
Aku mengalah, memilih pakaian yang lain di lemariku. Hmm, pegawai yang aneh. Batinku.
Setelah menemukan pakaian yang cocok, aku menyuruh Bima menunggu di luar. Dia keluar kamarku dengan muka ditekuk lagi. Ngambek lagi deh.
Biarinlah. Masa iya dia melihatku berganti pakaian. Aku juga gak semurahan itu. Cukup kejadian siang itu saja. Saat aku begitu menikmati...ciumannya.
Setelah siap, aku berpamitan pada mas Arka. Aku cium tangannya. Karena kalau mencium bibirnya, jaraknya terlalu jauh. Bima merebahkan mas Arka agak ke tengah tempat tidur.
Lalu aku keluar menuju mobil. Bima sudah ada di depan mobil. Dia membukakan pintu depan samping supir untukku.
Aku duduk di depan, berarti Bima udah gak ngambek lagi, pikirku. Setelah dia juga masuk ke dalam mobil, Bima memasangkan seatbelt-ku. Dengan hati-hati dia memasangkannya. Takut terlalu kencang dan akan membuat sakit perutku.
Mobil melaju perlahan. Kami masih saling diam. Sesekali Bima melirik ke arahku. Aku pura-pura gak tau aja.
Aku asik dengan ponselku. Membaca komen teman-teman di grup sekolahku. Teman SMP. Kalau teman SMA, aku tidak di masukan ke grupnya.
Mungkin mereka pikir, aku masih jadi orang kere. Makanya mereka tak mau berteman denganku. Lagi pula, aku tak banyak mengenal mereka. Dan mereka pun jarang yang mengenalku.
"Chat sama siapa?" tanya Bima. Aku menoleh ke arahnya.
"Teman sekolah" jawabku singkat.
"Oh. Teman spesial?" tanyanya lagi. Aku menoleh lagi. Mukanya datar. Tak ada ekspresi. Aku cuma tersenyum.
Tiba-tiba aku pingin ngisengin Bima. Aku akan pura-pura chat dengan seseorang yang spesial. Aku pingin tau reaksinya.
Aku masuk lagi ke grup sekolahku. Aku ikutan komen. Karena memang banyak yang komenannya lucu, aku jadi senyam senyum sendiri.
Aku melirik ke arah Bima. Wajahnya semakin memerah. Dia menggenggam setir dengan kencang. Kelihatan menahan kesal. Aku tertawa dalam hati.
Aku makin asik membalas komen teman-teman grup. Dan aku semakin tertawa. Bukan cuma menertawakan komenan teman-temanku. Tapi juga menertawakan reaksi Bima.
Pas di lampu merah, Bima menghentikan mobilnya. Dia melihat ke arahku. Dan tiba-tiba dia mengambil ponselku, mematikannya. Lalu menyerahkan lagi padaku.
__ADS_1
Aku semakin kepingin ketawa. Ini orang kenapa jadi kesal? Dia kan cuma pegawaiku. Gak sopan banget. Aku kepingin memarahinya kayak tadi, tapi nanti dia ngambek lagi. Bisa di tinggal di jalan aku.
"Kenapa?" tanyaku. Pura-pura gak suka dengan sikapnya tadi.
"Gak apa-apa" jawabnya datar. Lalu melajukan mobil lagi.
Suasana hening lagi. Aku menyalakan musik, daripada sepi. Musik mengalun. Aku ikut bersenandung pelan.
Jujur aja sejak kehadiran Bima, cukup menghiburku. Dia bisa jadi teman yang baik buatku. Dia selalu mengantar aku kemanapun aku pergi. Pokoknya dia selalu ready.
Tapi aku gak menyangka, kalau kedekatan kita punya arti tersendiri buat dia. Dia jadi 'menyukaiku'.
Kalau aku, sebenarnya biasa-biasa aja. Waktu itu hanya karena aku terbawa suasana aja. Dan pas saat hasratku sedang memuncak. Boleh di bilang khilaf. Dosa terindah. Kayak judul lagu pop.
Sampai di supermarket, Bima segera turun dari mobil. Dan berjalan memutar. Membukakan pintu untukku, setelah aku melepas seatbelt-ku.
Lalu dia menggandengku masuk ke dalam supermarket. Aku menepiskan tanganku pelan. Gak enak kalau ada tetangga yang kebetulan melihat.
Bima mengambil troly. Lalu berjalan mengikutiku. Sambil membaca catatan belanjaan dari bi Yati, aku berkeliling mencari semuanya.
Bima hanya menggeleng. Mungkin dia tau, kalau keuanganku sedang tidak baik. Karena suamiku tak bisa lagi bekerja.
Bima memang orang yang baik. Tidak pernah mau memanfaatkan orang lain. Dia juga jujur. Gak pernah mengambil apapun di rumahku. Padahal dia sering keluar masuk kamarku. Tak pernah aku kehilangan barang atau uang se-sen pun. Semua utuh di tempatnya.
Selesai belanja, aku mengajak Bima makan di sebuah kedai bakso. Di samping supermarket.
Bima sangat perhatian padaku. Dia memperlakukan aku, seperti aku ini istrinya. Meladeni aku dengan sabar. Persis mas Arka sebelum sakit.
Aku merasa seperti pergi dengan suamiku sendiri. Apa-apa di ladeni.
Di seberang mejaku, ada seorang laki-laki menatap ke arahku. Aku yang merasa ditatap, menatapnya juga. Rupanya Bima tau, dia langsung ikut menatap laki-laki itu dengan mata elangnya.
Jleb.
__ADS_1
Laki-laki itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Aku menoleh ke arah Bima. Bima malah merangkul bahuku. Aku berusaha melepaskannya.
"Biar gak ada yang melihatmu lagi" ucap Bima pelan.
"Biarin ajalah, mata juga mata mereka sendiri" ucapku santai. Bima melotot ke arahku.
"Gak boleh!" ucap Bima dengan sangat ketus. Busyet ini orang galak amat. Suamiku aja gak begini-begini amat.
Mas Arka memberi kebebasan padaku. Penampilanku, pakaianku, dia jarang komplain. Kecuali aku salah kostum.
Di tempat umumpun dia bersikap biasa aja. Sewajarnya saja. Karena dia sangat percaya padaku.
Sangat berbeda dengan Bima. Dia sangat protektif padaku. Mulai dari makananku, pakaianku sampai gerakanku aja sering di protesnya.
Jangan begini. Gak boleh begitu. Kasihan bayimu. Nanti perutmu sakit. Nanti kakimu kram. Dan segala macam larangan lainnya.
Memang sih, semua demi kebaikanku. Demi kebaikan calon anakku juga. Tapi kadang bikin aku kesal. Atau malah sebaliknya, aku yang akan membuatnya kesal.
Selesai makan aku yang sudah capek, memilih pulang. Tak lupa aku membelikan satu bungkus untuk bi Yati di rumah. Kasihan dia menjaga mas Arka selama aku pergi.
Bima menggandengku. Aku coba tepiskan tangannya, tapi dia menggenggamnya sangat erat. Aku melengos kesal. Dan berjalan lebih cepat agar segera sampai ke mobil.
"Jangan cepat-cepat jalannya. Nanti kesandung" udah berasa kayak anak kecil aja.
Sampai di mobil, aku yang pasang muka jutek. Malas aku bicara sama orang yang bawel.Aku diam saja sepanjang perjalanan. Bahkan memilih tidur.
Sampai di depan rumah, Bima membangunkan aku. Saat aku membuka mataku, aku melihat wajahnya sangat dekat dengan wajahku.
Aku mencoba menepiskan wajahnya dengan tanganku, agar menjauh. Tapi dia menahan tanganku. Dan ciumannya kembali mendarat di bibirku, hingga kami kehabisan nafas.
Begitu ciumannya terlepas, aku segera membuka pintu mobil. Tapi ternyata Bima belum membuka sentralock-nya.
Akupun pasrah. Menunggunya yang membukakan pintu untukku. Lalu mendengarkan ocehannya lagi.
__ADS_1
"Jalannya pelan-pelan aja. Tadi katanya kakimu sakit. Apa aku gendong aja?" Gila aja main gendong-gendongan. Yang ada jatuh bareng karena perutku semakin membesar.
Melihat bi Yati yang berjalan keluar, aku bergegas menuju ke kamarku. Aku kangen suamiku.