
"Kok sampai malam? Tadi pamitnya cuma sebentar?" tanya mas Arka saat aku sudah masuk ke rumah.
"Maaf, Mas. Maklum lama baru ketemu. Jadi keasikan ngobrolnya," jawabku. Aku tak berani menatap wajah mas Arka. Aku merasa sangat ketakutan sendiri.
"Bukannya kalian sama-sama resepsionis? Dan kamu baru saja keluar dari pekerjaanmu? Jadi belum lama kan kalian tidak ketemu?"
Mati aku! Jawabanku yang asal malah jadi pertanyaan baru untukku.
"Maksudku, kami biasanya tiap hari ketemu. Jadi beberapa hari enggak ketemu saja rasanya lama banget."
"Kalian sangat dekat?" tanya mas Arka menyelidik.
"Iya. Sejak pertama ketemu di meja resepsionis, kami sangat dekat."
Mas Arka mengangguk-angguk. Aku pikir sudah tak ada lagi pertanyaan tentang Mila.
"Tapi aku baru melihatnya datang mencarimu? Malah siapa itu bosmu yang ganteng itu? Dia yang waktu itu lebih peduli daripada temanmu itu."
Aduh, kenapa mas Arka malah membahas tentang Doni? Aku mesti jawab bagaimana ini?
"Emm. Aku merahasiakan masalah kita waktu itu dari Mila. Biar Mila enggak khawatir." Dapat juga jawaban yang tepat, pikirku.
"Sama teman dekat kamu rahasiakan, tapi sama bosmu malah enggak. Aku kan jadi enggak enak, bosmu itu terlalu baik. Kita jadi berhutang budi padanya."
"Enggak apa-apa, Mas. Doni memang baik kok orangnya. Santai saja." Aku mengatur detak jantungku agar lebih tenang menjawab pertanyaan mas Arka.
"Oh, namanya Doni. Harusnya kamu memanggilnya pak. Bagaimanapun dia kan bos kamu. Orang yang harusnya kamu hormati."
"Iya, Mas. Maaf." Mending aku tak mengatakan kalau Doni adalah teman sekolahku. Takutnya nanti akan makin panjang lagi pertanyaannya.
"Doni sudah beristri?" tanya mas Arka. Aku menghela nafasku.
"Sudah, Mas."
"Oh. Untungnya kamu sudah resign. Kalau belum bisa bahaya. Kalau terlalu akrab bisa menimbulkan kecurigaan."
"Enggak lah, Mas. Aku bisa jaga diri kok," sahutku berbohong. Bohong banget. Ingin rasanya aku bersujud di hadapannya untuk meminta maaf yang sangat banyak.
"Syukurlah kalau kamu bisa jaga diri. Aku kan sakit setahun lebih. Dan selama itu aku tak bisa menjagamu. Malah kamu yang menjagaku."
"Iya, Mas. Aku ikhlas kok. Jangan diungkit-ungkit lagi," sahutku. Aku yang sedang memikirkan masalahku sendiri semakin tidak fokus dengan pertanyaan mas Arka.
__ADS_1
"Bukan ngungkit-ungkit. Biar jadi pengingatku. Nasib orang kan tak ada yang tahu. Hari ini kita sehat, siapa tahu besoknya kita sakit parah. Seperti aku waktu itu."
Ingin pingsan rasanya mendengar omongan mas Arka. Itu yang akan terjadi padaku, kalau aku positif HIV.
Aku akan kehilangan imunitas tubuhku. Dan perlahan-lahan tubuhku akan habis digerogoti virus itu. Semua orang akan menjauhiku karena takut tertular. Dan aku akan mati sendirian sebelum orang lain menolongku.
Besok aku harus menemui Doni. Aku akan mencari kepastian. Dan setelah itu aku akan memeriksakan diriku.
Tapi bagaimana kalau hasil pemeriksaannya aku positif? Ahk. Ingin rasanya aku mengamuk saat ini juga.
"Kenapa kamu diam? Lapar?" tanya mas Arka.
Boro-boro mikir makan. Mikir masalahku saja bikin kepala terasa mau pecah.
"Enggak," jawabku singkat.
"Tapi aku lapar. Kamu mau kan nemenin aku makan?" pinta mas Arka.
"Iya, Mas."
Aku menyiapkan makan untuk mas Arka. Aku akan berusaha berbuat baik padanya untuk menebus semua kesalahanku.
Siapa tahu besok atau lusa, tak ada lagi kesempatan buatku.
"Terima kasih, Ar. Kamu belum makan, kan? Mikirin masalah juga butuh tenaga lho."
Aku menatap wajah mas Arka.
"Siapa yang sedang mikirin masalah? Aku enggak mikirin apa-apa kok." Aku berusaha menyembunyikan keresahanku.
"Enggak perlu disembunyikan. Udah kelihatan kok."
Aku malah bengong. Apa mas Arka sekarang punya indera ke enam? Dia seperti bisa membaca pikiranku.
"Enggak ada masalah apa-apa kok, Mas. Aku cuma agak stres saja karena akan memulai usaha yang aku sendiri belum memahaminya."
"Kamu enggak usah stres. Aku akan bantu sebisaku. Meski belum bisa maksimal," jawab mas Arka. Dia berusaha menenangkanku. Tapi sayang aku berbohong. Bukan itu masalah yang sedang aku hadapi.
Keesokan harinya aku bingung bagaimana caranya bisa pergi tanpa mas Arka. Sejak dia semakin membaik, dia selalu ikut kemana pun aku pergi.
Kecuali kemarin saat Mila mengajakku keluar. Itu juga karena aku bilang cuma sebentar.
__ADS_1
Tapi sekarang, aku harus menemui Doni. Dan itu jelas tak bisa cuma sebentar.
Bagaimana caranya aku pergi sendirian? Aku enggak tau cara meminta ijinnya. Apa alasannya?
Apalagi saat nanti aku harus cek darah. Mas Arka pasti tak akan mengijinkan aku pergi sendiri.
"Kamu kenapa? Dari kemarin gelisah terus? Kalau ada masalah bilang dong. Siapa tahu aku bisa membantu."
"Enggak ada, Mas. Ayo kita berangkat sekarang," ajakku. Hari ini memang aku ada janji dengan Yola. Kami mau mencari tukang bangunan yang bisa merenovasi rumah Yola. Yang nantinya akan disulap menjadi butik.
Mas Arka pun menurut dan tak banyak bertanya lagi. Sepanjang perjalanan di dalam taksi online, aku berusaha mengalihkan perhatiannya. Agar dia tidak menanyakan kegelisahanku terus.
Saat sampai di rumah Yola, ternyata mas Arka ditemani Deni yang akan mencari tukang bangunan. Mereka akan bertanya dulu pada satpam komplek. Biasanya mereka banyak tahu tentang itu.
Kesempatan ini aku manfaatkan untuk menelpon Doni. Apalagi Yola ijin mau ke minimarket dekat komplek.
"Hallo, Don. Apa kabar? Aku mau bicara sama kamu. Ini penting Don."
Doni malah memintaku menemuinya. Aku bilang, aku susah keluar sendiri sekarang.
"Pergilah kalau memang ada masalah penting." Itu suara mas Arka. Spontan aku matikan panggilanku.
"Kenapa dimatikan?" tanya mas Arka.
"Enggak apa-apa, Mas. Enggak penting kok."
Doni malah memanggil balik. Aku membiarkannya.
"Angkatlah. Kalau tidak penting, dia tak mungkin memanggilmu balik."
Aku masih diam saja. Bagaimana mungkin aku mengangkat telpon dari Doni di depan mas Arka?
"Kalau memang kamu perlu pergi untuk menyelesaikan masalahmu, pergilah. Aku tunggu di sini." Begitu bijaksananya mas Arka. Aku jadi semakin merasa berdosa.
Akhirnya, karena terus di desak, aku memutuskan untuk menemui Doni. Sendirian.
Mas Arka tetap saja merasa berat melepaskanku pergi. Apalagi yang akan aku temui seorang laki-laki. Meski dia pernah bertemu. Bahkan Doni pernah menolongnya.
Tapi jiwa lelakinya tetap merasa cemburu.
"Aku pergi dulu, Mas," pamitku.
__ADS_1
"Iya. Pergilah. Aku menunggu di sini. Selesaikan masalah kalian baik-baik. Dan setelah ini, tak ada alasan lagi kalian bertemu." Aku mengangguk. Dalam hati merasa kata-kata mas Arka sangat menusuk perasaanku.
Sepertinya selama ini dia sudah mencurigaiku. Tapi dia tak bisa mengungkapkannya. Maafkan aku, Mas. Aku janji setelah ini semua selesai, aku akan kembali padamu. Semoga masih ada tempat untukku di hatimu.