SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 155 HARTA KARUN


__ADS_3

Sampai malam, tak ada tanda-tanda Aryaka minta kembali ke rumah Sarah. Dia malah terlihat betah meski hanya bisa bermain di ruangan sempit rumahku.


Mungkin karena mas Arka selalu bersamanya. Hampir tak sedetikpun dia meninggalkan Aryaka. Paling kalau dia ke kamar mandi saja.


"Ar, nanti malam kita tidur bertiga, ya?" pinta mas Arka.


"Iya, Mas. Tapi tempat tidurnya kecil. Apa muat?" tanyaku.


"Mm. Sebentar." Mas Arka masuk ke kamar depan. Lalu dia punya ide untuk membongkar tempat tidur kuno yang dulu dipakai orang tuaku. Kalau di kamarku, jelas enggak mungkin. Karena tempat tidurku springbed. Akan lebih susah membongkarnya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya mas Arka. Dia tak berani lancang, apalagi itu kan tempat tidur almarhum orang tuaku.


Demi Aryaka, aku menyetujui ide mas Arka. Biar kami bisa tidur dengan aman dan nyaman tentunya.


"Oke. Kamu jagain Aryaka aja. Biar aku yang membongkarnya," ucap mas Arka.


"Memang kamu bisa sendirian?" Aku khawatir mas Arka tak kuat. Karena setahuku, kayunya jati.


"Bisa. Tenang aja. Kamu jaga Aryaka biar enggak ke sini dulu. Bahaya kalau ada pakunya," sahut mas Arka.


"Iya, Mas." Aku kembali ke ruang tamu. Menemani anakku bermain.


"Ar! Aryani!" seru mas Arka.


Aku terkejut dan langsung berfikiran yang enggak-enggak. Jangan-jangan mas Arka kenapa-napa.


"Iya, Mas." Aku langsung berlari meninggalkan Aryaka.


"Ada apa, Mas?" tanyaku dengan nafas memburu.


"Kamu menyimpan kotak ini?" Mas Arka memperlihatkan sebuah kotak.


"Enggak. Kotak apa ini, Mas?" Aku mendekati mas Arka dan melihat lebih jelas kotak itu.


Mas Arka menggelengkan kepala. Lalu menyerahkan kotak itu padaku.


Mas Arka memang orang yang sangat sopan dan baik. Dia tak akan membuka atau mengambil sesuatu yang bukan miliknya.


Aku menerimanya. Dan melihat kotak itu dengan seksama. Kotak itu terkunci dengan gembok kecil.


"Apa mungkin ini milik orang tuaku?" tanyaku pelan.


"Bisa jadi. Apa selama ini kamu tak pernah melihatnya?" tanya mas Arka.


Aku menggeleng.

__ADS_1


"Sejak kedua orang tuaku meninggal, aku tak pernah merubah apapun yang ada di kamar ini, Mas. Paling hanya membersihkannya saja. Dimana kamu menemukannya?" tanyaku.


"Di pojok sana. Bisa jadi saat kamu membersihkan kolongnya, kotak ini semakin terdorong hingga sampai ke pojok," sahut mas Arka.


"Iya, Mas. Aku sering mengepel lantainya. Tapi tak pernah sampai ke dalam sana," ucapku.


"Ya sudah. Simpan saja dulu. Nanti kalau kamar ini sudah bersih, kita buka bareng-bareng. Siapa tahu nanti ketemu kuncinya." Mas Arka membawa keluar kayu-kayu yang sudah berhasil dia bongkar.


"Taruh di dapur saja, Mas. Di bawah tempat kompor masih ada tempat kosong."


Mas Arka menyingkirkan dulu barang-barang yang ada di bawah kompor. Lalu meletakan kayu-kayu itu di sana.


"Mas. Biar aku yang membersihkan kamarnya. Kamu istirahat dulu saja." Aku menyiapkan sapu dan tongkat pel.


Aku khawatir kalau tenaga mas Arka belum terlalu kuat pasca dia sakit. Wajahnya menunjukan kelelahan.


"Ya sudah. Aku istirahat dulu ya." Mas Arka berjalan ke ruang tamu dan menemani Aryaka yang masih anteng dengan buku-buku bekasku. Dia sangat antusias mencoret-coretnya.


Aku jadi ingat, sudah lama sekali mas Arka tidak memeriksakan kondisinya ke dokter. Keadaan ekonomi kami yang tidak memungkinkan.


Meski kami memiliki BPJS, tapi untuk memerikasakan diri ke rumah sakit, butuh banyak biaya juga untuk transportasinya.


Belum lagi BPJS kami belum sempat aku bayarkan beberapa bulan. Jangankan untuk membayar tagihan BPJS, untuk kebutuhan sehari-hari saja masih kurang.


Di kamar hanya ada lemari pakaian kedua orang tuaku, yang nyaris tak pernah aku buka-buka.


Tiba-tiba aku pun punya ide untuk membongkar isinya.


"Mas, bagaimana kalau aku bongkar isi lemari orang tuaku? Nanti aku rapikan lagi." Meski ini lemari kedua orang tuaku, aku ijin dulu pada suamiku.


"Nanti saja. Ini Ayaka udah ngantuk. Kita tidurkan di kamarmu saja dulu. Kalau kamar depan udah rapi, baru kita pindahin," sahut mas Arka.


"Iya, Mas. Aku cuci tangan dulu."


Mas Arka malah menggendong Aryaka yang sudah lowbath, ke kamarku. Lalu setelah selesai cuci tangan, aku menyusul mereka.


Mas Arka membaringkan Aryaka, dan dia pun ikut berbaring. Mas Arka membelai kepala Aryaka dengan lembut. Lalu mengecupnya.


Dia menepuk-nepuk punggung Aryaka perlahan. Aryaka menghadap ke arahnya.


Mereka terlihat sangat nyaman. Aku tak berani mengganggu. Jadi aku memilih membereskan mainan Aryaka. Sekalian membereskan ruang tamu yang berantakan.


Sampai aku selesai, mas Arka tak juga keluar. Aku menajamkan pendengaranku, tak ada suara apapun.


Aku masuk ke kamarku, dan ternyata mereka berdua sudah terlelap saling berpelukan.

__ADS_1


Ya sudah, aku bongkar lemari orang tuaku sendiri saja. Lagi pula aku belum mengantuk.


Aku mulai dari bagian atas. Aku keluarkan tumpukan pakaian ayahku yang sudah terlihat usang dimakan waktu.


Lalu aku lipat kembali dan meletakannya dengan rapi. Ada kerinduan pada ayah. Dia orang yang sangat menyayangiku. Bahkan kalau boleh membandingkan, lebih sayang ayah dari pada ibu kepadaku.


Tapi aku tak boleh membandingkannya. Bagiku, ibu adalah seorang perempuan yang hebat. Rela melakukan apa saja buat menambah pendapatan ayah yang tak seberapa.


Lalu aku membongkar bagian di bawahnya. Tumpukan pakaian ibu. Aku mengeluarkan semuanya seperti tadi.


Kling! Sebuah kunci kecil, jatuh diantara tumpukan pakaian ibu. Aku mengambilnya. Apa ini kunci yang sedang aku cari?


"Kunci apa itu, Ar?" tanya mas Arka tiba-tiba. Hampir saja aku teriak saking kagetnya.


"E....enggak tahu, Mas. Mungkin kunci kotak itu," jawabku.


"Ya sudah, simpan dulu. Nanti kalau sudah selesai semua, kita coba kuncinya," ucap mas Arka.


Aku kembali melipat semua pakaian ibu.


"Bagaimana dengan barang-barang pribadi kedua orang tuaku, ya? Aku jadi kepikiran, Ar," ucap mas Arka.


Aku menatap wajah mas Arka. Ada raut kesedihan di sana. Dia telah kehilangan segalanya.


Selesai membereskan isi lemari dan memasang kasur di lantai, aku menyerahkan kunci tadi pada mas Arka.


"Kamu saja yang membukanya. Kamu yang lebih berhak," tolak mas Arka.


Ya sudah, aku membukanya. Tapi dihadapan mas Arka. Karena jujur, aku merasa khawatir dengan isi kotak itu.


Setelah membaca basmalah, aku mulai memasukan anak kunci itu. Dan ternyata pas. Itu adalah kuncinya.


Di dalam kotak, aku melihat sebuah BPKB motor. Itu motor yang hancur saat kedua orang tuaku kecelakaan.


Dan ada sebuah sertipikat. Sertipikat rumah ini. Rupanya ibu menyimpannya jadi satu di dalam kotak ini.


Dan di dalam kotak itu, ada sebuah dompet kecil. Saat aku buka, mataku langsung melotot.


Isinya perhiasan emas yang cukup banyak. Entah milik siapa. Setahuku, ibuku tak pernah memakainya. Atau aku yang tak memperhatikannya?


Dan satu lagi. Buku rekenening bank. Aku membukanya. Saldonya lumayan banyak juga.


"Ini harta peninggalan kedua orang tuamu, Ar. Simpan saja untuk kenang-kenangan. Kalau uang yang di bank, kamu bisa mengambilnya. Gunakan untuk keperluanmu dan Aryaka," ucap mas Arka.


Tak kusangka, kedua orang tuaku meninggalkan harta yang tidak sedikit.

__ADS_1


__ADS_2