SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 104 AKU MEMBUTUHKANMU


__ADS_3

Akhirnya dengan bantuan seorang petugas dari kepolisian, aku bisa mendapatkan ponselku kembali.


Tas yang aku bawa waktu itu diamankan oleh pihak kepolisian.


Aku juga dapat informasi bahwa mas Teguh telah meninggal dunia. Aku sangat terkejut. Jangan-jangan mas Teguh meninggal gara-gara aku pukul kepalanya dengan vas bunga.


Pihak kepolisian banyak menanyakan tentang kejadian itu. Intinya aku di interogasi.


Aku menceritakan apa adanya, seingatku. Karena otakku juga agak berdenyut kalau berfikir terlalu keras.


"Apa hubungan ibu dengan korban?" Itu pertanyaan interogasi dari mereka yang pertama.


"Suami saya adik sepupunya, Pak. Dia dari kecil sudah diasuh oleh mertua saya" jawabku.


"Apa korban tinggal satu rumah dengan mertua ibu?"


"Setahu saya, dulu sebelum dia menikah memang tinggal di rumah itu. Tapi setelah menikah dia tinggal di rumah sendiri yang tak jauh dari rumah mertua saya."


"Lalu sejak kapan korban tinggal lagi di rumah mertua ibu?"


"Sejak saya dan suami saya pindah ke rumah itu" jawabku.


"Boleh tahu alasan ibu dan suami pindah ke rumah mertua? Atas inisiatif ibu dan suami ibu sendiri?"


Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dari pihak kepolisian yang ditujukan padaku.


Aku juga mendapat informasi tentang keadaan mas Arka. Dia dirawat tak jauh dari kamarku.


Kondisinya sangat memprihatinkan katanya. Kakinya semakin susah di gerakan.


Aku ingat saat mas Teguh menendang kaki mas Arka. Lalu menginjak kepalanya.


Semua itu aku ceritakan dengan detail. Meski ada kekhawatiran kalau nanti justru aku yang akan jadi tersangkanya.


"Ibu melihat saat korban menganiaya suami ibu?" Aku mengangguk.


"Lalu apa yang ibu lakukan?"


Aku mulai tegang untuk menceritakan apa yang telah aku lakukan. Tapi aku tidak bisa merahasiakannya juga.


"Saya...saya memukulnya dengan vas bunga yang kebetulan ada di dekat saya, Pak." Aku membuang pandanganku ke arah lain.


Bukan karena aku berbohong tapi aku teringat lagi dengan kejadian yang menakutkan itu.


Aku masih ingat bagaimana wajah mas Teguh saat berbalik lalu menyerangku. Bagaikan setan-setan di film horor, dia membenturkan kepalaku ke tembok sambil mencekikku.


Lalu menghempaskan tubuhku dengan kuat dan hampir menginjak kepalaku.

__ADS_1


Untung saja ada sekelebat bayangan yang memukulnya dari belakang.


"Ibu tahu siapa yang memukul korban?" Aku menggeleng.


Kondisiku yang sudah setengah sadar membuatku tak bisa melihat dengan jelas. Aku hanya bisa melihatnya berkelebat lalu dia memukul kepala mas Teguh.


Dan setelah itu mas Teguh jatuh tersungkur di dekatku. Bertepatan dengan aku yang sudah tidak kuat lagi membuka mata.


"Ibu punya gambaran siapa kira-kira pelakunya? Atau ada orang lain yang tinggal di rumah itu?"


Kalau tentang siapa pelakunya aku memang tak punya gambaran sama sekali. Karena aku tak mungkin mengatakan kalau itu adalah bi Yati.


Usia bi Yati yang sudah setengah abad lebih, rasanya tidak memungkinkan dia melakukan itu.


"Selain kami bertiga, ada seorang pembantu saya perempuan dan anak saya yang masih usia tujuh bulan, Pak. Justru itu yang mau saya tanyakan. Di mana mereka sekarang? Karena sejak saya pulang kerja, saya tak melihat atau mendengar suara mereka, Pak" sahutku panjang lebar.


Aku memang belum tahu keberadaan bi Yati dan anakku. Biasanya jam berapa pun aku pulang, bi Yati selalu keluar dari kamarnya.


Apalagi sejak peristiwa percobaan pemerkosaan itu. Bi Yati jadi lebih menjaga aku saat di rumah.


Sebenarnya aku ingin menghubungi Doni. Tapi aku tidak ingin nanti malah Doni dibawa-bawa.


"Ya sudah, Bu. Hari ini cukup sekian dulu. Besok pagi saya lanjutkan kembali. Biar ibu bisa istirahat. Nanti saya akan cari informasi tentang keberadaan anak dan pembantu ibu."


"Iya, Pak. Terima kasih sebelumnya." Lalu dua orang tim penyelidik itu berpamitan.


Tapi tumben sekali Doni tidak menghubungiku. Biasanya pagi-pagi dia sudah mengirimkan pesan padaku.


Atau minimal siangnya dia langsung menelponku kalau pagi dia tak sempat mengirimkan pesan. Tapi ini malah hapenya tidak aktif.


Aku menelpon Sarah. Mungkin Sarah tahu dimana Doni berada.


"Halo, Sarah."


"Hay, Ar. Apa kabar? Wah mentang-mentang udah punya apartemen baru, lupa sama aku. Kapan-kapan ajak aku ke apartemenmu dong."


Darimana Sarah tahu tentang apartemen itu? Bukankah Doni yang bilang sendiri jangan sampai orang lain tahu?


"Tau darimana kamu, Sar?" tanyaku saking penasarannya.


"Doni lah. Siapa lagi? Doni bilang ke kamu jangan bilang ke orang-orang begitu, ya? Tapi Doni gak bakalan bisa kalau enggak bilang ke aku. Mungkin menurut Doni aku ini bukan orang kali."


Sarah tertawa ngakak. Begitulah Sarah. Kalau lagi kumat bawelnya, tukang obat di pasar saja kalah cerewetnya.


Aku biarkan saja dulu Sarah berceloteh tentang dirinya sendiri. Kasihan juga dia tidak punya teman curhat.


Setelah dia puas berceloteh, barulah aku bertanya tentang keberadaan Doni.

__ADS_1


"Lha, kamu pikir aku ini baby sitter-nya Doni?"


Lalu Sarah malah ngoceh lagi, tentang istrinya Doni. Katanya masih juga mencari Doni di kamar hotelnya.


"Sepertinya ada yang kasih tau, kalau kamu sering di kamarnya Doni, Ar."


Hm...kalau itu sih aku dan Doni sudah bisa meraba siapa orangnya. Makanya kita mencari tempat lain.


"Kamu tau siapa orangnya, Sar?" Aku pura-pura tidak tahu.


"Tau pasti sih enggak. Tapi bisalah meraba-raba siapa orangnya."


Lha, kenapa jawaban Sarah sama denganku? Jangan-jangan Doni juga yang cerita ke Sarah. Ya sudahlah. Memang mereka sahabat yang sulit dipisahkan.


"Sar. Aku mau kasih tau ke kamu."


"Apaan?" seperti biasa, Sarah selalu memotong sebelum orang lain selesai bicara.


"Kamu ke sini deh. Nanti aku ceritain. Aku ada di rumah sakit Medika ruang mawar nomor 1."


Mending Sarah saja yang aku suruh datang. Daripada cerita di hape gak kelar-kelar.


"Kamu nungguin siapa di situ? Suami kamu?"


Tuh kan, bukannya mengiyakan malah nanya lagi.


"Udah ke sini aja seķarang. Nanti kamu tau sendiri" jawabku.


"Eh, Ar. Jangan bikin orang penasaran ya? Gue gak mau di prank juga."


"Yaelah. Gak ada yang nge-prank. Udah ke sini aja" sahutku.


"Aku video call ya? Biar aku yakin?"


"Gak perlu. Udah ah, aku tutup dulu ya. Daah."


Langsung aku tutup panggilanku. Mungkin di sana Sarah kesal. Tapi biarlah, nanti juga dia ke sini.


Jangan sampai dia khawatir duluan karena melihat kondisiku. Biar saja nanti pas di sini baru dia tau.


Tak lama Sarah mengirimkan pesan. Dia menanyakan lagi di mana aku dirawat.


Aku membalas pesan dari sarah, sekaligus minta agar Sarah mengajak Doni sekalian.


Sarah bilang nanti akan dia coba nyariin Doni di ruang kerjanya.


Semoga Doni bisa datang dan menemani aku. Saat ini aku sangat membutuhkan Doni.

__ADS_1


__ADS_2