
Setelah menunggu lumayan lama di lobi, akhirnya aku minta tolong sama resepsionis, untuk minta kunci cadangan. Biar aku bisa masuk kamarku. Capek. Aku pingin istirahat.
Resepsionis itu pun mau memberikan kunci cadangannya, karena kasihan melihatku. Aku pun bergegas menuju kamarku.
Ah, lega rasanya bisa masuk kamar lagi. Aku langsung merebahkan diri, setelah memasukan belanjaanku tadi.
Tak terasa, aku pun tertidur karena capek.
Jam sebelas siang, aku di bangunkan mas Arka. Aku buka mataku. Aku lihat di kamar ada Yola dan juga mas Deni, suaminya.
Mereka langsung memberondongku dengan berbagai pertanyaan. Aku cengar-cengir tanpa merasa berdosa.
"Aku tadi iseng jalan-jalan. Abisnya mas di bangunin berkali-kali gak bangun juga" jawabku santai.
"Kamu tau gak sih, kita tuh bingung nyariin kamu. Mana kamu gak bawa hape juga. Kita tanya sama resepsionis, katanya gak tau" ucap mas Arka, masih kelihatan kesal.
Ya iyalah, kan resepsionisnya udah ganti orang. Batinku. Aku segera bangkit dari tidurku.
"Ayo sekarang kita beres-beres, terus check out. Katanya gak kemaleman lagi di jalan" ucap mas Arka.
Sementara Yola dan mas Deni, udah keluar dari kamarku. Katanya mereka juga mau siap-siap check out.
Selesai beres-beres, aku dan mas Arka keluar kamar. Di depan kamar, udah ada Yola dan mas Deni. Mereka udah siap pulang.
Kita berempat berjalan menuju lift, untuk turun. Setelah memencet tombol buka, kita langsung masuk ke dalam lift. Mas Arka memencet tombol angka 1.
Lift bergerak turun. Tapi tiba-tiba.... Dret! Lift berhenti, dan lampu di dalam lift ikut mati. Spontan aku dan Yola berteriak. Aku langsung memeluk lengan mas Arka, yang berada tepat di sampingku.
Lift berhenti untuk beberapa saat. Kami, terutama aku sudah sangat panik. Keringat dingin udah terasa keluar, membasahi tubuhku.
"Sepertinya mati lampu. Tenang dulu" itu suara mas Deni, menenangkan kami.
Dan benar saja, tak lama lampu di dalam lift menyala, dan lift pun bergerak kembali.
"Alhamdulillah..." ucap kami berbarengan. Hhh, jantungku udah mau copot aja tadi. Untung cuma sebentar.
Begitu sampai di lantai satu dan pintu lift terbuka, aku langsung berlari keluar duluan. Aku gak mau berlama-lama di dalam lift itu. Takut liftnya menutup lagi.
"Sayang, jangan lari. Ingat perutmu!" teriak mas Arka. Aku nyengir setelah berada jauh dari mereka.
Kami segera menuju ke meja resepsionis, untuk check out. Setelah menyerahkan kunci kamar, kita menuju ke mobil.
__ADS_1
Lega rasanya akhirnya bisa sampai mobil lagi. Setelah mengambil posisi masing-masing, mobil mulai bergerak keluar dari area hotel.
Tujuan pertama kami, mencari tempat makan. Karena mereka bertiga, tadi belum sempat sarapan.
Katanya, tadi pagi setelah mas Arka mengetahui aku tak ada di dalam kamar, dia langsung mencariku ke kamar sebelah. Ternyata Yola dan mas Deni pun tak tau aku ada dimana.
Tanpa pikir panjang, mereka bertiga mencariku ke lobi. Ternyata gak ada juga. Resepsionis yang berjaga juga bilang gak tau. Karena setelah aku pergi, udah ada pergantian shift jaga.
Mereka pun mencariku di luar hotel. Siapa tau, aku masih ada di sekitaran area hotel. Ternyata tidak ada juga.
Dari satpam yang berjaga, mereka di kasih tau, kalau tadi pagi dia melihat seorang perempuan keluar dari hotel, lalu pergi naik becak.
Tak ayal, mereka pun segera mencariku, menyusuri jalanan kota Jogja dengan mobil. Karena berbeda arah, kami pun tak bertemu.
Alhasil, mereka gak sempat sarapan pagi, karena sibuk mencariku kemana-mana. Sampai-sampai mas Arka pun belum sempat mandi.
Baru setelah mereka balik ke hotel, dan menemukanku enak-enakan tertidur di kamar, mas Arka mandi.
Mas Arka sempat ngomel-ngomel lagi, saat Yola dan mas Deni sudah keluar kamar.
"Kalau pergi-pergi gak sempat pamit, minimal bawa hape, biar bisa di hubungi. Dan gak bikin panik semua orang" omel mas Arka tadi sambil mandi.
Okelah sekarang kita cari tempat makan, aku juga kebetulan udah laper lagi. Padahal tadi pagi udah makan nasi gudeg suwir di depan pasar Beringharjo.
Setelah memborong banyak oleh-oleh, kita bersiap pulang. Mobil udah sangat penuh, oleh barang-barang yang kita beli di Jogja.
Jalanan kota Jogja di hari libur seperti ini, agak padat. Jam tiga kita baru bisa keluar dari kota.
Sebelum melanjutkan perjalanan, mas Arka membelokan mobilnya ke sebuah pom bensin yang kita lalui.
Di pom bensin pun, kita mengantri cukup lama. Antrian panjang mengular.
Selesai mengisi bensin, kami lanjutkan perjalanan pulang. Tapi tiba-tiba, setelah lumayan jauh kita meninggalkan kota, ban mobil kempes.
Haduh, kenapa jadi banyak sekali kendala sih? Tanyaku dalam hati.
Mobil pun berhenti. Mas Arka dan mas Deni, keluar dari mobil. Mereka berusaha mengganti ban mobil sendiri.
Karena mesin mobil mati, aku dan Yola ikut turun juga. Gerah di dalam.
Kami berada jauh di luar kota. Jalanan lumayan ramai. Kanan kiri kami, hanya ada pepohonan dan persawahan. Jauh dari perkampungan.
__ADS_1
Agak lama juga mas Arka dan mas Deni mengganti ban mobil. Waktu udah semakin sore. Aku lihat jam di pergelangan tanganku. Hampir jam lima sore.
Degh.
Jangan sampai kita kemalaman lagi, saat melewati jalan yang kemarin.
Untungnya tak lama kemudian, mereka selesai dengan pekerjaan itu. Kami pun segera masuk mobil, dan... Mobil agak susah di stater lagi.
Ada apa ini? Jantungku udah mulai berdetak cepat. Bayangan bakal kemalaman di jalan itu, memenuhi kepalaku.
Aku mulai berkeringat. Selain karena panik, juga karena ac mobil belum bisa nyala.
"Come on" ucap mas Deni, yang memegang setir. Di jok tengah aku udah sangat gelisah. Mas Arka menggenggam erat tanganku.
"Tenang sayang. Semua akan baik-baik saja" ucap mas Arka menenangkan aku. Aku makin gelisah.
Setelah berkali-kali di stater, akhirnya bisa juga. Semua terlihat menghela nafas lega.
Kecuali aku. Aku melihat jam lagi. Udah hampir setengah enam sore. Langitpun sudah mulai redup.
Keringatku semakin banyak keluar. Aku minta mas Arka menambah suhu ac, agar lebih dingin.
Aku mengambil tissue, untuk mengelap keringatku. Mas Arka menggengam tanganku lebih erat. Bahkan satu tangannya lagi, menepuk nepuk telapak tanganku yang di genggamnya.
Aku menghela nafas panjang. Terus berdoa dalam hati, semoga perjalanan kami lancar. Tak ada gangguan lagi. Dan semoga...tidak bertemu 'orang' itu lagi.
Mobil mulai melaju. Semakin cepat. Mas Deni semakin menambah kecepatannya. Sepertinya dia pun merasakan hal yang sama denganku.
Hingga sampailah kita di jalan itu. Jalan berkelok-kelok panjang. Jantungku semakin berdetak cepat. Sementara langit benar-benar sudah sangat gelap.
Aku melihat jam lagi di pergelangan tanganku. Jam enam lewat. Artinya waktu memasuki maghrib. Waktu yang hampir sama ketika....
Ciiiiittt.
Mas Deni mengerem mendadak. Yang membuat kami semua terkejut dan spontan badan maju ke depan. Bahkan kepalaku menabrak jok di depanku, yang diduduki Yola.
Mobil berhenti mendadak, karena ada yang menyeberang jalan dengan tiba-tiba. Spontan juga kami menatap orang yang menyeberang itu.
'Orang' itu menengok ke arah kami, dengan tatapan sangat tajam. Dia mengenakan jas hujan lusuh. Dan dia... Orang yang sama dengan yang waktu itu.
"Aaaaaakkkhhh...!" teriak aku dan Yola berbarengan. Aku segera menutup wajahku, dengan bersembunyi di dada mas Arka.
__ADS_1
Mas Deni pun segera tancap gas, dengan kecepatan tinggi.