SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 112 KETAHUAN DONI


__ADS_3

Aku berangkat kerja dengan perasaan yang sangat senang. Bagaimana tidak, mas Arka sudah menunjukan perkembangan yang bagus.


Aku bersyukur, dibalik musibah yang menimpa kami masih ada anugerah yang kami dapatkan.


Suamiku yang stroke dan nyaris lumpuh, bisa pulih lagi. Dia tidak mati.


Rupanya siksaan dari mas Teguh malah membuat mas Arka membaik. Mungkin syaraf-syaraf yang dulu putus, menyambung kembali saat mas Teguh menyiksanya.


Seperti kemarin, Doni sudah menungguku di depan gang. Aku segera naik ke mobilnya.


Aku pikir Doni masih kesal terus tidak mau menjemputku. Tapi memang Doni terlalu baik padaku, dalam keadaan kesal pun dia masih mau mengantar jemput.


"Kayaknya lagi seneng banget?" tanya Doni.


"Seneng dong, Don. Suamiku sudah bisa berdiri. Tadi juga dia sudah mau mandi sendiri. Makan sendiri."


Doni hanya diam saja. Tak memberi tanggapan apa-apa.


"Maaf, Don." Aku jadi merasa bersalah pada Doni karena menceritakan tentang suamiku padanya.


Aku pun pasti akan bete kalau Doni menceritakan yang baik-baik tentang istrinya.


Suasana di mobil sepanjang perjalanan jadi hening. Aku malah kehilangan kata-kata untuk memulai pembicaraan.


Mungkin karena pikiranku terus kepada mas Arka. Akhirnya dia bisa berjalan lagi. Meski harus melalui proses dan waktu yang panjang lagi untuk membuatnya normal kembali.


"Kamu sudah sarapan, Don?" Akhirnya aku menemukan sebuah pertanyaan yang tepat untuk Doni diantara kebahagiaanku.


Doni hanya menggeleng. Seperti kemarin saat dia bete dengan Mila.


"Bagaimana kalau kita sarapan dulu?" Aku mencoba mengajak Doni sarapan meski sebenarnya aku sudah kenyang.


"Tidak usah. Nanti aku sarapan di proyek saja."


Tidak biasanya Doni menolak ajakanku.


"Tapi aku lapar, Don. Aku...belum sarapan." Aku coba bohongi Doni. Siapa tahu dia mau sarapan denganku.


"Kalau begitu beli saja. Mau makan di tempat atau dibawa ke hotel?"


Ternyata Doni tetap tidak mau sarapan denganku.


"Kalau kamu tidak sarapan, ya aku tidak usah sarapan juga" sahutku. Aku ingin tahu apa reaksi Doni.


"Aku tidak mau asistenku pingsan karena kelaparan." Doni membelokan mobilnya ke sebuah warung makan pinggir jalan.


"Mau makan apa? Biar aku belikan. Nanti kamu bisa makan di kantor."

__ADS_1


"Apa saja deh, terserah kamu." Hanya itu yang bisa aku jawab.


Doni orangnya susah diatur kalau sudah jadi maunya. Meski dia selalu menuruti permintaanku, tapi jangan harap aku bisa merubah kemauannya.


Doni turun dan membelikan aku sebungkus nasi. Tidak biasanya juga Doni membelikanku makanan di warung pinggir jalan. Meski aku lebih suka dengan masakan warung seperti ini daripada masakan restauran.


Tak lama Doni masuk kembali ke mobil dan menyerahkan bungkusan itu padaku.


"Maaf, aku membelikanmu di warung seperti ini. Biar cepat saja. Kalau di restauran pelayanannya lama."


"Gak apa-apa, Don. Aku juga lebih suka dengan masakan di warung pinggir jalan kok. Makasih, ya."


Doni hanya mengangguk sambil terus melajukan mobilnya.


Aku melihat jamku. Masih jam delapan kurang. Kenapa Doni terburu-buru?


Sampai di parkiran hotel, Doni segera turun. Aku pun mengikutinya hingga sampai ke ruangannya. Yang sekarang juga jadi ruanganku.


Saat melewati Mila, aku hanya menganggukan kepala saja. Sambil senyum sedikit biar tidak ketahuan Doni.


Seandainya ada jalan yang lain, aku pasti akan memilih lewat jalan itu. Karena aku tidak mau dianggap sombong oleh Mila.


Jangan sampai Mila berfikir aku tak mau mengenalnya lagi setelah jadi asisten bos.


Bagaimana pun Mila teman yang baik. Meski dia pernah menjerumuskanku ke dunianya.


Dan sejak saat itu juga Doni jadi semakin tidak suka dengan Mila. Padahal Mila masih sangat penasaran dengan Doni.


Sampai di dalam ruangan, aku meletakan tasku di atas meja dan menarik kursiku.


Lalu aku mulai membuka laptopku. Tepatnya laptop milik Doni yang dipinjamkan padaku.


Doni mendekatiku. Aku pikir dia mau minta jatahnya. Aku sudah siap memberikannya asalkan Doni bisa ramah lagi padaku. Tidak jutek terus.


Ternyata perkiraanku salah. Doni mulai membuka-buka file yang tersimpan di dalam laptop yang aku pakai.


"Kamu pelajari ini. Terus kerjakan yang ini. Kalau sudah, kamu print. Lalu nanti hasilnya kamu berikan ke bagian marketing. Di telpon saja biar dia yang mengambilnya ke sini. Aku mau langsung ke proyek. Ada meeting di restauran dekat sana dengan beberapa klien yang akan menanamkan modalnya. Kamu sudah paham semuanya?"


Aku mengangguk. Lalu Doni mengecup pipiku sekilas.


"Aku pergi dulu."


Doni pun bergegas pergi.


"Jangan lupa dimakan sarapannya. Aku nanti makan dengan klien di restauran" ucap Doni sebelum menutup pintu.


Aku bernafas dengan lega. Akhirnya Doni yang tadi sedingin es, mau juga berkata banyak padaku.

__ADS_1


Padahal aku kurang mencerna omongan Doni. Karena aku terlalu senang Doni mau mendekatiku lagi dan bicara banyak.


Aku mencoba mempelajari file yang dimaksud oleh Doni. Berkali-kali aku baca tapi aku tak juga paham. Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa mengerjakannya?


Untung aku punya ide untuk minta tolong bagian marketing. Biar dia saja yang mengerjakannya. Toh, nanti dia juga yang akan menerima hasilnya.


"Bagaimana Pak? Apa Bapak paham?" tanyaku saat pak Hadi sudah di depan laptopku.


"Bisa, Bu" jawabnya.


Syukurlah. Jadi aku tidak akan ditegur oleh Doni.


Sementara pak Hadi sibuk mengerjakan tugasku, aku pamit keluar sebentar. Bete juga kalau hanya duduk menunggu.


"Saya keluar sebentar ya, Pak. Ke meja resepsionis."


"Silakan, Bu."


Aku pun melenggang ke meja Mila. Kelihatannya tadi dia sendirian saja. Jadi lebih enak ngobrolnya.


Benar saja, penggantiku sedang ijin libur. Katanya anaknya sakit dan tidak bisa ditinggalkan.


Kerja baru beberapa hari sudah ijin. Batinku.


"Tumben asisten bos datang kemari. Ada apa, Ar? Aku tidak membuat kesalahan kan?"


"Kesalahan kamu adalah karena kamu tidak mau berteman lagi denganku."


"Kebalik, Aryani. Kamu yang sudah tidak mau berteman lagi denganku. Mentang-mentang sudah jadi orang kepercayaan bos."


Lalu kami tertawa bersama. Lanjut dengan saling bercerita pengalaman masing-masing.


Seperti biasanya, selalu diselingi canda dan tawa yang heboh. Hingga tak jarang menarik perhatian orang.


Saking asiknya bercerita, aku sampai tak memperhatikan ada sepasang mata yang melihat ke arahku.


Glek.


Doni.


Aku menelan ludahku yang terasa kering. Bisa kacau ini kalau Doni tahu aku meninggalkan ruang kerja hanya untuk mengobrol dengan Mila.


Sementara pekerajaanku aku serahkan pada orang lain.


Aku langsung pamit pada Mila dan ngacir kembali ke ruanganku.


Pak Hadi sudah tidak ada di sana. Aku jadi kesal. Kenapa pak Hadi tidak memberitahukan padaku kalau pekerjaannya sudah selesai?

__ADS_1


Sekarang malah Doni yang mengikutiku ke ruangan dengan wajah dingin sedingin batu es.


__ADS_2