak.


Aku menatapnya dari samping. Aku terkejut. Ada bulir bening di ujung matanya. Mas Arka menangis. Ya, dia menangis. Dia bereaksi.


Aku mengangkat lagi tubuhku. Aku pandangi wajahnya. Matanya. Tatapannya masih kosong. Tapi mata itu, mengeluarkan cairan bening. Aku goncang-goncangkan tubuhnya.


"Mas...Mas....kamu menangis? Kamu melihatku tadi? Kamu juga menginginkannya mas?" tanyaku. Air mataku semakin tak terbendung. Tangisanku pecah.

__ADS_1


"Mas....ayo bangun, Mas. Lihat aku, Mas. Lihat perutku yang sudah mulai membesar, Mas. Di sini ada anak kamu. Anak kita. Bangun Mas!" aku goncangkan lagi tubuhnya.


Aku lihat terus matanya. Cairan bening itu semakin banyak. Dia terus menangis. Kalau dia bisa menangis, kenapa dia tak bisa bergerak.


Aku angkat tangannya. Aku gerak-gerakkan. Tangan itu layu. Tak ada reaksi sedikitpun. Tak bisa bergerak sedikitpun.


Aku hempaskan tangan itu kembali. Aku hempaskan juga tubuhku. Aku menangis. Aku menjerit.


Aaaaaaaaakkhh!


Aku mendengar pintu kamarku di ketuk. Bahkan di gedor. Suara Bima dan bi Yati memanggil-manggil namaku.


Aku susut airmataku. Aku pejamkan mataku. Aku duduk. Menenangkan degup jantungku. Menenangkan diriku. Aku buka kembali mataku.


Mereka terus mengetuk pintu kamarku. Aku punguti pakaianku. Aku mengenakannya. Dan kubuka pintu kamarku.


"Ibu kenapa?" tanya mereka hampir berbarengan.


Aku menggeleng. Bima nyelonong masuk. Dia langsung menuju tempat tidurku. Dia amati mas Arka. Dia bolak balik tubuh mas Arka.


Lalu dia mendekatiku. Sangat dekat. Saat itu bi Yati sudah meninggalkan kami.


Dengan satu tangannya, Bima menutup pintu kamarku. Lalu dia mengangkat daguku. Menatap mataku. Menghapus airmataku.


Perlahan tangannya menyentuh bibirku. Lembut. Selembut sentuhan tangan suamiku.


Bima memajukan wajahnya. Mendekati wajahku. Terus mendekat, hingga tak ada jarak lagi. Hidung kami bertemu. Nafas kami saling memburu.


Dan tanpa komando, bibir kami saling mencari. Saling memagut. Saling menyesap. Saling *******. Saling mencari kenikmatan di sana. Lama.


Hingga kami sama-sama saling kehabisan nafas. Saling terengah. Aku menunduk.


Bima mengangkat daguku lagi. Dia memajukan lagi wajahnya. Saat bibir kami mulai menempel lagi. Tiba-tiba guling yang ada di sisi tempat tidurku jatuh.


Siapa yang menjatuhkan? Mungkinkah guling itu menggelinding? Lalu siapa yang menggelindingkannya? Tak mungkin juga menggelinding sendiri. Tak ada angin sedikitpun. Atau mungkin....

__ADS_1


Kami terkejut. Spontan kami menengok ke arah tempat tidurku. Kami berpandangan sejenak. Lalu menghampiri mas Arka. Dia masih membuka matanya. Mata yang sama. Mata yang kosong. Tapi...


Cairan bening mengalir ke pipinya. Dia menangis.


__ADS_2