SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 130 KEKECEWAAN YOLA


__ADS_3

Aku dan Yola blusukan ke sebuah pasar khusus menjual barang-barang perlengkapan toko. Mulai dari gantungan baju, hanger dan lain-lain yang sekiranya nanti dibutuhkan untuk butik kami.


Ternyata cukup menguras tenaga, pikiran dan waktu. Dan yang pastinya kantong.


Untung saja isi dompet Yola tebal. Sebenarnya bukan isi dompetnya, tapi isi uang di kartu ATM-nya. Seperti tak ada habisnya.


Setiap habis transaksi, Yola menggesek kartu debitnya. Dia tak tanggung-tanggung mengeluarkan modalnya.


Justru ini yang menjadi beban buatku. Aku tidak ingin mengecewakan Yola nantinya. Aku harus kerja maksimal supaya hasilnya juga maksimal.


Barang-barang belanjaan tidak kami angkut sendiri. Yola meminta penjual mengantarkannya ke alamat kami.


Yola akan meminta itu sebelum melakukan transaksi. Kalau pihak penjual tidak mau, maka Yola akan mencari toko lainnya.


Ini juga ilmu yang aku peroleh dari belanja kali ini. Biar kita tak perlu repot membawa barang belanjaan.


Aku tak bisa membayangkan kalau harus membawa sendiri semuanya. Pasti akan sangat merepotkan.


Yola memang cerdas kalau urusan belanja. Bahkan dia bisa mencari harga yang termurah. Padahal dia biasa hidup di luar negeri yang semuanya serba mahal.


"Kamu pinter banget menawarnya, Yol?" tanyaku.


"Iyalah. Ini Indonesia, Ar. Kalau kita tidak pandai-pandai menawar, bisa membengkak budgetnya," jawab Yola.


"Kirain biasa tinggal di sana, lupa cara menawar," ucapku.


"Sebenarnya sama aja sih. Di sana pun ada kok tawar menawar. Tapi tidak semua toko menerapkan cara itu. Kebanyakan mereka sudah pasang harga pas. Kita tinggal membandingkan saja harga di setiap toko. Cek toko sebelah. Hahaha." Yola terlihat puas belanja hari ini.


"Cari minum yuk. Aku haus," ajak Yola. Aku menurut saja. Karena aku juga lumayan haus. Berjalan hampir seharian membuatku tak cuma haus tapi juga lapar.


"Cari makan sekalian ya, Yol. Ternyata aku lapar," pintaku.


"Bilang dong dari tadi kalau lapar. Kelamaan nahan lapar, kalau kamu pingsan bagaimana? Kan nambah kerjaanku," gerutu Yola.


Aku hanya nyengir saja. Enggak enak rasanya bilang lapar, sementara Yola masih sibuk memilih barang.


Kami memilih sebuah rumah makan yang tak terlalu ramai dan tempatnya cukup luas.


Setelah memesan makanan, kami makan dengan lahap. Sepertinya Yola juga sangat lapar.


"Doyan apa lapar?" tanyaku.


"Doyan juga lapar!" sahut Yola. Dia bahkan sampai menambah nasinya.


"Kamu enggak takut gendut, Yol?" tanyaku.


"Enggaklah. Kan enggak tiap hari begini. Apalagi kalau di sana. Boro-boro bisa makan kayak begini."


"Kamu enggak bosan di sana setiap hari makan roti terus?" tanyaku. Karena di otakku, kalau hidup di luar negeri berarti setiap hari makannya roti.


"Kalau bosan ya makan nasi juga," sahut Yola.

__ADS_1


"Kamu memasak sendiri?" tanyaku.


"Beli di warteg! Hahaha. Ada-ada saja pertanyaanmu."


"Lho aku nanya beneran ini." Aku malah heran melihat Yola ketawa.


"Oke. Aku jawab ya? Kadang aku masak sendiri kalau sempat. Kalau enggak sempat ya beli. Meski harganya sangat mahal."Yola meneguk minumnya.


"Eh. Tadi kamu janji mau cerita sama aku. Ayo cerita. Enak saja kamu mau bikin aku lupa!"


Tahu saja Yola kalau aku sengaja mengajaknya ngobrol biar dia lupa menanyakannya.


"Kayaknya enggak perlu deh, Yol," sahutku.


"Kenapa? Kamu enggak percaya sama aku?" Mata Yola menatap tajam.


Yola yang sudah terlalu baik padaku, membuatku segan padanya. Aku tak mau kalau dia kecewa karena aku mengingkari janji. Meski janji yang dipaksa oleh Yola sendiri.


"Kamu janji tak akan menjauhi aku setelah aku cerita semuanya?" tanyaku.


"Ya ampun, Ar. Apapun yang pernah terjadi antara kita, apa pernah aku menjauhi kamu?"


Aku menggeleng.


"Ya sudah sekarang cerita," pinta Yola.


"Kamu harus janji sekali lagi," ucapku.


"Jangan ceritakan ini pada Deni apalagi mas Arka!"


"Kenapa?" tanya Yola. Dia memang tak pernah merahasiakan apapun pada suaminya.


"Demi keutuhan rumah tanggaku!"


"Hah!" Yola hampir tersedak. Lalu meminum es jeruknya yang tinggal sedikit. Aku mengulurkan es jerukku. Dan Yola meneguknya juga.


"Yol. Maaf kalau setelah kamu mendengarnya, kamu bakal kecewa padaku." Aku menundukan wajahku sejenak. Berusaha menguatkan hatiku.


Yola menatapku lagi. Lalu mengangguk.


"Yol. Aku telah berselingkuh!"


Yola langsung melotot melihatku. Dia pasti tak akan percaya. Aku yang salama ini dianggapnya perempuan lugu, malah melakukan dosa yang sangat besar.


"Are you serious?" tanya Yola. Dia sepertinya lupa kalau sekarang lagi di tanah air.


Aku mengangguk.


"Dengan siapa?" tanya Yola.


"Doni. Dia bosku di hotel. Dia juga mantan pacarku saat SMA dulu."

__ADS_1


"Kalian CLBK?" tanya Yola lagi.


"Sesuatu yang tak pernah kita rencanakan, Yol. Kami bertemu begitu saja. Ternyata bosku adalah mantan pacarku."


"Dia sudah menikah?" tanya Yola.


Lalu aku menceritakan rumah tangga Doni yang berantakan.


"Ah, bullshit. Semua lelaki yang akan berselingkuh, pasti akan bilang seperti itu. Kalau memungkinkan malah akan menjelek-jelekan istri sahnya demi mendapatkan simpati dari calon selingkuhannya!" kata Yola berapi-api.


Biasanya memang seperti itu. Tapi tidak dengan Doni. Bukannya aku membela Doni, tapi bukan cuma Doni yang mengatakannya. Sarah dan Roni pun bilang seperti itu.


Tapi Yola tak percaya saat aku mengatakan itu. Katanya mereka bisa saja bersekongkol, karena mereka teman akrab.


"Entahlah, Yol. Yang pasti semua sudah terlanjur terjadi," ucapku. Bukan mau membela diri. Tapi aku tak bisa menyalahkan Sarah dan Roni.


"Kamu mengenal istrinya?" tanya Yola.


"Pada akhirnya," jawabku.


"Setelah ketahuan?"


"Ya, begitulah Yol." Aku menundukan wajahku. Aku sudah pasrah kalau pun Yola membenciku dan menjauhiku.


"Kalian sekarang masih berhubungan?" tanya Yola.


"Aku memutuskan menyelesaikan semuanya, setelah mas Arka sembuh. Karena aku...." Aku menjeda kalimatku. Banyak bicara membuatku juga haus.


"Aku ingin mempertahankan rumah tanggaku, Yol," ucapku.


"Setelah apa yang kamu lakukan?" tanya Yola. Aku mengangguk. Yola menghela nafasnya.


"Aku tidak mengira sama sekali, Ar. Aku pikir kamu seorang istri yang setia," ucap Yola.


Tiba-tiba aku meneteskan air mataku. Aku menyesali semua perbuatanku. Bahkan Yola pun terlihat sangat kecewa. Bagaimana dengan mas Arka? Mungkin dia akan langsung mendepakku.


Melihat kekecewaan Yola, aku tak berani mengatakan soal virus itu. Yola pasti akan semakin membenciku, bahkan menjauhiku.


Dan bisa jadi dia akan membawa mas Arka dan anakku pergi jauh agar tak terinfeksi virus itu.


"Ya sudah. Sekarang perbaiki hubungan kamu dengan Arka. Kasihan dia. Hidupnya sudah sangat hancur, Ar. Hanya kamu dan anak kalian yang membuatnya kuat bertahan," ucap Yola.


Sekali lagi aku mengangguk dan menghapus air mataku.


"Kamu mau membantuku, Yol?" tanyaku.


"Membantu apa?" tanya Yola dengan enggan.


"Jangan mengatakan ini pada siapapun. Kamu sudah janji. Bantu aku untuk memperbaiki hubunganku dengan mas Arka."


Yola hanya mengangguk lemah. Lalu mengajakku pulang.

__ADS_1


__ADS_2