
Aku kembali merasa limbung. Bi Yati segera menangkap tubuhku yang hampir ambruk. Lalu aku dengar bi Yati berteriak minta tolong.
"Toloong! Mas Teguh, tolong ibu Aryani." Aku masih bisa mendengar teriakan bi Yati.
Mas Teguh berlari ke arah kami. Dan segera meraih tubuhku. Lalu memapahku menuju kursi. Dan mendudukanku.
"Ambilkan air putih, Bi!" perintah mas Teguh.
Bi Yati bergegas mengambilkanku segelas air putih hangat.
"Ada minyak angin atau minyak kayu putih, Bi?" tanya mas Teguh, setelah menerima gelas dari bi Yati dan meminumkannya kepadaku.
Bi Yati segera ke kamar ibu mertuaku. Karena ibu biasa memakai minyak kayu putih.
Mas Teguh melumuri leherku dengan minyak kayu putih. Hingga ke bagian tengkukku.
Bagai tersengat aliran listrik, saat tangan mas Teguh meraba tengkukku. Karena itu adalah bagian paling sensitifku.
"Oh maaf, Dek. Aku hanya mengoleskan minyak kayu putih saja" ucap mas Teguh merasa tak enak hati.
"Gak apa-apa mas" sahutku menahan geli.
"Bi, tolong nanti temani bu Aryani tidur malam ini. Arka biar aku yang menemani. Kalian bisa tidur di kamar ibu" ucap mas Teguh.
"Baik, Mas" jawab bi Yati. Lalu mas Teguh memapahku ke kamar ibu mertuaku yang sudah dianggapnya ibu sendiri.
Mas Teguh sudah diasuh oleh keluarga mertuaku sejak remaja. Salah satu tugasnya adalah menemani dan menjaga mas Arka. Karena mas Arka sering sakit-sakitan kalau ada yang salah dengan makanan atau aktifitasnya.
Dan sekarang, tanpa diperintah pun mas Teguh selalu berusaha menjaga mas Arka dan aku.
"Istirahatlah. Kamu tidur di sini ditemani bi Yati. Arka biar aku yang menemani. Malam ini aku akan tidur di sini. Jadi jangan takut lagi ya?" tutur mas Teguh.
Aku mengangguk. Dan berusaha memejamkan mataku, setelah mas Teguh menyelimutiku.
"Bi, jagain bu Aryani. Kalau ada apa-apa langsung panggil aku. Aku ada di depan kalau tidak ya di kamar Arka" ucap mas Teguh pada bi Yati.
"Iya, Mas Teguh. Saya akan menemani bu Aryani" jawab bi Yati patuh.
Karena ibu mertuaku selalu mengajarkan pada pekerjanya untuk menghormati mas Teguh, seperti mereka menghormati mas Arka.
Lalu mas Teguh keluar dari kamar ibuku. Aku berusaha memejamkan mataku. Aku berdoa sebisaku untuk menghilangkan ketakutanku.
Bi Yati mengambil sebuah kasur lantai dan hendak tidur. Aku melarangnya dan menyuruhnya tidur di sebelahku. Aku benar-benar merasa ketakutan malam ini.
__ADS_1
Semua peristiwa menakutkan seperti film yang terus saja berputar di kepalaku. Aku sampai menggigil karena ketakutan.
"Bu Aryani kenapa?" tanya bi Yati. Lalu dia meraba dahiku.
"Badan ibu panas. Ibu demam. Saya ambilkan kompres dulu ya?" ujar bi Yati. Tanpa menunggu persetujuanku bi Yati beranjak dan keluar kamar.
Aku semakin ketakutan karena ditinggal sendirian. Tanpa sadar aku berteriak kencang.
Mas Teguh segera menghampiriku. Dia terlihat sangat panik melihatku yang terus berteriak. Dia berusaha menenangkan aku dengan duduk di sisi tempat tidur dan menepuk-nepuk bahuku perlahan.
Aku merasa nyaman dan menghentikan teriakanku.
Bi Yati datang dengan membawa air hangat di baskom kecil dan sebuah handuk kecil. Mas Teguh mengompres dahiku.
Tanpa sadar, tanganku menggenggam erat tangan mas Teguh. Aku tak mau melepaskannya.
"Bi, tolong temani dulu bu Aryani. Aku mau menghubungi pak Ustadz" ucap mas Teguh.
Lalu dia beranjak dari tempat tidur dan digantikan oleh bi Yati. Aku berganti menggenggam erat tangan bi Yati.
Bi Yati terdengar membacakan doa-doa untukku. Dia juga terlihat sangat panik.
Tak lama mas Teguh kembali masuk ke kamar ibuku. Dia mengambil kursi lalu duduk. Mas Teguh membuka Alquran dan membacanya.
Aku berusaha memejamkan mataku. Tapi otakku tak bisa berhenti mengingat peristiwa-peristiwa menakutkan yang pernah aku alami.
Mulai dari saat aku melihat jenazah kedua orang tuaku. Melihat nenekku yang meninggal dalam pelukanku. Saat aku menunggui jenazah bapak mertuaku di depan kamar jenazah, sampai kematian ibu mertuaku.
Semua kenangan buruk itu seakan berputar dan menari-nari di kepalaku. Dan wajah laki-laki menakutkan itu kembali hadir.
Aku kembali berteriak histeris. Mas Teguh sampai naik lagi ke tempat tidur dan berusaha menenangkan aku.
Dan tak lama, datanglah seorang yang mas Teguh panggil pak Ustadz. Mas Teguh segera turun dari tempat tidur. Dan menyalami orang itu.
Bi Yati tak bisa pergi kemana-mana, karena tanganku terus saja menggenggam erat tangannya.
Lalu aku dengar pak Ustadz itu membacakan doa-doa untukku. Tanganku yang sedang menggenggam tangan bi Yati, diraihnya. Dia menggenggam erat tanganku.
Tapi aku tak merasakan apa-apa. Semua terasa melayang. Terbawa kenangan-kenangan buruk yang terus menghantuiku.
Aku lihat pak Ustadz itu duduk di kursi yang tadi di duduki mas Teguh. Dia terus saja membacakan doa-doa untukku.
Aku dengar dia meminta segelas air putih di gelas yang baru. Lalu dia membacakan doa-doa di depan gelas itu, dan meniupnya perlahan.
__ADS_1
"Mas Teguh dan bi Yati, bisa tolong saya meminumkan air ini?" tanya pak Ustadz.
Mas Teguh dan bi Yati naik kembali ke tempat tidur dan berusaha meminumkan air putih yang sudah didoakan pak Ustadz barusan.
Mas Teguh menyangga kepalaku dengan tangannya, sementara bi Yati mencoba meminumkannya kepadaku.
Seperti orang yang sedang kehausan, aku menenggak habis air itu. Aku masih mendengar pak Ustadz terus saja membacakan ayat-ayat suci untukku.
Aku kenapa? Kenapa aku jadi sangat ketakutan seperti ini? Banyak sekali pertanyaan di kepalaku yang tak mampu aku jawab.
Pak Ustadz terus saja membacakan ayat-ayat suci dari Alquran kecil yang dibawanya.
Aku semakin gelisah. Badanku terasa panas. Tapi aku menggigil. Tubuhku bagai tak berenergi. Tulang-tulang seakan terlepas. Dan aku meraskan kepanasan yang luar biasa.
Sementara pak Ustadz terus saja membacakan ayat suci. Aku terus saja menggapai tangan mas Teguh. Dia pun menggenggamnya erat.
Dan ketika bacaan pak Ustadz sampai pada sebuah ayat, yaitu ayat kursi, seketika aku menjerit histeris lagi.
Mas Teguh semakin mempererat genggamannya. Aku pun semakin mengeratkan tanganku. Aku merasa hanya sekedar menggenggam, tapi mas Teguh sampai menahan sakit.
Lantunan ayat suci terus saja menggema di telingaku. Aku merasa seperti kejang. Seluruh tubuhku terasa kaku. Dan sesaat aku tak sadarkan diri.
Tapi aku masih mampu mendengar lantunan ayat-ayat suci itu. Hingga akhirnya aku berteriak lagi. Dan aku merasa kehilangan kesadaranku.
Samar-samar aku mendengar suara orang berbicara.
"Apa yang terjadi dengan Aryani, Pak Ustadz?" tanya sebuah suara yang aku kenali seperti suara mas Teguh.
"Dia sepertinya kemasukan roh halus. Apa yang dia lakukan sebelum ini?"
"Tadi menjelang maghrib kami melewati pemakaman di dekat saung sana. Di depan pintu pemakaman kami melihat seorang laki-laki. Saya mengenalinya sebagai penjaga makam itu. Tapi Aryani malah berteriak histeris dan tak sadarkan diri. Saya dibantu warga yang kebetulan sedang melintas, mambawanya ke rumah saya. Hampir tiga jam dia tak sadarkan diri."
"Lalu?"
"Setelah dia sadar, saya mengajaknya pulang. Tapi dia tak mau melewati jalan yang biasa karena takut bertemu orang itu lagi. Saya pun mengajaknya lewat jalan memutar. Sampai di rumah ini semua baik-baik saja."
"Iya, Pak Ustadz. Maaf saya tadi sempat bertanya pada bu Aryani. Lalu dia tiba-tiba berteriak dan menjatuhkan gelas kopi yang baru diseduhnya."
"Apa yang kira-kira terjadi pada Aryani, Pak Ustadz?"
"Dia kerasukan roh jahat dari pemakaman itu. Bisa jadi karena kalian melewatinya saat menjelang maghrib. Dimana banyak makhluk halus mulai bergentayangan. Semoga dengan bacaan-bacaan ayat suci tadi, bu Aryani sudah bisa normal lagi."
"Saya permisi pulang dulu, Mas Teguh. Kalau ada apa-apa panggil saya lagi. Tolong jangan tinggalkan dia sendirian malam ini."
__ADS_1
Lalu aku melihat samar-samar pak Ustadz tadi keluar dari kamarku.