SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 153 ANAK PANCINGAN


__ADS_3

Roni sudah bersiap-siap pergi ke proyek.


"Arka, ikut aku ke proyek yuk. Biar kamu lihat-lihat dulu. Kalau memang kamu cocok, besok pagi kamu bisa mulai kerja," ajak Roni.


"Aryani biar di sini dulu nemenin Sarah," lanjutnya.


Mas Arka menatapku. Aku mengangguk memberi persetujuan. Daripada di sini saja, juga tak ada yang bisa dikerjakan mas Arka.


"Tapi aku hanya pakai baju seperti ini?" tanya mas Arka.


Meski pakaiannya cukup rapi, tapi dahulu mas Arka terbiasa ke kantor dengan pakaian resmi. Jadi mungkin dia merasa kurang nyaman.


"Santai aja, Ka. Toh kita cuma di proyek, bukan kantoran," jawab Roni meyakinkan.


"Ya sudah, kalau begitu. Ar, kamu enggak apa-apa aku tinggal dulu, kan?" tanya mas Arka.


"Iya, Mas. Enggak apa-apa. Santai saja." Aku malah lebih senang di sini. Bisa ngobrol dengan Sarah dan nanti bisa main dengan Aryaka.


Sarah juga kelihatan lebih senang kalau hanya berdua denganku saja. Pastinya lebih nyaman buat dia bercerita atau bertanya tentang apapun.


"Kamu sudah makan, Ar?" tanya Sarah setelah mas Arka dan Roni pergi.


"Sudah, tadi pagi. Mau masak apa kamu hari ini, Sar?" tanyaku. Untuk kondisi seperti Sarah biasanya malas masak. Karena biasanya juga, tidak tahan membaui bumbu-bumbu di dapur.


"Bikin sup saja, Ar. Buat makan Aryaka. Yuk, ke dapur. Biasanya bangun tidur Aryaka minta makan," ajak Sarah.


Aku beranjak dari kursi dan mengikuti Sarah ke dapur. Di kulkas sudah banyak bahan-bahan buat memasak. Aku keluarkan beberapa untuk bikin sup juga ayam goreng buat makan kami nanti siang.


"Roni suka pulang enggak kalau makan siang, Sar?" tanyaku. Maksudku, kalau pulang, aku akan masak lebih banyak.


"Enggak tentu, tergantung kesibukannya. Kalau senggang, dia pasti pulang," jawab Sarah.


"Ya udah, kalau begitu aku masak agak banyak ya? Jaga-jaga kalau mereka pulang nanti."


Dengan semangat aku memasak. Udah lama juga aku enggak menyiapkan makanan buat anakku.


Baru saja aku menumis bumbu, Sarah sudah berlari ke kamar mandi. Kelihatannya dia mual mencium aroma bumbu.


Aku jadi ingat waktu masa-masa awal hamil. Meski tak terlalu parah, tapi aku tak bisa juga mencium aroma masakan. Maunya makannya aja.


"Kamu istirahat di kamar aja, Sar. Biar aku yang masak." Aku tinggalkan dulu masakanku. Sarah lebih membutuhkanku.

__ADS_1


Baru saja Sarah masuk ke kamar, Aryaka sudah bangun. Dan yang membuatku sedih, dia mencari Sarah saat aku membantunya bangun.


Sebenarnya itu wajar, karena sehari-hari dia lebih banyak bersama Sarah. Apalagi Sarah sangat menýayanginya.


Tapi perasaanku sebagai orang tua merasa sedih. Ini semua salahku, yang menjauhkannya dariku.


Aku mencoba sabar menghadapi Aryaka yang menangis minta digendong Sarah. Meski sudah berumur lebih dari setahun, tapi karena Sarah selalu menggendongnya, membuat anakku jadi terbiasa digendong.


Tangisnya belum reda kalau belum digendong. Dan itu cukup merepotkan Sarah yang lagi dalam keadaan seperti ini.


"Ayo sama Mama, Sayang," ajakku.


Aryaka menolak. Malah tangisnya semakin kencang. Tapi begitu sarah datang dan mengulurkan tangannya, tangisnya langsung berhenti.


"Sar, kayaknya aku harus membiasakan dulu sama Aryaka. Kalau tiba-tiba aku bawa dia, pasti bakalan rewel," ucapku.


"Iya. Kamu di sini aja dulu. Biar Aryaka enggak kaget. Kasihan kan kalau nangis enggak berhenti-berhenti," sahut Sarah sambil menggendong Aryaka.


"Iya, Sar. Tapi kamu juga jangan terlalu sering menggendong Aryaka. Dia sudah berat, nanti mempengaruhi kehamilan kamu," ucapku.


"Enggak apa-apa. Cuma sebentar kok," sahut Sarah. Lalu dia membawa Aryaka ke ruang tengah. Dan menurunkannya di sana.


Sarah mengambilkan banyak mainan. Dan dengan sabar, Sarah mengajak Aryaka bermain.


"Aku selesaikan masaknya dulu ya, Sar." Aku tinggalkan mereka karena sepertinya air mataku akan meluncur.


Sarah hanya mengangguk. Dia sedang sibuk mengajak Aryaka bermain.


Hhh. Air mataku tetap saja meluncur tanpa bisa aku hentikan. Andai saja badai tak menghujamku, pasti aku akan menjadi seorang ibu yang normal. Ibu yang selalu ada untuk anakku.


Tapi ya sudahlah. Yang penting semua sudah berlalu. Tak perlu lagi disesali, toh waktu tak akan bisa diputar lagi.


Sekarang yang harus aku lakukan, bagaimana caranya mengembalikan kedekatan anakku seperti dulu lagi.


Saat aku masih kuat bertahan dan tak bekerja, lalu menyerahkannya pada bik Yati.


Hhmm, aku jadi ingat dengan bik Yati. Bagaimana pun dia sudah banyak berjasa dalam hidupku. Sejak aku hamil sampai Aryaka lahir, dia yang membantuku.


Kemana dia ya? Semoga aku bisa mengambilnya lagi. Meski untuk itu perlu memperbaiki dulu ekonomiku. Tak mungkin juga kan membawanya dengan gratisan.


Bik Yati juga butuh uang untuk kehidupannya. Dan membantu keluarganya di kampung.

__ADS_1


Semoga saja mas Arka bisa kembali bekerja seperti dulu lagi. Memberikan kehidupan yang baik untukku dan anak kami.


Tak terasa, masakanku sudah siap. Sup buat Aryaka pun sudah hangat.


"Mama, Aka lapel." Suara kecil dan cadel mengejutkanku yang sedang menata makanan di meja makan.


Aku melihatnya yang sedang menatapku dengan pandangan meminta.


Aku langsung mendekati dan berjongkok di depannya. Aku belai rambut gondrongnya. Ya, Sarah menyukai penampilan Aryaka dengan rambut gondrong.


Sebenarnya aku kurang suka. Tapi mau dikata apa, kan yang merawat Sarah.


"Aka mau maem?" tanyaku dengan suara parau.


Aryaka mengangguk. Tangannya diulurkan dan menyentuh pipiku. Spontan aku raih tangan kecilnya dan menciuminya dengan gemas.


"Ayo, Mama ambilkan." Aku angkat tubuh gembulnya dan mendudukannya di kursi.


"Tunggu sebentar, ya. Mama siapkan dulu." Dengan cekatan aku siapkan makanan untuk anakku.


"Mau disuapin?" Aryaka mengangguk. Lucu dan menggemaskan.


Pelan-pelan aku suapin anakku. Aku baper banget. Sambil menyuapi, berkali-kali aku menghapus air mataku.


"Mama kok nais?" Aryaka menyentuh pipiku lagi.


"Enggak, Sayang. Mama senang Aka maemnya banyak," jawabku sambil tersenyum.


Rupanya dia sangat perhatian padaku. Berkali-kali juga dia menatapku lalu menyentuh pipiku. Menyenangkan sekali.


Aku terus menyuapinya hingga tak sadar mas Arka sudah ada di dekat kami. Dia memperhatikan dengan intens kedekatanku dengan Aryaka.


Senyumnya mengembang. Lalu mendekat.


"Enak maemnya, Sayang?" tanya mas Arka berjongkok di samping Aryaka.


"Papa...!" seru Aryaka lalu menyentuh pipi mas Arka dengan tangan kecilnya.


Sama sepertiku, mas Arka pun meraih tangan Aryaka dan mengecupnya dengan lembut.


Kebersamaan yang membahagiakan kami, tapi juga menguras air mata kami.

__ADS_1


Sarah dan Roni asik mengobrol di depan. Mereka tak mengganggu kebersaan kami. Sepertinya mereka juga sedang menikmati kebahagiaannya.


__ADS_2