
"Sar!" Aku bergeser mendekati Sarah.
"Ih, apaan sih?" Sarah mendorongku hingga aku nyaris terjatuh.
"Eh! Maaf...maaf. Kamu sih jadi orang penakut banget." Suara Sarah makin melemah.
Aku mencoba kembali duduk.
"Ada apa, Sar?"
Aku menatap wajah Sarah yang sedang melihat jauh ke bagian belakang vila.
Sarah menggelengkan kepalanya.
"Ah. Tidak apa-apa."
Lalu Sarah berdiri dan mengajak aku pergi dari saung itu. Bagai anak itik yang menurut pada induknya, aku mengikuti langkah Sarah meninggalkan area vila.
"Kita ke lokasi proyek yuk" ajak Sarah.
"Jalan kaki?"
Sarah mengangguk.
Jarak antara vila ke lokasi lumayan jauh. Bakal bengkak ini kaki, karena aku masih memakai sepatu berhak tinggi.
"Apa tidak kita telpon Doni atau suami kamu saja Sar, biar kita dijemput?"
"Boleh. Kamu coba telpon Doni, aku telpon suamiku."
Kami berhenti di depan halaman vila. Lalu sibuk dengan ponsel masing-masing.
Sekali.
Dua kali.
Bahkan sampai panggilan ketiga.
Semua ponsel yang dihubungi aktif, tapi tak satu pun yang mengangkat.
Aku dan Sarah saling berpandangan. Sarah mengangkat bahunya.
Mataku seperti ada yang menuntun melihat ke arah vila. Korden depan vila tersibak setengahnya. Padahal tadi saat aku dan Sarah berkali-kali mengetuknya, korden itu tertutup rapat.
"Ada apa, Ar?" Sarah mengikuti arah mataku.
"Kordennya..." bisikku pelan.
Tak ada siapa pun yang nampak. Aku dan Sarah masih menatap korden yang tersingkap.
"Berarti ada orang di dalam sana, Ar. Kita masuk saja yuk. Agak gerimis juga ini" ajak Sarah.
Aku menggeleng. Perasaanku tidak enak, meski rintik gerimis mulai terasa ditanganku.
"Nanti kita kehujanan. Lagi pula sudah sore." Sarah masih berusaha membujukku.
Aku menelan ludahku yang terasa kering.
"Sebentar Sar." Aku mencoba menelpon Doni lagi. Hasilnya sama saja.
Aduuh. Kemana sih Doni?
__ADS_1
"Ayolah!" Sarah menarik tanganku.
Perlahan-lahan aku berjalan mengikuti Sarah. Karena Sarah juga berjalan sangat perlahan. Tangannya tetap menarik tanganku yang tetap berjalan di belakangnya.
Hingga jarak ke teras vila tinggal beberapa meter lagi, tiba-tiba korden itu bergerak seperti tertiup angin.
Padahal setahuku, di ruangan itu tak ada kipas angin. Bahkan jendela pun tertutup rapat. Angin dari mana?
Aku dan Sarah sama-sama berhenti dan mematung. Sementara rintik gerimis masih kami rasakan.
Mata kami seperti terpaku menatap ke arah korden itu. Sampai tiba-tiba gerakan korden itu berhenti sendiri dan lampu teras yang dari tadi menyala, tiba-tiba mati.
Spontan aku dan Sarah berteriak.
Aaakh...!
Mata kami saling berpandangan, dan Sarah menarik tanganku untuk berlari meninggalkan area vila.
Jalanan yang berkerikil membuatku kesulitan berlari. Aku memilih berhenti sejenak dan secepat mungkin melepas sepatuku.
Suara geledeg yang mengagetkanku, membuat aku reflek membuang sepatuku ke sembarang arah. Dan kembali berlari mengejar Sarah.
Rok span yang cukup ketat, aku angkat tinggi-tinggi. Aku tak peduli celana dalamku nyaris terlihat, yang penting bisa berlari mengejar Sarah.
Sarah yang memakai celana panjang dan sepatu kets, sangat mudah bergerak, hingga tadi saat aku melepas sepatu dia tak sadar meninggalkanku.
Sarah menoleh ke belakang. Sepertinya sadar kalau aku masih tertinggal.
"Ayo cepat, Ar!" seru Sarah yang berhenti menungguku.
Lalu segera menarik lagi tanganku saat jarak kami makin dekat. Karena tarikan Sarah yang cukup kencang, membuatku nyaris terjerembab.
"Ayo lari!" seru Sarah lagi, saat kami sudah pada posisi tegak kembali.
Satu tanganku ditarik Sarah. Dan satu tanganku lagi menaikan rok spanku.
Aku berlari mengikuti langkah Sarah yang lebih panjang. Membuatku terengah-engah.
"Sar! Berhenti sebentar!"
Sarah menghentikan larinya. Tanganku sudah terlepas dari genggamannya. Aku sedikit membungkuk menahan sakit diperutku akibat berlari tadi.
Aku berusaha menetralkan nafasku. Mengambil nafas sebanyak-banyaknya dari hidung dan mulutku.
"Tunggu...Sar...! Hhh...Hhh...!"
Aku menoleh lagi ke belakang. Khawatir ada yang mengejar kami. Tak ada siapa pun.
"Kita jalan saja ya? Kakiku sakit, Sar!"
Kakiku yang tanpa alas, terasa seperti tertusuk-tusuk kena kerikil-kerikil kecil.
"Oke. Kita jalan."
Sarah menggandeng lagi tanganku. Cuaca semakin buruk. Hawa dingin mulai terasa. Gerimis pun masih turun perlahan.
"Mulai gelap, Sar. Bagaimana ini?"
"Udah, jalan saja dulu. Masih ada hape buat penerangan nanti."
Sarah berusaha terlihat tenang. Sedang aku semakin panik.
__ADS_1
"Kita coba telpon mereka lagi?" tawarku.
"Percuma saja. Kalau mereka tau kita berkali-kali menelpon, mestinya mereka yang akan menelpon balik."
Benar juga. Tidak mungkin baik Doni maupun Rudi mengabaikan begitu saja telpon dari kami yang berkali-kali.
Gerimis mulai agak rapat, dan mulai gelap juga. Aku dan Sarah berhenti sejenak, mencari tempat untuk berteduh.
Tak jauh dari tempat kami berdiri, ada sebuah pohon yang cukup rindang. Bisa buat kami berteduh sementara.
"Di bawah pohon sana!" Sarah menunjuk ke arah pohon itu. Aku mengangguk lalu mengikuti langkah Sarah.
Walau pun bukan ide yang baik berada di bawah pohon rindang di saat geledeg mulai menyambar.
Tapi apa boleh buat, dari pada basah kuyup. Pasti akan sangat dingin lagi.
Hingga hari benar-benar gelap, tak ada satu kendaraan pun yang melintas. Rintik hujan sudah semakin deras.
Aku dan Sarah saling berpelukan dari samping.
"Sar, aku dingin banget." Sarah meraih tanganku dan menggenggam dengan erat.
Tak ada yang bisa dilakukannya selain itu. Karena Sarah pun tak memakai jaket.
Tak lama, sebuah mobil melintas di depan kami. Karena suasana yang gelap dan pantulan cahaya lampu dari mobil, kami bisa mengenali mobil itu setelah menjauh.
"Itu mobil Doni!" teriakku.
Ingin rasanya mengejar mobil itu, tapi hujan menahan keinginan itu.
"Nyalakan sentermu, Ar!" seru Sarah. Suara hujan membuat kami mesti berteriak kalau bicara.
Aku mengambil ponsel di tas kecilku. Sebelum menyalakan senternya, aku coba cari tau apa Doni menghubungiku. Nihil.
Seperti orang yang kalah judi, aku merasa sangat kecewa Doni tak juga menghubungiku.
Setelah senter ponsel menyala, aku mengirim sebuah pesan ke nomor Doni.
(Don, kamu di mana? Aku dan Sarah berteduh di bawah pohon rindang dekat pertigaan)
Pesan tak terkirim. Hanya simbol kotak saja. Ada apa dengan ponselku? Kehabisan quota? Rasanya tidak mungkin, baru beberapa hari yang lalu aku isi quotanya.
Sarah melihat ponselku. Lalu dia juga melakukan hal yang sama. Mengirimkan pesan kepada suaminya.
Dan hasilnya sama. Pesan tak terkirim.
Kami bertatapan. Ingin rasanya berteriak. Tapi siapa yang akan mendengar teriakan kami di tengah jalanan dan hujan yang mulai deras?
Aku memeluk Sarah dari samping kanan. Begitu pun Sarah. Memelukku dari samping kiri. Pasrah hingga ada yang menolong kami.
Kakiku yang tak beralas, terasa digigit semut. Aku menunduk menggaruk kakiku yang terasa gatal.
Saat menunduk, mataku tak sengaja melihat pemandangan yang tak kami sadari, di belakang kami dari tadi berdiri.
Dengan menahan jantungku yang rasanya mau copot, aku berdiri tegak lagi.
"Sar...Di belakang kita ternyata kuburan." bisikku pelan di telinga Sarah. Sarah menoleh perlahan ke belakang.
Sarah langsung menggenggam tanganku erat dan menariknya sambil berteriak kencang.
"Lariii...!"
__ADS_1