SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 52 SEMUA RAIB


__ADS_3

Aku membuka mataku. Aku lihat di sekelilingku. Aku ada di ruang tamu rumahku. Aku terbaring di sofa yang panjang.


Aku melihat ada seorang satpam duduk di sofa lain. Aku mencoba beranjak dan duduk. Dengan berpegangan pada pinggiran sofa, aku bisa duduk.


Aku rapikan sebentar rambut dan pakaianku. Entah siapa yang memindahkan aku di sini. Yang aku ingat, terakhir tadi aku duduk di kursi teras, lalu tiba-tiba badanku lemas. Dan gelap.


"Ibu sudah sadar?" tanya pak Satpam. Lalu memberikan aku segelas air putih. Aku meraihnya dan meneguknya hingga tandas.Aku merasa sangat haus dan lapar.


Aku lihat jam di dinding, jam sebelas siang. Apa aku pingsan selama ini? Hampir tiga jam.


Tak ada siapa pun kecuali seorang Satpam komplek ini. Aku memegangi kepalaku. Pusing sekali rasanya.


"Bu, maaf tadi kami sudah memeriksa semua ruangan di rumah ini. Tak ada kerusakan di pintu masuk rumah. Kelihatannya Ibu memang lupa mengunci pintunya. Kalau kehilangan, kami belum tau. Yang kami tau hanya lemari pakaian di dalam kamar bapak pintu dan lacinya terbuka dan pakaiannya berantakan" ucap pak Satpam.


"Semua sudah diidentifikasi oleh Polisi. Tadi kami memanggil beberapa Polisi kemari. Karena Ibu belum juga sadar, maka Polisi pamit pulang. Kalau Ibu ingin membuat laporan, nanti bisa saya antarkan ke kantor Polisi" lanjutnya.


"Baiklah, Bu. Saya kembali dulu ke pos jaga. Kalau ada perlu apa-apa, Ibu bisa hubungi saya. Ibu masih menyimpan nomor hape saya kan?" tanya pak Satpam.


Aku mengangkat wajahku. Menatap pak Satpam dengan tatapan nanar.


"Hape saya juga ilang, Pak" ucapku lemah.


"Astaghfirullah...nanti bisa Ibu laporkan juga di kantor Polisi, Bu. Saya pamit dulu. Assalamualaikum." Lalu pak Satpam berlalu keluar dari rumahku.


Aku masih tercenung di tempatku duduk. Kenapa aku bisa seceroboh ini? Sampai lupa mengunci pintu rumah.


Dan kenapa aku sampai tak mendengar ada orang masuk ke rumahku? Sementara semalam sepi tak ada suara apapun.


Aku berdiri melangkah perlahan ke arah kamarku. Aku melihat mas Arka masih pada posisinya. Berbaring di tempat tidur.


Matanya terbuka lebar. Pakaiannya belum juga diganti. Itu artinya belum ada yang membersihkannya.


Bau menyengat keluar dari tubuhnya. Aku perhatikan sprei di sekitar bagian bawah tubuhnya basah. Bisa dìpastikan diapersnya sudah meluber.

__ADS_1


Aku menghela nafasku. Aku kuatkan hatiku. Agar tak terbawa suasana. Agar aku bisa menahan air mataku, yang seakan memaksa keluar.


Perlahan aku lepas pakaian mas Arka satu per satu. Aku buka diapersnya. Aku bersihkan kotorannya yang sudah berantakan di diapersnya.


Aku gulingkan dia kesamping, agar aku bisa mengambil sprei yang basah oleh ompolnya dan kotorannya yang sudah menembus ke kasur.


Aku benar-benar menguatkan diriku. Menguatkan hatiku. Air mata yang aku tahan dari tadi, keluar juga perlahan. Dengan punggung telapak tanganku, aku menghapusnya. Berkali-kali. Karena berkali-kali juga air mataku keluar. Setiap kali aku menghapusnya, saat itu juga air mataku keluar tak terbendung.


Tak aku hiraukan suara perutku yang memanggil-manggil minta diisi. Aku ingin mas Arka rapi dulu.


Aku mencari diapersnya di tempat biasanya aku simpan. Tak ada satu pun. Hanya tinggal bungkusnya.


Aku berjalan ke dapur, ke tempat bi Yati biasa menyimpan belanjaanku. Tak ada juga. Semua sudah tertata rapi. Tapi tak ada satu pun diapers.


Belum putus asa, aku mencoba mencarinya di lemari televisi. Siapa tau Bima menyimpannya di sana. Tak ada juga.


Aku bongkar semua lemari. Termasuk kamar yang di gunakan Bima. Tak ada satu pun aku temukan.


Aku duduk kelelahan di sofa ruang tengah. Aku hapus lagi air mataku. Ingin rasanya aku teriak. Aku harus minta tolong siapa?


Aku kembali ke kamarku. Aku pakaikan mas Arka celana pendek, tanpa diapers. Resikonya nanti ompol dan kotorannya akan berantakan lagi. Tapi tak mungkin juga aku biarkan mas Arka tanpa celana.


Aku berjalan ke dapur. Mencari bahan makanan yang bisa aku olah untuk makanku dan mas Arka. Tak banyak, tapi lumayanlah buat makan kami hari ini.


Setelah makan, aku isi perutku dulu. Biar aku punya tenaga untuk menyuapi mas Arka.


Selesai makan, aku siapkan makan dan minum untuk mas Arka. Aku membawanya ke kamarku.


Saat aku mau mengangkat punggung mas Arka dan mengganjalnya dengan bantal, aku lihat bagian bawahnya sudah basah lagi.


Aku menatapnya dengan mata nanar. Aku harus mengganti celananya lagi. Aku harus mengganti spreinya lagi.


Kalau aku pindahkan mas Arka ke tempat tidur kecil, aku tak kuat memindahkannya. Aku hanya bisa menangis, menangisi ketidak berdayaanku.

__ADS_1


Tak ada uang. Tak ada hape. Aku tak bisa menghubungi siapa pun.


Aku kuatkan lagi hatiku. Aku lepas kembali celana mas Arka. Menggantinya dan mengganti sprei. Menutup kasur yang basah dengan sprei yang aku lipat-lipat agar tak tembus.


Kenapa aku tak pernah berfikir membeli perlak, untuk alas kasur? Karena selama ini aku selalu mengandalkan Bima. Jadi aku lupa memikirkan kebutuhan suamiku.


Bima...kenapa juga dia tak datang hari ini? Bukankan dia sudah janji akan datang pagi tadi.


Bagaimana aku menghubunginya, sementara aku tak punya hape lagi? Atau mungkin Bima sudah mengabariku?


Aku hanya bisa terdiam, meredam tangisku. Sambil perlahan aku suapi mas Arka.


"Mas, ayo sembuh dong. Kamu lihat kan keadaanku sekarang? Kamu tak kasihan sama aku, Mas? Aku tak bisa berbuat apa-apa. Semuanya hilang, Mas" ucapku sambil terus menyuapinya.


Aku merasakan ada yang menarik sprei. Aku melihat tangan mas Arka menggenggam dan menarik sedikit sprei.


Iya, dia bergerak lagi. Sedikit. Sebentar. Hanya sebentar.


"Ayo gerakan lagi tanganmu, Mas! Kamu kuat! Kamu bisa! Lakukan lagi, Mas!"


Aku terus saja berceloteh memberikan semangat pada mas Arka, dengan air mata berlinang-linang.


Tapi gerakannya terhenti. Tangannya yang menggenggam sprei, tetap saja seperti itu. Tetap pada posisi menggenggam. Tapi tak sekuat tadi.


"Mana kekuatanmu, Mas. Keluarkan tenagamu!" Aku terus saja berceloteh. Berharap ada lagi gerakan dari tangan mas Arka.


Sampai selesai makan pun, tangan itu tak lagi bergerak. Tatapan matanya masih kosong.


Aku memberinya minum dan membantunya meminum obatnya. Aku lihat obatnya pun hanya tersisa sedikit.


Biasanya Bima yang akan membelikannya di apotek. Tapi sekarang? Dengan apa aku akan membelinya?


Mau ke rumah ibu mertuaku, meminta tolong pun gak bisa. Mau naik apa?

__ADS_1


Aku membongkar seisi kamarku. Di saku-saku bajuku. Siapa tau ada uang sedikit yang bisa aku gunakan membayar angkot ke rumah ibu mertuaku.


Tapi tak ada uang sama sekali. Hanya beberapa koin ribuan, yang jelas gak akan cukup untuk membayar dua kali angkot.


__ADS_2