
"Don. Aku mau pulang."
"Tidak! Kamu tidak boleh pulang! Kamu di sini saja sama aku!" jawab Doni ketus.
"Don. Aku harus pulang. Aku enggak mau mas Arka mencariku."
"Dia sudah mencari kamu kan, tadi? Dia tak akan mencarimu lagi," sahut Doni.
"Justru itu, Don. Dia sudah mencariku. Aku harus pulang." Aku tetap ngotot minta pulang.
Tapi Doni juga tetap ngotot tak mau mengantarkan aku pulang.
"Terus mau kamu apa, Don?" tanyaku. Aku benar-benar tak tahu apa maunya Doni. Dia melarang aku untuk pulang. Menyesal tadi aku mau saja berangkat dengan Doni. Coba kalau aku sedikit bersabar dan menunggu Mila menjemputku. Meski kami nanti kesulitan mencari alasan untuk keluar.
"Kamu lapar kan?" tanya Doni. Dia mengalihkan pertanyaanku. Aku mengangguk. Memang aku sangat lapar. Sampai tadi kebawa mimpi.
"Aku pesankan dulu. Kamu mau makan apa?" Doni sudah membuka aplikasi di ponselnya. Lalu memberikan ponselnya padaku, biar aku memilihnya.
"Ini saja." Aku kembalikan lagi ponsel Doni.
"Cukup?" tanya Doni. Aku mengangguk.
"Sebentar lagi kan aku pulang. Biar nanti aku makan lagi sama mas Arka."
"Tidak!" seru Doni.
"Tidak apanya?" tanyaku tak mengerti.
"Kamu tidak boleh pulang dan merencanakan apapun dengannya!" seru Doni.
Aku merasa ini bukanlah Doni yang aku kenal. Doni seperti orang lain yang suka memaksa dan egois.
Tapi aku akan mengalah dulu. Karena perutku sangat lapar. Berdebat juga butuh tenaga.
"Udah cepetan pesan makanannya. Aku lapar." Lalu aku turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
Agak lama aku di kamar mandi. Aku bete melihat wajah Doni. Wajah yang dulu seakan menghipnotisku. Sekarang berubah jadi wajah orang yang sangat menyebalkan.
"Ar! Aryani!" Doni berteriak memanggilku dan menggedor-gedor pintu.
Dengan malas aku keluar dari kamar mandi.
"Kamu kenapa?" Doni langsung meraba dahiku. Lalu menarik tanganku dan membawaku naik lagi ke atas tempat tidur.
"Aku capek, Don. Aku mau duduk saja." Aku turun lagi dan berjalan ke ruang tamu. Sambil menunggu pesanan makanan diantar.
Doni duduk di sebelahku. Seakan takut kalau aku kabur. Aku lirik pintu depan. Tak ada kunci yang biasanya menggantung di sana.
Sampai pintu diketuk dari luar dan Doni bergegas membukakan pintunya. Dia merogoh kantong celananya. Lalu membuka pintu.
Pesanan kami datang. Lalu Doni mengunci kembali pintunya dan memasukan kuncinya ke kantong celananya lagi.
__ADS_1
Aneh. Apa Doni benar-benar takut aku kabur, atau Doni ingin mengurungku di sini?
Doni membukakan makananku. Juga makanannya sendiri.
"Makanlah." Aku hanya mengangguk. Meski sebenarnya tak bernafsu, tapi aku paksakan juga. Jaga-jaga kalau terjadi sesuatu denganku di sini. Karena perasaanku sudah tak enak.
Aku juga melihat wajah Doni tak seperti biasanya. Dia agak pucat tapi masih terlihat sehat. Dia kuat berjalan mondar-mandir di dalam apartemen.
Saat sedang makan, Ponsel Doni berdering. Doni berjalan menjauh dariku.
Dengan mengendap-endap, aku mendekati kamar. Karena Doni masuk ke dalam kamar.
"Iya, nanti aku transfer. Jangan lupa minum obatnya. Kamu harus kuat. Maaf, aku tak bisa menemani." Lalu Doni menutup telponnya.
Aku segera kembali ke sofa. Otakku tak berhenti memikirkan omongan Doni tadi. Siapa yang menelpon Doni. Ada yang sakit?
Doni keluar dari kamar dan kembali ke sofa.
"Telpon dari siapa?" tanyaku. Aku berharap Doni mau menjawab jujur, meskipun itu tidak mungkin.
"Maya," jawab Doni.
Maya? Tumben Doni mau menjawab jujur. Biasanya dia akan menyembunyikannya.
"Ooh. Ada urusan apa lagi dia?" tanyaku seolah aku tak tahu apa-apa.
"Seperti biasanya. Dia minta uang," jawab Doni sambil menyuap makanannya.
"Beli obat. Kamu kan tahu dia sakit. Makanya aku selalu kasih uang dia untuk membeli obat. Obatnya enggak murah, Ar. Dan dia harus mengkonsumsinya setiap hari."
"Memang dia sakit apa?"
Doni menatapku tajam. Aku pura-pura cuek dan meneruskan makanku.
Doni membuka galery di ponselnya.
"Ini!"
Doni memperlihatkan foto beberapa jenis obat dalam botol-botol keci, yang aku belum pernah melihatnya.
"Obat?" tanyaku tak mengerti.
"Iya. Kamu pikir apa?"
"Obat apa?" tanyaku pelan. Karena sepertinya Doni mulai emosi.
"ARV," jawab Doni.
Aku semakin tak mengerti. Apa itu obat ARV?
"Habiskan dulu makananmu. Setelah itu aku jelaskan."
__ADS_1
Dengan semangat aku menghabiskan makananku. Dan setelah habis, aku segera minum biar tenggorokanku tidak seret.
"Kenapa makannya enggak dihabiskan?" tanyaku melihat makanan Doni masih separuhnya.
"Aku sudah kenyang," jawab Doni.
"Kamu sudah makan tadi?"
Doni menggeleng. Mungkin dia lagi enggak enak badan.
Aku membereskan dulu bekas makan kami. Lalu mengambilkan minum putih untuk Doni. Karena yang tadi Doni ambilkan untukku, sudah aku habiskan.
"Minumlah." Aku memberikan gelas berisi air putih pada Doni.
Doni hanya meneguknya sedikit, lalu meletakannya di atas meja.
"Kamu masih mau menjelaskan padaku tentang penyakit Maya, kan?" tanyaku perlahan.
Doni mengangguk, lalu membuka lagi ponselnya. Kali ini dia membuka google. Lalu mengetik tiga huruf tadi.
Dan keluarlah semua penjelasan tentang apa itu ARV. Doni memberikan ponselnya padaku agar aku membacanya sendiri.
Mataku seperti mau loncat saking kagetnya membaca penjelasan tentang apa itu obat ARV.
Aku terus membacanya meski tanganku bergetar. Ponsel Doni terasa sangat berat, hingga akhirnya aku menjatuhkannya.
Air mataku juga jatuh dengan deras. Bukan sedih karena Maya terkena penyakit mematikan itu. Tapi sedih dengan diriku sendiri.
Kami adalah serangkaian dalam sebuah hubungan segitiga. Jika salah satu dari kami mengidapnya, bisa dipastikan dua yang lain juga kena. Dan itu berarti aku....
"Don! Sekarang juga kita ke rumah sakit. Aku ingin memastikan kondisi kita!" Aku menggoyang-goyang bahu Doni.
"Untuk apa? Semua sudah jelas, kan?" tanya Doni. Tatapannya nanar ke depan.
"Don. Kita harus tahu kondisi kita yang sebenarnya. Biar kita bisa tenang." Aku terus memaksa Doni.
"Dan kalau hasilnya positif, apa kita masih bisa tenang?"
Aku menunduk. Air mataku kembali menetes.
"Kita akan mati perlahan. Dengan tenang. Seperti Maya. Dia...dia sudah sangat drop." Air mata Doni pun mengalir.
Doni membuka lagi galerynya. Lalu menunjukan foto Maya yang terbaru. Dia sudah mulai kurus. Pipinya terlihat tirus.
"Bukankah terakhir bertemu aku, dia masih sehat?" tanyaku.
"Dia menyembunyikan sakitnya. Karena dia malu pada semua orang. Dia pura-pura sehat, agar tidak dikucilkan."
"Lalu....apa kamu juga terinfeksi?" tanyaku perlahan. Sangat perlahan.
"Aku takut mengetahui hasilnya, Ar. Karena aku yakin kalau aku juga....sudah terinfeksi."
__ADS_1