SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 51 KEMALINGAN


__ADS_3

Menjelang maghrib aku dibuat kerepotan oleh suamiku. Perutku yang sudah membesar merepotkan aku untuk mengangkatnya dari kursi roda.


Sementara di rumah tak ada orang dan mas Arka sudah sejak siang saat Bima pergi, duduk di kursi rodanya. Untuk mengangkatnya sendirian jelas aku gak sanggup.


Aku berjalan ke pos jaga security komplek. Aku akan minta bantuan mereka untuk memindahkan mas Arka.


Untung ada seorang security yang berjaga. Karena yang lain sedang persiapan sholat maghrib.


"Pak, bisa saya minta tolong pindahkan suami saya ke tempat tidur? Di rumah gak ada siapa-siapa. Saya gak kuat memindahkannya sendirian" pintaku pada satpam jaga.


Untung Pak Satpam mau membantu. Karena memang satpam di komplek sudah pada tau kalau suamiku sakit.


Dengan sedikit imbalan, akhirnya mas Arka bisa dipindahkan. Bukan mereka yang meminta imbalan, tapi memang aku yang memaksa Pak Satpam menerima pemberianku.


"Terima kasih banyak, Bu. Besok kalau ada perlu lagi, Ibu bisa minta tolong kami. Tapi Ibu gak perlu kasih imbalan kayak gini. Karena memang salah satu tugas kami membantu warga. Saya malah jadi gak enak, Bu" ucap pak Satpam.


"Sama-sama, Pak. Saya yang berterima kasih banget sama Bapak karena sudah membantu saya."Lalu pak Satpam pamit untuk kembali ke pos jaga.


Sebelumnya pak Satpam memberikan nomor ponselnya kepadaku, agar memudahkan aku menghubunginya saat aku membutuhkan bantuan.


"Mas, tiduran dulu ya sampai besok pagi. Nunggu Bima datang memindahkan mas" ucapku pelan.


Rasanya kepingin nangis dengan keadaan ini. Sanggupkah aku menjalani ini semua?


Aku keluar dari kamarku. Aku pingin menenangkan pikiranku. Aku duduk merenung sendiri di teras depan.


Lampu teras sengaja aku matikan, biar tak ada yang melihat aku. Aku benar-benar pingin sendiri.


Tadi aku telfon ke ibu mertuaku, menanyakan kapan bi Yati akan di balikin ke rumahku. Ibu bilang, nanti kalau bi Sumi sudah kembali lagi ke rumah Ibu. Katanya bi Sumi sakit di kampungnya.


Ibu juga mengeluh lagi gak enak badan. Terpaksa aku mengalah, walaupun saat ini aku sangat membutuhkan bi Yati.


Aku juga gak bilang ke Ibu, kalau Bima sedang ijin. Kasihan nanti malah Ibu semakin kepikiran.


Sampai jam sembilan malam, aku baru masuk ke dalam kamarku. Aku lihat mas Arka sudah memejamkan matanya.


Aku pun berbaring di sebelahnya. Aku mencoba memejamkan mata, tapi pikiranku melayang-layang entah kemana.

__ADS_1


Rasanya malam ini aku sangat gelisah. Aku ganti posisi miring menghadap mas Arka. Yang ada aku malah semakin sedih melihat kondisi mas Arka yang tak kunjung membaik.


Aku membalikan tubuhku, membelakangi mas Arka. Aku masih belum bisa terpejam. Mataku susah banget buat terpejam.


Aku kembali ke posisi terlentang. Mataku menatap ke langit-langit kamar. Terasa kosong pikiranku.


Badanku juga tiba-tiba terasa pegal semua. Aku bangkit dari tempat tidur. Mungkin kalau duduk bisa lebih enak.


Aku duduk di kursi kecil yang ada di kamar, malah semakin pegal. Aku mondar-mandir tak karuan.


Akhirnya aku berjalan ke ruang tengah. Mungkin tiduran di sofa bisa sedikit membantu.


Aku lihat jam di dinding. Jam satu malam. Sepi tak ada siapa pun. Tak ada suara apa pun.


Hawa jadi sedikit dingin. Bulu kuduk ku meramang. Ada apa ini?


Aku membaca-baca doa sebisaku. Lalu aku meringkuk di sofa, mencoba memejamkan mataku.


Walaupun pikiranku masih melayang entah kemana, dan rasa takut yang tiba-tiba menyerangku, aku tetap mencoba memejamkan mataku. Entah jam berapa aku tertidur.


Sinar matahari yang sudah meninggi, membuat hawa panas aku rasakan. Aku membuka mataku. Aku mengingat-ingat sedang berada di mana.


Ya ampun! Udah jam delapan pagi. Tak ada yang membangunkan kau. Seketika aku terlonjak. Aku langsung duduk. Sambil mengucek mataku.


Aku melihat ke arah pintu depan. Terbuka. Mungkin Bima sudah datang, tapi tak berani membangunkan aku.


Tapi kenapa lampu-lampu rumah masih menyala semua? Biasanya Bima akan mematikan lampu-lampu rumah kalau sudah siang.


Aku berjalan ke arah kamarku. Pintunya terbuka lebar. Mas Arka masih terbaring di tempat tidur, dengan pakaian yang sama dengan kemarin.


Berarti Bima belum membersihkannya. Bahkan saat aku mendekat, bau pesing dari diapersnya sudah tercium. Bahkan bau kotorannya. Mungkin mas Arka BAB.


"Bim...Bima!" Aku mencoba memanggil dan mencari keberadaan Bima. Tak ada jawaban dan aku tak menemukannya.


Saat aku berbalik dan melihat ke arah lemari pakaianku, aku kaget setengah mati.


Pintu lemari itu terbuka lebar. Lacinya juga terbuka. Tumpukan pakaianku berantakan.

__ADS_1


Reflek aku berlari ke arah lemari. Aku lihat isi laci. Tubuhku langsung lemas. Aku melorot ke lantai.


Air mata spontan mengalir deras di pipiku. Suaraku seperti tercekat di tenggorokan.


Aku tak sanggup berdiri. Aku terus menangis dengan posisi terduduk di lantai kamar.


Uang hasil penjualan mobil raib. Kotak perhiasanku pun tak ada di tempatnya.


Setelah puas menangis dan bisa mengumpulkan kekuatan, aku mencoba berdiri.


Aku akan mencari ponselku, untuk menghubungi satpam komplek. Aku berjalan ke arah nakas. Tak ada ponselku di sana.


Seingatku, semalam aku meletakannya di sana. Aku buka laci nakas, tak ada. Ponsel mas Arka juga gak ada.


Aku cari di meja riasku, tetap tak aku temukan. Aku mulai panik. Badanku terasa makin lemas. Tapi aku paksakan melangkah.


Aku keluar dari kamarku. Aku mencari keberadaan siapa pun di rumah ini. Tak ada siapa-siapa.


Aku buka kamar yang biasa di gunakan tidur oleh Bima. Tak ada tanda-tanda dia kembali.


Aku berjalan ke arah pintu rumah. Aku tercenung di sana. Apa aku semalam lupa menguncinya?


Lalu siapa yang mengambil semua uang, perhiasan dan barang-barang lain? Apa ada maling masuk ke rumahku?


Bukannya ada satpam berjaga di pintu gerbang komplek? Lalu kenapa bisa sampai ada maling yang masuk?


Aku mencoba menguatkan kakiku berjalan ke arah pos jaga. Walaupun sebenarnya tak terlalu jauh, tapi karena kakiku terasa lemas, jadi terasa sangat jauh.


Dari kejauhan aku lihat ada dua orang satpam sedang berjaga. Aku mempercepat langkahku.


Sesampainya di pos, aku ceritakan apa yang terjadi di rumahku. Mereka kelihatan sangat terkejut mendengar ceritaku.


Lalu mereka bergegas berlari ke rumahku. Aku menyusul mereka dengan langkah terseok-seok.


Hingga sampai di teras rumahku, aku tak sanggup lagi berjalan. Aku terduduk di pinggiran teras. Kepalaku aku sandarkan di pilar rumah.


Dua orang satpam itu keluar dari rumahku. Melihat aku terduduk dengan napas ngos-ngosan, mereka membantuku duduk di kursi teras.

__ADS_1


Seorang satpam yang lain berlari ke dalam, dan mengambilkan air putih untuk ku. Setelah aku menenguknya, aku merasa tenggorokanku plong.


"Rumah Ibu sepertinya kemasukan maling" ujar pak Satpam. Seketika tubuhku kembali lemas. Kepalaku berputar. Dan.... Gelap!


__ADS_2