
Doni mengikutiku hingga ke meja kerjaku. Aku tatap wajahnya yang sedingin es.
"Aku pekerjakan kamu bukan buat ngerumpi sama perempuan murahan itu, paham?"
Aku tidak mengerti kenapa Doni menilai Mila sampai segitunya. Misalnya pun Mila sering ganti-ganti teman kencan, bukan urusan Doni juga.
Urusan Doni cuma sebatas pekerjaan saja. Kenapa harus menyangkut pautkan urusan pribadi.
Kalau dulu Mila pernah menjebakku, toh aku masih selamat. Tidak terjadi apapun padaku.
"Kenapa diam? Masih kurang yakin dengan omonganku?"
Aku masih diam. Doni mengambil ponselnya lalu diberikannya padaku.
"Nih, kalau kamu kurang yakin. Kamu bisa baca bagaimana dia hampir tiap hari memintaku kencan dengannya. Kalau ini hotelku sendiri, sudah aku pecat dia dari dulu!"
Aku membaca pesan-pesan yang dikirimkan oleh Mila ke nomornya Doni. Mengerikan sekali caranya meminta kencan dengan Doni. Pantes saja Doni sangat membencinya.
"Kamu masih mau dekat sama perempuan seperti dia?"
"Maafin aku, Don." Hanya itu yang bisa aku ucapkan.
"Ya sudah. Aku hanya mau mengambil berkas-berkas saja. Selesaikan pekerjaanmu dengan baik."
Lalu Doni memberikan lagi pekerjaan buatku.
"Aku pergi dulu. Jangan lupa makan siang. Kalau tidak mau keluar sendirian, nanti pesan online saja."
Sebelum pergi, Doni mengecup pipiku sekilas.
Meski Doni sedang marah, dia masih bisa bersikap manis.
Aku kembali dengan kesibukan yang memakan banyak waktu dan otak. Di sini otakku benar-benar diasah. Aku yang tak punya basic tentang manajemen dan akuntansi, dipaksa untuk mengerjakannya.
Untung aku memiliki otak yang cukup encer, jadi aku bisa mempelajarinya dengan mudah.
Saatnya makan siang, aku membuka makanan yang dibelikan Doni tadi pagi. Lumayanlah tidak perlu keluar uang buat beli makanan.
Dan tidak perlu keluar hotel juga buat mencari makan. Karena kemungkinan akan ketemu Mila lagi.
Bukan aku tak menyukai Mila lagi, tapi aku tak mau kalau ketahuan lagi sama Doni.
Tok tok tok.
Pintu ruang kerjaku ada yang mengetuk. Setelah aku buka, ternyata security hotel. Dia membawakan aku makanan, katanya ada paket makanan buatku.
Aku menerimanya. Setelah aku baca nama pemesannya, ternyata Doni. Masih sempat juga dia membelikan aku makanan.
__ADS_1
Aku foto makanan itu dan aku kirimkan ke nomor Doni, biar dia tahu kalau makanannya sudah aku terima. Meskipun aku tak berminat memakannya dulu. Karena aku sudah makan.
Aku pikir-pikir, enak juga ya jadi karyawan sepertiku. Makan pagi, makan siang gratis. Tinggal makan saja.
Transportasi juga gratis. Antar jemput juga. Tapi mau sampai kapan? Sedangkan suamiku sekarang sudah mulai pulih.
Bagaimana kalau suatu hari nanti suamiku sudah benar-benar sehat dan bisa bekerja kembali?
Hubunganku dengan Doni pasti akan ketahuan. Lalu bagaimana selanjutnya?
Ah, bikin pusing dan galau.
Aku memilih kembali pada pekerjaanku. Soal suamiku dan Doni biarlah aku pikirkan nanti. Apapun yang akan terjadi, terjadilah.
Saking asiknya bekerja, aku sampai lupa waktu. Sudah jam empat lebih.
Tapi belum juga selesai tugas dari Doni. Aku selesaikan dulu saja. Toh Doni belum menjemputku.
Hingga tak terasa sudah hampir jam enam. Doni belum juga menghubungiku. Aku coba menghubunginya dulu, malah nomornya tidak aktif.
Akhirnya aku putuskan untuk pulang sendiri. Aku bisa pulang dengan ojek online. Tak lupa aku bawa juga makanan yang tadi siang dipesankan oleh Doni.
Setengah jam kemudian, aku sudah sampai di rumah. Seperti kemarin, lampu teras sudah menyala. Dan pintu rumah terbuka.
Aku masuk tanpa mengucapkan salam. Karena aku pikir percuma saja, toh tak ada yang menjawabnya.
"Mas! Mas Arka! Kamu di mana?"
Aku cari ke dapur, tak ada. Di kamar mandi juga tidak ada. Aku buka kamarku, kosong.
Aku tercengang saat membuka kamar yang ditempati mas Arka. Dia sedang sholat maghrib sambil duduk di kursi rodanya.
Mataku berair. Trenyuh melihat kekhusyuan mas Arka dalam beribadah.
Pertanyaanku, sejak kapan mas Arka mulai sholat lagi? Karena selama ini aku tak pernah melihatnya.
Kalau dulu saat masih di rumah mertuaku, mas Teguh sering mengajaknya ke masjid meski harus mendorongnya cukup jauh.
Aku terus memperhatikan mas Arka sholat hingga selesai. Begitu dia melakukan salam, aku menghambur ke pelukannya.
"Mas. Kamu sudah pulih. Kamu sudah sehat, Mas?"
Mas Arka hanya mengangguk. Aku tatap wajahnya. Wajah yang sangat menyejukan. Wajah yang pernah membuatku tak bisa pindah ke lain hati.
Tapi sekarang? Malah aku yang menghianatinya. Aku yang melupakannya saat bersama Doni.
Air mataku turun dengan deras. Aku bersimpuh di kaki mas Arka. Maafkan aku, Mas.
__ADS_1
Dengan gerakan yang masih lemah, mas Arka membelai kepalaku. Aku mendongakan kepalaku.
Mas Arka menghapus air mataku. Lalu dia mencoba untuk tersenyum, meski sangat sulit.
Aku membawa mas Arka ke depan. Dengan air mata yang tak juga mau berhenti.
"Kamu sudah makan, Mas?"
Mas Arka menggeleng.
"Kita makan bareng, ya?"
Lalu aku ke dapur dan menyiapkan makan malam untuk kami berdua.
Makanan yang tadi siang dipesankan oleh Doni juga aku sajikan, selain makanan yang tadi pagi aku buat.
Aku hendak mendorong mas Arka agar bisa makan bareng di meja makan. Tapi mas Arka sudah mendorong sendiri kursi rodanya.
Aku ambilkan dia makanan di piring lalu meletakan di pangkuannya. Air mataku terus mengalir melihat suamiku dengan susah payah mencoba menyuapkan makanannya.
Bahkan mas Arka mengulurkan sendok berisi makanan ke arahku. Dia ingin menyuapiku.
Aku mendekat, lalu aku pegang tangannya dan aku membuka mulutku untuk memasukan makanan itu.
Aku mengunyahnya dengan air mata yang tak juga mau berhenti mengalir.
"Terima kasih....Mas." Terbata-bata aku mengucapkannya.
Aku juga mengambil makananku dan menyuapi mas Arka. Kita jadi kayak sepasang muda-mudi yang sedang pacaran.
Ingatanku melayang pada dua tahun silam. Saat kami sedang berpacaran. Meski waktu pacaran kami sangat singkat.
Aku baru sadar, ternyata pernikahan kami belum genap dua tahun. Tapi badai yang menerjangnya sungguh dahsyat.
Ibarat orang berlayar, perahu kami diterjang badai besar. Kami masih berada di dalamnya, karena perahu belum karam.
Tapi aku mencari aman sendiri. Aku bermain api. Sementara mas Arka belum bisa mengemudikan perahunya lagi seperti semula.
Jahat sekali aku. Bagaimana kalau aku yang berada di posisi mas Arka? Saat tak berdaya malah dihianati.
Selesai makan, bahkan mas Arka bisa membantuku membereskan meja makan. Dia tetap pada posisi duduk di kursi rodanya.
"Sudah, Mas. Biar aku saja. Kamu duduk saja. Nanti malah jatuh."
Mas Arka menggeleng dan tetap membantuku membawa piring-piring kotor ke tempat cucian.
Ya, mas Arka memang sebenarnya pribadi yang mandiri. Awal menikah dulu juga dia sering membantu pekerjaan rumah yang mestinya jadi tanggung jawabku.
__ADS_1