
Aku membuka medsosku yang lama sekali tak pernah aku buka. Untung aku masih ingat email dan passwordnya.
Banyak sekali permintaan pertemanan di akunku. Rata-rata mereka adalah teman sekolahku dulu. Beberapa aku masih ingat orangnya, banyak juga yang aku tak mengenalnya sama sekali.
Aku membuka satu per satu profil mereka. Sengaja untuk mengingatkan aku tentang mereka.
Ternyata banyak juga temanku yang sudah menikah, dan banyak juga yang masih kuliah.
Ya, aku lulus dari SMA baru empat tahun yang lalu. Jadi wajah-wajah mereka masih belum banyak berubah.
Aku mencoba mengganti foto profilku dengan foto terbaruku yang beberapa hari kemarin aku ambil.
Tak aku sangka, banyak teman yang langsung mengomentarinya. Ternyata banyak dari mereka yang sedang online dan mereka masih mengingatku.
Aku pikir, aku tidak memiliki teman di sekolahku dulu. Karena mereka semua seperti menjauhiku. Atau itu hanya perasaanku saja yang minder karena keadaan ekonomi keluarga orang tuaku waktu itu kurang baik?
Hanya ada satu teman yang dekat denganku. Doni. Aku jadi ingat dengan dia. Dimana dia sekarang ya?
Aku mencoba mencari namanya. Aku memang tidak berteman dengannya di akun medsosku dari dulu.
Setelah menemukan akunnya, aku coba membuka berandanya. Tak ada postingan sama sekali. Dan itu sudah sangat lama. Itu artinya akun medsosnya tidak pernah aktif ?
Ya sudahlah. Aku juga tidak mau mengharapkannya. Biarlah dia menjadi kisah masa laluku.
Di kolom komentar aku membaca sebuah komentar dari Ryan. Aku ingat dia adalah anak paling usil di kelasku.
Aku tak pernah berinteraksi dengannya saat sekolah dulu. Karena pernah sekali dia membully-ku. Makanya aku selalu menghindarinya.
(Makin cantik saja si putri malu) itu komentar Ryan di postingan profilku.
Aku hanya nge-like komentarnya saja. Aku bingung mau membalasnya bagaimana, karena aku tak pernah akrab dengannya.
(Kok cuma dilike saja sih?) komentarnya lagi.
Akhirnya aku beranikan diri membalas komentarnya dengan mengirimkan emot menutup mulut dengan tangan.
(Eh, si putri malu makin malu ya) komentar Ryan lagi.
(Jangan di bully lagi, Ryan. Udah gak musim!) balas Dian teman sekelasku di kolom komentar.
(Aku tidak sedang membully, tapi sedang merayunya...emot tertawa) balas Ryan.
(Eit, dilarang merayu di sini!) balas Dian lagi.
(Oke deh, aku rayu lewat inbox saja. Si putri malunya ngumpet) komentar Ryan lagi.
Aku hanya senyum-senyum sendiri. Tak pernah bermedsos bikin aku canggung untuk berbalas komentar.
Tak lama, ada notifikasi masuk dari inbox-ku. Ryan meng-inbox. Aku buka inboxnya.
(Hay, apa kabar si putri malu?) tanya Ryan.
(Baik) jawabku singkat.
(Irit amat jawabnya. Lagi sakit jempol ya?) tulis Ryan lagi.
__ADS_1
(Bisa aja) jawabku.
(Aryani, boleh enggak aku minta nomor whatsappmu?)
Degh.
Ryan meminta nomor whatsappku. Aku bimbang. Tapi kemudian berfikir lagi, salah satu tujuanku membuka lagi akun medsosku adalah untuk menjalin hubungan dengan teman-temanku.
Aku berharap, dengan memulai hubungan baru, akan ada kesempatan buatku mendapatkan pekerjaan.
Akhirnya aku ketikan nomor whatsappku. Tapi Ryan sudah tidak online lagi. Mungkin malas terlalu lama menunggu jawabanku.
Aku membiarkannya saja. Toh nanti juga bakal dibacanya.
Lalu aku ingat dengan mantan bosku saat kerja di counter selluler. Tapi sayangnya, hape lamaku hilang jadi aku tak bisa menghubunginya.
Padahal aku berharap meminta tolong padanya mencarikan pekerjaan untukku. Dia kan orang baik, pasti mau menolongku.
Terlebih dia dulu akrab dengan mas Arka, juga istrinya. Atau besok pagi aku datangi saja counternya?
Aku kembali membuka berandaku. Tak ada postingan yang menarik lagi. Lalu aku menutupnya dan merebahkan badanku.
Hari sudah mulai malam, anakku pun sudah tertidur dengan nyenyak. Mas Arka sejak aku melahirkan tidur di kamar mertuaku. Ditemani mas Teguh.
Aku jadi enggan melihat suamiku. Karena pasti akan bertemu dengan mas Teguh. Aku tidak mau terlalu dekat lagi dengannya.
Aku memejamkan mataku. Belum sempat terlelap, ponselku berbunyi. Ada pesan masuk.
Aku mengintipnya dahulu. Dari nomor tak dikenal. Aku coba membacanya.
Aku tersenyum sendiri. Ternyata Ryan sudah membaca inbox-ku.
(Ok) jawabku singkat. Lalu aku save nomor Ryan.
(Lagi ngapain, Ar?) tanya Ryan.
(Baru mau tidur) jawabku.
(Mau dong ditidurin. Ups. Maaf becanda...emot minta maaf)
Aku tersenyum membacanya. Sejak kapan Ryan mau becanda denganku?
Aku yang akhirnya tidak jadi tidur, meneruskan chat dengan Ryan. Ternyata dia orangnya kocak juga. Beda sekali dengan waktu di sekolah dahulu.
Dia juga meminta maaf karena pernah membully-ku. Ternyata dia masih ingat juga. Aku kira sudah lupa.
Banyak hal yang kami bahas lewat chat. Aku yang tidak banyak tahu berita tentang teman-teman sekolahku, jadi tahu banyak.
Hingga menjelang tengah malam, aku masih asik chat dengan Ryan.
Ting.
Satu pesan chat masuk dari nomor mas Teguh. Ngapain dia malam-malam chat aku?
Aku buka chat dari mas Teguh.
__ADS_1
(Sudah malam kok belum tidur?) tanya mas Teguh.
Aku menghela nafasku. Rupanya dia melihat status chatku yang masih online.
(Lagi ngobrol sama teman) jawabku. Lalu aku meneruskan lagi chat-ku dengan Ryan.
Ting.
Mas Teguh mengirim chat lagi.
(Teman siapa?) tanyanya lagi.
(Teman sekolah) lalu aku kembali pada chat-ku dengan Ryan.
Sampai akhirnya mataku mengantuk dan aku pamit pada Ryan untuk tidur.
(Oke. Met tidur and have a nice dream ya) pesan terakhir Ryan yang aku balas dengan emot jempol.
Ting.
(Mau chatingan sampai jam berapa?) tanya mas Teguh.
Aku memilih mengabaikan pesannya dan langsung mematikan ponselku.
Mas Teguh jadi semakin kepo dan mengaturku. Aku tidak suka kalau selalu di atur-atur.
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu kamarku di ketuk dari luar.
"Siapa?" tanyaku sambil masih rebahan.
"Aku." Suara mas Teguh yang menjawab. Mau apa malam-malam begini dia ke kamarku.
Dia mengetuknya lagi. Aku beranjak dari tempat tidurku dengan malas.
Aku buka sedikit pintunya. Karena aku juga sudah mengenakan daster longgar. Gak enak kalau dia melihatnya.
Mas Teguh memaksa masuk dengan mendorong pintu yang aku pegangi. Aku pun terdorong ke belakang pintu.
"Sudah malam, Mas" ucapku masih berdiri di tempatku.
"Kalau tau sudah malam, kenapa masih chatingan terus?" tanyanya.
Aku geram mendengarnya. Apa hak dia melarangku chatingan?
Tapi aku tidak mendebatnya. Bukannya takut, hanya aku tak mau ribut dengannya lagi.
"Aku sudah mematikan hapeku" jawabku mengalah.
Mas Teguh memandangiku yang masih terdiam di tempatku berdiri. Dia mendekatiku. Aku berpindah ke depan pintu. Menghindari hal-hal yang mungkin saja terjadi.
__ADS_1
"Selamat malam. Selamat tidur" ucapnya lalu keluar dari kamarku. Aku bernafas lega. Lalu segera mengunci kembali pintu kamarku.