
Pagi harinya aku sengaja duduk di luar menunggu tukang sayur langgananku lewat. Aku mau membayar hutangku.
Biasanya dia jam tujuh sudah teriak-teriak. Tapi ini, sudah hampir dua jam aku nunggu, gak nongol-nongol juga.
Apa dia libur? Biasanya dia liburnya cuma hari minggu aja. Karena udah capek juga, aku masuk ke dalam rumah. Toh nanti kalau dia teriak, aku denger.
Aku memilih ke dapur, yang tidak terlalu jauh dari jalan depan rumah. Kalau aku masuk ke kamar, karena kamarku ber-ac, gak akan denger suara dari luar.
Sebenarnya ada jendela yang menghubungkannya dengan halaman samping, tapi jarang sekali di buka.
Aku masih punya sedikit sayuran, sisa pemberian tukang sayur kemarin. Aku akan membuatkan mas Arka bubur menado ala kadarnya. Dengan sayuran seadanya.
Dulu mas Arka paling suka makan bubur menado. Tapi beli di rumah makan menado. Rasanya sesuai juga dengan harganya yang lumayan mahal, menurutku.
Tapi karena mas Arka suka banget ya kami jadi sering membelinya.
Pernah suatu saat aku mencoba membuatkannya sendiri, dengan resep dari youtube. Pake tutorialnya juga.
Udah capek-capek bikinnya, rasanya malah gak karuan. Walaupun mas Arka tetap memakannya.
Kali ini aku mencoba membuatkannya lagi. Dulu aja dengan bahan-bahan pilihan dan komplit, rasanya acak adul, gimana sekarang yang bahannya seadanya ya?
Paling juga makin gak karu-karuan.
Tapi sekarang kan mas Arka gak akan protes. Paling nanti ekspresi wajahnya makin mendung.
Gak apa-apalah, yang penting kenyang dan gak bikin keracunan. Asal jangan muntah-muntah aja. Yang ada aku akan ikutan muntah-muntah juga.
Sampai siang tukang sayur tetap gak kedengeran suaranya. Akhirnya aku masuk ke kamarku.
Dan seperti biasa, posisi mas Arka sudah berpindah. Kali ini kepalanya sudah berpindah sembilan puluh derajat.
Aku bersyukur, akhirnya ada juga perkembangan yang lebih baik. Semoga bisa makin membaik.
"Mas, aku bikinin bubur menado buat mas. Mau makan gak?" tanyaku. Walaupun aku tau mas Arka gak akan menjawab.
"Nanti ya, buat makan siang kita. Aku juga akan makan bubur itu bareng sama mas". Aku mengusap kepala mas Arka dengan lembut.
Kasihan sekali suamiku. Sudah beberapa hari dia di lantai terus. Aku hanya berharap badannya kuat menahan dingin.
__ADS_1
Bima pun aku tak tau lagi kabar beritanya. Dia tak pernah datang lagi ke sini.
Aku lihat pakaiannya di kamar juga tinggal beberapa potong. Mungkin dia memang sudah merencanakan pergi lama. Tapi gak mau bicara padaku.
Bi Yati juga belum kembali. Apa ibu mertuaku memang masih menahannya? Ah, entahlah. Aku tak bisa menghubungi siapapun.
Seandainya aku punya uang cukup, aku akan membeli hape lagi. Tapi gak ada gunanya juga, karena nomor kontak mereka kan aku gak hafal. Bagaimana caranya menghubungi mereka?
Tak terasa aku tertidur di sebelah mas Arka. Di lantai tanpa alas. Lama-lama aku jadi terbiasa. Walaupun kalau bangun, badanku pegal semua.
Siangnya setelah aku bangun, aku memberikan bubur buatanku kepada mas Arka. Sambil menyuapinya, aku juga menyuapi diriku sendiri.
Nikmat rasanya bisa makan berdua dengan suamiku. Meski makan seadanya.
Aku juga sudah tak memikirkan nutrisi untuk calon anakku lagi. Yang penting aku kenyang, dan anak dalam kandunganku sehat.
Aku bisa masih merasakan tendangan anakku yang dahsyat. Kadang membuatku mengaduh saking kerasnya.
Aku kadang cuma berfikir, gimana kalau saatnya nanti aku melahirkan? Siapa yang akan menolongku? Siapa yang akan membawaku ke rumah sakit?
Aku hanya bisa pasrah aja. Apapun yang akan terjadi, terjadilah. Semoga kami bisa melalui semua cobaan ini.
Uang yang aku pegang dari hasil penjualan lemari, sudah mulai menipis. Karena kebutuhan diapers nya mas Arka gak bisa di kurangi.
Apalagi kalau dia baru saja di ganti diapersnya terus BAB, terasa banget sayangnya karena harga diapersnya gak murah.
Belum lagi nanti kalau anakku lahir. Pasti akan makin banyak butuh biaya. Kalau mikirin itu semua, kepalaku terasa berdenyut.
Sore ini aku ingin menikmati udara di teras rumah. Dulu saat ada Bima, aku biasa menikmatinya dengan mas Arka.
Bima akan membawa kursi dorong mas Arka ke teras. Dan kami akan duduk bersama di sini.
Tapi sekarang, aku hanya duduk sendirian. Suamiku tergeletak di atas lantai, tanpa ada orang yang membantu.
Kalau mau minta tolong satpam komplek, aku tak bisa memberinya tip. Uang tip bisa untuk kebutuhan lain. Makanya aku membiarkan saja suamiku tergeletak di lantai.
Saat lagi melamun sendiri, sebuah mobil berhenti di depan halaman rumahku. Aku menatap mobil itu. Siapa yang datang?
Ternyata Yola. Aku menajamkan penglihatanku. Apa benar itu Yola?
__ADS_1
Turun dari mobil, Yola langsung meneriakan namaku.
"Aryani...!" Yola berlari ke arahku. Aku masih saja bengong tak percaya dengan penglihatanku.
Yola langsung memelukku erat. Aku yang masih tak percaya, membalas pelukannya.
Tak terasa kami sama-sama menangis. Terharu dengan pertemuan ini, setelah sekian lama kita tak bertemu. Tepatnya setelah Yola pindah ke luar negeri mengikuti suaminya.
"Yola...!" ucapku dengan air mata berderai. Yola menghapus air mataku.
"Hey, kenapa kamu menangis? Are you, ok?" tanya Yola dengan logat jawanya yang medok.
Ya, Yola memang asli peranakan Surabaya. Logatnya sangat medok. Tapi aku suka kalau mendengarnya bercerita. Lucu kalau menurutku.
Kadang dia menyisipkan bahasa daerahnya di sela celotehannya. Suaranya yang memang berat, membuat jadi makin terasa medoknya.
Yola memapahku duduk di kursi. Dia lalu mendekatkan satu kursi lagi kepadaku.
"Kenapa kamu menangis, Ar?" tanya Yola lagi. Aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Ceritakan semua padaku, Ar. Come on!" Aku menghela nafasku, untuk meredakan tangisanku.
Aku bangkit dari dudukku. Lalu mengajak Yola ke kamarku. Aku akan memulai ceritaku dari sana. Tapi tidak di kamarku, karena pasti Yola gak akan kuat menahan aroma kamarku yang sangat bau. Persis seperti toilet umum.
Tapi memang sekarang kamarku sudah seperti toilet umum. Karena mas Arka buang air kecil dan besar di sana juga.
Yola mengikutiku sambil menyeret kopernya. Dia datang sendirian sepertinya. Makanya koper yang dibawanya hanya sebuah koper kecil.
Lagi pula di rumahnya masih banyak baju-baju milik Yola. Dia hanya membawa dua koper besar saat pindahan dahulu.
Aku sampai di depan kamarku. Aku membukanya perlahan. Karena aku khawatir, ada kaki atau mungkin badan mas Arka yang bergeser sampai ke pintu.
Aku membuka pintu itu lebar-lebar, setelah yakin mas Arka tak menghalangi pintu.
Aku menatap ke arah suamiku, lalu menatap ke arah Yola. Mulutnya menganga saking terkejutnya melihat kondisi mas Arka yang sangat mengenaskan.
Tak terasa koper yang di bawanya, dilepaskan begitu saja. Lalu spontan dia berlari ke arah mas Arka. Dan memeluknya erat.
"Arkaaa...!" Tangis Yola tak bisa di tahan lagi. Dia menangis sambil terus memeluk mas Arka.
__ADS_1
Aku masih bergeming di pintu. Air mataku pun mengalir dengan derasnya melihat pemandangan itu.