SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 139 MENCARI PELAKUNYA


__ADS_3

"Kasih alamat rumah Yola," pinta Mila di tengah perjalanan.


"Kamu mencurigai Yola?" tanyaku tak mengerti dengan jalan pikiran Mila.


"Bukan Yola nya, tapi suami kamu. Dan bisa saja dia membawanya ke rumah Yola," jawab Mila.


"Oke. Masuk akal. Lurus terus. Nanti depan belok kanan."


Bagaikan pembalap ulung, Yola memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Hati-hati, Mila! Ini sudah hampir maghrib!"


"Iya, tenang aja. Kamu duduk manis, jangan pasang sabuk pengamanmu!" Mobil Mila terus saja melaju kencang.


Aku sampai lupa memasang sabuk pengaman. Hh! Hari ini benar-benar tak akan aku lupakan sepanjang hidupku.


Tak butuh waktu lama, kami sampai di depan rumah Yola. Karena jalanan agak lengang.


Rumah Yola masih terlihat gelap. Sepertinya tidak ada orang di dalam.


"Turun?" tanyaku. Karena baik rumah Yola maupun bekas rumahku terlihat gelap.


"Iya. Siapa tau mereka di dalam dan sengaja mematikan lampunya," jawab Mila. Lalu dia turun dari mobil. Aku pun mengikuti.


Dengan mengandalkan senter dari hape, kami masuk ke teras. Mila sudah seperti detektif saja. Dia melihat ke sekeliling rumah dengan senter hapenya.


"Sepi. Tidak ada suara apapun," ucap Mila. Lalu tiba-tiba...


Klontang!


Reflek aku dan Mila melonjak kaget.


"Apa itu, Mil?" Aku memegangi tangan Mila. Mila menggeleng. Lalu mencoba melihat dari jendela. Kebetulan tirainya tidak di tutup. Karena setahuku, bagian itu sedang direnovasi.


"Tidak ada apa-apa," ucap Mila perlahan.


Mungkin perkakas tukang yang jatuh, pikirku.


"Apa aku perlu menelpon Yola, Mil?" tanyaku.


"Coba saja. Bilang kalau kamu mau menginap di rumahnya. Aku pingin tau bagaimana reaksinya," jawab Mila.


Berkali-kali aku menelponnya, tapi hape Mila tidak aktif. Atau nomorku diblokir? Karena tak ada foto profile Yola seperti biasanya.


"Kenapa?" tanya Mila melihatku yang terdiam memandang ponselku.


"Nomornya enggak aktif," jawabku pelan.


"Coba lihat!" Mila mengambil ponselku. Lalu memindahkan nomor Yola ke ponselnya.


"Nih! Aktif!" Mila menelpon nomor Yola yang ternyata aktif. Berarti benar, nomorku diblokir.


"Hallo, Yola. Ini aku Aryani." Yola langsung mematikan panggilan dan memblokir juga nomor Mila. Foto profilenya pun menghilang.

__ADS_1


"Mencurigakan!" Mila kembali menarikku.


"Kemana lagi, Mil? Aku capek banget!"


"Tanggung!" jawab Mila dan membukakan pintu mobil untukku.


"Kemana lagi?" tanyaku setelah di mobil.


"Ke kantor polisi!" jawab Mila ketus.


Aku mengerutkan dahi. Bukankan tadi Roni bilang kita tunggu dulu sampai besok pagi? Batinku.


"Enggak perlu nunggu besok pagi. Kelamaan!" Mila seperti tau yang ada di kepalaku.


"Terserah kamu lah, Mil. Aku capek banget." Aku pun memposisikan badanku dengan nyaman lalu memejamkan mata.


Jalanan yang agak padat membuat mobil Mila tak bisa ngebut kayak tadi. Dan membuatku lelap tertidur.


"Bangun, Ar. Sudah sampai." Mila mengguncang bahuku. Aku merasakannya, tapi malas membuka mataku. Mila menepuk-nepuk pipiku perlahan.


"Hst! Bangun, ayo. Udah sampai ini."


Aku menggeliatkan badan. Lalu melihat ke kaca depan. Ini kantor polisi yang tadi siang. Kenapa mesti ke sini lagi sih? Kayak enggak ada kantor polisi lain aja.


"Ayo turun!" Mila sudah duluan turun.


Dengan malas, aku ikut turun. Tapi mataku langsung terbuka lebar saat aku melihat Sarah dan Roni ada di sana juga.


"Kami tak berhasil menghubungi bik Yati. Ke rumahnya juga tidak ada. Makanya kami minta bantuan polisi," sahut Roni.


"Kalian sendiri?" tanya Roni.


"Kalian pikir kami tidak khawatir?" Mila langsung nerocos.


"Kami sudah bikin laporannya. Tinggal tunggu kabar selanjutnya saja. Kalau kalian mau, menunggunya di rumah kami saja." Kali ini Sarah yang menjawab.


Aku menatap Sarah. Dia mengangguk. Sarah terlihat sangat tertekan. Bagaimana pun, dia pasti juga sangat kehilangan Doni. Sahabatnya sejak kuliah dulu. Dan sekarang, anak yang aku percayakan padanya juga menghilang.


Aku memeluk Sarah dengan erat. Sarah juga membalasnya. Bahkan dia menangis di bahuku.


"Maafkan aku, Ar. Aku tak becus menjaga Aryaka," ucap Sarah sambil terisak.


"Kita berdoa, Sar. Semoga Aryaka segera ditemukan." Aku menepuk punggung Sarah.


"Kalian tadi mencari kemana saja?" tanya Roni.


Aku melepaskan pelukan Sarah.


"Kami ke rumah Yola. Tapi tak ada siapapun di sana. Rumahnya gelap dan terkunci." Mila kembali seperti juru bicaraku.


"Berarti kecurigaanku benar," kata Roni.


"Maksudmu?" tanyaku tak mengerti. Apa Roni punya pikiran yang sama juga dengan Mila?

__ADS_1


"Bisa jadi mereka yang membawa bik Yati dan Aryaka!" ucap Roni ketus.


"Kamu sudah mengatakannya pada polisi?" tanyaku pada Roni.


"Sudah. Sini aku minta nomornya Yola atau suaminya. Kalau nomor Arka sudah tidak aktif," sahut Roni.


"Kamu tau juga nomor mas Arka?" tanyaku. Setahuku mas Arka tak pernah berhubungan dengan Roni.


"Sarah yang menyimpannya," jawab Roni.


Aku mencoba menghubungi nomor mas Arka dengan ponselku. Dan benar, nomornya tidak aktif.


"Bagaimana, Pak. Ada informasi apa lagi?" tanya seorang Polisi.


"Ini nomor Yola dan suaminya. Bisa jadi mereka ikut terlibat," jawab Roni.


Roni meminta ponselku dan memberikan nomor Yola dan Deni.


Polisi itu mencatat nomor keduanya.


"Ada identitas tentang mereka?" tanya polisi itu.


Aku mencoba memberikan identitas Yola dan Deni sesuai yang aku tahu. Termasuk juga alamat rumah Yola.


"Baiklah, besok pagi kami akan ke alamat ini. Kalau tidak ada orang di sana, terpaksa kami akan mendobraknya untuk mendapatkan identitas yang jelas. Pasti di rumahnya ada petunjuk," kata polisi itu, lalu menyuruh kami untuk pulang.


"Tolong besok kabari kami, kalau mau ke lokasi, Pak," pinta Roni.


"Baik. Besok akan kami kabari. Malam ini akan kami pantau dulu."


Aku ikut Sarah dan Roni ke rumahnya. Mila kembali ke kosannya. Besok pagi-pagi dia janji akan ke rumah Sarah.


"Makasih ya, Mil. Jadi merepotkan kamu," ucapku sambil memeluk Mila sebentar.


"Kamu lapar enggak, Ar?" tanya Sarah.


"Kita makan aja. Aryani pasti belum makan seharian." Roni langsung membelokan mobilnya ke sebuah rumah makan yang tak terlalu besar.


"Makan, Ar. Kamu butuh banyak tenaga untuk menghadapi ini semua." Sarah menyodorkan makanan ke hadapanku.


Dengan malas, aku memakannya. Kalau boleh meminta, aku maunya langsung kenyang tanpa harus mengunyahnya.


Kenapa hidupku jadi kacau seperti ini? Kesalahan yang aku lakukan kenapa harus mengorbankan orang-orang yang aku sayangi?


Tak terasa air mataku mengalir. Sarah memberikan tissue.


"Aku lelah, Sar," ucapku perlahan.


"Hush! Enggak boleh ngomong begitu. Kamu masih punya Aryaka yang harus kamu perjuangkan," sahut Sarah.


Ya, Aryaka satu-satunya alasan aku untuk kuat. Bukan lagi mas Arka yang kini malah seakan menjadi musuhku.


Apa mungkin Yola dan Deni yang mempengaruhi mas Arka?

__ADS_1


__ADS_2