SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 76 AKU IPARMU


__ADS_3

Sebulan kemudian, kondisi fisikku sudah kembali normal. Masa nifasku juga sudah selesai. Aku mulai memperhatikan penampilanku lagi.


Aku mulai berdiet agar berat badanku bisa kembali ke semula. Aku juga sudah ke sebuah klinik kecantikan untuk mulai merawat wajahku lagi.


Bahkan anakku sudah aku ajari untuk meminum susu formula. Aku tidak lagi memberikan ASI-ku.


Bukan aku tidak mau, tapi aku punya rencana untuk mulai mencari pekerjaan. Karena aku tidak mau hidupku hanya mengandalkan harta peninggalan mertuaku.


Walau pun mas Teguh sempat melarangku bekerja, tapi aku tetap pada pendirianku.


Aku pingin bisa mandiri. Aku pingin bisa menghidupi keluarga kecilku dari hasil jerih payahku sendiri.


Aku tak bisa menunggu sampai mas Arka sembuh, dan menggantungkan hidupku lagi padanya.


Aku sudah mencoba menjelaskan semua alasanku pada mas Teguh.


"Dek, peninggalan mertuamu tak akan habis kalau hanya untuk menghidupi kalian bertiga. Aku yang akan mengelolanya sampai nanti Arka sehat lagi. Jadi buat apa kamu capek-capek kerja?" begitu mas Teguh berusaha mencegah keinginanku.


"Mas, aku ingin bisa mandiri. Walau pun nanti penghasilanku tak seberapa, minimal aku bisa mendapatkan uang sendiri. Bukan cuma mengandalkan harta warisan" jawabku.


"Tapi itu artinya kamu akan meninggalkan anakmu, suamimu. Sudah kamu pikirkan itu? Bagaimana mereka nanti saat kamu tinggal bekerja?"


"Sudah, Mas. Anakku biar bi Yati yang akan menjaganya. Kalau soal mas Arka, bukankah mas Teguh bisa membantu seperti biasanya?" sahutku.


Kami berdebat panjang malam itu. Mas Teguh selalu saja berusaha mematahkan semangatku. Berusaha menjegal keinginanku.


Tapi aku tak patah semangat. Keinginanku malah semakin kuat.


"Maaf, Mas. Kali ini biarkan aku dengan pilihanku. Biarkan aku dengan keinginanku. Aku harap mas Teguh bisa memakluminya" ucapku pada akhirnya.


"Dan jika mas Teguh tidak suka dengan keinginanku, bahkan tidak suka lagi dengan kehadiran kami disini, kami bisa kembali ke rumah lama kami."


Aku yang bersikeras dengan keinginanku, memilih lebih baik pergi dari rumah ini, daripada hidupku diatur oleh orang lain.


Walau pun mas Teguh adalah saudara mas Arka, dan dia satu-satunya keluarga mas Arka yang terdekat, tapi dia tidak berhak mengatur kehidupanku.


Hidupku masih panjang. Masa depanku masih terbentang luas. Kalau aku hanya ongkang-ongkang kaki, lalu bagaimana dengan masa depan anakku?


Bagaimana jika harta warisan itu habis? Aku berfikir sejauh itu.

__ADS_1


Apalagi pernah suatu ketika, saudara jauh mas Arka datang ke rumah mertuaku, aku mendengar sendiri dia mengatakan hal yang membuat kupingku panas.


Dia mengatakan, enak sekali jadi mantunya. Tinggal tidur saja uang datang sendiri. Tanpa harus kerja keras sepertiku. Yang mesti bekerja dari pagi sampai malam.


Sejak saat itu, keinginanku untuk mencari pekerjaan semakin menggebu.


Aku memang sengaja tak mengatakannya pada mas Teguh. Aku tidak mau ada keributan di keluarga ini. Karena aku yakin, mas Teguh pasti akan membelaku.


Dan bisa jadi mas Teguh akan mengusir saudaranya itu malam itu juga.


Aku juga melarang bi Yati mengatakannya pada mas Teguh. Bi Yati kebetulan juga mendengarnya.


Dan yang bikin aku sangat sakit hati mendengarnya, saat mulut saudaranya mas Arka itu membawa-bawa soal keturunan.


Aku dikatai tidak jelas keturunannya. Tidak jelas bobot, bibit dan bebetnya. Ingin rasanya aku menangis saat itu.


"Sudah, jangan didengarkan. Mbak Romlah memang begitu orangnya. Makanya dulu dia jarang kesini, karena sering dimarahi sama ibu" ucap bi Yati waktu itu.


"Dia itu iri. Karena anaknya dapat suami kere. Dia juga iri sama mas Teguh, yang dikasih kepercayaan mengelola semua usaha ibu dan bapak almarhum" lanjut bi Yati.


"Sekarang yang penting, kita jangan dekat-dekat dengan dia. Sebentar lagi juga dia pulang. Karena anaknya tidak suka kalau dia ada disini terlalu lama" ujar bi Yati.


"Emang kenapa, Bi?" tanyaku penasaran.


Aku malah tidak paham dengan apa yang di maksud oleh bi Yati.


" Menantunya kan kere. Dia dari dulu berharap punya menantu yang anak orang kaya seperti mas Arka. Atau yang rajin bekerja seperti mas Teguh. Malah dapetnya pengangguran" ujar bi Yati, lalu menahan tawanya.


Aneh-aneh saja pikirku. Emangnya mau kalau punya menantu kaya tapi kena stroke seperti mas Arka?


"Besok aku akan mulai mencari pekerjaan. Mas Teguh punya informasi lowongan?" tanyaku basa basi. Karena aku tau, misalnya ada pun mas Teguh tak akan memberitahukannya padaku.


"Ada" jawab mas Teguh singkat.


"Oh ya? Di mana?" tanyaku bersemangat.


"Di gudang. Meneruskan usaha mertuamu. Sama saja kan?" Mas Teguh menatap tajam ke arahku. Aku memalingkan mukaku.


"Sekarang jelaskan padaku, apa alasannya kamu tidak mau meneruskan usaha mertuamu dan lebih memilih mencari pekerjaan di tempat lain?"

__ADS_1


Aku malas menjawab pertanyaan mas Teguh. Karena aku merasa pernah mengatakan alasannya, dan aku tak ingin mengulang lagi penjelasanku.


Aku beranjak dari kursiku. Dan bergegas masuk ke kamarku.


Tanpa aku sadari, mas Teguh mengikutiku dan masuk juga ke dalam kamarku.


Aku terkejut saat hendak menutup pintu kamar, mas Teguh menahannya dengan tangannya.


Lalu sedikit menghentakan hingga pintu itu terbuka. Dan hampir mengenai wajahku.


Aku mundur sedikit. Aku menatap wajah mas Teguh yang kelihatan memerah karena marah.


Dia memaksa masuk ke kamarku. Lalu menutup pintunya dari dalam dan menguncinya.


"Mau apa, Mas?" tanyaku sambil berjalan mundur.


Mas Teguh terus melangkah perlahan mendekatiku. Aku pun terus mundur. Hingga punggungku menabrak tembok kamar.


Mas Teguh semakin mendekatiku. Dia mengungkung tubuhku dengan kedua tangannya.


Aku memberanikan diri menatap wajahnya. Nafasku memburu menahan kesal.


"Ar, kamu tau kenapa aku tidak setuju kamu bekerja?" tanya mas Teguh. Tumben dia menyebut namaku, bukan dengan sebutan 'dek' seperti biasanya.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Karena aku tidak mau jauh dari kamu!" jawab mas Teguh dengan tegas.


"Maksudnya?" tanyaku.


"Aku mencintaimu, Ar" jawab mas Teguh lirih.


"Mas, aku ini iparmu! Sadar, Mas!" sahutku.


"Aku sadar, Ar. Itu kenapa selama ini aku diam. Karena aku sadar masih ada Arka. Tapi aku sedikit pun tak pernah mengharapkan Arka tiada. Aku hanya ingin bisa selalu dekat denganmu, Ar" sahut mas Teguh.


Lalu tiba-tiba mas Teguh mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku menahan nafasku. Aku merasakan nafasnya begitu dekat.


Aku memejamkan mataku. Tak sanggup aku menatap wajah mas Teguh. Dia orang yang telah aku anggap kakakku, kini ada tepat di depan wajahku.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba mas Teguh menjauhkan lagi wajahnya. Bahkan dia melepaskan kungkungannya. Aku membuka mataku. Menatapnya.


"Maafkan aku, Ar. Aku tak bermaksud...Ah sudahlah." Lalu dia keluar dari kamarku.Aku bernafas lega.


__ADS_2