
Perkembangan mas Arka semakin membaik, bahkan sekarang dia sudah bisa berjalan sendiri meski harus mencari pegangan.
Aku berniat membelikan tongkat untuk membantunya berjalan, tapi dia menolak.
Oh, iya. Dia juga sudah mulai bisa bicara. Meski masih agak cadel.
"Mas, kalau jalannya begitu kamu kesulitan. Aku belikan tongkat ya? Biar cepet lancar."
"Gak. Aku mau belajar sendiri. Capek kalau harus ketergantungan terus."
"Bukan ketergantungan, Mas. Cuma sebagai alat bantu saja."
Mas Arka menggeleng. Ya sudah, mau dikata apa. Toh dia juga yang menjalani.
Hari ini aku dapat email dari Yola, sahabatku saat masih tinggal di rumah mas Arka dulu. Dia minta nomor hapeku lagi. Karena dia kehilangan nomor kontakku setelah hapenya dia reset.
Mulailah Yola menghubungiku. Dia bilang secepatnya akan kembali ke tanah air. Lalu Yola meminta alamat rumah yang sekarang aku tempati.
Seminggu kemudian Yola bersama Deni, suaminya, benar-benar datang ke rumahku. Untungnya pas week end, jadi aku bisa menemui Yola yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu rumahku.
"Aryani!"
"Yola!"
Kami dua sahabat yang lama sekali tak pernah berjumpa lagi, benar-benar menumpahkan semua kerinduan dalam pelukan.
Mas Arka pun menyambut kedatangan mereka dengan raut wajah yang sangat bahagia.
"Kamu sudah sehat, Ka?" tanya Deni melihat mas Arka yang sudah bisa berjalan meski masih merambat.
"Alhamdulillah, Den."
"Syukurlah, Ka. Kami ikut senang."
Seharian kami ngobrol, hingga aku mengabaikan ponselku yang ada di kamar.
"Mana anakmu, Ar?" tanya Yola.
"Aku titipkan pada temanku."
"Gila kamu! Anak dititip-titipkan kayak barang aja," sahut Yola menyalahkan aku.
Aku menceritakan alasannya. Meski mas Arka tak rela berpisah dengan anak kami.
"Aku terpaksa, Yol. Hidup kami sangat sulit. Kalau aku tidak menitipkan anakku, bagaimana aku bisa bekerja?"
__ADS_1
"Kamu kan bisa mencari baby sitter. Bisa sekalian menjaga Arka," sahut Deni.
"Kalian pikir penghasilanku sebagai resepsionis bisa untuk bayar baby sitter?" Aku merahasiakan pekerjaanku yang sebenarnya.
Aku tak mau dicurigai oleh mereka. Dan aku juga tak mau mereka mengusik hubunganku dengan Doni. Aku belum siap kehilangan pekerjaanku.
"Kenapa kamu tidak mencari pekerjaan lain saja?" tanya Yola tanpa berdosa.
Aku hanya tertawa. Yola pikir ijasahku sarjana seperti mas Arka yang bisa melamar pekerjaan di manapun.
"Aku cuma lulusan SMA, Yol. Mau cari kerja apa lagi?"
Yola diam sejenak.
"Bagaimana kalau kamu buka usaha saja?"
Usulan yang bagus, tapi modal dari mana? Aku juga tidak punya skill untuk membuka usaha.
"Aku tidak punya modal, Yola. Kamu pikir buka usaha bisa modal dengkul?"
Semua harta mas Arka hilang dibawa mati oleh sepupunya. Kami tidak disisain sedikit pun. Bahkan rumah mas Arka yang dibelinya dari hasil jerih payahnya sendiri ikut diembat juga.
"Jadi kalian benar-benar tak punya apa-apa?" tanya Deni, suami Yola.
Aku menggeleng.
Deni juga sepupunya mas Arka, tapi keponakan dari pihak bapak. Sedangkan mas Teguh dari pihak ibunya.
Deni bilang, sejak kecil memang tidak pernah dekat dengan mas Teguh. Disamping karena mereka tinggal berjauhan, juga karena kurang cocok dengan sikap mas Teguh yang suka mengatur.
Dan masih menurut Deni, mas Arka memutuskan membeli rumah sendiri setelah bekerja juga karena pengaruh mas Teguh.
Dengan berpura-pura mendukung mas Arka membeli rumah sendiri, agar dia bisa bebas menguasai harta orang tuanya mas Arka.
"Sudahlah jangan dibahas. Orangnya sudah mati juga. Sekarang yang mesti kita pikirkan yang masih hidup, Beb," ucap Yola.
"Oke, Ar. Kita pulang dulu. Nanti aku dan Yola berfikir dulu bagaimana caranya agar kalian bisa berdiri sendiri lagi, tanpa mengandalkan orang lain," ucap Deni.
"Jangan memaksakan diri, Den. Bagiku mas Arka sudah membaik saja merupakan sebuah anugerah," sahutku.
"Tidak, Ar. Arka tanggung jawabku juga. Dia satu-satunya keluargaku yang paling dekat," sahut Deni. Dan diangguki oleh Yola.
Lalu mereka pun pamit pulang ke rumah di komplek perumahan yang kami tinggali dulu.
Karena sudah malam, aku mengajak mas Arka ke kamar. Kasihan dia seharian tidak tidur karena terlalu bahagia kedatangan saudara sepupu yang masih mau peduli.
__ADS_1
"Mas, kamu mau tidur bersamaku lagi?"
Mas Arka mengangguk. Dia terlihat sangat gembira.
Aku tuntun mas Arka ke kamar mandi dulu, sebelum akhirnya kami tidur satu ranjang lagi hingga pagi.
Pagi ini aku akan masak agak banyak, karena Yola dan Deni berjanji akan datang lagi.
Ternyata Yola datang pagi-pagi sekali. Katanya kangen masak bareng denganku meski dapur rumahku ini sangat kecil dan tak punya fasilitas yang lengkap.
"Deni mana, Yol?" tanyaku, karena Yola datang sendirian.
"Dia ke rumah temannya dulu. Nanti dia menyusul ke sini. Arka sudah bangun?"
"Sudah dari subuh tadi. Sekarang lagi di kamar mandi."
Yola yang sudah membawa banyak belanjaan, berjalan mendahuluiku ke dapur.
Dengan cekatan dia memasak untuk kami. Untuk menu makan pagi dia akan membuat nasi goreng spesial.
Katanya itu menu kesukaan Deni selama di negeri orang. Tapi karena di sana susah mendapatkan bahan-bahan khas Indonesia, jadi Yola yang hobi masak jarang sekali membuatkannya.
"Nah, mumpung lagi di Indonesia, aku mau membuatkannya. Nanti kita makan bareng." Yola meracik semua bumbunya sendiri. Aku membuatkan teh hangat untuk kami nanti.
"Hay, Arka. Semakin baik kan kamu?" sapa Yola pada mas Arka yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Seperti yang kamu lihat, Yola. Deni mana?"
"Lagi ke rumah temannya dulu. Nanti dia nyusul." Yola terus saja berbicara tanpa menghentikan tangannya yang sibuk memotong-motong sayuran.
Mas Arka duduk di kursi makan. Meski suaranya masih belum terlalu jelas, tapi dia terus saja berbicara menanggapi omongan Yola.
Aku jadi merasa bersalah, karena selama ini tak punya banyak waktu buat suamiku. Mestinya aku bisa seperti Yola, yang terus mengajak mas Arka berbicara untuk merangsang syaraf-syaraf di otaknya.
Aku hanya sibuk dengan pekerjaanku dan Doni. Ingat Doni, aku jadi teringat kalau dari kemarin aku tak membuka ponselku.
Pasti banyak sekali pesan masuk darinya. Ponselku yang aku silent dan aku simpan di tas, sama sekali tak aku cek.
Aku tak mau kebersamaanku dengan sahabatku Yola dan Deni terganggu. Aku juga tak mau Yola mencurigaiku kalau aku malah sibuk dengan ponsel.
Toh besok pagi aku akan ketemu Doni lagi.
Tak lama Deni datang diantar ojek online.
"Kok cepet, Beb?" tanya Yola.
__ADS_1
"Temanku ternyata ada acara mendadak. Katanya harus ke proyek pagi ini juga. Padahal kan ini hari minggu. Dasar gila kerja," sahut Deni.
Setelah masakan Yola selesai, kami pun sarapan bersama. Kebersamaan yang sudah lama kami rindukan.