SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 67 BUKAN NGE-DATE


__ADS_3

Setelah membereskan pakaianku dan pakaian mas Arka, aku segera keluar dari kamarku. Mas Teguh menungguku di ruang tamu.


"Kenapa kamu gak panggil aku, Dek? Ini kan berat" ucap mas Teguh saat melihatku membawa koper berisi pakaian.


"Gak berat kok, Mas. Kan cuma didorong aja. Sebentar Mas, masih ada satu tas lagi buat keperluan bayiku nanti" Aku berjalan ke ruang tengah.


"Biar aku yang bawa, Dek. Kamu tunggu aja di mobil" ujar mas Teguh.


Perlengkapan buat bayiku masih tersimpan rapi di tas besar. Aku malah belum sempat membongkarnya sejak Yola membelikannya.


Aku masuk ke dalam mobil mas Teguh setelah mengunci rumahku. Sementara mas Teguh masih memasukan barang-barangku di mobil bagian belakang.


Setelah semua beres, mas Teguh segera masuk ke mobil dan melajukannya perlahan. Malam semakin larut. Jalanan sudah mulai sepi.


"Besok pagi boleh aku pinjam kunci rumahmu, Dek?" tanya mas Teguh.


"Buat apa, Mas?"


"Aku akan mengganti handlenya, biar tak ada lagi yang bisa masuk ke rumahmu saat kamu tak di rumah. Kalau perlu nanti aku pasangkan kunci ganda. Biar lebih aman" ucap mas Teguh.


"Iya, Mas. Ganti saja handle-nya. Nanti uangnya aku ganti kalau sudah selesai" jawabku.


"Gak usah mikirin ganti uangnya, Dek. Kayak sama siapa aja" ujar mas Teguh.


"Arka itu sudah aku anggap adikku sendiri. Apalagi sekarang, kondisinya masih seperti itu. Kedua orang tuanya juga sudah tak ada."


Mas Teguh masih terus saja berbicara. Dia menceritakan saat mas Arka kecil. Mereka yang sering main bersama walau pun usianya jauh berbeda.


Aku menguap. Ngantuk sekali. Rasanya kayak lagi diceritakan dongeng sebelum tidur. Tak terasa aku pun terlelap.


"Dek, bangun. Kita sudah sampai."


Suara mas Teguh mengagetkan aku. Aku langsung membuka mataku. Malu rasanya ketauan ketiduran.


"Kita sudah sampai, Dek. Maaf ya mengganggu tidurmu." ucap mas Teguh.


"Gak apa-apa, Mas. Aku yang minta maaf, malah ketiduran." Lalu aku membetulkan posisi dudukku.


"Kuat jalan sendiri?" tanya mas Teguh.


"Kuatlah, Mas. Emangnya kalau gak kuat, mas Teguh mau menggendongku?" aku berusaha melucu. Biar gak tegang. Padahal aku masih merasa malu karena ketiduran tadi.


"Kuat dong. Mau dicoba?" ledek mas Teguh sambil menatapku. Lalu tertawa ngakak.

__ADS_1


Aku segera membuka pintu mobil. Dan berjalan masuk ke rumah mertuaku. Bi Yati yang sudah menungguku di teras, membantu mas Teguh membawa koperku ke kamarku.


Di kamar, aku melihat mas Arka sudah tertidur. Pulas sekali tidurnya, sampai aku mendengar dengkurannya.


Tak biasanya mas Arka tidur sepulas ini. Biasanya dia tidur sering mengigau gak jelas. Atau meringik lirih seperti mau menangis.


Mungkin dia merasa nyaman berada di rumah orang tuanya sendiri.


Bi Yati dan mas Teguh masuk ke kamarku. Meletakan tas dan koperku. Bi Yati segera kembali keluar, sementara mas Teguh masih berada di kamarku.


"Arka sudah tidur?" tanya mas Teguh.


"Sudah, Mas. Kayaknya dia tertidur dari tadi. Pulas sekali tidurnya" jawabku.


"Syukurlah. Mungkin dia kecapean. Kamu juga istirahat, Dek. Beres-beres bajunya besok pagi aja. Minta dibantu bi Yati. Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku, ya?" ujar mas Teguh.


Aku mengangguk. Tak punya tenaga lagi untuk bicara. Lalu mas Teguh keluar dari kamarku. Aku dengar mas Teguh berbicara, sepertinya dengan bi Yati.


Samar-samar aku dengar mas Teguh menyuruh bi Yati jangan lupa mengunci semua pintu, termasuk pintu gerbang.


Kejadian demi kejadian di rumahku membuat aku jadi trauma. Karena kelalaianku, aku jadi gak punya apa-apa lagi.


Jam Lima pagi, aku terbangun. Aku lirik sebelahku, mas Arka juga sudah terbangun. Aku memiringkan tubuhku.


Aku segera beranjak dari tempat tidurku. Ambil air wudhu lalu sholat subuh. Melaksanakan kewajiban yang seringkali aku tinggalkan.


Selesai sholat subuh, aku pergi ke dapur. Aku lihat bi Yati sedang membersihkan dapur.


"Eh Bu Aryani, udah bangun?" tanya bi Yati.


"Udah bi. Hari ini mau masak apa, Bi? Kayaknya banyak bahan masakan?" tanyaku melihat banyaknya bahan-bahan masakan.


"Terserah ibu. Saya sih nurut aja. Oh iya, ini ada belanjaan dari mas Teguh. Dan itu ada sayur mayur dari tetangga. Ada juga yang kasih singkong dan ubi" jawab bi Yati.


"Masak secukupnya aja, Bi. Nanti malam masih ada acara tahlil kan?"


"Masih, Bu. Sampai tujuh hari. Kalau soal makanan tahlil, nanti saya di bantu ibu-ibu di sini. Bapak-bapaknya juga akan membantu nyiapin tempatnya. Jadi bu Aryani santai aja. Perutnya kan udah besar banget, pasti berat kan?" ujar bi Yati.


"Iya, Bi. Makasih ya sudah membantu semuanya" ucapku.


"Iya, Bu. Sama-sama. Ibu masih mau tinggal di sini dulu toh? Sampai melahirkan saja, Bu. Biar banyak yang membantu. Kalau di komplek, gak ada yang mau peduli. Nanti ibu malah kerepotan sendiri." ujar bi Yati lagi.


Lalu aku duduk di kursi makan, melihat bi Yati menyiapkan sarapan pagi buat aku dan mas Arka.

__ADS_1


Hari-hariku terasa makin sepi. Satu per satu orang-orang terdekatku pergi untuk selama-lamanya. Aku hanya tinggal berdua dengan mas Arka. Itu pun dengan kondisinya yang sangat memprihatinkan.


Tengah aku melamun, mas Teguh muncul dari pintu belakang. Pintu belakang rumah ibu memang selalu terbuka.


Biasanya para tetangga yang ada perlu dengan ibu, akan lewat pintu belakang. Pintu depan hanya untuk tamu yang jauh.


"Pagi, Dek. Udah bangun?" sapa mas Teguh.


"Udah dong. Nih udag duduk" jawabku.


"Belum sarapan kan?"


Aku menggeleng.


"Nih, aku bawakan bubur ayam. Nah yang ini buat Arka. Tak pakai apa-apa kan?" Mas Teguh membuka tas kreseknya dan mengeluarkan isinya satu per satu.


"Bi! Nih buat bi Yati satu" ucap mas Teguh sambil memberikan satu kotak bubur ayam untuk bi Yati.


"Wah, saya dapat jatah juga. Alhamdulillah" ucap bi Yati.


"Iya lah bi. Saya juga tadi belinya banyak. Yuk kita makan, Dek. Mumpung masih hangat" Lalu mas Teguh membukakan satu kotak untukku.


"Biar saya buka sendiri, Mas" ucapku.


Tapi terlambat, mas Teguh sudah menyiapkannya untukku. Bi Yati juga dengan sigap menyiapkan sendok untuk kami.


"Nanti siapa yang akan memandikan Arka?" tanya mas Teguh.


"Aku lah, Mas. Nanti biar dibantu bi Yati, ngangkatnya" jawabku.


"Oke, nanti aku bantu juga gak apa-apa. Aku kerjanya agak siangan kok" ucap mas Teguh sambil menyuapkan bubur ke mulutnya.


"Dek, nanti sore aku mau bicara serius sama kamu, ya?" ucap mas Teguh lagi.


"Bicara serius apa, Mas?" tanyaku bingung. Karena aku merasa tak ada yang perlu dibicarakan dengan serius.


"Nanti sore aja. Kalau pekerjaanku udah selesai. Biar lebih santai bicaranya" jawab mas Teguh.


"Oke. Tapi kita bicaranya di sini kan?" tanyaku lagi.


"Gimana kalau kita bicaranya di saung saja? Di sana lebih hening. Jadi enak bicaranya" jawab mas Teguh.


Bicara serius apa ya, sampai mas Teguh mengajak ke saung? Kayak mau nge-date aja.

__ADS_1


__ADS_2