SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 84 CURAHAN HATI DONI


__ADS_3

Sudah hampir sebulan aku bekerja. Aku sudah banyak mengenal teman-teman kerjaku.


Mereka semua baik kepadaku juga menyenangkan. Mas Teguh pun setiap hari mengantar dan menjemputku. Walau pun aku lebih suka tidak diantarkannya.


Awalnya Doni mengira dia suamiku. Padahal aku sudah pernah bercerita kalau suamiku sedang sakit stroke.


"Tadi pagi yang mengantarmu itu suami kamu?" tanya Doni saat aku menemaninya makan siang.


Aku memang hampir setiap hari menemani bosku ini makan siang, kecuali dia lagi ke luar. Itu pun kadang Doni membawakan aku makanan saat pulangnya.


Katanya biar aku tidak usah keluar untuk mencari makan. Padahal aku beli lewat aplikasi juga bisa.


"Itu kakak sepupu ipar" jawabku.


"Baik amat. Tiap hari antar jemput kamu?" tanya Doni lagi.


Aku hanya mengangguk. Aku tak menceritakan kalau aku sebenarnya malas diantar jemput oleh mas Teguh.


Siang ini Doni mengirimkan pesan lagi untuk menemaninya makan. Tapi kali ini tidak di ruang kerjanya.


Doni yang katanya sedang tak enak badan menyuruhku datang ke kamarnya. Doni memang mendapat fasilitas satu kamar di hotel ini.


Doni pun sering tidak pulang ke rumah kontrakannya. Dia lebih sering tidur di hotel. Katanya malas pulang, karena istrinya tidak mau tinggal bersamanya.


Aku mengetuk pintu kamar nomor 432. Nomor yang unik. Adanya di lantai paling atas. Hotel ini memang hanya berlantai empat.


Doni membukakan pintu untukku. Wajahnya terlihat sedikit pucat.


"Kamu kenapa, Don?" tanyaku saat sudah berada di kamarnya yang cukup luas.


"Gak tau nih. Badan rasanya lemas semua" sahut Doni lalu duduk di sofa sebelahku.


Tak lama seorang karyawan hotel datang membawakan pesanan makan siang Doni.


"Kamu sudah minum obat?" tanyaku. Doni hanya menggeleng.


"Kok belum sih? Atau kita ke dokter saja?" sahutku.


"Tidak usah. Sebentar juga baikan lagi" sahut Doni.


"Kamu makan ya?" Aku lalu menyiapkan makan untuk Doni.


Doni hanya melihat saja makanan itu, tanpa menyentuhnya.


"Kenapa cuma diliatin? Kamu harus makan, Don. Biar cepat sehat" ucapku. Doni hanya diam. Malah aku yang lahap makan, karena aku memang sangat lapar.


Tadi pagi aku tidak sempat sarapan. Suamiku berkali-kali buang air besar. Membuat selera makanku menghilang, walau pun yang menangani mas Teguh.

__ADS_1


"Aku suapin ya?" Aku lalu mengambil makanan Doni dan menyuapinya perlahan.


Aku yang terbiasa menyuapi suamiku, jadi punya inisiatif untuk menyuapi Doni juga.


Doni menurut dan menerima suapanku hingga makanannya tandas.


Dalam hati aku berkata, Doni lapar tapi malas menyuap karena bilang badannya lemas.


Selesai makan, aku memberinya minum. Doni pun menerima minuman yang aku berikan. Doni sangat menurut padaku.


"Kamu ada obat apa, Don?" tanyaku. Aku tidak tega kalau Doni tidak sembuh-sembuh karena tidak minum obat.


"Tidak ada. Hanya ada multi vitamin saja" jawab Doni.


"Kamu taruh dimana?" Aku bangkit dari dudukku. Doni menunjuk ke arah nakas. Disana ada beberapa macam tablet vitamin.


Aku mengambil salah satunya. Lalu aku suapkan lagi ke mulut Doni.


"Makasih, Ar. Kamu baik banget" ucap Doni setelah memakan obatnya.


"Kamu juga baik Don. Hampir setiap hari mengajak aku makan siang" sahutku.


"Aku malas kalau makan sendirian, Ar. Makanya aku ajak kamu menemani makan" ucap Doni.


"Kenapa mesti aku? Kan ada Mila. Atau karyawan lain yang pasti mau menemani kamu makan" ucapku.


Doni hanya menatapku. Lalu mengangkat bahunya. Doni menyandarkan tubuhnya di sofa. Matanya masih saja menatapku.


Aku yang juga menatap Doni, melihat ada sisa makanan di ujung bibir Doni.


"Maaf, Don. Ada sisa makanannya." Aku mengambil tissue dan mengelapnya.


Doni malah menangkap tanganku saat sedang membersihkan sisa makanan itu. Aku menatap wajah Doni.


"Ar...Kenapa kamu selalu mau menemani aku makan?" tanya Doni yang masih memegang tanganku.


"Aku kan hanya pegawai di sini. Aku hanya menuruti perintah atasan saja" sahutku asal. Padahal jantungku dag dig dug karena Doni masih saja memegangi tanganku.


"Oh. Jadi kalau aku bukan atasanmu, kamu tidak mau menemaniku makan?" tanya Doni, lalu melepaskan tanganku.


"Ya enggak gitu, Don. Kamu kan temanku, pasti aku akan dengan senang hati menemani kamu makan kalau kamu memintanya" jawabku.


"Teman. Iya, aku hanya temanmu" ucap Doni. Matanya menerawang ke depan seakan bisa menembus dinding kamarnya.


"Maksud kamu?" tanyaku yang tidak paham dengan ucapan Doni.


"Kita hanya teman, Ar. Sayang sekali. Coba aku bisa mempertahankanmu dari dulu. Tidak seenaknya saja menghilang" sahut Doni.

__ADS_1


Aku semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan Doni.


"Kamu mencintai suamimu, Ar?" tanya Doni. Matanya menatap ke arahku.


Aku hanya mengangguk. Tentu saja aku sangat mencintai mas Arka, suamiku.


"Walau pun suami kamu sekarang sakit dan maaf, sudah tidak menafkahi kamu lahir batin?" tanya Doni.


Aku mengangguk. Karena memang kenyataannya aku masih mencintai mas Arka.


"Ar. Apa kamu tidak punya keinginan untuk mencari pengganti? Pastinya kamu kan juga butuh" tanya Doni lagi.


"Tidak, Don. Aku selalu berharap suamiku bisa sembuh lagi dan kita bisa menjalani kehidupan seperti dahulu" jawabku.


Doni kelihatan kecewa dengan jawabanku. Dia menatap ke depan lagi. Entah apa yang sedang dilihatnya.


"Tidak ada harapan lagi buatku, Ar?" tanya Doni lirih.


"Harapan apa, Don?" aku tak mengerti maksud Doni.


"Aku masih selalu mengharapkanmu, Ar. Sejak dulu. Sejak aku sadar kalau aku telah meninggalkanmu begitu saja. Apalagi aku juga tak pernah bahagia dengan istriku" sahut Doni.


"Don. Kebahagiaan itu bukan hanya dicari, tapi kita ciptakan. Kalau hanya mencari, kita belum tentu mendapatkannya. Tapi kalau kita yang menciptakan, bisa jadi akan ada kebahagiaan itu. Begitu juga dengan kehidupan rumah tanggamu. Kalau kamu mencari kebahagiaan diluar, yang ada masalah rumah tanggamu makin rumit. Tapi cobalah untuk menciptakan kebahagiaan itu. Bahagiakan istrimu. Pasti dia juga akan membahagiakan kamu" ucapku panjang lebar.


"Kamu tidak pernah tau kenyataan yang sebenarnya, Ar" sahut Doni.


"Iya. Yang tau kenyataannya ya kamu sendiri. Maka ciptakan kebahagiaan itu dengan caramu" ucapku lagi.


"Tapi, Ar...Aku hanya akan bahagia kalau bersamamu." Doni meraih tanganku lalu mengecupnya perlahan.


"Don. Kita sudah sama-sama berumah tangga. Tak baik kalau kamu mengharapkan aku. Akan banyak masalah buat kita nantinya" sahutku.


"Aku tak peduli, Ar. Aku lelah menghadapi sikap istriku. Dia sangat keras kepala dan egois!" ucap Doni ketus.


"Dia hanya mencariku saat membutuhkan uang. Setelah mendapatkan, dia akan pergi lagi. Tanpa mempedulikan kebutuhanku. Aku juga butuh dirinya" lanjut Doni.


Aku melihat ke jam tanganku. Sudah hampir satu jam aku di sini.


"Aku kembali dulu, Don. Sudah hampir satu jam. Tidak enak sama Mila" ucapku mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Terima kasih, Ar. Kamu sudah menemaniku makan" sahut Doni.


"Istirahat, Don. Kamu kecapean" ujarku lalu beranjak dari sofa.


"Ar...Aku masih mencintaimu" ucap Doni yang masih memegangi tanganku.


Hatiku bergetar mendengarnya. Tapi aku tak mau larut dalam suasana ini.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum lalu keluar dari kamar Doni dengan membawa getaran di hatiku.


__ADS_2