
Seperti janjinya pagi tadi, sore ini mas Teguh mengajakku pergi ke saung. Sebenarnya saung ini letaknya tak jauh dari rumah mertuaku.
Saung ini juga milik keluarga mas Arka. Letaknya ada di pinggiran desa, di dekat area persawahan. Suasananya lebih hening, karena jarang orang lewat di situ.
Kami ke sana hanya berjalan kaki. Udara sore dan matahari yang mulai berjalan ke arah barat, membuat cuaca tak lagi panas.
Sejuk, walau pun tak sesejuk hawa pegunungan. Kami terus berjalan menyusuri jalanan kampung. Sesuatu yang belum pernah aku lakukan dengan mas Arka.
Karena sebelum sakit, mas Arka orang yang sibuk. Dia sangat gila kerja. Hingga hampir tak ada waktu untuk sekedar berjalan kaki menikmati pemandangan di kampungnya.
Lima belas menit kami berjalan, sampailah kami di saung itu. Tempat yang menurutku sangat indah. Matahari yang mulai condong ke barat, sangat terlihat jelas dari sini.
Warna jingganya benar-benar membuat aku terpana. Sudah lama sekali aku tak menikmati alam dengan semua keindahannya.
Terakhir aku melihatnya saat kami pergi ke Jogja. Itu saja cuma sebentar. Setelah itu, mas Arka sibuk lagi dengan pekerjaannya dan aku pun hanya berdiam diri di rumah.
"Indah banget pemandangannya, Mas." ucapku kagum.
"Ya, disini kalau pas tidak hujan, pemandangannya sangat indah. Lebih indah lagi setelah hujan. Akan muncul pelangi yang akan terlihat jelas dari sini" jelas mas Teguh.
"Mas Teguh sering ke sini?" tanyaku.
"Iya. Terutama setelah istriku meninggal. Aku sering menikmati kesendirianku di sini. Menatap langit jingga. Bahkan kadang sampai malam. Menikmati cahaya bulan yang temaram. Menikmati indahnya taburan bintang-bintang" jawab mas Teguh.
Dia mengambil posisi duduk di ujung saung. Aku duduk di sebelahnya, menatap lurus ke depan. Ke batas cakrawala.
"Arka belum pernah mengajakmu ke sini?" tanya mas Teguh. Aku menggeleng.
"Mungkin karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya" ucap mas Teguh. Aku mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Aku pun dulu begitu, Dek. Saat istriku masih ada, masih menemaniku, aku malah terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Dengan alasan klasik, untuk membahagiakan istri. Sampai aku melupakan saat-saat berdua seperti ini. Seperti saat kami masih berpacaran dulu."
"Momen-momen indah hilang begitu saja di telan keegoisanku. Aku lebih banyak menggauli pekerjaanku dari pada menggauli istriku sendiri. Aku lebih mengenali pekerjaanku dari pada istriku."
"Sesal itu datang di saat dia pergi untuk selama-lamanya. Menyesal karena kami tak punya kenangan lagi. Tak punya momen-momen istimewa. Tak punya waktu yang kami habiskan berdua."
"Hampir seluruh waktuku habis untuk pekerjaanku. Bahkan di saat-saat berdua pun, istriku akan mengalah jika ada urusan pekerjaan. Aku lebih mementingkan pekerjaanku dari pada istriku."
"Maaf, Dek. Aku jadi melow begini. Aku hanya sedang menyesali kebodohanku saja. Yang telah menyia-nyiakan kehadiran orang yang selalu setia menemaniku. Yang begitu sabar menghadapi keegoisanku."
Mas Teguh terus saja menatap ke depan. Seolah pandangannya bisa menembus batas cakrawala itu.
"Semua sudah berlalu Mas. Tak ada lagi yang perlu disesali" ucapku. Mas Teguh hanya mengangguk.
"Oke, aku akan mulai membicarakan hal penting seperti yang aku janjikan tadi pagi." Mas Teguh mulai dengan keseriusannya. Aku pun berusaha mendengarkan dengan serius juga.
"Jadi begini, Dek. Mertuamu meninggalkan banyak harta di sini. Dari aku mulai dewasa, Bapak mertuamu mempercayakan aku untuk mengelolanya. Karena Arka sebagai anak satu-satunya lebih memilih kariernya sendiri."
Aku mengernyitkan dahiku. Maksudnya apa ini?
"Aku kan sudah lama mengelola semua itu, Dek. Bukannya capek atau bosan. Tapi aku juga kepingin fokus pada diriku sendiri. Pada pekerjaanku sendiri. Aku juga tak mau ada omongan dari orang lain, kalau aku dianggap ingin menguasai semua harta peninggalan mertuamu."
" Orang kan tau kondisi Arka yang sudah tak mampu bekerja. Tak bisa berbuat apa-apa. Makanya aku serahkan semuanya padamu, Dek" ucap mas Teguh.
"Mas, sebaiknya semuanya tetap mas Teguh yang pegang. Sampai suatu saat nanti mas Arka sehat kembali dan bisa bekerja lagi. Kalau aku, aku tak punya kemampuan mengelolanya. Aku juga tak punya waktu. Karena aku sedang menanti kelahiran anakku, Mas." jawabku.
Mas Teguh menatapku tajam. Seakan meminta kepastian. Aku mengangguk, paham akan keraguannya.
"Baiklah kalau itu mau kamu, Dek. Aku akan tetap mengelolanya sampai Arka sehat lagi. Kalian tetaplah tinggal di rumah itu. Nanti semua kebutuhan kalian, aku yang akan menghandle-nya. Termasuk juga mencarikan perawat baru untuk Arka."
__ADS_1
"Karena kamu kan tak mungkin melakukannya sendiri. Kasihan kamu, bayimu dan juga Arka sendiri. Kamu tinggal hitung berapa kebutuhan kalian per bulannya. Nanti aku akan transfer sesuai kebutuhanmu."
"Itu semua dari uang sisa hasil usaha peninggalan mertuamu. Kamu tak usah ragu-ragu memintanya padaku. Karena itu semua hak kamu. Hak Arka."
"Aku hanya ditugaskan menjalankan usaha itu. Menjalankan amanah dari mertuamu. Semoga bisa berkah buat semuanya." jelas mas Teguh.
"Nanti setiap bulannya akan aku kirimkan laporan keuangannya. Dan jangan kaget juga, kalau di laporan keuangan itu, akan ada pengeluaran untuk zakat yang melebihi hitungan secara Islam." jelas mas Teguh lagi.
"Maksudnya?" tanyaku tak mengerti.
"Maksudnya, mertuamu sangat suka memberikan sodaqoh atau pun bantuan kepada warga tak mampu di daerah sini. Dan itu jumlahnya bisa sangat banyak. Tapi tidak setiap bulan sama banyaknya. Tergantung sikon saja kelihatannya".
"Aku sendiri juga tak pernah mau menanyakannya atau menghalanginya. Biarlah semua menjadi pahala buat mereka. Itu juga salah satu alasan, kenapa warga di sini sangat baik pada keluarga mertuamu. Karena mertuamu juga orang-orang yang sangat baik. Kamu bisa merasakannya kan?" tanya mas Teguh.
Aku mengangguk. Ya, semua warga di sini sangat baik pada kami. Sangat care pada keluarga mertuaku.
Sampai sekarang pun, saat mertuaku sudah tak ada semua, mereka masih sangat baik. Semua keperluan tahlil mereka siapkan.
Mulai dari makanan, minuman dan tempatnya pun mereka siapkan dengan bergotong royong.
"Mas, aku harap nanti pengeluaran untuk berbaginya jangan di hilangkan ya? Biarkan tetap ada. Biar jadi sodaqoh jariyahnya bapak dan ibu mertuaku." ucapku.
"Insyaa Allah aku tak akan menghilangkannya. Biar bisa berkah buat semuanya. Apalagi itu sudah atas ijinmu, sebagai penerus mereka" ujar mas Teguh.
"Harta kan gak akan dibawa mati, Mas. Kalau sodaqoh jariyah itu yang akan mengiringi langkah kita walau sudah di alam baka. Benar kan, Mas?"
"Pinter kamu, Dek" ucap mas Teguh sambil mengusak rambutku.
"Oh maaf, Dek" ucap mas Teguh. Mungkin dia pikir aku adalah adiknya sungguhan.
__ADS_1
Tapi aku tak menolak punya kakak seperti mas Teguh. Baik dan amanah. Dia terbuka soal harta peninggalan mertuaku yang bahkan aku sendiri pun tak pernah tau.
Sekarang setelah kedua mertuaku tak ada, dia serahkan semuanya padaku. Bersyukur sekali aku, bagai mendapatkan durian runtuh.