SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 108 HABIS SEMUA PENINGGALAN MERTUAKU


__ADS_3

Setelah beberapa hari di rumah sakit dengan penjagaan ketat, aku diperbolehkan pulang.


Doni tidak mengijinkan aku pulang ke rumah mertuaku dulu, sebelum kondisiku benar-benar baik.


Aku tinggal di apartemennya ditemani Sarah saat Doni berangkat kerja. Mereka khawatir dengan kondisiku yang sering berhalusinasi.


Setiap hari ada dokter yang datang untuk mengontrol kesehatanku. Termasuk psikiater yang akan membantuku menghilangkan pikiran-pikiran buruk dan halusinasi.


Aku sangat merindukan anak dan suamiku. Doni bilang mereka semua baik-baik saja di rumah mertuaku.


Kondisi suamiku juga kata Doni semakin membaik. Tapi aku belum bisa melihatnya karena kesehatan psikisku belum stabil.


Hampir seminggu aku dirawat di apartemen Doni. Hingga aku sudah dinyatakan normal kembali dan Sarah mengantarkan aku pulang ke rumah mertuaku.


Doni dan Roni menyusul kemudian dari kantornya.


Aku memasuki rumah mertuaku. Bi Yati menyambutku dengan membawa anakku. Aku memeluk anak yang lama aku tinggalkan.


Anakku sudah terlihat lebih besar dan makin aktif. Dia bakhan kurang mengenaliku karena aku jarang berinteraksi dengannya.


Di ruang tamu, aku lihat mas Arka masih duduk di atas kursi rodanya.


Benar kata Doni, kondisinya semakin membaik. Dia sudah bisa menatapku dan menyambut uluran tanganku.


Mas Arka juga bisa bicara lagi meski terbata-bata. Aku menangis di pangkuannya.


Aku merasa sangat berdosa padanya. Karena aku tak pernah mempedulikannya.


Tangannya membelai kepalaku yang aku sandarkan di pangkuannya.


Sarah kelihatannya tak tega melihat pemandangan itu. Dia keluar dari ruang tamu.


Tak lama datang Doni dan Roni. Mereka menyalami mas Arka. Aku memperkenalkan mereka sebagai rekan kerjaku. Mas Arka mengangguk tanda mengerti.


Sebenarnya kondisi seperti ini sangat membuatku serba salah. Karena Doni, kekasihku saat ini ada diantara aku dan suamiku.


Untungnya Doni bisa memahami keadaanku. Dia tidak menunjukan sikap yang mencurigakan di depan suamiku.


Bahkan Doni memperlakukan mas Arka dengan baik. Dia banyak mengajak mas Arka berkomunikasi meski mas Arka belum bisa menanggapinya dengan baik.


Fungsi otaknya belum bekerja dengan sempurna. Jadi kadang seperti orang yang telmi.

__ADS_1


Gerakan tubuhnya juga masih sangat lemah. Aku melihatnya dengan sangat miris.


Setelah cukup berinteraksi dengan kami, Doni membawa suamiku masuk ke dalam kamar yang biasa digunakan mas Arka untuk tidur.


Dengan dibantu oleh Roni, Doni memindahkan mas Arka ke tempat tidur.


Aku masih duduk di ruang tamu sambil memangku anakku yang berusia hampir sepuluh bulan.


Ditemani Sarah yang sangat respek pada anakku. Bahkan Sarah meminta anakku diasuh olehnya. Biar aku bisa fokus merawat suamiku.


"Entar kamu bawa pergi jauh, lagi."


Sarah tertawa.


"Ya enggaklah. Aku akan merawatnya seperti anakku sendiri, Ar. Buat teman aku saat Roni sibuk dengan pekerjaannya."


"Merawat anak itu repot, Ar. Bagaimana kalau kamu capek dan bosan? Kasihan juga nanti Roni malah tidak keurus."


"Aku akan bawa bi Yati juga sekalian. Dia kan pawangnya. Aku nanti akan mencari rumah untuk tempat tinggal. Aku kelihatannya sudah betah tinggal di kota ini. Bagaimana?"


"Kamu sudah membicarakannya dengan Roni?" tanyaku.


"Udah, Ar. Aku setuju banget. Anggap saja anakmu sebagai pancingan biar kita nanti diberi momongan sendiri" jawab Roni yang sudah berada di dekatku.


"Sejak kami melihat anakmu. Saat itu kamu masih dirawat di rumah sakit" sahut Sarah.


"Iya, Bu. Mbak Sarah yang selama ini membelikan semua kebutuhan Aryaka" sahut bi Yati yang baru keluar dari dapur sambil membawa minuman dan beberapa makanan.


"Maaf, Ar. Aku baru ngomong sama kamu. Karena kemarin-kemarin kondisi kamu masih labil" ucap Sarah.


Aku masih diam memikirkan niat baik Sarah dan Roni. Bagaimana pun Aryaka anakku, masa aku berikan pada orang lain. Meski Sarah adalah sahabat baikku.


"Jangan khawatir, Sar. Kami tak akan benar-benar mengambil anakmu. Kami hanya akan membantu merawatnya saja. Kamu bisa menengoknya kapan saja kamu mau" ucap Sarah.


"Kami hanya ingin membantu meringankan beban kamu, Ar." Roni menambahkan.


"Oh iya, Ar. Ada hal yang juga akan aku sampaikan kepada kamu." Doni mendekatiku.


"Apa?" tanyaku pada Doni.


"Biar bi Yati saja yang menjelaskan." Doni menyuruh bi Yati untuk bicara.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Saya akan menyampaikan berita kurang baik. Semoga Bu Aryani bisa menerimanya." Bi Yati menjeda kalimatnya.


Aku menyiapkan mentalku karena bi Yati bilang akan menyampaikan berita kurang enak.


"Ternyata almarhum mas Teguh, telah menjual semua aset peninggalan orang tuanya mas Arka. Termasuk rumah ini juga." Bi Yati menundukan wajahnya.


Aku sangat terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa, sedangkan semua harta peninggalan mertuaku masih atas nama mertuaku.


"Dia rupanya memanipulasi data. Dia manfaatkan kondisi suami kamu yang sedang sakit dan tak bisa apa-apa." Doni ikut menjelaskan.


"Terus?" Aku sangat penasaran.


"Dan terjadilah apa yang kita khawatirkan selama ini, Ar." Sarah menimpali.


"Maksudnya?" Aku semakin penasaran.


"Dia pindah namakan semua aset milik mertua kamu. Sepertinya dia memaksa suami kamu untuk menandatangani surat-surat pemindahtanganannya."


Aku semakin tak mengerti. Bagaimana bisa mas Teguh setega itu?


"Kita kan sudah pernah mengingatkan kamu, Ar. Tapi kamu seperti mengacuhkannya. Dan inilah yang terjadi. Bahkan bukan cuma harta peninggalan mertuamu saja, rumah kalian yang di perumahan itu juga telah dipindahnamakan."


Aku melotot tak percaya. Setega itukah mas Teguh pada kami?


"Tidak mungkin, Sar! Dia tidak mungkin melakukannya!" Aku tak percaya dengan apa yang aku dengar.


"Benar, Bu. Kemarin pihak notaris sudah kesini. Saya bilang, nunggu Bu Aryani sembuh dulu" tutur bi Yati.


Aku tercenung. Mas Teguh ternyata sangat jahat. Pantas saja dia berniat membunuh mas Arka saat kejadian malam itu. Sepertinya karena ambisinya sudah terlaksana, jadi dia tidak membutuhkan mas Arka lagi.


"Tapi kan mas Teguh sudah meninggal. Mungkin surat-suratnya bisa kita ambil kembali?" tanyaku.


"Sayangnya semua aset sudah dia jual ke pihak ketiga. Dan mereka menuntut haknya. Karena sudah ada proses jual beli dengan Teguh itu." Doni yang menjawab.


Bagaimana kalau nanti mas Arka sudah normal kembali? Aku akan disalahkan karena aku dianggap tidak becus menjaga aset keluarganya.


"Lalu aku harus bagaimana? Aku harus tinggal dimana? Dan bagaimana dengan suamiku?" Aku menangis menyesali kebodohanku.


Bagaimana bisa aku memelihara ular berbisa di rumah ini. Maling yang sangat kejam.


Tega mengambil hak suamiku. Mengambil harta dari orang yang telah mengasuhnya sejak kecil.

__ADS_1


"Maaf, Ar. Aku tak berniat menyalahkan kamu. Kalau saja kamu mau mendengarkan omongan kami saat itu tentang Teguh, mungkin ini semua tidak akan terjadi" ucap Sarah.


"Sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Meski Teguh menang, tapi dia tidak bisa menikmati hasil kecurangannya. Dia sudah mati membawa dosa-dosanya" ucap Doni sambil memelukku yang menangisi kebodohanku.


__ADS_2