
"Ar, bangun." Sarah membangunkanku. Aku menggeliatkan tubuh.
Setelah membuka mataku, aku melihat Sarah sudah rapi. Entah mengenakan baju siapa dia.
"Mandi lalu kita pulang" ucap Sarah.
Aku menyipitkan mataku yang belum on seratus persen.
"Kenapa? Kamu mau tidur di sini lagi?"
Aku menggeleng. Lalu turun dari tempat tidurku.
Sarah memberikan aku sebuah kantung plastik.
"Apa ini, Sar?" Aku melihat isi plastik.
"Handuk, kaos dan celana panjang kayak yang aku pakai. Ada juga baju dalaman, tapi mungkin kurang pas ukurannya." Sarah menjelaskan isi kantung kresek yang aku bawa.
"Siapa yang membelikannya?"
"Roni sama Doni. Tadi pagi-pagi mereka ke pasar."
Mendengar kata pasar aku jadi melihat lagi isi kantung plastik itu. Tak apalah. Lumayan daripada aku mesti pakai bajuku yang sudah kotor. Dan pastinya belum dicuci.
Aku masuk ke sebuah kamar mandi kecil, tapi cukup bersih. Karena ini di Puskesmas. Pasti dijaga kebersihannya.
Selesai mandi aku yang sudah merasa segar, mencari keberadaan teman-temanku. Karena di kamarku yang tadi, mereka tidak ada.
"Maaf, Pak. Bapak lihat teman-teman saya?"
Baru saja aku nanya ke seorang cleaning servise, Doni sudah datang.
"Kamu sudah siap, Ar?" Aku mengangguk.
"Ayo kita sarapan dulu. Sarah sama Roni udah nunggu di warung depan."
Lalu Doni mengambil baju kotor yang tadi aku masukan ke kantung plastik, dari tanganku.
Doni membawanya, aku mengikuti langkah Doni.
"Aku taruh dulu ini di mobil." Ucap Doni lalu berjalan ke arah mobilnya di depan Puskesmas.
"Tuh mereka di sana." Doni menunjuk sebuah warung makan sederhana.
Aku mengikuti Doni ke sana. Warung itu masih sepi. Mungkin karena masih terlalu pagi.
"Mau makan apa, Ar?" tanya Sarah menyambutku.
"Apa aja, deh. Yang penting kenyang." jawabku yang memang menahan lapar dari semalam.
Peristiwa kemarin sore membuat seluruh energiku terkuras habis.
__ADS_1
"Bu. Nasi pake apa aja yang penting kenyang. Tuh, pesanannya ibu yang pake kaos kebesaran." ucap Sarah pada pemilik warung sambil tangannya menunjuk ke arahku.
Aku melotot ke arah Sarah. Ketiga orang temanku malah tertawa. Sarah seperti melupakan kejadian semalam.
Tak lama, ibu pemilik warung memberikan pesanan Sarah untukku.
"Silakan, Mbak. Maaf baru ada ini." Ibu pemilik warung memberikan satu piring penuh nasi dan segelas teh hangat.
Nasi pecel plus telur dadar di tambah keripik tempe.
"Iya, Bu. Terima kasih. Ini mah istimewa bu." sahutku dan langsung menyantap nasiku.
Si ibu tersenyum melihatku kayak orang kelaparan melihat nasi pecel.
"Berdoa dulu, woy. Main makan-makan aja!" seru Sarah menggodaku. Aku yang lagi sangat lapar apalagi melihat makanan yang menggoda selera, tak peduli ledekan Sarah.
"Pelan-pelan makannya, Ar. Nanti keselek." ucap Doni yang duduk di sebelahku sambil minum kopi.
"Kamu gak makan, Don?"
"Udah tadi. Pulang dari beli baju kamu ini, aku nemenin Roni makan." sahut Doni.
"Enak aja! Aku yang nemenin kamu makan karena kelaparan!" sahut Roni yang mendengar pembicaraanku dengan Doni.
Dan mereka ribut cuma soal makan kayak anak kecil. Di timpali oleh Sarah yang malah ngompor-ngomporin. Lucu mereka bertiga kalau sudah becanda.
Saling ngotot tak ada yang mau kalah. Gimana serunya ya, saat mereka kuliah dulu?
Aku hanya melihat saja sambil sesekali ikutan tertawa. Aku tak pernah punya teman seseru mereka.
Tapi dulu Doni termasuk anak yang pendiam di sekolah. Tak banyak bicara apalagi becanda seperti sekarang.
Doni anak yang berprestasi. Dan cukup populer di sekolah. Hingga banyak temen-temen cewek yang iri melihat kedekatanku dengan Doni.
Bahkan ada yang memusuhi aku. Tapi Doni selalu melindungiku, setiap gank teman yang memusuhiku hendak membully-ku.
Sikap Doni tak pernah berubah padaku. Sekarang pun banyak hal-hal yang Doni lakukan untuk melindungiku.
"Udah selesai makannya?" tanya Doni. Aku mengangguk.
"Kamu tunggu di sini dulu. Aku mau ambil mobil. Kita ke vila."
Lalu Doni melangkah balik ke arah Puskesmas. Aku membaca nama dan alamat Puskesmas yang ada di papan dekat pintu masuk.
Jauh banget itu dari vila. Kenapa mereka membawa aku dan Sarah ke Puskesmas yang sangat jauh. Apa tidak ada yang dekat dengan vila?
Mobil Doni datang. Aku, Sarah dan Roni segera naik. Sampai di mobil, aku masih saja penasaran dengan Puskesmas itu.
"Don, kenapa aku dan Sarah dibawa ke Puskesmas itu? Apa tidak ada Puskesmas yang lebih dekat dengan vila?"
Doni melirik ke arahku.
__ADS_1
"Kamu pikir, semalam kalian ditemukan dimana?"
Aku berfikir lagi. Semalam aku dan Sarah berlari ke sembarang arah. Kami tak tau sampai mana. Yang pasti kami lari sampai kakiku sakit.
"Tuh pemakaman tempat kalian di temukan." Doni menunjuk ke sebuah area pemakaman.
"Haahh...!" Teriakku berbarengan dengan Sarah.
"Kalian tertidur di atas sebuah makam yang paling besar."
"Serius kamu, Don?" Sarah bertanya sambil memajukan badannya ke arah Doni.
"Tanya aja sama Roni. Tubuh kalian menggigil, baju sudah basah kuyup."
"Memang apa yang kalian lihat saat itu?" tanya Roni.
"Kami berlari dari pohon rindang yang dekat vila. Karena kami lihat ternyata di belakang pohon itu ada kuburan." Sarah memulai ceritanya.
"Lalu kami berlari sekencang-kencang menerobos hujan deras dan juga petir yang menyambar-nyambar. Kami sampai di sebuah pemukiman penduduk. Jalanan tepatnya. Di kanan kiri kami banyak rumah penduduk tapi semua pintunya tertutup. Dan di pintu mereka yang bentuknya hampir sama, ada papan namanya."
"Kalian berhalusinasi. Pintu itu adalah batu nisan dengan papan nama. Ya pasti bentuk dan ukurannya hampir sama. Terus yang kalian duduki, kalian lihatnya apa?" tanya Doni.
"Itu sebuah batu besar di pinggir jalan. Tak ada tanda-tanda kuburan, Don." sahut Sarah.
"Ya kan kalian lagi di bawa ke alam lain. Untung saja kalian masih bisa ditemukan."
Aku menelan ludahku. Ngeri banget ya kalau di jabarkan di dunia nyata nya.
Dan benar saja jarak antara Puskesmas itu ke vila sangat jauh. Hampir satu jam perjalanan.
Dan kami melewati pohon rindang tempat kami berteduh. Aku menatap ke belakang pohon itu.
"Tak ada kuburan, Sar." ucapku, yang entah di dengar Sarah atau tidak.
Aku hanya melihat semak-semak yang rimbun saja.
"Kuburannya kemana?" Sarah pun bergumam pelan.
"Kuburannya ada di otak kalian yang sedang berhalusinasi. Rasa lapar, capek dan kedinginan membuat orang mudah berhalusinasi." jelas Doni.
Doni memang orang yang cerdas. Dia selalu bisa menjelaskan suatu kejadian secara ilmiah. Yang bisa masuk ke nalar kita.
"Kalian juga kebangetan. Di telpon gak ada yang ngangkat!" sahut Sarah.
"Tidak ada telpon masuk sama sekali dari kalian." Roni ikut menjawab.
"Gimana gak ada? Kami telpon kalian berkali-kali!" Sarah tetap ngotot.
Lalu Roni membuka ponselnya. Meminta Sarah untuk mengecek panggilan masuk ke ponsel suaminya itu.
"Iya, tidak ada" ucap Sarah pelan.
__ADS_1
"Apa perlu ngecek ponsel Doni juga?" tanya Roni.
Aku dan Sarah sama-sama menggelengkan kepala. Lalu nomor siapa yang semalam kami hubungi?