SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 75 ANAKKU PENYEMANGATKU


__ADS_3

Hari ini sudah hampir satu minggu usia anakku. Kami akan mengadakan selamatan kecil. Kami menyebutnya puputan. Menandai putusnya tali pusar bayi.


Aku juga berniat sekalian memberikan nama untuk anakku. Karena aku harus mengurus akte kelahiran untuk anakku.


Mas Teguh juga berniat sekalian mengaqiqahkan anakku.


Aku sempat menolaknya. Karena bapak dari anakku belum mampu untuk membiayainya.


Tapi mas Teguh bilang, ada biaya dari warisan kakek dan nenek anakku. Itu bisa digunakan untuk aqiqah.


Aku menurutinya. Toh anakku punya hak juga pada harta peninggalan kakek-neneknya.


Kami memang tak membuat acara besar-besaran. Mengingat kondisi suamiku yang masih sakit. Masih banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk proses penyembuhan mas Arka.


Mas Teguh pernah membicarakan kepadaku, kalau dia akan membawa mas Arka ke luar kota untuk berobat.


Katanya ada pengobatan alternatif di sana. Walau pun biayanya sangat mahal tapi mas Teguh bilang, dicoba saja dulu.


Siapa tau dengan pengobatan itu mas Arka bisa kembali pulih. Bagaimana pun mas Arka masih terlalu muda, kasihan kalau dia harus menghabiskan masa mudanya di atas kursi roda.


Aku sempat berdiskusi tentang nama untuk anakku dengan mas Teguh. Siapa lagi yang bisa aku ajak berdiskusi kalau bukan mas Teguh.


Dia satu-satunya keluarga terdekat dari mas Arka. Dan dia orangnya sangat baik. Bisa dipercaya untuk memegang semua aset milik keluarga mas Arka.


Dia juga pernah bilang untuk memindahkan semua aset atas namaku, tapi aku menolaknya. Aku merasa tidak berhak. Walau pun aku istri syah dari mas Arka.


Aku takut tidak bisa amanah memegang harta itu. Aku juga takut tidak bisa mengelolanya dengan baik.


Jadi untuk sementara biar dipegang dan dikelola oleh mas Teguh.


"Siapa nama yang cocok untuk anakku ya, Mas?" tanyaku.


"Memang kamu sama sekali tidak mempersiapkan nama untuk anakmu?" Aku menggelengkan kepalaku.


Dari dulu aku berharap mas Arka yang akan memberikan nama untuk anakku. Makanya aku tak pernah memikirkannya.


"Coba deh kira-kira kamu mau pakai nama apa? Mau berbau arab, jawa atau nasional aja? Atau mau pakai nama yang berbau internasional? Biar kayak orang bule?" tanya mas Teguh sambil ketawa ngakak.


"Bisa aja,ih. Biasa aja mas. Yang kira-kira enak di dengar. Tidak terlalu ribet. Dan tidak terlalu panjang. Kasihan kalau namanya kepanjangan. Kalau ujian sekolah waktunya habis hanya untuk menuliskan namanya saja" celetukku.


"Wah bisa melucu juga ya, kamu" sahut mas Teguh lalu tertawa lagi.

__ADS_1


"Lalu siapa dong namanya?" tanyaku.


"Bagaimana kalau Aryaka, kita bisa memanggilnya Aka atau Arya. Itu bisa jadi dari nama kamu. Bisa juga dari nama singkatan kalian berdua. Aryani Arka" usul mas Teguh.


"Boleh juga. Tapi apa mas Arka akan setuju?" tanyaku.


"Kalau nunggu Arka setuju, bisa bertahun-tahun baru dikasih nama dong" sahut mas Teguh.


"Memangnya mas Arka akan sakit bertahun-tahun?" Mas Teguh hanya mengangkat bahunya.


"Kita kan tidak pernah tahu, sampai kapan Arka seperti ini. Hidup tetap terus berjalan, Dek. Dengan atau tanpa Arka."


Ucapan mas Teguh membuatku tersadar, bahwa aku harus memperjuangkan hidupku sendiri.


Aku tidak bisa menggantungkan hidupku pada suamiku. Apalagi pada harta warisan yang ditinggalkan oleh mertuaku.


Itu hak mas Arka. Juga hak anakku. Akan sangat tidak adil kalau aku enak-enakan memanfaatkannya tanpa aku melakukan apa pun.


"Iya, Mas. Aku paham" jawabku.


Acara pengajian akan segera dimulai. Mas Arka sudah didandani oleh mas Teguh dengan baju koko dan peci.


Aku menatap wajah mas Arka. Apa benar ini suamiku? Aku semakin merasa asing. Aku semakin merasa jauh.


Mas Arka tak bisa lagi diajak komunikasi. Berbulan-bulan aku seperti berbicara dengan tembok. Aku hanya berbicara pada diriku sendiri.


Terus terang aku lelah dengan semua ini. Kadang aku ingin menyerah. Tapi tak akan tega meninggalkan orang yang pernah sangat mencintaiku dan aku pun sangat mencintainya.


Tapi apa aku masih punya rasa cinta untuk suamiku? Atau hanya tersisa rasa kasihan saja? Entahlah.


Aku hanya manusia biasa. Aku hanya seorang perempuan yang lemah. Aku butuh cinta. Aku butuh kasih sayang. Aku butuh perhatian. Dan aku juga butuh belaian.


Hal yang telah lama tak aku dapatkan lagi dari suamiku. Aku sangat merindukan suamiku yang dulu. Suami yang penuh kehangatan. Bukan sosok yang dingin dan tak bisa berbuat apa-apa.


Aku meneteskan air mataku. Aku dekati mas Arka. Aku kecup keningnya.


"Wah...wah...ada yang lagi melow nih?" Mas Teguh tau-tau sudah ada di kamarku.


Aku menghapus air mataku. Aku mencoba tersenyum.


"Ayo kita keluar. Udah banyak tamu" ajak mas Teguh. Lalu dia mendorong kursi roda mas Arka.

__ADS_1


Aku merapikan penampilanku. Dan keluar kamar sambil menggendong anakku.


Dan benar saja, diluar sudah banyak para tetangga yang akan mengikuti pengajian.


Aku serahkan anakku pada bi Yati. Aku akan menyalami mereka. Karena aku tuan rumah di sini.


Acara segera dimulai setelah pak Ustadz yang akan memimpin pengajian datang. Semua orang mengikuti acara dengan tenang.


Aku memilih duduk agak jauh. Karena aku tidak bisa mengikuti pengajian itu. Aku masih belum bersih.


Aku masuk kembali ke kamarku, saat anakku menangis. Dia kelihatan sangat tidak nyaman karena banyaknya orang dan suara yang berisik.


Aku menyusui anakku agar diam. Mas Teguh tiba-tiba masuk ke kamarku.


"Oh, maaf" ucap mas Teguh. Aku reflek menutup payudaraku.


"Acara pengajian sudah hampir selesai. Nanti kalau sudah menyusui, keluarlah. Mungkin mereka akan segera pamit" ucap mas Teguh. Lalu keluar dari kamarku.


Aku segera menyelesaikan kewajibanku. Lalu setelah anakku tertidur, aku keluar dan menemui para tamu lagi.


Tak lama, mereka pun berpamitan setelah menikmati hidangan ala kadarnya.


Beberapa tetangga membantu membersihkan tempat yang barusan di pakai pengajian.


Mas Arka dibawa oleh mas Teguh ke kamar mertuaku. Lalu memindahkannya ke tempat tidur. Mas Arka memang belum bisa terlalu lama duduk. Badannya akan melorot sendiri kalau kelamaan.


Aku ikut masuk ke kamar mertuaku. Lalu duduk di kursi yang ada di sana.


Aku ingin berdiskusi dengan mas Teguh tentang apa yang akan aku lakukan nanti. Setelah aku sehat kembali.


Belum sempat aku mengatakannya, aku mendengar suara tangisan anakku.


Aku pun segera ke kamarku. Karena bi Yati sedang membereskan ruangan bekas pengajian tadi.


Aku kembali menyusui anakku. Sambil berbaring, aku belai kepala anakku.


Anak yang jadi penyemangat hidupku lagi. Setelah aku merasa terpuruk karena kejadian-kejadian menyedihkan yang aku alami.


Aryaka. Dia matahariku. Dia penyemangatku. Aku akan memulai berjuang lagi untuk anakku.


Doakan mama, Nak. Semoga mama bisa mencari nafkah untuk menghidupimu. Bisikku lirih di telinga anakku.

__ADS_1


__ADS_2