
Setelah membereskan semua bekas makanku dan makan mas Arka, aku berniat meminta pertolongan pada Satpam komplek. Semoga mereka bisa membantuku.
Aku mandi dulu untuk menyegarkan tubuhku. Lalu aku berjalan ke pos jaga. Ada seorang satpam yang sedang terlelap.
Dalam hati aku menggerutu, bagaimana maling tak bisa masuk, kalau jadi satpam kerjaannya tidur.
"Pak! Pak! Bangun!" Aku berteriak agak keras biar dia bisa mendengarku.
"Iya...Iya, Bu. Siap!" Dia langsung berdiri sambil memberi hormat padaku. Aku menatapnya jengah.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanyanya.
"Banyak!" jawabku ketus. Kesal sekali aku melihatnya enak-enakan tidur, sementara rumahku semalam di masuki maling dan tak menyisakan sedikitpun barang-barang berharga.
Walau pun sebenarnya malu dan gengsi, tapi aku utarakan juga maksud kedatanganku. Aku mau meminjam uang padanya.
Beruntung dia memberikannya. Walau pun tak banyak, tapi lumayanlah, cukup untuk membayar angkot ke rumah ibu mertuaku.
Setelah mengambil uang itu, dan mengucapkan terima kasih, aku berjalan keluar komplek.
Lumayan jauh juga untuk sampai ke jalan raya yang di lewati angkot. Tapi tak apa, semoga usahaku gak sia-sia. Semoga Ibu mertuaku ada di rumah.
Setelah dua kali naik angkot, aku sampai di jalan dekat rumah ibu mertuaku. Berjalan sedikit, sampai di rumahnya.
Langkahku terseok-seok, karena perutku yang sudah membesar dan berat. Belum lagi kakiku sudah mulai bengkak. Rasa pegalnya luar biasa. Tapi aku berusaha menahannya. Aku tetap memaksa melangkahkan kaki.
Pintu rumah ibu mertuaku tertutup rapat. Ya Allah, ada apa lagi ini?
Aku mencoba mengetuk pintunya. Tak ada jawaban. Berkali-kali aku mengetuknya. Tetap tak ada jawaban.
Aku coba memutar ke pintu belakang, semoga ada orang di belakang. Pintu belakang pun tertutup rapat.
Aku sandarkan tubuhku di tembok. Aku memejamkan mataku, menahan air mata yang akan mengalir.
Ibu kemana? Bi Yati kemana? Bagaimana caraku menghubungi mereka?
"Mba Aryani! Ngapain di situ?" tanya seorang tetangga yang mengenalku.
__ADS_1
Aku menghela nafasku. Syukurlah ada tetangga yang melihatku. Mungkin aku bisa menanyakan di mana ibu mertuaku.
"Mencari Ibu. Kok rumahnya tertutup ya?" tanyaku.
"Lho, Ibu kan di bawa ke Rumah Sakit tadi pagi. Memang mba Aryani gak di kabari?" Aku menggeleng.
Terpaksa aku ceritakan semua kejadian yang menimpaku. Bukan untuk minta belas kasihan, tapi setidaknya dia bisa membantuku ke Rumah Sakit.
Dan berhasil. Dia meminta suaminya mengantarkan aku ke Rumah Sakit tempat ibu di rawat. Karena kalau ke sana sendiri, aku takut uangku tak cukup.
Sesampainya di depan Rumah Sakit dia menurunkan aku. Katanya dia mau balik lagi ke tempat kerjanya.
Yah mau bagaimana lagi. Aku juga gak mungkin memaksanya menungguku. Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Aku berjalan menuju dalam gedung Rumah Sakit. Ah, kenapa aku lupa menanyakan ruang rawat Ibu?
Aku mencari bagian informasi, semoga aku bisa menemukan di mana Ibu mertuaku di rawat.
Bagian informasi tak menemukan nama pasien rawat inap atas nama ibu mertuaku. Haduh...Ibu di mana?
Pingin nangis tapi malu. Kalau aku pulang lagi ke rumah, uangku hanya cukup untuk membayar satu kali angkot. Sedangkan untuk sampai ke rumahku mesti dua kali ganti angkot.
Aku melangkah keluar dari gedung Rumah Sakit. Di mana ibu mertuaku di rawat? Apa ibu di bawa ke Rumah Sakit lain?
Di sekitar sini, hanya ini satu-satunya Rumah Sakit terdekat. Tak mungkin bi Yati membawanya ke Rumah Sakit lain yang lebih jauh. Atau ibu mertuaku tidak rawat inap? Hanya diperiksa saja lalu pulang?
Aku harus balik lagi ke rumah ibu mertuaku? Lalu kalau tak ketemu juga, aku harus jalan kaki dari rumah ibu ke rumahku?
Tak bisa aku membayangkan kakiku akan semakin membengkak. Akhirnya aku putuskan untuk pulang ke rumahku saja. Walaupun nanti mesti berjalan kaki setengah perjalanan. Minimal aku bisa sampai rumah sendiri.
Tak terasa aku berjalan sampai depan sebuah angkot yang berhenti menungguku naik. Tanpa pikir panjang, aku naik. Pikiranku masih tidak fokus.
Angkot sampai di pemberhentian terakhir. Aku masih belum menyadarinya.
"Bu, Ibu mau turun mana? Ini sudah sampai tujuan akhir." Ucapan sopir angkot sontak membuatku terkejut.
Aku semakin jauh saja dari rumahku. Lalu bagaimana ini? Aku celingak celinguk kebingungan.
__ADS_1
"Ibu mau turun di mana?" tanya sopir angkot lagi.
"Maaf, Pak. Saya tadi melamun, jadi salah naik angkot" jawabku kebingungan.
Karena sopir angkot itu masih terus bertanya, akhirnya aku ceritakan semuanya. Termasuk aku yang sudah tak membawa uang sepeser pun, kecuali buat bayar ongkos angkot sekali jalan.
Melihat kondisiku yang sedang hamil tua dan mendengarkan ceritaku, membuat sopir angkot itu iba. Walaupun aku paling tidak suka dikasihani orang, tapi kondisiku yang semakin lelah, gak mungkin aku berjalan jauh lagi.
Dan dengan sangat terpaksa aku menerima kebaikan si sopir angkot. Dia memesankan aku taksi online dan membayarkannya langsung.
Karena dia tak bisa mengantarkanku dengan angkotnya. Dia juga meminta maaf untuk itu.
"Saya yang minta maaf, Pak. Sudah merepotkan bapak" ucapku sambil berkali-kali menganggukan kepalaku.
"Sama-sama, Ibu. Istri saya juga sedang hamil besar kayak ibu. Jadi yang saya bayangkan bagaimana kalau istri saya mengalami hal seperti ibu" tutur si sopir baik hati itu. Aku manggut-manggut, terharu mendengar penuturannya.
Taksi online yang dipesan pun datang. Aku berpamitan pada si sopir dan mengucapkan terima kasih lagi.
Tak akan pernah aku lupakan kebaikan sopir angkot itu. Walaupun aku lupa menanyakan namanya.
Aku naik ke taksi online yang sudah dipesan tadi. Ah, lega rasanya. Aku memejamkan mataku, tak terasa air mataku berlinang. Entah air mata apa.
"Alamat sesuai aplikasi ya, Bu?" tanya sopir online. Saking terlalu meresapi perasaan, aku sampai tak mendengar pertanyaannya. Hingga si sopir mengulangi pertanyaan itu.
"Maaf, Pak. Saya gak denger. Iya, sesuai aplikasi" jawabku asal. Semoga saja dia memang menanyakan itu.
Aku diantar sampai depan rumahku. Karena jaraknya yang lumayan jauh dan jalanan juga macet, membuat perjalanan jadi lama.
Aku pun sempat tertidur di dalam mobil. Begitu sampai depan rumah, barulah si sopir membangunkan aku.
"Bu...! Ibu...! Ini sudah sampai alamat sesuai aplikasi, Bu."
Aku menggeliatkan badanku. Lalu membuka mataku. Lega rasanya akhirnya aku sampai di rumahku lagi.
"Oh, iya Pak. Terima kasih banyak, Pak" ucapku.
"Iya, Ibu. Sama-sama." Lalu aku segera turun dari mobil itu. Aku menghela nafas lega.
__ADS_1
Aku bersyukur, disaat sulitku aku masih dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Entah apa yang akan terjadi padaku kalau aku tak ketemu mereka.