
Aku semakin bingung dengan perjalanan hidupku. Terlalu terjal dan berliku.
Sekarang aku merasa sedang berada di persimpangan jalan. Aku tidak tahu harus berjalan kemana?
Suamiku yang dulu sakit dan hampir mati, sekarang sudah sehat kembali.
Sementara Doni yang selalu setia menemani hari-hari sepiku, masih saja setia menemani.
Aku galau. Benar-benar galau. Orang mungkin akan bilang, tinggalkan saja Doni. Toh hubungan kami tidak jelas.
Kami sama-sama penghianat. Sama-sama berselingkuh. Tapi tak semudah itu meninggalkan Doni.
Dia sudah terlalu baik padaku. Tidak adil kalau tiba-tiba meninggalkannya setelah suamiku sembuh.
Tapi kalau aku tetap bertahan dengan Doni, bagaimana perasaan suamiku? Dia yang selama ini diberi cobaan yang sangat berat, yang telah kehilangan semuanya, haruskah kehilangan aku juga?
Dan pada akhirnya aku tetap menjalani semuanya. Mau dibilang jahat sama orang lain, ya silakan.
Aku tidak bisa meninggalkan Doni. Tapi aku juga tidak tega pergi dari suamiku. Untuk jujur pada keduanya juga sangat tidak mungkin.
Setiap kali aku bercerita pada Doni tentang suamiku, dia terlihat tidak suka. Tapi Doni tak pernah berniat meninggalkan aku. Dia hanya mengalihkan pembicaraan saja.
Seperti hari ini saat aku ingin menghabiskan week end bersama suamiku, Doni memintaku menemani ke luar kota.
Alasannya dia ada urusan yang butuh teman untuk menyelesaikan urusannya.
Sebagai pegawai yang baik, aku pun tak menolak ajakan Doni. Dan nyatanya ada Sarah dan anakku yang juga ikut ke sana.
Mestinya Doni bisa pergi sendiri saja. Atau mengajak staf yang lain untuk membantunya.
Dengan rasa bersalah, aku pamit pada mas Arka akan pergi keluar kota untuk urusan kerjaan.
Mas Arka hanya mengangguk meski aku tau dari tatapan matanya, seakan tak rela.
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja. Kamu kan tau sendiri, kita hidup dari pekerjaanku. Kalau aku diberhentikan, mau makan apa kita?"
Alasan yang menurutku masuk akal. Walaupun hanya akal-akalan.
Aku mempersiapkan pakaian di sebuah tas yang tak terlalu besar. Karena hanya dua hari saja. Minggu sore aku sudah kembali.
Aku meninggalkan banyak makanan untuk mas Arka di rumah. Aku pun khawatir dia akan sakit lagi kalau terlambat makan.
Saat aku mau keluar rumah, mas Arka memegangi tanganku. Aku jadi tidak tega melihatnya. Tapi bagaimana, Doni sudah menungguku di depan gang.
"Ada apa, Mas?"
__ADS_1
Mas Arka hanya mencium tanganku lalu melepaskanku. Dia terus menatapku dari kursi rodanya saat aku menoleh.
Mas Arka telah memberatkan langkahku. Atau aku yang mestinya sadar dan kembali padanya?
Tapi bagaimana kalau Doni marah dan memecatku? Mau cari kerja dimana yang gajinya cukup untuk kehidupan kami berdua.
Ijasahku cuma SMA. Tak ada tambahan apapun. Kalau aku harus bekerja lagi sebagai penjaga toko seperti dulu, tak mungkin bisa menutup kebutuhan kami berdua.
Aku melangkah dengan hati bimbang. Walaupun aku tetap terus melangkah.
Doni sudah ada di depan gang.
"Kok lama?" tanya Doni.
"Iya, Don. Maaf, semalam aku lupa membereskan pakaian."
Memang kenyataannya aku baru membereskan pakaian sesaat sebelum berangkat tadi. Karena hatiku bimbang.
"Arka rewel?" tanya Doni.
Aku menggeleng. Aku tak mau Doni memojokan mas Arka. Bagaimana pun mas Arka suamiku. Aku tak rela ada orang yang meremehkannya meski Doni sekalipun.
"Kirain rewel minta ikut."
"Mestinya suami kamu sadar, kalau sekarang dia hanya mengandalkan kamu. Jadi mestinya jangan berat-beratin kamu pergi." Doni masih terus membahasnya meski aku malas menjawabnya.
"Terus aku mesti bagaimana, Don?" Aku mencoba memancing jawaban dari Doni.
"Terus melangkah lah. Memangnya kamu sudah siap jadi pengangguran?" tanya Doni.
Aku meliriknya.
"Memangnya kamu mau memecatku?"
"Bukan aku yang akan memecat kamu. Tapi kalau suami kamu itu tidak suka kamu bekerja di hotel? Apa kamu masih akan terus mempertahankan pekerjaan?"
"Ya dia harus punya solusi dong," jawabku.
"Nah itu maksudku. Tapi suami kamu kan belum bisa bekerja. Orang yang pernah kena stroke apalagi yang parah seperti suami kamu, bisa saja sembuh. Tapi fungsi otaknya sudah menurun. Memangnya ada orang yang mau mempekerjakan orang yang otaknya kurang?" sahut Doni panjang lebar.
"Udahlah, Don. Jangan bahas itu lagi. Pusing akunya. Aku kan baru saja terbebas dari beban mengurus suami yang sakit. Apa kamu tega membebaniku dengan masalah selanjutnya itu?"
"Bukan aku yang membebani, Ar. Tapi sikap suami kamu yang nanti bakal membebani kamu," jawab Doni.
"Semoga saja tidak. Aku sudah capek dengan semua masalah hidupku, Don."
__ADS_1
"Bersandarlah padaku, Ar. Aku siap menjadi sandaranmu. Aku janji tak akan pernah meninggalkanmu, apapun yang terjadi. Apa kamu juga mau berjanji?"
Aku diam memikirkan permintaan Doni. Kalau aku bilang tidak bisa berjanji, pasti Doni akan marah. Tapi kalau aku berjanji, berarti aku punya kewajiban untuk menepatinya.
"Susah ya, jawabnya?" tanya Doni.
"Peetanyaan yang lain aja, deh."
"Oke, sekarang pertanyaan lainnya. Apa kamu masih mencintai suami kamu?"
Waduh. Ini lebih sulit menjawabnya. Karena aku sendiri juga tidak tahu jawabannya.
"Ar. Kenapa kamu tidak menjawabnya?"
"Aku tidak tahu, Don. Selama ini yang aku lakukan hanya sebatas tanggung jawabku sebagai seorang istri saja. Aku tidak bisa meninggalkannya disaat dia masih terpuruk seperti ini."
"Oh, ya?"
Doni seperti meragukan jawabanku. Aku mengangguk.
"Tapi kalau nanti suami kamu kembali normal lagi, kamu akan semakin berat meninggalkannya. Bahkan kamu malah yang akan menjauhiku," ucap Doni memelas.
"Entahlah, Don. Kita jalani saja ya?" pintaku.
"Sampai kapan?" tanya Doni lagi.
"Waktu yang akan menjawabnya." Aku asal saja menjawabnya.
"Padahal perceraianku dengan istriku sedang diproses. Aku berharap selanjutnya bisa hidup bersama kamu."
Degh. Jantungku terasa mau copot. Doni menceraikan istrinya demi aku?
Lalu aku mesti berjanji pada Doni agar menceraikan suamiku demi dia?
Bukan aku tak sayang pada Doni. Atau tak tau terima kasih. Tapi berat bagiku meninggalkan mas Arka, setelah semua yang kami alami.
"Kamu serius, Don?" tanyaku yang masih belum percaya pada omongan Doni.
"Apa aku kelihatan sedang becanda? Apa aku pernah tidak serius sama kamu? Atau, apa aku pernah berbohong padamu?"
Aku menggeleng. Semua itu tak pernah Doni lakukan. Dia selalu serius dengan ucapannya, perbuatannya. Dan hampir tak pernah berbohong padaku. Minimal aku tak pernah merasa dibohongi.
"Terus apa yang membuat kamu ragu? Suami kamu tidak akan mati kalau kamu tinggalkan, Ar. Kalau memang dia butuh biaya, aku akan membiayainya. Mencarikan baby sitter untuk menjaganya. Tapi bukan kamu. Kamu sama aku. Kamu milikku, Ar!"
Aku menunduk sambil memejamkan mataku. Maafkan aku Don. Aku belum bisa berjanji.
__ADS_1