
Mobil kami benar-benar mogok. Posisi kami ada di tikungan. Hingga kami sangat khawatir akan mengganggu pengendara lain. Sementara langit makin gelap.
Mas Arka dan mas Deni, keluar dari mobil. Untuk mengecek kembali kondisi mobil. Mereka terlihat membuka kap depan mobil.
Aku dan Yola, masih duduk di dalam mobil. Perasaanku bercampur aduk. Aku berdoa dalam hati, semoga tidak terjadi apa-apa dan mobil bisa berjalan kembali.
Sepuluh menit kemudian, terdengar suara petir menggelegar. Kilat pun menyambar dari langit. Aku semakin panik.
Aku memejamkan mataku saat melihat kilatan cahaya dari langit. Ya Allah, selamatkan kami. Doaku dalam hati.
Dan tak lama kemudian, aku melihat rintik hujan mulai jatuh, di kaca depan mobil. Mas Arka dan mas Deni segera masuk ke dalam mobil. Karena gerimis mulai turun.
"Gimana ini mas?" tanyaku panik, pada mas Arka.
"Tenang sayang. Jangan panik" jawab mas Arka, sambil menepuk-nepuk pahaku pelan.
Aku menggenggam tangan mas Arka erat. Apalagi hujan semakin deras saja. Aku makin panik. Suara kendaraan lain yang membunyikan klaksonnya dengan keras, semakin membuat aku panik.
"Kamu tidur aja dulu sayang. Biar lebih tenang" ujar mas Arka.
Gimana bisa tidur, sementara mobil mogok di tengah jalan. Hujanpun turun dengan derasnya. Aku melihat pohon-pohon bergoyang. Yang menandakan angin juga bertiup dengan kencang.
Tiba-tiba suara geledeg terdengar menggelegar. Padahal mobil tertutup rapat. Aku langsung menyembunyikan wajahku di dada mas Arka. Mas Arka menepuk-nepuk punggungku pelan.
"Aku takut mas" ucapku pelan, sambil menahan tangis. Aku benar-benar sangat ketakutan.
Di depan, aku melihat Yola pun tak kalah tegangnya. Dia memeluk erat lengan suaminya.
"Kita berdoa, semoga semua baik-baik saja" ucap mas Deni. Dia juga semakin mengeratkan pelukannya pada Yola.
Saat sedang tegang-tegangnya, tiba-tiba ada laki-laki mengetuk jendela depan. Spontan aku yang juga melihatnya, berteriak.
"Aaaaa...!" lalu aku semakin menyembunyikan wajahku di dada suamiku. Isakku semakin terdengar.
"Bagaimana ini Ka?" tanya mas Deni pada mas Arka.
"Buka aja sedikit jendelanya. Tanyakan apa maunya" jawab mas Arka. Satu tangannya mencari sesuatu di kantung jok belakang jok supir.
__ADS_1
Aku melihat dia mengambil sesuatu. Aku memperhatikannya dalam keremangan. Karena kami tidak menyalakan lampu. Dia menggenggam sebuah belati.
What? Jadi selama ini, mas Arka kemana-mana membawa belati di dalam mobilnya?
Aku ingin bertanya, tapi gak berani. Bukan waktu yang tepat juga untuk menanyakan itu sekarang.
Aku mengangkat wajahku. Menjauh dari dada mas Arka. Tanganku tetap menggenggam satu tangannya.
Mas Deni terlihat membuka jendela sedikit. Yola berusaha menjauh dari suaminya. Duduknya agak menyerong menghadap suaminya. Badannya dia sandarkan pada pintu disampingnya.
Kami semua tegang. Aku bingung mesti berbuat apa. Posisi kami yang ada di dalam mobil, membuat ruang gerak kami tidak leluasa.
Aku pun mengikuti posisi Yola. Mungkin itu akan lebih aman buatku. Aku melepaskan genggaman tanganku pada tangan mas Arka. Memberikan kebebasan padanya, agar bisa bergerak.
"Ada apa pak?" tanya mas Deni agak keras. Karena suara hujan di luar, semakin bertambah keras, ketika jendela di buka.
"Saya bantu dorong?" ucap laki-laki itu. Dari posisiku duduk, dan jendela yang di turunkan sedikit, aku melihat wajah orang itu. Walaupun tidak terlalu jelas.
Laki-laki berumur sekitar tiga puluhan, kelihatannya. Wajahnya terlihat garang. Badannya tegap, tertutupi jas hujan yang dia kenakan.
Aku berusaha merekam wajahnya dalam ingatanku. Mengerikan. Itu kesan yang aku dapatkan.
Laki-laki itu terlihat mengangguk, lalu dia segera berjalan ke arah belakang mobil. Sementara mas Deni mulai menstater mobil. Setelah menutup kaca jendela.
Untung jalanan tidak menanjak. Jadi orang itu bisa mendorongnya sendirian. Perlahan-lahan mobil maju ke depan.
Susah payah mobil mulai ada tanda-tanda menyala. Sampai kemudian, mesin mobil menyala sempurna.
"Alhamdulillah..." ucap kami bersamaan.
Mas Deni tidak segera melajukan mobilnya. Dia membiarkan mesin mobil panas dulu.
Kami menunggu orang itu kembali lagi ke depan. Tapi tak juga muncul. Kami spontan menengok ke belakang. Ternyata orang itu berjalan pergi, menjauhi kami.
Mas Deni memberi tanda, dengan membunyikan klakson mobil, mungkin maksudnya agar orang itu kembali.
Orang itu tetap melangkah menjauhi kami. Sambil mengangkat salah satu tangannya ke atas. Entah apa maksudnya.
__ADS_1
Mas Arka berinisiatif mengejar orang itu. Dia mengambil payung yang ada di jok belakang.
Namun naas. Saat pintu samping setengah terbuka, dan mas Arka sedang mengembangkan payungnya, dari arah belakang, mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Karena cuaca gelap dan masih hujan juga, mungkin si pengendara mobil itu tak bisa melihat dengan jelas.
Alhasil, payung yang sudah di kembangkan oleh mas Arka terpental jauh. Beruntung mas Arka tidak terbawa terpental. Karena tubuhnya tertahan pintu mobil, yang masih terbuka setengah.
Spontan aku dan Yola menjerit. Mengagetkan mas Deni yang tak begitu memperhatikan kejadian itu.
"Ada apa Ka?" tanya mas Deni. Mas Arka segera menutup pintu mobil. Lalu bersandar dengan nafas memburu.
Aku langsung memeluk mas Arka. Bersyukur mas Arka selamat. Biarlah payungnya terpental entah kemana.
"Udah Ka. Biarkan aja bapak itu pergi. Mungkin niatnya memang hanya ingin menolong kita" ucap Yola. Mas Arka mengangguk.
Setelah mesin mobil udah mulai stabil, dan suasana di dalam mobil mulai tenang, kita pun segera meninggalkan tempat yang menegangkan itu.
Aku berkali-kali mengucapkan rasa syukur. Kami segera terbebas dari suasana mencekam, dan mas Arka selamat dari serempetan mobil.
"Masih ada waktu buat sholat maghrib, gimana kalau kita nyari masjid dulu mas? Buat nenangin pikiran" ucapku pada mas Arka. Mas Deni pun sepertinya mendengar perkataanku.
Saat melihat sebuah tempat ngopi, yang lebih mirip rest area, mas Deni segera membelokkan mobilnya. Kemudian mencari tempat parkir, yang tak terlalu jauh, dari bangunan utama. Karena kami tak memiliki payung lagi.
"Mungkin disini di sediakan musholla" ucap mas Deni. Kami pun bergegas menuju ke bangunan utama itu.
Sesampainya di dalam bangunan itu, kami segera mencari tempat duduk. Aku mengajak mas Arka untuk ke musholla terlebih dahulu.
Lalu kami diantar oleh seorang waiters, menuju bangunan bagian belakang yang di manfaatkan sebagai musholla dan toilet.
Karena waktu maghrib hampir habis, kami segera mengambil wudhu, dan bersiap melaksanakan sholat maghrib berjamaah.
Selesai dengan kewajiban kami, aku pamit kepada mas Arka untuk ke toilet dulu. Karena dari tadi aku menahan pipis. Sementara mas Arka langsung menuju ruangan utama restauran itu.
Aku selesai dengan urusanku di toilet. Saat aku membuka pintu toilet, dari arah musholla aku merasa ada yang memperhatikanku. Aku menoleh.
Disana berdiri laki-laki, mirip orang yang menolong mendorong mobil kami tadi. Dengan jas hujan yang masih dikenakannya. Tatapannya tajam ke arahku.
__ADS_1
Aku yang sangat terkejutpun menatapnya tajam. Lalu aku langsung mengambil langkah seribu.